Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Selasa, 02 Februari 2016

Money Changer Story (Part 5)



Malam itu bel apartemenku berbunyi.


Aku mengira tetanggaku kembali datang.


Saat membuka pintu, lorong apartemen sudah kosong.


Di lantai hanya ada sebuah amplop hitam.


Tidak ada nama.


Tidak ada pengirim.


Saat kubuka, hanya ada secarik kertas.


“Kalau ingin mengetahui siapa yang menjebakmu, pulanglah ke Indonesia.”


Di bagian bawah tertulis sebuah alamat dan sebuah kalimat.


“Jangan hubungi siapa pun.”


Aku langsung menutup pintu.


Sudah hampir tiga bulan aku mencoba menjalani hidup yang normal.


Aku mulai terbiasa tinggal di negara singa ini.


Mulai hafal jalan.


Mulai mengenal beberapa tetangga.


Bahkan sesekali aku sudah bisa tertawa lagi.


Namun…


Setiap malam wajah Ayah, Ibu, Putri, Dinda, Ron, Martin, Andri, dan Marisa selalu muncul di pikiranku.


Aku terus bertanya kepada diri sendiri.


Kalau aku kembali ke Indonesia…


mungkin aku akan langsung ditangkap.


Namun kalau aku tetap tinggal di sini…


aku akan hidup selamanya dengan pertanyaan yang tidak pernah terjawab.


Selama beberapa hari aku terus memikirkan isi surat itu.


Sampai akhirnya…


aku memutuskan untuk pulang.


Aku mencoba menghubungi Ron.


Nomornya sudah tidak aktif.


Aku mencoba menghubungi Martin.


Hasilnya sama.


Kemudian aku menghubungi Marisa.


Tetap tidak bisa dihubungi.


Hari demi hari berlalu.


Tidak ada kabar dari siapa pun.


Hampir seminggu kemudian, ponselku bergetar.


Nomor yang tidak kukenal.


Isi pesannya hanya dua kata.


“Siap pulang?”


Aku memandangi layar cukup lama.


Lalu aku membalas singkat.


“OK.”


Beberapa menit kemudian datang pesan berikutnya.


Sebuah alamat.


Jam pertemuan.


Dan satu instruksi.


“Datang sendiri.”


Aku datang ke alamat tersebut.


Sebuah gudang tua di pinggir kota.


Di dalam hanya ada seorang pria yang belum pernah kulihat sebelumnya.


Dia tidak banyak bicara.


Dia hanya menyerahkan sebuah tas kecil kepadaku.


Di dalamnya terdapat paspor baru.


Identitas baru.


Tiket pesawat.


Dan sejumlah uang tunai.


Aku sempat bertanya,


“Kenapa kalian membantuku?”


Pria itu hanya tersenyum tipis.


“Bukan membantu.”


“Lalu?”


“Kamu masih bagian dari permainan ini.”


Setelah mengatakan itu, dia langsung pergi.


Aku berangkat menuju bandara.


Sepanjang perjalanan, pikiranku tidak pernah tenang.


Begitu pesawat lepas landas, aku hanya menatap keluar jendela.


Aku sama sekali tidak bisa tidur.


Beberapa jam kemudian terdengar pengumuman bahwa pesawat akan segera mendarat.


Perlahan lampu-lampu Kota Jakarta mulai terlihat dari balik jendela.


Dadaku terasa sesak.


Aku pulang.


Tetapi aku sadar…


aku tidak bisa pulang ke rumah.


Aku bahkan tidak berani menghubungi Ayah, Ibu, ataupun Putri.


Sesaat setelah keluar dari bandara, seseorang sudah menungguku.


Tanpa banyak bicara, dia mengajakku masuk ke sebuah mobil.


Kami berhenti di sebuah rumah tua yang tampak kosong dari luar.


Begitu masuk ke dalam…


aku langsung mengenali tiga wajah.


Ron.


Martin.


Dan Andri.


Tidak ada yang menyapaku.


Suasana di dalam ruangan sangat sunyi.


Ron hanya menarik sebuah kursi.


