Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Selasa, 02 Februari 2016

Money Changer Story (Part 2)



Aku menyetujui negosiasi mereka.


Ikatan di tangan dan kakiku pun dilepaskan.


Telepon di sakuku terus bergetar. Aku hanya bisa melihat notifikasi di layar ponsel yang masih terkunci. Ada sekitar seratus panggilan masuk, lebih dari seratus pesan, serta banyak sekali notifikasi BBM dan WhatsApp.


Aku tidak berani membuka semuanya.


Kemudian, aku melepas baterai ponsel dan mematahkan kartu SIM-nya, lalu menyimpan kembali ponsel itu ke dalam saku.


Terdengar percakapan samar dari ruangan di samping kamar tidur. Aku pun diajak bergabung dengan mereka.


Hal yang paling membuatku terkejut, ternyata di antara mereka ada Andri, atasanku di hotel tempatku bekerja. Dia adalah staf bagian pemasaran.


Dia mengucapkan selamat datang kepadaku. Begitu juga Martin dan Ron.


Kami berempat langsung menghitung uang yang menumpuk di atas meja.


Ada pecahan rupiah, dolar, euro, dan masih banyak mata uang lainnya.


Aku masih terus berpikir, bagaimana caranya aku bisa dibawa masuk ke kamar hotel ini? Dan bagaimana mereka membawa uang sebanyak ini, apalagi ini hotel berbintang? Hal itu terlihat dari ukuran kamar dan furnitur yang ada di sekeliling ruangan.


Entahlah.


Aku juga tidak ingin tahu.


Percuma saja jika aku mengetahuinya.


Setelah hampir satu jam, semua uang itu selesai dihitung.


Dan wow…


Banyak sekali.


Aku belum pernah melihat uang sebanyak ini.


Aku benar-benar tidak menyangka terhadap Andri.


Ternyata dia seorang perampok.


Padahal, dengan gaji yang dia terima setiap bulan, seharusnya kehidupannya sudah lebih dari cukup. Apalagi dia hidup sendiri tanpa memiliki tanggungan.


Namun, ini bukan lagi tentang siapa dia atau siapa orang lain.


Melainkan tentang siapa diri kita sendiri.


Dan aku?


Aku hanya bersyukur masih hidup.


Uang itu kemudian dipisah-pisahkan.


Kata Martin, sebagian digunakan untuk biaya operasional. Sebagian lagi untuk membayar orang-orang yang telah membantu mereka.


Siapa mereka?


Entahlah.


Saat itu juga terdengar ketukan di pintu.


Ron langsung mengambil dua gepok uang dan memberikannya kepada orang yang berada di luar.


Ternyata ada dua orang.


Dari celah pintu terlihat jelas mereka mengenakan seragam hotel.


Oh iya…


Mereka adalah orang-orang yang membantu kami masuk ke kamar hotel ini.


Aku juga mendapatkan bagianku.


Empat gepok uang dolar dan enam gepok uang rupiah.


Bagianku memang yang paling sedikit di antara kami berempat.


Wajar saja.


Aku masih orang baru dan hanya membantu mencarikan taksi untuk pelarian mereka.


Namun, jumlah itu tetap sangat besar bagiku.


Lagipula, kalau tadi aku tidak membantu mereka mendapatkan taksi, mungkin mereka akan jauh lebih sulit melarikan diri.


Aku melihat Andri memasukkan uang dalam jumlah yang jauh lebih banyak ke dalam tas punggungnya.


Banyak sekali.


Saat itu, Andri hanya tersenyum bangga ke arahku, lalu bergegas meninggalkan kamar hotel.


Terdengar percakapan yang kurang jelas antara Ron dan Martin.


Mungkin mereka sedang membicarakanku.


Tidak penting untuk mengetahuinya.


Kemudian kami bertiga duduk di sofa sambil menonton televisi.


Hampir semua stasiun televisi memberitakan perampokan tersebut.


Dengan jelas wajah dan namaku ditampilkan di layar. Beberapa kali juga diputar rekaman CCTV dari luar gedung yang memperlihatkan diriku sedang menghentikan taksi.


Yang lebih mengejutkan, profil lengkapku juga terpampang di tayangan berita itu.


Aku hanya bisa terdiam.


Bingung harus berbuat apa.


Aku tidak tahu harus pergi ke mana.


Aku juga tidak tahu harus menghubungi siapa, karena rasanya tidak akan ada lagi orang yang percaya kepadaku.


Sementara itu, Ron dan Martin hanya tertawa melihat semua itu.


