Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Selasa, 02 Februari 2016

Money Changer Story (Part 1)



Pagi ini aku bangun pagi-pagi sekali. Biasanya pukul 09.00 pun aku belum mandi, tetapi pagi ini aku langsung bergegas meninggalkan tempat tidur menuju kamar mandi yang terletak di ujung lorong kosku. Tidak perlu sarapan, pikirku. Nanti saja di jalan sebelum menuju tempat penukaran uang (money changer).


Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, aku langsung menuju tempat penukaran uang yang berjarak kurang lebih dua kilometer saja. Namaku Aditya, kelahiran Kota Kembang, Bandung, dan saat ini usiaku 19 tahun. Meskipun orang tuaku tinggal di kota yang sama, setelah lulus sekolah dan mendapat pekerjaan di sebuah hotel, aku memutuskan untuk tinggal di kos.


Bagaimana ya transaksi di tempat penukaran uang itu? Aku belum pernah, soalnya. Di tengah perjalanan, aku menyempatkan diri mencari informasi tentang bagaimana cara bertransaksi di tempat penukaran uang. Pasti sangat berbeda dengan transaksi di bank pada umumnya. Lagipula, tempat yang akan aku kunjungi sekarang memang khusus melayani penukaran mata uang.


Karena belum sarapan, aku memutuskan untuk mampir terlebih dahulu ke sebuah restoran cepat saji. Tanpa sengaja, aku bertemu dengan teman kerjaku, namanya Dinda.


“Din, kok kamu tidak masuk kerja?” tanyaku sambil meneruskan makan.


“Tidak. Aku izin cuti beberapa hari. Ada keluarga datang dari kampung,” jawabnya sambil terburu-buru keluar.


Aneh sekali, pikirku. Biasanya Dinda tidak seperti itu. Kalau bertemu teman, apalagi aku yang merupakan rekan kerjanya, pasti banyak hal yang dibahas. Entahlah, aku juga tidak terlalu ingin tahu. Bukan urusanku.


Selesai makan, aku langsung menuju tempat penukaran uang itu. Aku punya kebiasaan mendengarkan musik melalui headset iPod Mini-ku daripada berjalan sambil melamun atau berkhayal yang tidak-tidak. Saking santainya, aku sampai bertabrakan dengan seseorang.


“Maaf, Mas!” sahutnya sambil menoleh ke arahku, lalu langsung berlalu berjalan di depanku. Bahkan mungkin setengah berlari.


“Dasar gob***!” gerutuku dalam hati.


Akhirnya, sampailah aku di tempat penukaran uang itu.


Oh iya, sebenarnya aku tidak pernah memiliki deposito atau menerima pembayaran dari kantor dalam mata uang asing. Jadi, aku memang tidak pernah punya uang asing sebelumnya.


Dua hari yang lalu, di hotel tempatku bekerja, ada tamu dari Belanda yang menginap. Aku bekerja sebagai petugas pengantar tamu, jadi tentu saja aku mendapat tugas untuk mengantar mereka.


Ada dua orang, keduanya laki-laki, kira-kira berusia sekitar 30 tahun dan 45 tahun.


Aku mendapat informasi bahwa mereka akan menginap selama tiga hari. Aku membantu membawakan tiga koper yang mereka bawa. Karena mereka menolak menggunakan troli, aku harus mengandalkan tenaga sendiri. Berat sekali. Ya, sangat berat.


Dengan kemampuan bahasa Inggris seadanya, aku mencoba memulai percakapan.


“Sorry, do you need people to take you wherever you go in this city?” tanyaku dengan sedikit terbata-bata.


Dengan ekspresi yang sedikit aneh, pria yang lebih tua menjawab,


“Ya, kami membutuhkan satu orang saja untuk mengantar kami menyusuri kota ini. Apa kamu bersedia?”


“Waduh? Kok ini bule bisa bahasa kampung gue?” batinku. Tahu begitu, tadi aku langsung bertanya pakai bahasa Indonesia saja.


“Iya, saya sudah biasa menjadi pemandu wisata (tour guide), Tuan. Tapi hanya di luar jam kerja,” jawabku sambil tersenyum malu.


“Bolehkah saya meminta nomor kontak yang bisa dihubungi?”


“Sebentar, Tuan,” jawabku sambil membukakan pintu kamar untuk mereka.


Sebelum bergegas meninggalkan kamar, aku memberikan secarik kertas yang berisi nomor ponselku.


