Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Selasa, 28 Oktober 2025

Nugraha is My Name (Part 51)



PERINGATAN !



Sebelum membaca artikel ini, diharapkan agar pembaca sudah berusia 17 tahun, mempunyai kemampuan untuk menghargai dan menerima juga open minded. 


Karena artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi dan terdapat konflik secara mendalam dari konteks, paradigma, opini dan juga akan menyertakan orang-orang yang pernah ada di kehidupan pribadi sang penulis secara jujur yang bisa dikonfirmasi secara komprehensif. 


---


Nak, bagaimana jika nanti aku tidak mampu menyayangimu seperti yang kamu harapkan? Bagaimana jika cintaku hanya begini-begini saja? Meskipun kamu selalu berkata tidak apa-apa selama aku selalu berusaha. Tapi bagaimana jika usahaku pun tidak pernah cukup untukmu, Nak?

Aku bangga menjadi bagian dari hidupmu. Sebagai orang yang pernah mencurahkan segalanya untukmu, mungkin rasa sayangku begitu dalam, tapi selama ini aku belum mampu membuat dirimu bangga, meski sebenarnya sungguh aku sedang berusaha.

Nak, jika pada akhirnya aku tidak pernah bisa menjadi orang yang kamu bayangkan, bolehkah aku tetap menjadi Ayahmu? Selamanya? 😭


Pada akhirnya, semua akan kembali sunyi.

Suara akan berhenti menjadi gema, langkah akan berhenti menjadi jejak, dan waktu akan berlari memanggil namaku. 

Raga akan melebur menjadi tanah, menjadi debu yang pernah mencinta, menjadi saksi bahwa aku pernah ada, walau hanya sekejap di mata mereka.

Tapi aku tidak pernah takut. 

Karena bukan raga yang membuatku hidup, melainkan segala yang pernah aku rasakan, ada tawa, air mata, dan cinta yang tidak pernah benar-benar usai.

Suatu hari nanti, ketika bumi menutup tubuhku, semesta akan tetap menyimpan sisa cahaya dari setiap kebaikan dan rasa yang pernah aku berikan.

Maka aku akan membiarkan tubuhku hilang, membiarkan waktu memisah, sebab cinta tidak pernah dikubur. Cinta hanya berganti wujud, menjadi bintang yang diam-diam menunggu di langit yang sama, tempat aku dan mereka yang akan pulang tanpa nama, tanpa bentuk, tapi masih saling mengenal dalam rasa. 


Aku tidaklah kuat, aku sedang memilih untuk memaklumi dan memaksa diriku agar terbiasa. 

Mereka memanggilku kuat, padahal aku hanya tahu cara bertahan tanpa pilihan.

Aku tidak sedang tabah, aku hanya terlalu sering kecewa hingga tangis pun tanpa diiringi oleh air mata.

Kuat? Tidak.

Aku hanya sedang berpura-pura utuh, agar dunia berhenti bertanya kenapa aku nyaris runtuh.

Walaupun duniaku tidak jelas, disertai jejak perjalananku yang kotor. Tapi aku selalu berharap semoga hidupku bisa menjadi penolong bagi mereka yang menyadari betapa dalamnya rasa sayangku kepada mereka. Aku juga berharap, semoga tangan kecil ini mampu merangkul mereka yang sedang merasa tidak ada satu orang pun yang memahaminya.


Aku juga berpikir, mungkin memang benar jika fase terberat dalam hidup adalah menerima. Menerima segala ketetapan, menerima bahwa harapan tidak selalu sejalan dengan kenyataan, menerima bahwa tidak ada satu pun di dunia yang benar-benar milik manusia, sebab semua akan hilang jika sudah waktunya. Dan pada akhirnya, menerima adalah membiarkan diri berjalan sambil membawa sunyi yang tidak pernah benar-benar hilang ditelan malam.


Terkadang aku mencari diriku sendiri, seperti mencari rumah dengan alamat yang tidak pernah tercatat di peta. Setiap persimpangan terasa asing, setiap jalan hanya menuntunku pada pintu yang bukan milikku.

Nyatanya itu lucu sekali. Aku memang mempunyai tubuh, tapi tidak tahu ke mana aku harus pulang.

Mungkin selama ini diriku hanyalah alamat yang hilang.

Ditulis dengan tergesa, lalu dibiarkan kabur, dan tidak pernah benar-benar ditemukan.


Seberapa rapuhnya aku, seberapa besar masalah yang aku hadapi, serumit apa pun jalan yang aku tempuh, aku tidak pernah berpikir untuk mengakhirinya dengan percuma. Karena selalu ada alasan kenapa aku harus tetap hidup. Salah satunya adalah karena ketika aku masih diberi kesempatan untuk hidup di dunia, itu artinya dunia masih membutuhkanku. Mungkin jika dunia yang menjadi alasannya, rasanya masih terlalu besar untuk diriku yang sudah berdiri di ambang batas seperti ini. Jika bukan dunia, mungkin hal yang menjadi alasan kenapa aku masih diberi kesempatan untuk tetap hidup adalah karena ada orang-orang yang masih membutuhkanku di samping mereka. 