Tak lama kemudian, mereka mengambil fotoku.


Posenya seperti saat aku difoto untuk membuat KTP di kelurahan.


Setelah itu, mereka menelepon seseorang.


Aku tidak mendengar isi percakapannya dengan jelas.


Hanya satu kata yang terdengar saat telepon itu ditutup.


“Deal.”


Beberapa saat kemudian, mereka memberiku secarik kertas.


Isinya seperti sebuah kode.


Ya…


Itu adalah kode pemesanan tiket pesawat.


Di sana juga tertulis tanggal serta waktu keberangkatannya.


Kenapa mereka harus memilih aku?


Kenapa bukan orang lain saja?


Aku punya keluarga.


Apa yang akan dikatakan orang-orang nanti tentang keluargaku?


Aku benar-benar bingung. 


Kami bertiga keluar dari hotel itu. Aku sengaja memakai topi dan kacamata yang diberikan Ron saat keluar tadi. Tidak lama kemudian, seseorang memberikan sebuah amplop berwarna cokelat kepadaku.


Kemudian, Ron menyuruhku berangkat ke bandara menggunakan taksi.


“Nanti bertemu di sana,” katanya.


Aku tidak tahu juga “di sana” yang dia maksud di mana. Aku langsung masuk ke dalam taksi dan segera menuju bandara.


Sekitar satu jam kemudian, aku baru tiba di area bandara karena lalu lintas di ibu kota sore itu cukup padat.


Sopir taksi bertanya aku akan menuju terminal berapa.


Aku hanya terdiam dan terus berpikir.


Sopir itu bertanya sampai tiga kali.


Tiba-tiba ponselku bergetar.


Nomor baru.


Dengan kode daerah…


Oh, bukan.


Ternyata itu kode telepon luar negeri.


Di ujung telepon terdengar suara seorang perempuan. Katanya, aku harus menuju Terminal 1.


Aku langsung memberi tahu sopir taksi bahwa tujuanku adalah Terminal 1.


Kenapa dia tahu nomor teleponku?


Padahal nomor ini khusus kugunakan untuk internet saja, karena nomor yang biasa kupakai untuk menelepon dan mengirim SMS sudah kubuang saat masih di hotel tadi.


Mungkin ini ulah Ron atau Martin.


Aku langsung turun dan menuju lobi.


Kemudian ada SMS masuk lagi dari nomor yang sama.


Aku diminta melakukan check-in menggunakan kode booking dan membuka isi amplop yang tadi diberikan seseorang sebelum aku berangkat ke bandara.


Ternyata isi amplop itu adalah sebuah paspor.


Foto di dalamnya sama persis dengan foto yang tadi diambil Ron saat di hotel, tetapi identitasnya berbeda.


Namaku berubah menjadi Jason Ariandry.


Tempat dan tanggal lahirku juga berbeda.


Hanya tahunnya saja yang sama.


Saat sedang melakukan check-in, aku merasa ada beberapa orang yang melihat ke arahku.


Perasaanku semakin tidak karuan.


Jangan-jangan mereka tahu kalau akulah yang merampok tempat penukaran uang tadi siang.


Tanpa menoleh lagi ke arah mereka, aku langsung menuju loket check-in.


Ternyata aku akan terbang menuju negara “Patung Singa”.


Ya Tuhan…


Kenapa jauh sekali?


Aku belum pernah bepergian sejauh itu.


Meskipun pernah beberapa kali naik pesawat, semuanya hanya ke kota-kota kecil yang masih berada di wilayah Indonesia.


Itu pun bersama teman-teman saat menghadiri reuni sekolah.


Di bandara, aku sengaja mampir ke sebuah kedai makanan karena terakhir kali makan adalah tadi pagi sebelum menuju money changer.


Aku mencoba bersikap santai, meskipun jantungku masih terus berdebar tidak karuan.


Karena jadwal keberangkatanku masih sekitar satu jam lagi, aku menyempatkan diri membuka ponsel.


Aku mereset semuanya, lalu mencoba menyalakannya kembali.


Kartu SIM yang biasa kupakai untuk internet kubuang begitu saja.


Kebetulan di sana tersedia jaringan Wi-Fi.


Aku mencoba membuka akun Facebook.


Ternyata ada sangat banyak pesan yang masuk.


Semuanya berasal dari orang-orang yang kukenal.


Aku memilih salah satunya.


Putri.


Adikku.


Karena terlalu banyak pertanyaan yang dia kirimkan, salah satunya, “Kenapa Kakak melakukan itu?”, aku akhirnya membalas pesannya.