“Terima kasih, Tuan. Selamat beristirahat,” kataku sambil keluar dan menutup pintu.


Ternyata pria yang lebih muda menahanku sejenak. Ia memberikan beberapa lembar uang dolar sebagai tip.


Siapa yang mau menolak?


Aku baru ingat.


Aku pernah melihat orang yang menabrakku tadi di hotel saat aku mengantar kedua tamu asal Belanda itu menuju kamar mereka.


Ah, masa iya aku masih ingat? Padahal cuma melihat sekilas.


Dan barusan aku melihat dia menyeberang jalan, lalu masuk ke tempat penukaran uang yang sama dengan tujuanku.


Siapakah dia?


Dan apa yang akan terjadi selanjutnya?


Sesampainya di tempat penukaran uang, tepat di depan pintu masuk, teleponku berdering. Ada panggilan masuk dari nomor baru. Aku langsung mengangkatnya.


Ternyata suara di ujung telepon terdengar kurang lancar berbahasa Indonesia. Setelah kutanya siapa, ternyata dia adalah orang yang kutemui di hotel kemarin.


Dia bilang aku harus menunggunya karena kebetulan dia sedang berada di seberang jalan. Memang benar, terlihat pria yang berusia sekitar 30-an itu. Setelah bertemu, dia memperkenalkan dirinya.


“Rony. Just call me Ron,” katanya.


Aku masih belum tahu kenapa harus menunggunya di luar tempat penukaran uang itu. Aku juga tidak bertanya. Mungkin dia hanya kebetulan melihatku saja. Seperti percakapan kami sewaktu di hotel, mereka membutuhkan seseorang untuk menjadi penunjuk arah jalan atau semacam pemandu. Meskipun sekarang banyak aplikasi smartphone yang canggih, tidak sedikit para pendatang, khususnya tamu di hotel tempatku bekerja, yang memang sengaja menyewa orang untuk menemani mereka. Dan ini bukan pertama kalinya bagiku.


Kemudian Ron menyuruhku mencari taksi dan memintanya menunggu di seberang jalan. Katanya, temannya yang satu lagi, Martin, sedang berada di dalam tempat penukaran uang itu dan akan kembali ke hotel.


Aku menurut saja. Seketika itu juga aku langsung menyeberang jalan dan menyetop sebuah taksi.


Setelah sekitar lima menit menunggu, akhirnya mereka terlihat berlari ke arah taksi yang sudah kuhentikan sebelumnya.


Kenapa mereka berlari?


Mereka bukan hanya berdua, melainkan bertiga dengan seorang pria yang bertubuh lebih pendek dari mereka. Yang lebih membuatku kaget, mereka semua memakai penutup wajah berwarna hitam. Aku masih mengenali mereka karena pakaian yang dikenakan masih sama seperti saat kami bertemu di hotel kemarin, kecuali pria yang satu lagi.


Tiba-tiba terdengar suara alarm dari dalam gedung. Beberapa petugas keamanan juga terlihat mengejar mereka.


Aku yakin, mereka baru saja merampok tempat penukaran uang terbesar di kota tempatku tinggal.


Ya Tuhan.


Mereka kemudian menyuruhku masuk ke dalam taksi terlebih dahulu, baru setelah itu mereka menyusul. Kami bertiga duduk di kursi belakang, sedangkan satu orang lainnya duduk di depan. Pria yang duduk di depan langsung menodongkan pistol ke kepala sopir taksi.


Seketika itu juga sopir langsung melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


Dari belakang terlihat dua mobil polisi mengejar sambil membunyikan sirene yang begitu keras. Semua orang di pinggir jalan tampak menoleh ke arah taksi yang kami tumpangi.


Sekitar 300 meter menjauh dari gedung itu, tiba-tiba terdengar suara tembakan.


Dooor!


Aku sangat terkejut.


Ternyata sopir taksi itu ditembak.


“Terlalu pelan,” kata pria yang duduk di depan.


Dia langsung menggantikan posisi sopir yang sudah tidak berdaya itu dan mengambil alih kemudi.


Aku tentu tidak tinggal diam. Aku terus meminta agar diturunkan. Aku memaksa dan terus memaksa karena tidak mau terlibat dalam masalah mereka. Aku tidak mau sampai berurusan dengan aparat penegak hukum, apalagi jika keluargaku sampai mengetahuinya.


Aku benar-benar bingung. Tidak tahu harus berbuat apa.


Melompat keluar juga tidak mungkin karena aku duduk di tengah-tengah mereka.