Mungkin juga masih banyak hal lain di dunia ini jika aku mencoba untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda, semua itu bisa membuat diriku sadar, bahwa ternyata karena ini aku masih diberi kesempatan untuk tetap hidup. Entah itu untuk pedagang yang aku beli dagangannya, atau kucing jalanan yang aku elus dan beri makan, atau untuk orang yang sedang kebingungan dengan alamat yang aku beri petunjuk. Mungkin juga tentang tanaman yang selalu aku siram setiap hari. 

Atau mungkin karena ada satu nyawa yang masih membutuhkanku agar tetap ada meskipun tidak selalu di sampingnya. 


Terkadang aku banyak menghabiskan waktu hanya untuk mencari satu ikhlas di antara berjuta-juta kemarahan, ketidakterimaan, dan ketidakmampuanku dalam menerima kenyataan pada setiap harinya. Aku pun belajar mencari alasan untuk bisa mengalahkan setiap keluh yang tidak dapat membuatku tumbuh, dan belajar untuk mengusahakan maaf pada setiap kejadian yang tidak pernah aku harapkan.


Terlepas dari siapa yang salah, tapi aku memutuskan berhenti sampai di sini. Entah siapa yang jahat atau pengecut, tapi yang jelas aku dan masa laluku adalah manusia yang sama-sama gagal memahami dalam hal apa pun. 


Teruntuk diriku.

Tetaplah bersamaku, apa pun yang terjadi jangan pergi apalagi menjauh, karena aku tidak ingin kehilanganmu, aku tidak ingin kehilangan diri sendiri lagi. 


Sabtu, 04 Oktober 2025

Rumah Kavling (Part 1)



Rumah Kavling (Bagian 1)


Seorang pria berusia 33 tahun bernama Angga Pratama kini hanya menghabiskan hari-harinya dengan bekerja dan menulis, yang ia jadikan sebagai penghasilan tambahan atas saran psikiaternya.


Angga memiliki seorang anak laki-laki yang kini sudah duduk di kelas 3 SMP. Usia Angga dan anaknya hanya terpaut 16 tahun. Kenakalan Angga saat remaja membuatnya harus memikul beban sendirian atas pilihan salah yang pernah ia ambil di masa lalu.


Masa mudanya dihabiskan untuk berusaha memenuhi kebutuhan dirinya dan anaknya tanpa bantuan orang-orang terdekat. Banyak ketakutan yang tersimpan di dalam diri Angga. Salah satunya adalah ketakutan jika anaknya berada di jalan yang pernah ia lalui. Oleh karena itu, ia selalu berusaha mendidik anaknya dengan sebaik mungkin.


Angga adalah orang yang cukup tertutup dengan kehidupan yang tampak baik-baik saja. Ia tidak banyak membicarakan perihal pribadinya kepada siapa pun. Kehidupannya sengaja dibuat tertutup agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.


Baginya, selama masalah masih bisa diselesaikan seorang diri, orang lain tidak perlu tahu apa yang sebenarnya ia alami dan apa yang pernah ia lalui.


Angga hanya tinggal berdua bersama anaknya di sebuah kontrakan sederhana di tengah kota. Jangankan untuk membeli rumah, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja masih untung jika terpenuhi.


Sejak bercerai dengan istrinya—bahkan saat itu anaknya baru berusia tiga tahun—Angga memilih hidup sendiri agar lebih fokus mengurus anaknya.


Bukannya ia tidak membutuhkan orang lain, tetapi baginya, jika harus memulai hubungan baru, selalu ada rasa takut bahwa kejadian di masa lalu akan terulang kembali.


Berpisah karena pengkhianatan yang begitu menyakitkan bukanlah hal yang mudah untuk diterima. Bahkan waktu pun tidak mampu mengubur semua ingatan buruk di masa lalunya.


Oleh karena itu, ia lebih memilih hidup sendirian tanpa kehadiran orang baru. Baginya, prioritas utamanya bukan lagi dirinya sendiri, melainkan anaknya.


Ketika anaknya bahagia, ia akan merasa jauh lebih bahagia.


Angga begitu menyayangi anaknya.


Azriel Putra Nugraha, nama yang Angga berikan kepada buah hatinya.


Seperti pelangi yang hadir setelah hujan melanda, seperti embun yang menyejukkan pagi diiringi hangatnya mentari, dan seperti lantunan firman yang membawa kedamaian bagi jiwa-jiwa gelisah yang kehilangan arah.