Namun, aku tidak menjawab satu pun pertanyaannya.


Aku hanya menulis,


“Aku baik-baik saja. Ini bukan pekerjaanku, bukan niatku. Aku tidak pernah melakukan hal sebodoh ini. Aku juga tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Ini sulit untuk dijelaskan. Tidak akan ada yang percaya. Yang jelas aku baik-baik saja. Salam untuk Ibu dan Ayah. Wassalam.”


Tanpa terasa air mataku menetes.


Bagaimana mungkin aku tidak sedih?


Aku harus menjauh dari orang-orang yang kusayangi demi menghindari kesalahan yang bahkan tidak pernah kulakukan.


Kemudian aku membuka pesan dari Dinda, teman akrabku.


Aku sangat terkejut.


Dan sangat menyesal.


Seandainya tadi, saat bertemu di tempat makan dekat money changer, aku sempat bertanya kenapa dia bersikap seperti itu.


Aku mulai membaca pesannya.


Kalimat pertama adalah permintaan maaf.


Setelah itu, dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Ternyata dialah yang membantu Ron dan Martin menjalankan semua rencana ini.


Dia juga mengetahui bahwa Andri memang ikut merencanakan perampokan tersebut.


Bahkan dengan sengaja, dialah yang mengatur agar aku menjadi orang yang mengantar tamu itu saat mereka menginap di hotel.


Pantas saja waktu itu tidak ada seorang pun yang mau mengambil tugas tersebut selain aku.


Dia juga yang memberikan semua informasi tentang diriku kepada mereka.


Termasuk…


tempat yang akan kukunjungi hari itu.


Yaitu money changer.


Dia memberi alasan bahwa semua itu dilakukan karena membutuhkan banyak uang.


Apalagi keluarganya di kampung cukup besar.


Ada tiga adiknya yang masih sekolah dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.


Aku tidak peduli apa alasannya.


Aku hanya membalas singkat,


“Kenapa harus aku?”


Aku kembali terdiam.


Melamun.


Tidak lama kemudian, Dinda membalas lagi.


“Nanti kamu akan tahu semuanya, kenapa yang dipilih adalah kamu. Kamu hanya perlu bersabar dan mengikuti apa yang harus kamu lakukan.”


Aku semakin bingung.


Beberapa saat kemudian terdengar pengumuman bahwa pesawat yang akan kutumpangi sudah siap dan seluruh penumpang dipersilakan menuju ruang keberangkatan.


Aku berjalan lunglai.


Tanpa tenaga.


Pikiranku sangat kacau.


Sangat kacau.


Aku berjalan menuju pesawat dengan langkah yang begitu pelan. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi saat pesawat ini tiba di tujuan nanti. Pikiranku benar-benar kacau.


Aku bahkan tidak sadar berjalan sangat lambat hingga membuat antrean panjang menuju pintu masuk pesawat. Terdengar beberapa orang di belakangku mulai menggerutu.


Begitu masuk, aku langsung mencari tempat duduk sesuai yang tertera di tiket. Kebetulan saat itu pesawat tidak terlalu penuh.


Tidak lama kemudian, seorang perempuan menghampiriku.


Ternyata aku menempati kursi miliknya, tepat di sisi jendela yang menghadap ke luar. Saat itu pemandangan di luar sangat gelap. Hanya lampu-lampu di sekitar landasan pacu yang terlihat.


Tepat pukul sebelas malam saat aku melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku.


Aku teringat bahwa jam itu adalah hadiah ulang tahunku yang ke-18 dari Anisa, setahun yang lalu.


Anisa adalah mantan pacarku.


Dulu kami bersekolah di tempat yang sama. Namun, sejak lulus sekolah, aku tidak pernah lagi mendengar kabarnya. Aku hanya mendapat cerita dari seorang teman bahwa dia pergi menjadi TKW mengikuti jejak ibunya.


Beberapa menit kemudian, pesawat pun lepas landas (take off).


Aku hampir lupa kalau di sebelahku duduk seorang perempuan berambut panjang dengan penampilan yang sangat fashionable.


Cantik.


Biasanya, kalau sedang bertemu perempuan, aku akan langsung berkenalan dan bersikap sok akrab.


Namun sekarang…


Naluri itu seolah menghilang begitu saja.


Yang memenuhi pikiranku hanyalah rasa takut.


Bagaimana nasibku nanti?


Aku akan tinggal di mana?


Apalagi ini adalah pertama kalinya aku pergi ke luar negeri.


