Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Minggu, 03 Mei 2026

Nugraha is My Name (Part 56)



PERINGATAN!


Sebelum membaca artikel ini, diharapkan agar pembaca sudah berusia 17 tahun, mempunyai kemampuan untuk menghargai dan menerima juga open minded. 

Karena artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi dan terdapat konflik secara mendalam dari konteks, paradigma, opini dan juga akan menyertakan orang-orang yang pernah ada di kehidupan pribadi sang penulis secara jujur yang bisa dikonfirmasi secara komprehensif. 

 

-------


Terkadang aku juga ingin menjadi seseorang yang dicintai, dimiliki, disayangi dan dipedulikan sebagaimana aku juga memperlakukan orang lain seperti itu. Tapi letak ketulusan itu pada kenyataannya tidak seperti itu. Mungkin jika hanya mengutamakan logika, semua itu hanya akan dikatakan sebagai timbal balik sebagai manusia pada umumnya. Tapi jika mengutamakan perasaan, justru semua itu bisa dikatakan sebagai sesuatu yang tulus tanpa mengharap balasan. 

Meskipun pada kenyataannya manusia itu saling memanfaatkan untuk mencari keuntungan, tapi menurutku semuanya tergantung dengan perspektif atau cara pemahaman masing-masing orang itu sendiri. 

Aku pun masih tetap seperti manusia pada dasarnya yang mencari keuntungan di setiap waktunya. Hanya saja aku tidak terlalu menyimpan ekpektasi dengan apa yang sudah pernah aku lakukan. Aku belajar untuk mengikhlaskan segala hal yang ada. 

Aku juga tidak akan selalu bertanya kenapa semua itu terjadi kepada hidupku. Karena aku ada keyakinan bahwa semua ini memang benar dan layak untuk aku terima. Aku bukan menyerah dengan keadaan, tapi ada di tahap pasrah dengan apa yang aku dapatkan. Tidak ada lagi ruang untuk mengeluh apalagi hingga berasumsi bahwa sang Pemberi tidak pernah adil. Aku belajar untuk melapangkan dada dan hatiku untuk menerima banyak hal yang tidak pernah aku sangkakan sebelumnya. Karena aku tahu bahwa ini semua sudah jalan takdirku. 


Dari banyak luka yang aku rasakan, banyak di antaranya bukan dilakukan oleh orang lain. Tapi hampir semuanya oleh pilihanku sendiri. 

Ya, aku pernah menyakiti perasaanku sendiri dengan cara menaruh harapan demi harapan pada sesuatu yang tidak pasti. 

Semuanya bermula ketika logikaku dikalahkan oleh perasaanku. 

Aku pernah menyimpan banyak perasaan untuk mereka yang datang silih berganti. Ada yang bermula dari sesi cerita hingga mereka menerima juga menemukan solusi untuk permasalahan mereka masing-masing.

Ada yang memulainya dengan perkenalan untuk sebuah pertemanan tapi aku malah menyalahartikan. Dan terkadang aku selalu menganggap bahwa perlakuan baik mereka terhadapku juga setulus dan sedalam perasaanku kepada mereka. Tapi pada kenyataannya mereka hanya menganggapku teman yang biasa mereka perlakukan seperti biasanya, seperti teman-teman mereka yang lainnya. 


Hingga pada akhirnya mereka tahu dengan apa yang sebenarnya aku rasakan dan apa yang aku inginkan. Aku selalu berharap ada suatu ikatan lebih di antara aku dan salah satu dari mereka. 

Memang ada di antaranya yang memberi respon pasti yang membuatku segera pergi, tapi aku kadang dibuat bingung oleh respon yang tarik ulur hingga aku kehilangan kontrol atas perasaan yang terjadi pun tidak pernah pasti. 

Terkadang begitu yakin, terkadang pula menjadi semakin tidak yakin. Hingga pada akhirnya aku melepaskan dan menjauhinya dengan perlahan tapi pasti. 


Di tengah perjalanan panjangku hingga sejauh ini, di antara bertubi-tubinya jalan terjal yang berhasil aku lalui, tapi sejauh ini aku tidak pernah risau lagi dengan pengertian cinta sejati. 

Bahkan aku sudah menemukan cinta sejatiku hingga berani mengambil langkah terakhir dalam hidupku. 

Meskipun aku tidak pernah mendapatkan cinta yang aku harapkan dari "sosok" yang semestinya, dan di tengah ketidakpastian takdir dalam hidupku sendiri, aku masih memiliki cinta yang sejatinya murni tanpa memandang hal apa pun yang mungkin bagi sebagian orang akan mempertanyakannya. Tapi aku memiliki dan bahkan tetap memilihnya dari relung hatiku yang paling dalam tanpa syarat atau hal yang mungkin bisa menjadi alasan lainnnya walau masih alakadarnya.

Cinta yang bukan berdasarkan hasrat manusia pada umumnya, tapi ini cinta murni yang aku miliki tanpa harus memikirkan berapa harga yang harus aku bayar nantinya.

Dan cinta itu untuk dia, untuk anakku.


Aku akan terus belajar untuk hidup dengan sebaik mungkin, hingga aku lupa bahwa ada orang-orang yang pernah aku sayangi sedalam itu. Aku akan menjadikan semuanya menjadi hal sebiasa dan senormal mungkin hingga aku sendiri tidak sadar bahwa aku mencurahkannya dari segenap hati terdalamku. 


Sekarang aku tidak tahu sedang berada di tahap kehidupan yang seperti apa. Aku mencoba menjalaninya dengan penuh semangat tanpa membebani perasaanku sendiri. 

Mungkin orang lain akan melihatnya sedang di titik terendah, tapi percayalah bahwa hampir semua titik terendah yang mereka sebutkan itu aku pernah mengalami dan melewatinya. 

Tapi aku akan menyebutnya ini adalah hadiah yang tidak bisa semua orang mendapatkannya. 

Aku yakin tidak semua orang akan mampu dan menerima bahkan bisa menjalani kehidupan sebaik aku jika posisinya seperti ini. 

Dan aku mempunyai keyakinan bahwa aku akan selalu mampu melewati banyak cobaan di depan sana nantinya. 


Mungkin seburuk apa pun halaman hidupku sebelumnya, langkahku tetaplah masa depan. Maka tugasku hanya menjadi baik bukan sempurna. Aku hanya perlu menjadi lebih baik dari sebelumnya, dan bukan untuk lebih baik dari mereka.