Bagi Angga, Azriel adalah keindahan dan kesempurnaan di atas segala hal yang pernah terjadi dalam hidupnya.


Namun, pelangi tidak selalu hadir ketika hujan berakhir.


Embun dan hangatnya mentari pun tidak selalu datang pada pagi yang terkadang sengaja mendung.


Bahkan bagi sebagian orang, seindah apa pun firman menggema, semuanya hanya menjadi alunan yang berlalu tanpa irama.


Seperti saat datangnya kabar bahwa mantan istri Angga akan membawa Azriel untuk tinggal bersama keluarga barunya di luar kota.


---


Kini, Angga berada di persimpangan kebingungan: antara harus egois dengan menahan Azriel tetap tinggal bersamanya atau membiarkan dirinya jauh dari anak tercinta yang tidak pernah terpisahkan selama 16 tahun itu.


Angga dihadapkan pada kenyataan bahwa ia akan terpisah jauh dari belahan jiwa dan cinta sejatinya.


Setelah perpisahannya dengan sang anak, kini Angga hanya tinggal sendiri. Ia menghabiskan waktunya dengan bekerja serta melarikan kesedihan melalui berbagai macam minuman di tempat hiburan malam yang tidak jauh dari rumah kontrakannya.


Baginya, patah hati terbesar bukan lagi karena pengkhianatan, melainkan karena terpaksa harus berpisah jauh dari orang yang sangat ia sayangi dan cintai.


Tidak ada lagi semangat untuk menjalani kehidupannya.


Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk pergi dari kota itu dan berencana pindah ke tempat baru untuk memulai hidup tanpa bayang-bayang anaknya.


Angga mulai mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai housekeeping manager. Ia mulai mencari rumah yang bisa dibeli dengan uang tabungannya.


Hingga akhirnya, ia menemukan sebuah perumahan kecil yang disebut kavling di daerah yang cukup jauh dari kota tempat ia tinggal saat itu.


Niat kepindahan Angga ke perumahan kavling tersebut adalah agar ia bisa merasa lebih tenang dan nyaman untuk memulai kehidupan baru.


Apalagi, ia juga menyimpan kesedihan yang begitu dalam karena harus terpisah dari anaknya.


Namun, Angga baru mengetahui bahwa para penghuni perumahan itu sangat beragam. Mereka memiliki masa lalu dan latar belakang masing-masing yang membuatnya sadar bahwa ia bukan satu-satunya orang yang berniat memulai hidup baru di tempat itu.


Apakah hidup Angga akan menjadi lebih baik?


Banyak hal yang tidak pernah bisa diungkapkan.


Beberapa orang mungkin bisa membagi ceritanya kepada orang yang mereka sayangi. Sebagian lainnya mungkin bisa membagikannya kepada Sang Maha Pencipta.


Namun, tidak sedikit pula yang hanya mampu menuliskannya di layar komputer dan ponsel pintar karena tidak lagi menyimpan rasa percaya kepada dunia selain kepada dirinya sendiri.


Dan orang itu adalah Angga, si penghuni baru di kavling pinggiran kota.


Setelah kepindahannya ke kavling tersebut, hidup Angga mulai berubah.


Babak baru kehidupannya pun dimulai.


Ia mulai mengenal beberapa orang di Blok D, tempat ia tinggal saat ini.


Dalam satu blok terdapat empat belas rumah yang berderet saling berhadapan, khas perumahan murah pada umumnya.


Tidak ada yang berbeda dari segi bangunannya. Namun, yang jauh lebih menarik bagi Angga adalah karakter dan latar belakang para penghuninya yang membuatnya sedikit penasaran.


Angga menempati rumah di ujung jalan yang berdampingan dengan area persawahan dan berhadapan langsung dengan rumah nomor 14D.


Ia bersebelahan dengan tiga rumah yang hanya diisi oleh para penyewa. Kabarnya, pemilik rumah tersebut juga memiliki beberapa rumah lain di blok berbeda yang memang khusus disewakan.


Sementara itu, rumah nomor 13D yang berada tepat di seberangnya dihuni oleh sepasang suami istri beserta dua anak mereka yang masih bersekolah.


Kemudian ada rumah nomor 11D yang dihuni oleh seorang pria paruh baya yang hanya terlihat pada malam hari dan sesekali muncul pada siang hari—itu pun jika sedang hari libur.


Ada pula rumah nomor 9D yang dihuni oleh sepasang suami istri dengan seorang anak yang masih kecil.


Sedangkan rumah nomor 12D, 10D, dan 8D hanya diisi oleh penyewa. Karena merupakan rumah kontrakan, orang-orang yang menempatinya selalu berganti dan tidak ada yang menetap dalam waktu lama.


Ada juga rumah nomor 6D yang selalu kosong.


