Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Rabu, 10 Februari 2016

Cerita dari Negeri Amerika (Part 3)


Sempat terpikirkan olehku untuk mencoba jujur kepada semua orang tentang siapa diriku sebenarnya. Apa pekerjaanku, bagaimana perjalananku selama ini, dan tentang bagaimana aku bisa kembali tinggal di tanah air ini. Sekarang, aku bekerja di sebuah kafe yang berada di pulau cantik, Bali. Aku juga tinggal di sebuah rumah yang tidak begitu besar, tapi ini adalah rumah impianku. Hasil dari pekerjaanku selama 14 tahun ini, aku bisa membeli rumah impian yang tepat berada di pinggir pantai yang indah. Tapi, sejauh ini teman-teman kerjaku hanya tahu kalau aku berasal dari Bandung, bukan sebagai mantan intelijen. 


***


Untuk sementara ini aku tidak memikirkan tentang pekerjaan; aku memutuskan untuk pergi mengunjungi tempat-tempat wisata saja karena selama tiba di sini keseharianku hanya bekerja. Meskipun ada hari libur, aku tidak pernah pergi keluar selain ke supermarket. Mungkin pernah beberapa kali mengunjungi rumah teman kantorku, itu pun jika mereka mengundangku saat ada acara tertentu saja. Aku tidak bisa datang mengetuk pintu begitu saja seperti di tempat asalku. Semuanya harus ada janji terlebih dahulu. 


Hari pertamaku pergi ke Hollywood Boulevard


Kalau yang suka menonton acara Hollywood, pasti tahu ini tempat apa, atau bahkan pernah ke sana juga? Hollywood Boulevard adalah tempat di mana nama-nama artis Hollywood ditulis di keramik jalanan. Banyak nama tentunya, mulai dari artis lama sampai yang saat ini masih aktif. 

Ada kejadian lucu saat aku dimintai tolong untuk memotret beberapa pasangan dan keluarga—turis, mungkin ya. Jadi ingat terakhir kali aku pergi ke Alun-alun Bandung bersama Ibu dan adikku. Di sana kami meminta difoto oleh fotografer yang sudah biasa memenuhi area Alun-alun dan Jalan Asia Afrika. 

Selanjutnya, aku pergi ke Universal Studios Hollywood. Ini adalah studio tour untuk melihat apa yang biasanya ada di belakang panggung atau layar. Mungkin sedang ada adegan syuting juga saat itu. Tapi tidak lama aku berada di sana karena jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Aku pun memutuskan untuk langsung pulang dengan taksi. Oh iya, di LA, sopir taksinya tidak mau menerima uang tip lebih. Entah apa alasannya. 


Sebenarnya aku juga bisa mengendarai mobil sewaktu masih di Bandung. Di sini juga pernah ditawari untuk membuat SIM oleh orang kedutaan secara gratis. Apalagi kredit mobil di sini juga akan terjangkau, bahkan bisa membelinya secara tunai karena lebih murah. Tapi permasalahannya adalah letak kemudi ada di sebelah kiri, jadi aku masih ragu-ragu. Pernah sekali mencoba mengendarai mobilnya Natally, baru berjalan 10 meter saja rasanya sudah pusing. Belum terbiasa, mungkin. 

Ingin sekali rasanya ke Downtown Torrance. Katanya di sana banyak sekali hidangan yang lengkap, mulai dari masakan seluruh benua sampai yang khas dari daerah kecil pun ada. Dari Indonesia, yang masih terkenal tetaplah rendang, lalu sate, bakso, dan nasi goreng. Pernah waktu ada teman kantor yang bilang kalau masakan dari Indonesia yang dia tahu dan pernah dimakan itu hanya rendang. Rasanya lezat sekali katanya. But it's true. Jadi ingat lagi dengan si Uni yang biasa menambahkan daun singkong yang banyak kalau aku mampir ke rumah makan Padang dekat Alun-alun Bandung. 