Sudah pasti kehidupan di sana akan sangat berbeda dengan kampung halamanku.


Tidak ada seorang pun yang kukenal.


Ron dan Martin pun aku tidak tahu lagi berada di mana.


Meskipun sebenarnya aku juga tidak berniat mencari tahu, tetap saja merekalah yang membawaku sampai ke titik ini.


Aku harus meninggalkan semuanya.


Ya…


Semuanya.


Keluarga.


Teman-teman.


Dan pekerjaanku.


Hal yang semakin membuat pikiranku kacau adalah aku meninggalkan semua itu dengan citra yang sangat buruk.


Padahal kenyataannya, aku tidak pernah berniat melakukan semua itu.


Tiba-tiba ada sebuah tangan menyentuh bahuku.


Aku langsung terkejut.


Ternyata perempuan yang duduk di sebelahku.


Dia menawarkan beberapa makanan dan minuman yang sudah dipesannya.


Namun, aku menolaknya.


Usahanya tidak berhenti sampai di situ.


Dia kemudian memperkenalkan diri.


Namanya Marisa.


Dia berasal dari Indonesia dan sedang menempuh pendidikan sekaligus bekerja part-time di negara berlambang singa itu, tuturnya.


Usianya sekitar dua puluh lima tahun.


Aku pun tidak tinggal diam.


Aku memperkenalkan diri dengan nama yang tertera di paspor.


Jason.


Aku mengatakan bahwa aku sedang berlibur.


Sejak saat itu kami mengobrol cukup banyak.


Di antaranya tentang pekerjaan masing-masing.


Aku mengatakan bahwa aku bekerja di sebuah hotel dan saat ini sedang cuti.


Sedangkan Marisa sedang kuliah sambil bekerja di sebuah perusahaan properti.


Dia kemudian bertanya di mana aku akan tinggal selama berada di sana.


Karena sebelumnya aku sempat bercerita bahwa aku akan berlibur dalam waktu yang cukup lama.


Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, dia langsung menawarkan sebuah apartemen.


Lokasinya tidak jauh dari pusat kota dengan harga yang menurutnya cukup terjangkau, terutama bagi wisatawan seperti aku.


Seumur hidup, aku hanya pernah tinggal di rumah dan belakangan di rumah kos.


Aku belum pernah tinggal di apartemen.


Namun, kupikir tidak akan jauh berbeda dengan hotel.


Aku belum sempat menyetujuinya.


Namun, Marisa langsung memberikan kartu namanya.


Mungkin dia tahu kalau saat ini aku sedang kebingungan.


Beberapa menit kemudian, terdengar pengumuman dari pengeras suara bahwa pesawat tujuan negara berlambang singa itu akan segera mendarat (landing).


Dari atas saja sudah terlihat betapa megahnya bandara itu.


Pantas saja bandara ini masuk dalam daftar bandara termegah di dunia.


Marisa mengucapkan, “Sampai jumpa.”


Lalu dia berjalan di antara para penumpang yang berdesakan ingin segera keluar dari pesawat.


Aku sendiri tidak tahu berapa lama tadi sempat tertidur.


Tasku?


Masih ada.


Karena memang hanya satu tas itulah yang kubawa.


Isinya hanya uang dan paspor palsuku.


Setelah keluar dari pesawat, aku langsung menuju pemeriksaan imigrasi.


Petugas bertanya apa tujuanku datang ke negara berlambang singa ini.


Aku menjawab bahwa aku datang untuk berlibur dan akan tinggal di apartemen milik seorang teman.


Sambil berbicara, aku menunjukkan kartu nama yang diberikan Marisa saat di pesawat.


Setelah pemeriksaan selesai, aku masih belum tahu harus pergi ke mana.


Apalagi malam sudah semakin larut.


Aku juga belum mengetahui bagaimana keadaan kota ini.


Apakah aman atau tidak.


Aku mencoba menyalakan ponsel.


Baru saja menyala beberapa detik…


Ponsel itu langsung mati lagi.


Baterainya habis.


Bagaimana aku bisa mencari tahu tujuanku?


Alat yang selama ini selalu kuandalkan untuk mencari informasi justru tidak bisa digunakan.


Akhirnya, aku hanya duduk di sebuah kursi yang berada tepat di tengah lobi kedatangan.


Memang banyak orang berlalu-lalang.


Namun, entah kenapa aku merasa sangat kesepian.


Tanpa teman.


Tanpa tujuan.


Harus ke manakah aku sekarang?


Menuju apartemen yang ditawarkan Marisa?


Entahlah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