Rumah nomor 4D dihuni oleh sepasang suami istri. Sang istri berjualan secara daring, sedangkan suaminya bekerja sebagai pengemudi bus antarkota.


Rumah tersebut bersebelahan dengan dua rumah lain yang juga selalu kosong.


---


Berlanjut ke rumah nomor 3D yang dihuni oleh sepasang suami istri dengan satu orang anak. Istrinya bekerja sebagai pegawai kantoran, sedangkan suaminya terakhir dikabarkan hanya mengurus rumah tangga.


Rumah nomor 5D dihuni oleh seorang wanita pensiunan yang usianya sudah tidak muda lagi. Ia tinggal seorang diri.


Dan rumah nomor 7D dihuni oleh sepasang suami istri dengan seorang anak.


**


Pada awalnya, Angga bukanlah orang yang pandai bergaul. Namun, setelah kepindahannya ke rumah kavling itu, ia menjadi seseorang yang berbeda.


Ia mulai mengenal orang-orang di sana. Tentu saja, ia tidak pernah menceritakan banyak kisah tentang dirinya karena baginya, ada banyak hal yang hanya perlu ia ketahui dan rasakan sendiri.


Ia tidak ingin orang lain mengetahui bagaimana masa lalunya.


Dari keseluruhan perjalanan hidupnya, Angga hanya membagikan banyak kepalsuan yang telah ia rancang dengan begitu halus hingga tidak seorang pun menyadari kebohongan yang ia lakukan.


Pertama, Angga mengaku bekerja sebagai admin di sebuah toko daring. Padahal, pekerjaan utamanya adalah penulis lepas dan blogger.


Kedua, ia mengaku belum pernah menikah. Padahal, kenyataannya ia baru saja menjauh dari bayang-bayang anaknya dan masa lalunya.


Ketiga, ia mengaku sudah tidak memiliki orang tua dan tidak mempunyai saudara kandung. Bahkan dengan saudara lainnya pun Angga tidak dekat. Ia mengaku hidup sebatang kara.


Baginya, kepindahan ke rumah kavling itu benar-benar untuk memulai hidup baru.


Meskipun sejauh ini ia merasa berhasil membuat para tetangganya percaya, hal itu tidak menghapus rasa sakit karena terpaksa melepaskan dan berjauhan dari anaknya sendiri.


Namun, ia tetap yakin bahwa dirinya akan merasa lebih baik di tempat tinggal barunya.


Karena bagi Angga, melepas itu seperti menguliti rasa sakit itu sendiri. Pada awalnya memang terasa perih dan menyiksa, tetapi seiring berjalannya waktu, melepas adalah proses bertumbuh untuk membentuk hati dan perasaan agar menjadi lebih kokoh.


Angga masih bertukar kabar dengan anaknya, Azriel. Ia juga menyampaikan pesan agar anaknya selalu bersikap baik kepada ibu dan ayah sambungnya.


Mereka memang berjauhan secara jarak, tetapi itu tidak berarti mereka akan terpisah secara perasaan.


“Aku tidak pergi atau menjauh. Aku masih di sini untukmu. Hanya saja aku sengaja mundur beberapa langkah untuk memberi ruang agar kamu bisa melangkah.


Aku juga tidak berhenti peduli. Aku masih memperhatikanmu dari jauh. Hanya saja aku sadar ada yang lebih bisa membuat senyummu semakin indah di sana.


Nanti bila kamu terluka, carilah aku.


Saat ini, nikmati bahagiamu bersama mereka.


Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.


Yang penting, kamu selalu tahu bahwa kamu adalah cinta yang tidak akan pernah tergantikan.”


**


Kini, kehidupan baru Angga segera dimulai.


Dimulai di sebuah tempat yang disebut kavling.


— Rumah Nomor 13D —


Ketika Angga baru pindah ke kavling, Pak Sidik dan Bu Sidik adalah orang pertama yang ia kenal.


Di setiap perumahan, entah memang sudah menjadi kebiasaan atau karena alasan lain, hampir semua istri yang tinggal di kompleks perumahan terbiasa dipanggil dengan nama suaminya. Begitu pula dengan Bu Sidik.


Kedua anaknya bersekolah di sebuah SMA negeri yang tidak jauh dari kavling tempat mereka tinggal. Keduanya adalah anak laki-laki dan kini duduk di kelas 2 SMA.


Angga menjadi penasaran mengapa kedua anak itu bersekolah di tempat yang sama dan berada di tingkat kelas yang sama.


Kalau mereka anak kembar, mungkin itu wajar. Namun, keduanya tidak memiliki kemiripan sama sekali.


Bukan Angga namanya jika rasa penasarannya tidak terjawab.


Ia mulai mencari tahu dengan melakukan pendekatan kepada salah satu anak mereka yang bernama Fajar karena hanya Fajar yang terlihat lebih mudah diajak mengobrol dibandingkan Bima yang cenderung lebih tertutup.


