Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Rabu, 10 Februari 2016

Cerita dari Negeri Amerika (Part 4)


Keseharianku sekarang adalah menjadi barista di sebuah kedai kopi. Aku mempunyai keterampilan ini saat dulu bekerja di sebuah kafe yang ada di LA. Aku mencoba bekerja sebaik mungkin; mencoba mengesampingkan banyak trauma dan rasa takut dari mereka yang mencoba mengejarku. Atau, mungkin saja saat ini aku sedang diintai? 


*** 


Jalan-jalan terus lumayan jenuh dan menguras tabungan. Tujuanku ke sini bukan untuk jalan-jalan. 


Akhirnya, aku mulai mencari informasi tentang lowongan pekerjaan. Setelah mencari beberapa info dari salah satu situs, ada lowongan sebagai pelayan di sebuah kedai kopi ternama di Amerika yang juga sangat terkenal di negara-negara lainnya. Letaknya ada di Pine Ave, Long Beach, masih satu wilayah dengan tempat tinggalku. Namun, jaraknya lumayan jauh. Singkat cerita, aku diterima bekerja di kedai kopi itu. 


Aku pun memutuskan untuk pindah ke sebuah apartemen yang tidak jauh dari tempatku bekerja. Ramona Park Apartment namanya. Aku memilih yang paling murah saat itu, harganya 950 dolar per bulan, sudah termasuk air, listrik, gas, dan juga internet. Tempatnya nyaman sekali, meskipun hampir sama dengan apartemen lamaku. Hanya saja, di sini ada balkonnya. Oh iya, tentu saja harga apartemen sebesar itu sudah sangat murah di kawasan itu. 

Pekerjaanku hanya menerima pesanan dan mengantarkannya. Ada sekitar 10 karyawan di sana, dengan pemiliknya yang juga ikut mengawasi sekaligus sebagai kasirnya. Dia tidak mempunyai asisten untuk itu. Di sana juga ada seorang wanita dari Indonesia, tepatnya dari Medan. Katanya, dia mendapat pekerjaan di sana berkat bantuan sebuah agen tenaga kerja ternama di Jakarta; tentu saja masuk dengan membayar sejumlah uang. Dia tinggal di sebuah apartemen bersama teman sekampungnya yang bekerja di kafe yang berbeda. 


Entah kenapa aku merasakan bahwa bekerja sebagai pelayan kafe itu sangat cocok. Apalagi dengan uang tip dari para tamu yang lumayan besar. Di sana, rata-rata mendapat tip sebesar 15 persen yang langsung diterima oleh pelayan. Ya, meskipun upahnya tidak begitu banyak. Dalam sebulan, aku bisa mengumpulkan sekitar 600 hingga 700 dolar dari sisa kebutuhan dan biaya sewa apartemen. Belum lagi kalau aku lembur; dibayarnya per jam dan langsung kontan. 

Kebanyakan pelanggannya adalah orang kantoran pada pagi hari, sedangkan pada siang hari kebanyakan yang datang adalah remaja dan mereka yang memang sengaja beristirahat dari pekerjaannya. Sementara itu, sore hari sangat ramai pengunjung dari berbagai macam kalangan. 

Hal itu berlangsung selama setahun. 


Kehidupan anak muda di Amerika memang beragam, dalam hal fashion, bahasa, cara berbicara, dan juga cara bergaul. Tidak jauh berbeda seperti yang dilihat di film-film Hollywood. 


Pada suatu pagi, aku kedatangan pelanggan, seorang pria yang usianya sekitar 50 tahun. Dia memanggilku dan memesan dua kopi tambahan serta kue cokelat, padahal tadi dia sudah memesan sendiri ke kasir. Mungkin dia sedang kehausan, atau mungkin sedang menunggu seseorang—masa iya minum dua kopi sendirian?


Saat aku sedang membersihkan meja dan kursi, terlihat seorang wanita menghampiri pria itu. Ya, mereka terlihat akrab. Betapa kagetnya, ketika aku mengantarkan kopi, wanita itu adalah Mrs. Anne yang pernah duduk bersebelahan denganku sewaktu di pesawat. Aku juga masih ingat dengan amplop yang pernah ia berikan. Aku pun menyapanya, "Hai, Mrs. Anne. How are you?

