Sekarang aku tinggal di kota kecil dengan hamparan pantai yang begitu indah. Tentu saja tidak ada seorang pun yang tahu. Setelah sekian lama aku bekerja di kantor intelijen terbesar di Amerika itu, aku mengalami banyak perubahan dalam hidup. Selain memang pekerjaannya yang tidak pernah aku inginkan, lingkungannya pun sangat jauh di luar nalar yang dipikirkan manusia normal. Seolah tidak ada lagi privasi yang aku miliki; rasanya seperti hidup di sebuah layar monitor yang disaksikan oleh jutaan orang. Ke mana pun, rasanya ada yang mengikutiku, bahkan di kamar mandi sekalipun.
Aku masih ingat saat mendapatkan tugas kesekian kalinya.
Saat itu, aku sudah mendapatkan fasilitas pekerjaan yang menunjang. Kendaraan yang terbilang cukup bagus, ponsel yang canggih, bahkan belum pernah ada di pasaran. Memang, itu ponsel yang khusus dibuat di tempatku bekerja saja. Selain bisa dengan mudah menerima pemberitahuan dari server pusat, ponselku juga bisa dijadikan selayaknya penjaga pribadi. Entahlah, intinya itu hanya satu dari sekian benda ajaib yang pernah aku dapatkan.
Pada suatu malam, aku sedang berada di apartemen setelah seharian mengurusi masalah di kantor. Tentu saja dengan berbagai laporan dari hasil kerjaku selama beberapa bulan terakhir. Aku pernah menjadi asisten penyelidikan, asisten peneliti laboratorium, hingga aku sendiri yang terjun langsung ke lapangan. Aku juga pernah menjadi mata-mata untuk orang-orang tertentu, dari orang biasa hingga orang-orang yang terbilang cukup penting keberadaan dan pekerjaannya.
Hidup memang tidak pernah bisa diprediksi. Aku yang awalnya hanya seorang anak kampung dari kota pinggiran di Indonesia, kini harus bekerja pada sebuah lembaga besar di Amerika.
Aku sudah mempunyai segalanya: uang, tabungan, tempat tinggal yang cukup nyaman, relasi yang banyak, dan yang terpenting adalah keterampilan. Cinta?
Tiba-tiba ponselku bergetar; ada pesan masuk dari server pusat. Ternyata aku harus menyelidiki identitas seseorang yang baru tinggal di negara ini. Tentu saja dia sama sepertiku dulu, dia pendatang.
Aku melihat profilnya dengan sangat rinci. Ternyata dia berasal dari negara yang sama denganku. Dia adalah seorang ahli IT untuk sebuah perusahaan ternama di Washington, D.C. Usianya 10 tahun lebih tua dariku. Dia datang bersama keluarga kecilnya. Malam itu pun aku lanjutkan dengan mencoba membuka semua info tentangnya.
Aku baru sadar, apakah aku dulu juga diperlakukan seperti ini? Entahlah. Aku harus tidur. Besok aku harus segera mencari tahu tentang dia lebih lanjut. Memata-matai? Apalagi dia adalah ahli dalam bidang yang aku sendiri kurang kuasai. Ya, aku benci kemajuan teknologi.
Aku pun tertidur.
Pagi hari.
Namanya sangat tersohor di Indonesia. Dari beberapa data yang aku baca, dia pernah menyelesaikan pendidikannya di sebuah universitas ternama di Indonesia dan menyandang gelar sarjana S.Kom., yaitu jurusan cyber security. Dia bekerja pada pemerintah dan perusahaan swasta. Selain menjadi konsultan keamanan cyber, dia juga bekerja sebagai analis, arsitek teknologi, hingga menjadi dosen tetap di kampus ternama di Indonesia dan sering diundang ke berbagai negara, termasuk kedatangannya kali ini ke Amerika.
Pantas saja jika sebuah lembaga ternama tempatku bekerja harus ikut serta menjadi bagian terpenting untuk memantau pergerakannya selama di sini.
Oh iya, dua hari yang lalu aku sudah berada di California, tepatnya di Palo Alto. Di sini ada sebuah universitas terbesar dan ternama, yaitu Stanford University. Meskipun swasta, banyak orang yang ingin menempuh pendidikan di sini karena sudah sangat terkenal melahirkan banyak orang sukses dan ternama.
Di sebuah kedai kopi yang tidak jauh dari kampus, aku duduk sambil berpura-pura sibuk membaca buku dan sesekali meminum vanilla latte juga menghisap rokok mentol kesukaanku. Aku memperhatikan seorang pria bersama pasangannya yang terlihat sedang asyik berfoto. Sudah bisa dipastikan jika itu adalah istrinya. Jangankan istrinya, anak beserta nama-nama keluarga dan teman-temannya saja aku sudah mengetahuinya.
Aku menyalakan rokok untuk kesekian kalinya, sedangkan kopiku sudah tinggal setengah gelas lagi. Buku yang dari tadi aku baca juga tidak menarik. Sangat membosankan. Tiba-tiba seseorang menghampiriku dan meminjam korek. Orang itu adalah dia, pria yang sedari tadi aku perhatikan. Mungkin karena memang budaya asalnya suka basa-basi, selain berterima kasih, dia bertanya, "Dari mana?"
Aku harus berakting sebaik mungkin. Aku jawab saja dari Indonesia juga, dan di sini baru satu tahun bekerja di sebuah hotel karena ingin mencari pengalaman dan mencoba tinggal jauh dari rumah. Dia pun bercerita maksud dan tujuannya datang ke sini, yaitu sedang menghadiri sebuah acara. Aku pun dikenalkan dengan istrinya. Kebetulan juga mereka baru menikah dan menggunakan kesempatan ini untuk berbulan madu. Dia bertanya tentang diriku lebih jauh: pernah sekolah di mana, bekerja di hotel apa, kenapa bisa sampai bekerja di sini, dan pertanyaan-pertanyaan yang sudah pasti aku jawab dengan sebuah kebohongan, tapi tetap meyakinkan.
Karena aku merasa sudah cukup lama duduk di sana, apalagi obrolan kami yang aku pikir akan menjadi sesuatu yang tidak baik untuk pekerjaanku—di mana ada aturan bahwa aku tidak boleh berkontak langsung dengan target—aku pun pamit dan pergi.
Sebenarnya tidak sulit dan tidak mudah juga pekerjaanku pada saat itu. Aku harus mengikuti orang selama keberadaannya di sini: apakah dia bertemu seseorang yang dicurigai, mengunjungi tempat-tempat yang tidak seharusnya, atau melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan tujuannya ketika datang ke negara ini.
Kemudian aku mendapat tugas untuk datang ke negara asalku, Indonesia.
Harus senang atau...?