Pak Sidik dan istrinya memiliki usaha jual beli emas di sebuah pasar.


Hal itu terlihat dari penampilan Bu Sidik yang selalu mengenakan perhiasan hampir di setiap jarinya sehingga terkesan glamor. Namun, hal tersebut masih terbilang wajar karena memang usaha mereka bergerak di bidang jual beli emas.


Pak Sidik dan istrinya terlihat seperti pasangan yang tidak bisa dipisahkan. Menurut Angga, mereka seperti sepasang kekasih yang baru bertemu.


Ke mana-mana selalu berdua.


Membersihkan rumah berdua.


Melakukan kegiatan di luar rumah juga berdua.


Bahkan banyak hal yang sebenarnya bisa dilakukan oleh salah satu dari mereka saja, tetapi tetap mereka lakukan bersama.


Pandangan Angga terhadap Pak Sidik dan Bu Sidik ternyata tidak jauh berbeda dari kenyataan.


Fajar pernah bercerita bahwa kedua orang tuanya memang baru menikah.


Bahkan, usia pernikahan mereka belum genap satu tahun.


Jadi, begini….


Pada suatu ketika, ada seorang pria yang sedang membutuhkan uang untuk mengobati istrinya ke rumah sakit. Karena penyakitnya yang serius, pria itu sampai harus menjual rumah dan barang-barang, termasuk beberapa perhiasan. Ketika semuanya hampir terjual habis, takdir berkata lain; sang istri meninggal dunia.


Setelah kepergian istrinya, si suami hanya tinggal berdua di sebuah kontrakan bersama anaknya yang bernama Bima.


Bima yang pada awalnya periang dan mudah bergaul, setelah kehilangan ibunya menjadi anak yang selalu murung dan pendiam. Tidak ada lagi keceriaan dalam hari-harinya. Ayah Bima, Pak Sidik, yang pada saat itu merasa masa berkabungnya sudah cukup lama, mulai mencari ibu pengganti untuk anaknya.


Pak Sidik mempunyai kebiasaan buruk, yaitu suka bermain judi. Begitu ia teringat ada sisa perhiasan peninggalan mendiang istrinya, ia langsung menjualnya ke sebuah toko. Kebetulan, ia menjualnya ke tempat yang sama seperti saat sebelum membawa istrinya ke rumah sakit.


Entah memang sudah menjadi takdir karena semesta membawa jiwa-jiwa kesepian untuk dipertemukan, kedua orang yang pada awalnya hanya sebatas pembeli dan penjual itu kini saling menaruh asmara. Apalagi, seorang wanita yang mempunyai usaha jual beli emas yang sekarang lebih akrab dipanggil Bu Sidik itu pada saat tersebut sudah hidup menyendiri bertahun-tahun karena suaminya meninggal dunia.


Karena memiliki masa lalu yang sama, yaitu ditinggalkan pasangan masing-masing, keduanya memantapkan hati untuk mengikat hubungan mereka dalam janji suci pernikahan.


Setelah menikah, mereka membeli rumah di sebuah perumahan kecil yang disebut kavling. Bima, anak Pak Sidik, dan Fajar, anak Bu Sidik, pun pindah ke sekolah yang sama agar tidak jauh dari rumah. Apalagi usia Bima dan Fajar juga sebaya.


Pak Sidik dan istrinya berharap anak-anak mereka cepat akrab dan akur seperti saudara pada umumnya. Namun, kenyataannya tidak sesuai harapan.


Bima melihat karakter ibu tirinya sangat jauh berbeda dengan ibu kandungnya. Bu Sidik sangat keras dan perlakuannya berbanding terbalik dengan perlakuannya kepada Fajar. Bima semakin terlihat murung dan menjadi anak yang pendiam setelah kepindahannya ke rumah baru itu.


Bukan hanya Bima, Fajar pun tidak lagi seceria biasanya ketika berada di rumah. Bu Sidik yang sebelumnya hanya memperhatikan Fajar, kini perhatiannya terpecah untuk suami baru dan anak tirinya. Fajar merasa dirinya tidak lagi diperhatikan seperti dahulu.


Fajar, yang pada awalnya adalah anak baik dan penurut, kini mempunyai caranya sendiri untuk mengisi ruang kosong dalam dirinya. Ia mulai bergaul dengan teman-temannya, pergi bermain, dan baru pulang tengah malam. Bahkan, tidak jarang ia baru pulang keesokan harinya. Fajar juga sudah jarang masuk sekolah.


Pikirannya menjadi kalut karena kehilangan sosok ibu yang raganya masih ada, tetapi hati, pikiran, dan kasih sayangnya terasa berada entah di mana.


Fajar mulai mengenal penghuni baru kavling yang berada tepat di depan rumahnya, yaitu Angga.