Aku pernah bertanya kepada temanku itu, namanya Jason, "Kamu tahu nasi goreng?" Dia jawab tidak, tapi ingin sekali mencoba beberapa masakan Indonesia lainnya. Suatu hari, aku diajak main ke rumahnya di daerah dekat Warehouse District. Kebetulan orang tuanya mempunyai toko peralatan rumah tangga di sana. 


Sekadar info saja, salah satu hal yang dicari di Warehouse District adalah cookware atau peralatan masak. Piring, panci, wajan, gelas, serta perkakas lainnya, baik model biasa atau model yang biasa dipakai di restoran mewah pun banyak tersedia di sini. Barang-barang tersebut bisa kita peroleh mulai harga kurang dari 1 dolar. Harga alat kebutuhan rumah tangga di sini lebih hemat 70 persen dibandingkan dengan harga yang ditawarkan di tempat lain. Salah satu tempat yang menjual aneka peralatan rumah tangga tersebut adalah The Dish Factory. Kabarnya artis ternama Angelina Jolie pun sering mengunjungi toko itu. (Kok bisa ya artis berburu barang dengan harga di bawah 1 dolar?), whatever


Sesampainya di rumah Jason, aku bertemu dengan ibu dan adiknya. Ayahnya sudah lama meninggal. Adiknya perempuan, namanya Kelly; dia baru masuk sekolah tingkat pertama. Tapi aku tidak mengingat nama ibunya. Mereka baik sekali, menerima kedatanganku yang untuk pertama kalinya dengan begitu ramah. Aku diminta membuat rendang dan nasi goreng. Aku kurang paham bagaimana cara membuat rendang, meskipun hanya tinggal browsing saja. Aku bilang saja kalau bumbunya tidak tersedia di dapur dan harus mencarinya di Asian market atau online. Pada akhirnya aku hanya membuat nasi goreng dengan nasi yang setengah hangus, tapi mereka tidak tahu kalau itu memang hangus. Katanya enak sekali. 

Setelah beberapa jam berada di rumah Jason, aku pun pamit pulang. Ibunya memberikan sebuah gelas cantik dan beberapa makanan kecil. 


Di sini aku jarang minum air mineral; setiap minggu aku membeli segalon susu. Kalau air minum memang sudah tersedia di keran dapur. Di LA juga ada yang berjualan keliling, pedagang kaki lima, tapi hanya khusus makanan saja. Kalau abang sayur yang biasanya mangkal di kompleks rumah seperti di dekat rumahku sewaktu di Bandung, sepertinya aku belum pernah melihatnya. Karena di sini, kalau beli sayuran harus ke supermarket yang harganya memang di atas harga di pasar. 


Selain pedagang keliling, di LA juga ada pengemis, bahkan banyak sekali. Tidak terlalu jauh berbeda dengan di Indonesia, malah di sini para tunawisma harus main kucing-kucingan dengan petugas. Pernah sekali, waktu masih bekerja, aku melihat ada orang berbaju lusuh berlari di depanku. Ternyata sedang dikejar oleh polisi. Di sini selalu ada pembersihan hampir setiap harinya. 


Bagi kamu yang mau ke pasar yang agak kumuh di LA, bisa mencari yang namanya Chinatown. Jadi ingat Pasar Baru di Bandung di mana setiap dagangannya sampai tumpah ruah ke trotoar jalan, apalagi menjelang Lebaran, sudah pasti pejalan kaki jadi agak susah untuk lewat. Di sana juga tersedia makanan yang sangat murah; nasi dan lauknya saja ada yang tidak sampai 2 dolar. Murah sekali. Hanya jaraknya saja dari apartemenku lumayan jauh. Di sini juga sudah lama ada busway, hanya jarak dari halte ke tempatku lumayan jauh, jadi harus ditempuh dengan berjalan kaki. 


Kalau untuk bepergian saat santai, lebih baik menggunakan busway. Tapi kalau terburu-buru, lebih baik menggunakan taksi yang biasa hilir mudik atau melalui aplikasi yang terkenal yaitu Uber. Driver di sini bisa diandalkan. 

Waktu santaiku sudah hampir sebulan. Hampir setiap tempat wisata sudah aku kunjungi. 


Akhirnya, aku mulai mencari info tentang lowongan pekerjaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