Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Selasa, 22 September 2026

Pulang, Kampung (Bab 1)



Sinopsis: 

Seorang penulis berusia 34 tahun menjalani hari-harinya di Bandung dengan rutinitas yang nyaris selalu sama. Hingga suatu hari, setelah sebuah keadaan membuat keuangannya kembali aman, muncul keinginan sederhana yang tidak pernah ia rencanakan: pulang ke kampung halaman di Cianjur Selatan.

Ia sendiri tidak tahu mengapa ingin pulang.

Ada sebuah acara keluarga yang bisa menjadi alasan, tetapi bukan itu saja. Di balik keputusan sederhana tersebut, tersimpan sebuah harapan kecil yang bahkan belum mampu ia pahami.

Mungkin perjalanan pulang bukan sekadar tentang kembali ke sebuah tempat.

Mungkin ada sesuatu yang sedang menunggunya di sana.


------

Bab 1: Sampai Kapan? 


Aku tidur sekitar pukul tiga atau empat pagi. Kadang karena terlalu lama menulis, kadang karena terlalu asyik membaca, dan kadang sebenarnya tidak ada alasan apa-apa. Mataku belum mengantuk, sementara malam terasa masih terlalu panjang untuk segera diakhiri.


Aku biasanya bangun sekitar pukul sebelas atau dua belas siang.

Atau ketika lapar.

Tidak ada alarm yang benar-benar harus kuturuti. Tidak ada seseorang yang menungguku bangun pagi-pagi. Tidak ada kewajiban yang membuatku harus bergegas meninggalkan tempat tidur.

Begitulah hari-hariku belakangan ini.

Bangun, mandi, makan, lalu kembali menjalani hari dengan sesuatu yang kadang jelas, kadang tidak.


Aku membaca beberapa buku. Membuka tulisan-tulisan lama. Memeriksa draft yang pernah kubuat. Kadang menemukan ide baru dan menyuruh diriku sendiri untuk segera menuliskannya sebelum hilang begitu saja.

Sebagian menjadi tulisan.

Sebagian hanya berhenti sebagai draft.

Ada juga yang hanya menjadi ide yang kusimpan entah sampai kapan.


Aku bekerja sebagai penulis. Sebagian besar pekerjaanku tidak membutuhkan kantor, meja kerja yang selalu sama, atau jam masuk tertentu. Aku bisa menulis ketika ingin menulis. Bisa berhenti ketika kepala sudah terlalu penuh.

Mungkin terdengar menyenangkan.

Dan memang ada menyenangkannya.

Tetapi ada satu pertanyaan yang belakangan semakin sering muncul.

Sampai kapan?

Sampai kapan aku akan menjalani hari-hari seperti ini?

Aku tidak sedang mengeluh. Setidaknya aku tidak tahu harus mengeluh kepada siapa. Hidupku baik-baik saja. Aku masih bisa bekerja, masih bisa membaca, masih bisa menulis, masih bisa mendengarkan lagu-lagu yang kubuat sendiri.

Kadang aku membuka lagu itu berulang-ulang.

Mendengarkan bagian yang menurutku sudah bagus.

Lalu menemukan bagian lain yang rasanya masih kurang.

Kadang aku menulis lirik. Kadang mencoba menyusun aransemen musik. Kadang hanya mendengarkan lagu sambil memainkan ponsel tanpa melakukan apa-apa.


Sore atau malam, kalau bosan, aku keluar untuk ngopi.

Duduk beberapa waktu, melihat orang-orang menjalani hidup mereka masing-masing.

Setelah itu kembali ke tempat kos.

Malam adalah waktu ketika sebagian besar orang mungkin mulai beristirahat, tetapi bagiku justru saat itulah hari terasa baru dimulai.

Aku kembali membuka laptop.

Menulis di KBM.

Menulis di blog pribadi.

Atau hanya membuka dokumen kosong dan membuat beberapa draft yang mungkin tidak akan pernah selesai.

Begitu terus.


Hari berganti hari.

Minggu berganti minggu.

Dan entah sejak kapan, rutinitas yang dahulu terasa biasa mulai terasa seperti sesuatu yang tidak memiliki tujuan yang jelas.

Mungkin bukan hidupku yang sedang salah.

Mungkin aku saja yang mulai bertanya terlalu banyak.

Sampai kapan begini?


Awal September kemarin sebenarnya sempat membuat semuanya sedikit berubah.

Ada erupsi.

Setelah itu, pekerjaan dan pemasukan yang biasanya berjalan cukup teratur mendadak berantakan. Uang yang biasanya masuk setiap dua atau tiga hari sekali terlambat. Kali ini bukan terlambat sehari atau dua hari.

Lebih dari dua minggu.

Aku hanya bisa menunggu.

Menunggu pekerjaan selesai.

Menunggu pembayaran masuk.

Menunggu semuanya kembali normal.

Kemudian, beberapa waktu lalu, uang yang tertahan itu akhirnya masuk.

Bukan sedikit-sedikit seperti biasanya.

Sekaligus.

Aku langsung menyelesaikan cicilan untuk tanggal satu Oktober. Uang untuk membayar kos tanggal sepuluh Oktober juga sudah aman.

Setelah semuanya selesai, aku duduk dan berpikir.

Ternyata untuk beberapa waktu ke depan, kebutuhan sudah beres.

Lalu muncul pertanyaan sederhana yang bahkan tidak pernah kurencanakan sebelumnya.

Ngapain aku di Bandung?


Aku tidak sedang punya urusan yang harus dikejar.

Tidak ada pekerjaan yang mengharuskanku pergi ke tempat tertentu.

Tidak ada kepentingan mendesak.

Dan tiba-tiba aku teringat kampung.

Sudah lama aku tidak pulang.

Terakhir kali saat Lebaran.

Padahal bulan depan keponakanku juga akan menikah. Ada acara yang memang harus kuhadiri, meskipun waktunya masih sekitar dua atau tiga minggu lagi.


Biasanya kalau pulang, aku memang punya alasan.

Ada sesuatu yang harus dilakukan.

Ada acara.

Ada kepentingan.

Kali ini berbeda.

Aku tidak pernah merencanakannya.

Tidak pernah berpikir sebelumnya.

Namun, setelah semua kebutuhan di Bandung aman, pikiran itu datang begitu saja.

Pulang kampung saja, kali.

Sesederhana itu.


Aku belum tahu apa yang akan kucari di sana.

Aku bahkan belum tahu apa yang kuharapkan.

Yang muncul di kepalaku hanya suasananya.

Kampung.

Jalan-jalan yang mungkin masih sama.

Udara yang berbeda.

Hari-hari yang mungkin berjalan lebih lambat.

Dan entah kenapa, di balik keinginan sederhana untuk pulang itu, ada sebuah harapan kecil yang belum bisa kujelaskan.

Aku sendiri belum tahu harapan itu tentang apa.

Mungkin nanti aku akan tahu.

Atau mungkin tidak.


Untuk sekarang, aku hanya tahu satu hal.

Setelah sekian lama, untuk pertama kalinya aku ingin pulang tanpa alasan yang benar-benar bisa kusebutkan.

Dan mungkin, untuk sekali ini, aku tidak perlu tahu alasannya.

Cukup pulang dulu.