Fajar merasa bahwa Angga adalah orang yang cocok untuk berbagi perasaan yang selama ini hanya ia simpan sendiri. Ia merasa Angga bisa menjadi teman yang baik tanpa memandang perbedaan usia di antara mereka. Apalagi, Fajar yakin bahwa dengan saling bertukar cerita bersama Angga, rasa kecewanya terhadap keadaan hidupnya akan sedikit memudar.


Namun, Fajar tidak tahu bahwa Angga tidaklah seperti yang ia kira. Faktanya, Angga tidak pernah benar-benar menceritakan tentang kehidupannya yang pedih dan menyakitkan kepada siapa pun, termasuk kepada Fajar.


Dari kedekatan mereka, justru Angga-lah yang lebih diuntungkan. Ia bisa mengetahui cerita kehidupan masa lalu penghuni rumah nomor 13D yang mungkin tidak akan pernah diketahui oleh penghuni kavling lainnya.


Bahkan, Angga menulis tentang keluarga Fajar di blog pribadinya.


Terakhir kali Fajar bercerita, Pak Sidik masih melakukan kebiasaan buruknya, yaitu berjudi. Hingga akhirnya, usaha jual beli emas Bu Sidik pun bangkrut.


Kini, sepasang suami istri yang baru menikah itu mulai merintis usaha baru.


Lalu, setelah Bu Sidik mengetahui kebiasaan buruk suaminya, akankah mereka berpisah atau tetap melanjutkan hubungan pernikahan mereka?


“Ketika semuanya sudah terjadi, hanya ada dua hal yang bisa kita pilih, yaitu pergi atau memaklumi. Kalau pergi akan terasa sakit pada awalnya, tetapi ketika memilih untuk memaklumi, semua itu akan berubah menjadi lebih baik atau malah menjadi air mata yang tidak berhenti mengalir karena kekecewaan yang akan terus terjadi.”


**


Otak Angga mungkin memang berantakan, tetapi ia masih bisa mengorganisasi setiap bagian pikirannya.


Angga pun mulai mencari tahu tentang kehidupan para penghuni lainnya yang ada di kavling itu.


— Rumah Nomor 11D —


“Hidup bukan hanya soal melewati hari demi hari dalam pola yang sama. Setiap pagi memberi kita kesempatan baru untuk menulis cerita yang berbeda. Halaman-halaman waktu tidak meminta kesempurnaan, tetapi kehadiran kita yang utuh dengan kesadaran, niat baik, dan keberanian untuk hidup dengan makna.”

— Penulis


**


Hari-hari Angga hanya diisi dengan menonton film, membaca, dan menulis beberapa artikel. Sesekali, ia juga menulis di blog pribadinya.


Sejak perpisahannya dengan sang anak, seiring berjalannya waktu, kini tidak ada komunikasi lagi di antara mereka. Mantan istrinya juga tidak pernah memberi akses kepada Azriel untuk saling bertukar kabar dengan Angga.


Kini mereka benar-benar terpisah, entah sampai kapan semua itu akan berakhir.


Meskipun ada ungkapan yang mengatakan bahwa perpisahan adalah pertemuan yang tertunda, bagi Angga, perpisahan yang ia jalani bersama anaknya adalah sebuah paksaan. Baginya, mengikhlaskan adalah pilihan yang dibuat secara sadar tanpa harus menyalahkan keadaan.


Karena bagi Angga, puncak tertinggi dari mengikhlaskan seseorang adalah ketika ia sudah tidak lagi mempermasalahkan apa yang menjadi penyebabnya.


Angga mulai memaksa dirinya untuk terbiasa dengan keadaan, mulai menerima rasa sakitnya, dan perlahan melepaskan harapan serta kerinduan yang selama ini menggerogoti dirinya. Dalam proses mengikhlaskan semuanya, Angga belajar melepaskan angan, keinginan, dan luka yang masih tersisa.


Meskipun demikian, Angga tetap berusaha membiasakan dirinya agar terlihat baik-baik saja di depan para tetangganya. Apalagi sekarang ia sudah hampir satu tahun tinggal di rumah kavling itu.


Angga selalu memperhatikan kehidupan orang-orang yang tinggal di sana. Salah satunya adalah penghuni rumah nomor 11D.


Namanya Pak Danu. Umurnya hampir lima puluh tahun. Ia bekerja sebagai chef di salah satu kafe terbaik yang ada di pusat kabupaten. Orangnya memang ramah, tetapi sangat tertutup mengenai kehidupan pribadinya.


Kabar yang Angga dengar dari para tetangga, Pak Danu berstatus duda dan sudah memiliki cucu dari kedua anaknya.


Angga memang tidak terlalu akrab dengan Pak Danu, tetapi ia mempunyai teman yang bisa dimanfaatkan untuk mengorek banyak informasi.