“Duduk.”


Lalu dia menuangkan secangkir kopi.


Entah kenapa, suasana yang tenang itu justru terasa jauh lebih mencekam.


Aku tidak sanggup lagi menahan semuanya.


Aku berdiri.


“Kenapa aku?”


Ruangan kembali sunyi.


Beberapa detik kemudian Andri menjawab,


“Karena hanya kamu yang memenuhi syarat.”


Aku langsung membalas,


“Syarat apa?”


Andri hanya tersenyum tipis.


“Belum waktunya.”


Kemudian Andri membuka sebuah map.


Di dalamnya terdapat puluhan foto.


Foto sebuah bank terbesar di Jakarta.


Foto pintu masuk.


Foto ruang pelayanan.


Foto area parkir.


Foto ruang brankas.


Andri meletakkan map itu tepat di hadapanku.


Lalu berkata pelan,


“Besok malam.”


Aku memandangi semua foto itu tanpa berkata apa pun.


Saat itulah aku mulai menyadari…


semua mimpi buruk yang kualami ternyata belum benar-benar berakhir.


Aku memandangi satu per satu foto yang ada di dalam map itu.


Semuanya adalah foto sebuah bank.


Bukan hanya bagian depannya, tetapi juga area parkir, pintu keluar darurat, ruang pelayanan, bahkan lorong menuju brankas.


Foto-foto itu diambil dari sudut yang berbeda-beda.


Ada yang siang hari.


Ada juga yang malam hari.


Aku mengangkat pandangan ke arah Andri.


“Kalian mau merampok bank ini?”


Tidak ada yang menjawab.


Ron hanya menyesap kopi yang sejak tadi berada di tangannya.


Martin bersandar sambil terus memperhatikanku.


Akhirnya Andri menutup map itu.


“Kamu akan tahu besok.”


“Kalau aku menolak?”


Ron tersenyum tipis.


“Kamu sudah terlalu jauh untuk menolak.”


Aku mengepalkan tangan.


“Aku tidak mau lagi menjadi buronan.”


Andri menganggukkan kepala.


“Bagus.”


Jawaban itu justru membuatku bingung.


“Artinya?”


“Itu berarti hati nuranimu masih bekerja.”


Aku semakin tidak mengerti.


“Kalau begitu kenapa aku masih dibawa ke sini?”


Andri berdiri dari kursinya.


Dia berjalan menuju jendela.


Beberapa detik kemudian dia berkata tanpa menoleh.


“Karena kami juga tidak ingin kamu menjadi perampok.”


Kalimat itu membuatku benar-benar kehilangan arah.


Aku menatap Ron.


Lalu Martin.


Tidak ada satu pun dari mereka yang terlihat bercanda.


“Lalu selama ini apa?”


Andri perlahan membalikkan badan.


“Besok malam kamu akan mengerti kenapa semua ini harus terjadi.”


Kembali…


Tidak ada penjelasan.


Hanya jawaban yang membuat pertanyaanku semakin banyak.


Ron kemudian mengambil sebuah kunci mobil dari atas meja.


“Kamu istirahat dulu.”


“Besok kita berangkat pukul delapan malam.”


Aku masih berdiri di tempat.


Tidak tahu harus berkata apa lagi.


Semua yang selama ini kuanggap benar perlahan mulai berubah.


Mungkin…


Selama ini aku memang belum mengetahui cerita yang sebenarnya.


Dan mungkin…


Perampokan money changer itu hanyalah bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.


Andri kemudian menutup map itu.


“Tidak usah terlalu banyak berpikir malam ini.”


“Maksudnya?”


“Besok kamu akan mengerti.”


Ron berdiri sambil mengambil kunci mobil yang berada di atas meja.


“Ayo.”


“Mau ke mana?”


“Tempat istirahat.”


Aku mengikuti mereka keluar rumah.


Di halaman sudah terparkir sebuah mobil berwarna hitam.


Sepanjang perjalanan tidak ada satu pun yang berbicara.


Jakarta malam itu masih dipenuhi kendaraan.


