Kenapa ada orang yang tidak ingin mempunyai anak?
Kenapa ada orang yang tega menyia-nyiakan anugerah terindah dari Sang Maha Pencipta?
Kenapa ada orang yang justru merasa terganggu oleh kehadiran seorang anak di tengah kehidupan terbaik yang sedang mereka jalani?
Kenapa ada orang yang tidak bahagia atas hadirnya sosok dari darah dagingnya sendiri?
Kenapa ada orang yang tidak bisa menerima baik dan buruk anaknya?
Kenapa ada orang yang tega mengabaikan darah dagingnya sendiri?
Dari sekian banyak pertanyaan yang berisik di kepala Ahmad, kini ia menemukan jawabannya. Jawabannya sederhana, namun menyakitkan: karena anak itu memang tidak pernah diharapkan.
Ahmad bekerja sebagai seorang Housekeeping di sebuah hotel di pusat kota. Di usianya yang menginjak 34 tahun, ia telah melewati cukup banyak badai untuk membuatnya matang dalam menghadapi pelbagai peliknya hidup. Mungkin banyak pria seumurannya yang cara berpikirnya belum sejauh dirinya. Namun, Ahmad telah cukup dewasa untuk menerima setiap masalah dengan lapang dada, baik yang datang dari lingkungan kerja maupun kehidupan pribadi.
Meskipun hanya seorang petugas kebersihan hotel dan lulusan SMA—berbeda dengan saudara-saudaranya yang sempat mengenyam bangku kuliah hingga bergelar sarjana—Ahmad memiliki pola pikir yang logis, sistematis, namun tetap bersahaja.
Terbukti, Ahmad berhasil mendidik putranya dengan sangat baik. Anaknya kini sudah berusia 16 tahun. Sejak menginjak umur 18 tahun, masa transisi dari remaja menuju dewasa Ahmad dihabiskan seluruhnya untuk membesarkan anak yang sangat ia sayangi itu.
Ada ketakutan besar di hati Ahmad jika anaknya kelak tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup, atau bernasib malang seperti masa lalunya sendiri. Ia selalu berusaha memenuhi setiap kebutuhan sang putra, baik secara materi maupun figur seorang ayah yang selalu ada. Bagi Ahmad, materi masih bisa dicari di mana saja dan dari siapa saja. Namun, sebuah kehadiran figur yang tulus? Tidak semua orang mampu memberikannya.
Padahal, Ahmad lahir dari keluarga yang terpandang dan berkecukupan.
Ayahnya seorang guru, begitu pula dengan kakeknya. Banyak anggota keluarganya yang berlatar belakang sebagai pendidik. Bahkan, cita-cita Ahmad sewaktu kecil pun ingin menjadi seorang guru.
Menjadi guru, bagi Ahmad kecil, adalah sebuah pengabdian yang mulia. Selain karena melihat sosok ayahnya yang disegani masyarakat, dulu ia berpikir bahwa menjadi guru akan membuat hidupnya bermanfaat bagi orang banyak.
Namun, impian itu seketika runtuh saat ia duduk di bangku SMA. Kala itu, Ahmad tak sengaja mengetahui sebuah rahasia kecil; ia menyaksikan bagaimana kakak perempuannya memperoleh ijazah untuk mendaftar menjadi guru hanya dengan cara membelinya seharga belasan juta rupiah.
Ahmad seketika skeptis pada ayahnya sendiri yang dengan terang-terangan melanggengkan cara kotor itu.
Sejak kejadian tersebut, mata Ahmad mulai jeli melihat kebiasaan buruk ayahnya yang lain. Saat itu adalah masa pengelolaan uang BOS sekolah. Desas-desus miring berembus, dan meski Ahmad tidak melihat langsung prosesnya, bukti-bukti kecil terekam jelas di memorinya.
Salah satunya adalah setiap musim pembagian Susu Sekolah, ayahnya selalu memiliki stok susu yang melimpah di rumah. Kenapa susu yang harusnya hak siswa bisa ada di rumah mereka? Ahmad tidak tahu pasti bagaimana perilaku ayahnya di luar sana. Sebab, sebelum masuk SMA, Ahmad kecil tidak tinggal bersama orang tuanya, melainkan dirawat oleh kakak kandung ayahnya.
Mundur ke masa lalu, ibu Ahmad adalah seorang perempuan cantik yang memikat hati seorang pemuda yang kala itu sedang menempuh pendidikan SPG (Sekolah Pendidikan Guru). Karena saling jatuh cinta, mereka memutuskan untuk menikah. Kebahagiaan pasangan itu kian lengkap dengan lahirnya seorang anak perempuan bernama Sinta.