Sudah hampir satu tahun Angga dekat dengan Fajar. Keduanya cukup akrab dan sering menghabiskan waktu bersama; bermain gim, mengobrol, dan sesekali pergi keluar untuk sekadar mengopi.


Angga memang tidak seumuran dengan Fajar, tetapi ia bisa dengan mudah menyesuaikan diri dengan berbagai kalangan usia di kavling itu.


Pada suatu ketika, Fajar mengajak Angga untuk mengopi di sebuah kafe yang berjarak sekitar sepuluh menit perjalanan dengan sepeda motor.


Sesampainya di sana, Angga melihat sosok yang tidak asing di dekat pantry. Orang itu adalah Pak Danu.


Kemudian, Angga bertanya kepada Fajar tentang Pak Danu yang ternyata bekerja di kafe tersebut.


Fajar mulai menceritakan awal perkenalannya dengan Pak Danu.


Saat keluarga Fajar pindah ke kavling, Pak Danu sudah lebih dulu tinggal di sana. Katanya, ia adalah salah satu penghuni pertama di Blok D.


Saat itu Fajar masih duduk di kelas 2 SMP. Kedua orang tuanya sibuk, sedangkan Fajar yang belum mempunyai teman sering kali bingung harus bermain dengan siapa. Apalagi, ia tidak begitu akrab dengan saudara tirinya, Bima.


Pada suatu hari, ia disapa oleh Pak Danu.


Fajar yang saat itu masih belum mengerti apa-apa sangat antusias berkenalan dengan tetangga barunya tersebut. Ia diajak ke rumah Pak Danu untuk menonton televisi dan menikmati camilan.


Rumah mereka yang bersebelahan membuat keduanya tidak sulit untuk saling menyapa.


Pada suatu ketika, Fajar dipanggil oleh Pak Danu untuk datang ke rumahnya, dan hal itu memang sudah menjadi kebiasaan.


Fajar tidak menaruh curiga apa pun.


Namun, saat itu menjadi kali terakhir bagi Fajar menginjakkan kaki di rumah Pak Danu.


Hari itu juga menjadi hari terakhir mereka bertegur sapa karena terjadi sesuatu yang membuat Fajar ketakutan setengah mati.


Saat sedang menonton televisi, tiba-tiba Pak Danu melakukan tindakan yang tidak pantas terhadap dirinya.


Fajar berontak dan berteriak.


Seketika itu juga, Pak Danu meminta maaf dan mengaku bahwa ia mulai merasa nyaman dengan Fajar, meskipun usia mereka terpaut sangat jauh.


Fajar yang ketakutan kemudian ditenangkan oleh Pak Danu dan dijanjikan bahwa perbuatan itu tidak akan pernah terulang lagi.


Pak Danu juga meminta agar Fajar tidak membicarakan kejadian tersebut kepada siapa pun.


Setelah kejadian itu, hubungan di antara dua tetangga itu menjadi renggang. Namun, Pak Danu tidak berhenti di situ. Setelah gagal dengan Fajar, ia mulai mendekati Bima. Hingga sekarang, Bima dan Pak Danu tetap dekat, dan berkali-kali Bima menginap di rumah Pak Danu jika kedua orang tuanya sedang ke luar kota.


Setelah mendengar cerita itu, Angga hanya terdiam. Keingintahuan Angga pun berlanjut. Ia selalu memperhatikan gerak-gerik Pak Danu. Bahkan, beberapa kali Angga melihat Bima keluar-masuk rumah Pak Danu. Bukan hanya Bima, Pak Danu juga sering membawa orang berbeda hampir setiap hari. Hal itu mengisyaratkan bahwa cerita Fajar selama ini benar adanya.


Namun, semua itu tidak menjadi masalah pribadi bagi Angga, karena setiap orang memiliki pilihan dan konsekuensi atas pilihannya.


— Rumah No 9D —


Kehidupan Angga di kavling itu terlihat baik-baik saja. Ia sudah cukup pandai beradaptasi dengan kondisinya saat ini: identitas baru, pekerjaan baru, tetangga baru, dan cerita-cerita baru yang ia tulis setiap waktu demi memenuhi kebutuhan hidupnya.


Namun, pada kenyataannya, hidup Angga tidak benar-benar lebih baik dari para tetangganya. Ia hanya pandai menutupinya saja. Apalagi setelah perpisahan dengan anaknya, kini Angga menjadi sosok yang rapuh dan begitu menderita secara batin. Sesekali, Angga mengirim pesan kepada anaknya yang tidak pernah menunjukkan tanda telah dibaca.


“Nak, bagaimana jika nanti aku tidak mampu menyayangimu seperti yang kamu harapkan? … Jika pada akhirnya aku tidak pernah bisa menjadi orang yang kamu bayangkan, bolehkah aku tetap menjadi ayahmu selamanya?”