Lampu gedung-gedung tinggi memantul di kaca mobil.


Aku duduk di kursi belakang bersama Martin, sedangkan Ron menyetir.


Andri duduk di sampingnya.


Aku hanya memandangi jalan.


Sudah lama aku tidak melihat kota ini.


Entah kenapa rasanya asing.


Padahal ini masih negaraku sendiri.


Sekitar tiga puluh menit kemudian mobil berhenti di depan sebuah rumah dua lantai.


Rumah itu berada di dalam kompleks yang cukup sepi.


Begitu masuk, aku langsung menyadari bahwa rumah itu bukan rumah biasa.


Di ruang tamu terdapat beberapa monitor CCTV.


Peta Jakarta memenuhi salah satu dinding.


Di atas meja terdapat beberapa laptop yang masih menyala.


Beberapa orang sedang bekerja sambil mengenakan headset.


Aku menghitung ada sekitar delapan orang.


Tak seorang pun memperhatikanku.


Seolah kedatanganku memang sudah mereka ketahui.


Ron menunjuk sebuah kamar.


“Mulai malam ini kamu tinggal di sini.”


Aku masuk ke kamar itu.


Tidak besar.


Namun cukup rapi.


Di atas tempat tidur sudah tersedia beberapa potong pakaian.


Semua ukurannya pas denganku.


Aku semakin heran.


Mereka bahkan mengetahui ukuran pakaianku.


Aku mengambil salah satu kemeja itu.


Di sakunya terdapat secarik kertas.


Hanya ada satu kalimat.


Besok jangan banyak bertanya.


Aku langsung keluar kamar.


“Siapa yang menaruh ini?”


Ron hanya tersenyum.


“Besok pagi kita mulai.”



Keesokan harinya.


Aku terbangun karena suara langkah kaki yang cukup ramai di luar kamar.


Jam menunjukkan pukul delapan pagi.


Saat keluar, semua orang tampak sibuk.


Ada yang sedang mempelajari denah.


Ada yang berbicara melalui radio komunikasi.


Ada juga yang sedang membongkar beberapa tas besar.


Aku melihat Andri berdiri di depan sebuah papan tulis.


Di sana terpampang foto bank yang semalam diperlihatkan kepadaku.


Aku menghampirinya.


“Jadi benar kalian akan merampok bank itu?”


Andri menoleh.


“Kami tidak pernah bilang akan merampok.”


“Lalu?”


“Kami hanya akan mengambil sesuatu.”


“Apa?”


“Bukan uang.”


Aku semakin bingung.


Kalau bukan uang…


Lalu apa yang mereka incar?



Menjelang sore.


Semua orang mulai mengenakan pakaian serba hitam.


Di atas meja tersusun rompi antipeluru.


Radio komunikasi.


Sarung tangan.


Topeng.


Aku memperhatikan semuanya tanpa bergerak.


Ron berjalan menghampiriku.


“Lepaskan jam tanganmu.”


Aku menurutinya.


“Lalu ponselmu.”


Aku menyerahkannya.


Dia memasukkan semuanya ke dalam sebuah kotak besi.


“Malam ini tidak boleh ada identitas.”


Aku mulai merasakan ketegangan yang dulu pernah kurasakan di depan money changer.


Bedanya…


Kali ini aku tahu sesuatu akan terjadi.


Dan aku tidak bisa menghindarinya.


Andri berdiri di tengah ruangan.


Semua orang langsung terdiam.


Dia melihat satu per satu wajah kami.


Kemudian berkata,


“Waktunya.”


Semua orang berdiri.


Aku ikut berdiri.


Jantungku berdetak semakin cepat.


Aku tidak tahu apakah malam ini akan menjadi akhir hidupku…


atau awal dari mimpi buruk yang jauh lebih besar.


Mereka berjalan menuju garasi.


Empat mobil hitam sudah menunggu dengan mesin yang menyala.


Aku menarik napas panjang.


Lalu mengikuti mereka.


…dan di sinilah adegan perampokan bank di Jakarta dimulai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