"I'm sorry, who are you?" 


Ternyata dia tidak mengingatku. Tapi, setelah aku ceritakan semuanya, dia baru mengingatnya. Aku pun diajak duduk bersama mereka. Kemudian dia bertanya, kenapa aku tidak pernah menghubunginya, padahal beberapa hari setelah bertemu di pesawat itu, kebetulan di perusahaannya sedang sangat membutuhkan pegawai. Ya, aku jawab saja kalau kartu namanya hilang. Aku juga harus mengikuti prosedur dari lembaga green card yang memang memberiku jalan sehingga bisa tiba di negara ini. 


Dia juga bertanya, kenapa aku yang lulusan dari universitas ternama di Bandung lebih memilih menjadi pelayan di kafe. Aku kembali menjelaskan bahwa sebelumnya aku pernah bekerja di sebuah perusahaan sebagai admin. Upah bukanlah prioritas utama bagiku, meskipun bagi banyak pendatang, upah besar menjadi tujuan utama mereka. But not for me. 


Setelah sekian lama berbincang dengan Mrs. Anne, teman pria yang bersamanya baru ikut menyambung obrolan kami. Dia berkata, "He's like William.

Aku pun bertanya siapa itu William. Ternyata Mrs. Anne dan Patrick (nama pria itu) pernah menjalin hubungan dan memiliki anak bernama William. Di sana, tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan, bahkan sampai memiliki anak, sudah menjadi hal yang lumrah. Di Amerika, tinggal serumah dengan lawan jenis tanpa ikatan pernikahan pun tidak akan menjadi masalah. Ternyata William meninggal di usianya yang ke-17 karena suatu insiden. Mereka melihat kemiripan diriku dengan anak mereka. Anaknya pasti berwajah bule. Meskipun Patrick keturunan Asia, Mrs. Anne jelas memiliki wajah "bule". Ah, sudahlah. Tidak mau tahu juga. 


Karena masih banyak pekerjaan, aku pun pamit untuk melanjutkan tugasku. Sebelumnya, Mrs. Anne memberikan kartu namanya dengan uang tip yang aku pikir lumayan banyak. 

Di tempat kerjaku, biasanya ada libur mingguan dan bulanan. Namun, aku memutuskan untuk mengambil libur di akhir bulan saja, satu hari per minggu, jadi jika empat minggu, total dengan libur per bulan menjadi lima hari. Ketika hari libur, aku menggunakannya untuk bersantai dan jalan-jalan. Tapi, aku sama sekali tidak tertarik dengan suasana pantai di sana. Pernah ada teman kerja yang mengajakku pergi ke pantai barat, tapi aku pikir lebih baik santai di apartemen saja. Aku jarang pergi ke tempat perbelanjaan; jika ada kebutuhan atau ingin membeli pakaian, aku biasa menggunakan aplikasi online shop terkenal di Amerika. Kecuali jika ada film terbaru, aku selalu meluangkan waktu untuk pergi ke bioskop yang tidak jauh dari apartemenku. 


Tidak lupa juga, aku selalu mengikuti berita-berita di Indonesia. Saat itu yang sedang sering muncul di berita adalah tentang tertangkapnya beberapa petinggi negara yang tersandung kasus korupsi, juga berita artis. Masih ingat, waktu itu sedang booming berita Agnes Monica (A.K.A Agnez Mo) yang berkolaborasi dengan Michael Bolton pada pertengahan tahun 2011. Ternyata teman kerjaku juga banyak yang bertanya, siapa itu Agnes Monica. Ya, aku jawab saja bla bla bla (tapi tidak selengkap seperti yang ada di Wikipedia). "Wah, dia multitalenta sekali ya," tanggapan mereka. 


Di kafe juga sering diputar lagu yang menampilkan Michael Bolton itu, "Said I Love You But I Lied."bertanya, siapa itu Agnes Monica. 

Ya aku jawab saja bla bla bla (tapi tidak selengkap seperti yang ada di Wikipedia). 

Wah dia multitalenta sekali ya, tanggapan mereka.


Di cafe juga sering di putar lagu yang featuring Michael Bolton itu, Said I love You But I Lied.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