Meski begitu, aku tetap meminta mereka berhenti dan segera menurunkanku. Namun, mereka sama sekali tidak menggubris permintaanku.


Semuanya mendadak gelap setelah sebuah hantaman keras mendarat tepat di kepalaku.


Gelap.


Aku tidak tahu berapa lama aku tidak sadarkan diri. Yang kuingat hanya aku tertidur begitu saja.


Ketika membuka mata, aku melihat ke sekeliling. Ternyata aku masih berada di dalam sebuah mobil, tetapi bukan taksi yang tadi, melainkan sebuah mobil sedan.


Tangan dan kakiku dalam keadaan terikat. Mulutku juga ditutup rapat dengan plester berwarna hitam.


Aku sempat melihat pantulan diriku melalui kaca spion yang berada di depan.


Ternyata mobil itu sedang melaju di jalan tol.


Aku tidak tahu tepatnya berada di daerah mana, apalagi mobil melaju dengan kecepatan sangat tinggi.


Mereka masih bertiga.


Belum sempat berpikir lebih jauh, hantaman keras kembali kuterima tepat di kepalaku.


Semuanya kembali gelap.


Aku tidak ingat apa-apa lagi.


Seminggu sebelumnya, aku pernah bermimpi bertemu kedua orang tuaku dan saudara-saudaraku, termasuk adik perempuanku yang masih duduk di bangku SMP.


Kami membicarakan banyak hal, termasuk masa depanku.


Kata Ayah, pekerjaan apa pun boleh diterima dan dijalani, asalkan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.


Begitu juga Ibu. Beliau selalu mewanti-wanti agar aku berhati-hati dalam bergaul dan pandai memilih teman.


Rasanya seperti bukan mimpi.


Sebulan sebelumnya, aku juga sempat pulang ke rumah karena ada acara keluarga.


Anehnya, suasana di rumah saat itu persis seperti yang ada di dalam mimpiku.


Mungkin hanya terbawa mimpi.


Aku tidak tahu berapa lama aku pingsan.


Ketika kembali sadar, aku sudah berada di sebuah ruangan.


Sebuah kamar hotel, tepatnya.


Dari balik jendela terlihat gedung-gedung tinggi yang belum pernah kulihat sebelumnya.


Di mana aku?


Apa aku masih hidup?


Ya.


Aku masih hidup.


Buktinya, ada seseorang yang menyapaku dari belakang.


Dia adalah Ron.


Kemudian dia melepaskan perekat yang menutupi mulutku. Namun, di tangan kirinya masih tergenggam sebuah pistol yang diarahkan tepat ke kepalaku.


Aku mengatakan kepadanya bahwa aku tidak mau terlibat dalam masalah mereka.


Aku meminta mereka melepaskanku saja. Aku akan pergi dan berpura-pura tidak pernah mengetahui apa pun yang telah terjadi.


Namun, semua usahaku sia-sia.


Ron sama sekali tidak menggubris permintaanku.


Dia hanya menyuruhku diam, lalu menunjuk televisi yang berada di samping kiriku.


Di layar televisi sedang ditayangkan berita tentang perampokan sebuah money changer di Kota Kembang.


Ya.


Itulah tempat di mana beberapa jam sebelumnya aku berdiri tepat di depan pintunya.


Hal yang paling membuatku kaget sekaligus ketakutan adalah tayangan video yang memperlihatkan wajahku dengan sangat jelas saat menghentikan taksi dan masuk ke dalamnya, persis seperti yang kulakukan tadi.


Dalam berita itu juga dijelaskan bahwa aku merupakan salah satu anggota perampokan tersebut.


Ron kemudian memberikan dua pilihan.


Aku mengikuti semua yang dia perintahkan dan menjadi bagian dari kelompok mereka, dengan imbalan akan mendapatkan bagian dari hasil perampokan.


Atau…


Aku keluar dari ruangan itu begitu saja dan menghadapi tuduhan yang sudah menungguku di luar sana.


Aku hanya bisa terdiam.


Jika ikut bergabung, jelas itu salah.


Namun, jika keluar begitu saja, aku juga tidak mungkin bisa membuktikan bahwa aku tidak bersalah.


Serba salah.


Tidak…


Mungkin tidak sepenuhnya serba salah.


Seketika sebuah ide muncul di kepalaku.


Ide yang kupikir akan menjadi jalan keluar dan membuat semuanya kembali membaik.


Terutama…


untuk menyelamatkan hidupku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