**


Lagi, Angga mengetahui cerita dari tetangga lain. Kali ini bukan dari Fajar, tetapi dari Bu Arum, seorang pensiunan yang tinggal di rumah nomor 5D.


Rumah nomor 9D dihuni oleh sepasang suami istri dengan satu orang anak, yaitu Mita dan Basri.


Mita berasal dari keluarga berada. Orang tuanya adalah dokter. Wajar jika Mita saat lulus SMA langsung diterima di kampus ternama dengan mengambil jurusan kedokteran. Namun, masa remaja tidak pernah lepas dari fase jatuh cinta. Mita berparas cantik dan pintar. Ia mulai berpacaran dengan sesama mahasiswa di kampusnya. Tanpa pengawasan orang tua, Mita hamil. Namun, pacarnya tidak mau bertanggung jawab dengan alasan bahwa Mita tidak hanya berhubungan dengan satu pria.


Hidup Mita hancur. Perkuliahannya berantakan. Orang tua Mita kecewa dan tidak lagi mengakui Mita sebagai anaknya. Ia diabaikan begitu saja, hingga Mita harus hidup mandiri bersama calon anak yang dikandungnya.


Mita mulai bekerja di kantor pembiayaan asuransi. Di sana, ia dekat dengan rekan kerjanya bernama Basri. Basri adalah pria sederhana. Hatinya tidak sesederhana ekonominya; ia mau menerima keadaan Mita dan berjanji akan menerima Mita serta calon bayi yang dikandungnya. Setelah perkenalan singkat, Basri mengenalkan Mita kepada keluarganya untuk dinikahi.


Setelah mendapat persetujuan, mereka menikah di KUA secara sederhana. Mereka tinggal di kontrakan sederhana. Hari yang dinanti pun tiba: lahirnya seorang bayi laki-laki bernama Zaki. Basri sangat bahagia. Mita pun senang, meskipun beban yang ia tanggung selama sembilan bulan telah usai.


Basri, yang bukan ayah biologis Zaki, tetap menerima Zaki seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan, orang tua Basri membelikan rumah untuk cucu mereka di kavling.


Namun, Mita bukanlah perempuan yang mengerti rasa terima kasih. Ketika Zaki baru berusia 90 hari, Mita sudah kembali bekerja. Sedangkan Zaki diasuh oleh Basri yang mengorbankan pekerjaannya demi fokus merawat anak yang ayah kandungnya saja tidak diketahui keberadaannya.


Kini Zaki sudah berusia enam tahun. Mita sibuk dengan pekerjaannya, berangkat pagi dan pulang malam. Basri mulai mencari uang tambahan dengan menjadi pengemudi ojek daring agar tetap bisa meluangkan waktu bersama Zaki.


— Rumah No 7D —


Angga sudah belajar untuk berteman dengan sunyi. Mungkin ia belum bisa tinggal bersama anaknya lagi, tetapi di tengah kesendiriannya ia bisa berdamai dan menerima kekosongan itu.


Rumah nomor 7D dihuni oleh sepasang suami istri beserta satu orang anak. Suaminya bernama Pak Yuda, seorang residivis atas kasus kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan terhadap anak tirinya. Istrinya bernama Bu Alma yang bekerja di kantor bersama Mita. Sedangkan anaknya bernama Dini yang kini duduk di kelas 1 SMA.


Dua tahun yang lalu, setelah perceraian dengan ayah kandung Dini, Bu Alma pindah ke kavling itu. Tidak lama kemudian, seorang pria paruh baya bernama Pak Yuda mengontrak di rumah nomor 10D. Karena sama-sama kesepian, mereka melangsungkan pernikahan. Pak Yuda kemudian pindah ke rumah nomor 7D, rumah milik Bu Alma.


Bu Alma adalah sosok yang cukup perhatian. Dini pun dengan cepat menerima kehadiran Pak Yuda sebagai ayah tirinya. Namun, keharmonisan itu tidak berlangsung lama. Kejadian tersebut menggemparkan karena Pak Yuda melakukan pelecehan dan kekerasan fisik terhadap Dini. Pak Yuda pun dibawa oleh pihak kepolisian.


Setelah kejadian itu, Bu Alma menggunakan kekuatan finansialnya untuk melobi petugas dan memilih menitipkan Dini kepada mantan suaminya agar ia dan Pak Yuda bisa segera bersama kembali.


**


Kini, Angga merasa kehidupannya di kavling itu sedikit membosankan. Apalagi hari-harinya hanya diisi dengan menulis berbagai macam artikel, meskipun sekarang ia bekerja sama dengan salah satu media ternama. Angga merasakan perasaan yang mengganjal di hatinya.


Angga memiliki keinginan untuk menyusul anaknya, Azriel, ke luar kota.


Akankah Angga berhasil bertemu dengan anaknya?


Bersambung.