Namun, kebahagiaan itu perlahan terusik oleh peraturan zaman dulu: guru yang baru diangkat harus bersedia ditempatkan di mana saja. Sang suami akhirnya harus bertugas ke luar kota, meninggalkan sang istri dan Sinta kecil yang terpaksa bertahan hidup berdua saja.
Ahmad tidak terlalu ingat seluruh kisah pilu ibunya yang ditinggal bertugas. Namun, yang ia tahu pasti, ibunya kemudian mulai sakit-sakitan hingga harus naik ke meja operasi. Pada saat itu, Sinta yang sudah berusia empat tahun, merekam jelas seluruh penderitaan ibunya.
Di tengah perjuangan sang istri melawan penyakit sambil mengurus anak, kabar buruk datang dari luar kota. Sang suami rupanya jatuh cinta lagi di tempat tugasnya. Ia bahkan memutuskan untuk menikahi seorang janda. Caranya pun terbilang culas. Demi mendapatkan surat izin menikah lagi, sang suami memalsukan alasan dengan memakai secarik kertas bertanda tangan mertuanya, menyatakan bahwa istri pertama sudah tidak sanggup lagi melayani kebutuhan suami.
Kenapa tidak diceraikan saja jika sudah tak diinginkan?
Anehnya, di tengah situasi sudah memiliki keluarga baru, sang suami masih kerap menemui istri pertamanya. Padahal, dokter sudah memperingatkan dengan keras pascaoperasi: jangan dulu melakukan hubungan suami istri. Namun yang namanya manusia, semakin dilarang, justru semakin tertantang untuk melanggar.
Hingga akhirnya, kedua istri itu hamil dalam waktu yang bersamaan.
Sembilan bulan kemudian, lahirlah seorang anak perempuan dari istri kedua yang diberi nama Santi. Hanya berselang 19 hari, Ahmad pun lahir dari rahim istri pertama.
Karena kondisi sang ibu tidak memungkinkan untuk merawat bayi, Ahmad akhirnya dibawa dan dibesarkan oleh uwaknya (kakak dari ayahnya).
Tidak ada satu pun kenangan masa kecil Ahmad bersama ibu kandungnya. Selain karena jarak yang memisahkan mereka, sang ibu mengembuskan napas terakhir akibat penyakitnya saat Ahmad baru berusia enam tahun.
Ahmad menghabiskan masa kecilnya hanya bersama orang tua asuh. Pertemuannya dengan sang ayah kandung pun sangat jarang, lebih sering terjadi di sekolah karena kebetulan Ahmad bersekolah di tempat ayahnya mengajar.
Memasuki usia remaja, Ahmad tumbuh dalam kesederhanaan bersama orang tua asuhnya. Di tengah keterbatasan itu, ia tumbuh menjadi anak yang baik dan cerdas. Pendidikan agama dan formalnya terbilang cemerlang. Ia sering mendapat peringkat di kelas, bahkan sempat menjadi peserta MTQ.
Sekilas, tidak ada yang kurang dari kehidupan Ahmad di mata orang lain. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Ahmad remaja menyimpan kekosongan. Ia mulai mencari perhatian lewat pelbagai kenakalan.
Sebab, batinnya meranggas; ia tidak pernah merasakan bagaimana hangatnya kasih sayang orang tua yang utuh seperti anak-anak lain. Sayangnya, Ahmad tidak tahu cara menyampaikan lukanya, hingga ia tumbuh menjadi sosok yang pemberani, pembangkang, dan gemar melawan.
Namun, kenapa tidak ada satu pun orang yang mencoba memahami apa yang sebenarnya diinginkan Ahmad?
Di tengah bentakan, makian, dan kemarahan orang-orang atas perilakunya yang dianggap melewati batas, tidak ada satu orang pun yang berdiri untuk membelanya, atau sekadar memeluknya. Bahkan ketika Ahmad menangis menahan perih karena telinganya dijewer, tidak ada tangan yang datang untuk menyeka air matanya.
Tidak ada yang mau bertanya apa yang sebenarnya diinginkan oleh Ahmad.
Padahal, keinginannya sangat sederhana. Ia hanya ingin diperlakukan layaknya seorang "anak" yang masih membutuhkan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya. Sesederhana pelukan hangat atau kalimat penenang, bukan bentakan keras, apalagi tangan-tangan yang dengan ringannya melayangkan cubitan. Ahmad hanya haus akan kasih sayang. Ia hanya ingin dicintai.
Kenapa semua orang hanya fokus pada label "anak nakal" yang melekat padanya? Kenapa tidak ada seorang pun yang mencoba mencari tahu, apa alasan di balik kenakalan itu? Kenapa?
Ataukah... semua itu terjadi karena ia memang anak yang tak pernah diharapkan?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar kamu disini!👇✌️😁