Aku mempunyai beberapa identitas. Identitas baruku dibuat oleh seseorang yang aku kenal ketika masih bekerja di kantor intelijen itu. Semuanya aku buat hanya agar aku bisa lepas dari lingkaran dan lingkungan pekerjaan yang menakutkan. Aku kembali berusaha menjadi orang biasa tanpa ada bayang-bayang dari orang yang membahayakan.
***
Seminggu setelah bertemu dengan Mrs. Anne, aku masih memikirkan tentang pekerjaan yang ia tawarkan. Aku juga penasaran dengan jenis pekerjaan yang ada di kantornya. Apakah tentang administrasi? Atau menjadi pengantar kopi seperti pekerjaanku saat ini? Entahlah, semoga saja lebih baik dari saat ini.
Pada malam hari setelah pulang kerja, aku mencoba untuk menelepon Mrs. Anne, tapi sayangnya tidak ada jawaban. Mungkin dia sudah istirahat karena waktu itu memang sudah larut malam. Aku pun memutuskan untuk mengirim surel (email) saja. Isinya kurang lebih menanyakan perihal pekerjaan di kantornya, apakah masih ada lowongan atau tidak. Karena malam sudah larut, aku pun tidur.
Sedikit info tambahan tentang gadget yang banyak dipakai di sana, khususnya anak muda seumuranku: ternyata merek dari Cina di sana hanya nol koma sekian persen yang menggunakannya. Kalau merek ternama seperti Nokia yang kala itu masih banyak dipakai, itu merek dari Finlandia yang diproduksi di Cina karena alasan biaya produksi dan upah pekerja yang lebih murah. Di Amerika, penduduknya rata-rata menggunakan produk dalam negeri, seperti yang aku pakai saat ini: gadget dengan lambang buah apel, Apple—iPhone, iPod, iPad, dan lain-lain. Jarang sekali melihat yang memakai produk dari luar negeri. Kalau pun ada, hanya menggunakan merek ternama saja, seperti Nokia; BlackBerry juga sangat jarang, ada juga yang menggunakan Acer, dan kadang ada pula Sony serta LG. Itu tahun 2011.
Pagi hari.
Hari ini kebetulan libur kerja. Aku memeriksa surel masuk, ternyata dari Mrs. Anne. Isinya, dia memberikan alamat rumah barunya yang terletak di daerah Silver Lake.
Setelah aku mencari tahu di internet, ternyata itu adalah sebuah kawasan perumahan yang sangat elit. Malah ada juga artis Hollywood yang tinggal di kawasan itu. Kalau di Bandung, mungkin seperti Kota Baru Parahyangan atau Dago. Kalau di Jakarta, mungkin saja Kelapa Gading, Pondok Indah, atau PIK. Kalau Menteng sudah di atasnya lagi karena kebanyakan old money yang tinggal di sana.
Dia juga memberikan rute agar aku sampai ke sana. Tapi katanya, nanti kalau sudah masuk kawasan rumahnya, harus minta diantar saja ke petugas, tinggal sebut saja namanya. Orang pentingkah dia?
Dengan hanya menaiki taksi sekitar 30 menit, sampailah aku di kawasan perumahan yang menurutku lumayan elit itu. Dengan deretan rumah bertingkat, gaya rumah yang cukup mentereng, juga pepohonan di sepanjang kiri dan kanan jalan. Tidak sedikit juga para petugas keamanan yang hilir mudik seperti tentara yang sedang berlatih.
Setelah aku memasuki kawasan itu, ada seseorang yang menghampiri dan menyuruhku untuk mengikutinya—petugas dari Mrs. Anne, pikirku. Benar saja, dia adalah asisten di rumah Mrs. Anne. Tidak seperti para asisten rumah tangga kebanyakan, pakaiannya saja menggunakan jas yang terlihat mahal. Beda sekali dengan penampilan asisten rumah tangga di Indonesia.
Aku pun dipersilakan memasuki rumahnya. Mewah sekali; kamera ada di setiap penjuru rumah, di mana-mana, dengan barang-barang antik di setiap sudutnya. Sangat terlihat kesan glamornya.
Setelah beberapa menit menunggu, Mrs. Anne pun menemuiku. Kami berbincang sedikit tentang pengalamanku selama bekerja di kantor dan kedai kopi. Tidak mau kalah, dia juga menceritakan masa lalunya yang pernah bersekolah tinggi dengan beasiswa berkat banyak mata pelajaran yang dia kuasai. Kurang lebih satu jam kami mengobrol, tidak ketinggalan dia juga menunjukkan foto William, anaknya yang sudah meninggal itu. Benar saja, anaknya itu sedikit mirip denganku. Wajahnya oriental, tapi ada "bule"-nya. Perpaduan antara Patrick dan Mrs. Anne.
Barulah kami masuk ke inti tujuanku datang ke sana. Aku akan langsung diterima asalkan sudah ada surat pernyataan bahwa aku memang sudah keluar dari tempat kerjaku saat ini.
Setelah kembali memikirkan beberapa pertimbangan, aku pun memutuskan untuk keluar dari kedai kopi dan menerima pekerjaan dari Mrs. Anne. Seminggu kemudian, aku menelepon Mrs. Anne untuk memberi kabar bahwa aku menerima tawaran kerja darinya dan sudah mengurus persyaratannya.
Pagi pun tiba. Ponselku berdering. Ternyata dari Mrs. Anne. Dia sudah menunggu di depan apartemenku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar kamu disini!👇✌️😁