Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Sabtu, 09 Mei 2026

Nugraha is My Name (Part 57)



PERINGATAN!


Sebelum membaca artikel ini, diharapkan agar pembaca sudah berusia 17 tahun, mempunyai kemampuan untuk menghargai dan menerima juga open minded. 

Karena artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi dan terdapat konflik secara mendalam dari konteks, paradigma, opini dan juga akan menyertakan orang-orang yang pernah ada di kehidupan pribadi sang penulis secara jujur yang bisa dikonfirmasi secara komprehensif. 

 

-------


Di tepi pantai dengan semilir angin yang bertiup seperti hati yang semakin hari semakin membenci tapi selalu terhenti dengan kesadaran di saat air mata menepi di pipi. Kuseka air mataku dengan pasti hingga hanya butiran pasir yang tersisa seperti perasaan ini yang selalu menepati janjinya untuk tetap tegar walaupun pada kenyataannya aku bisa saja meronta bahkan teriak hingga membuat semuanya terkoyak. Tapi untuk apa? Untuk apa? 


Untuk apa aku mempermasalahkan seteguk bir yang mungkin menjadi dosa menurut mereka yang ahli agama hingga menyuarakan firman-firman-Nya silih berganti ditelinga yang sebenarnya bukan itu yang seharusnya dicermati. 

Justru bagiku yang menjadi dosa itu adalah ketika membiarkan salah satu saudaraku ada yang terlunta-lunta mencari arah jalan hingga tersungkur mencoba menggali ke sana kemari tapi buntu seperti hanya menggali kuburannya sendiri. 


Pedih, perih, sakit, hingga terbakar api neraka pun rasanya sudah menjadi maklum bagiku nantinya.

Ini bukan tentang cerita karena dicampakkan oleh sang kekasih atau pujaan hati, tapi ini tentang perasaan seorang anak yang merasa terbuang jauh hingga melipir sejenak pun tidak mungkin lagi untuk aku alami. 

Mungkin aku melihat sosok itu, tapi aku tidak merasakannya seperti seharusnya, seperti semestinya. Aku hanya berlinang air mata ketika mencoba berdamai dengan semua keadaan ini. Sejenak berkhayal bisa berbincang dari hati ke hati dengannya. Bercerita bagaimana perjalanan hidupku sejauh ini tanpanya. Mencoba mencerna kenyataan bahwa hal seperti itu tidak mungkin lagi untuk bisa aku rasakan. Berbenah diri dengan keadaan hati yang berceceran darah itu sangat menyakitkan. Seperi sesederhana lebam yang setiap saat disentuh dan tidak pernah sembuh hanya dengan isyarat doa demi doa. 

Aku membutuhkan ucapan dan pengakuan atau sesederhana maaf yang tidak sulit untuk disampaikan. Lukaku begitu dalam hingga membuatku terpental entah ke bagian dunia mana lagi kini aku tertinggal. 


Entah berapa paragraf yang harus aku tuliskan lagi, agar aku bisa bercerita betapa sesaknya semua ini. Kapan lamanya semua ini akan lipur, setahun, sewindu, atau seumur hidupku? Atau mungkin seumur hidupku pun tidak akan pernah cukup? Lantas harus seberapa lama lagi? 


Katanya, anak laki-laki adalah tanggung jawab dirinya sendiri. Dan aku mencoba untuk tumbuh seorang diri. Bahkan seperti anak yatim-piatu pun sudah aku coba alurkan sebagaimana sajaknya perjalanan panjangku. Dan mereka menontonku babak belur dari kursi paling nyaman di pojok sana. 

Tapi terkadang aku sedikit heran, kenapa anak laki-laki ini masih harus pandai menyembunyikan tangis di hadapan mereka? 

Mengapa anak laki-laki ini harus terus berpura-pura ceria? 

Padahal sudah jelas dari kata "babak belur" saja tidak perlu lagi ada yang dibicarakan atau sesederhana dengan pertanyaan "kenapa" untuk memulai sebuah obrolan. 

Aku hanya butuh tangan untuk menopang. 

Aku begitu lelah berjalan sendirian di tengah ketidakpastian. 

Tenagaku sebagai anak laki-laki tidak sekuat itu. Aku sama lemahnya dengan "mereka". 

Bahkan kini aku sudah sempoyongan tanpa arah tujuan. Aku hidup hanya karena aku masih hidup. 


Jika ditanya, apa yang sebenarnya membuatku tetap bertahan meski setiap saat aku hampir menyerah dan bahkan hampir mengakhiri semuanya? 

Pertama, aku mencoba untuk menemukan caranya bertahan. 

Kedua, aku membuat caranya bertahan. 

Hingga ketiga, aku tidak pernah menemukan cara lainnya lagi. 

Hidupku sudah di ambang batas yang ada. 

Semuanya hanya tentang waktu yang akan membawaku pergi, dan itu pun entah akan ke mana nantinya. Ternyata benar, aku hidup hanya karena aku masih hidup. 


Bertahan dan berjalan sendirian itu tidaklah mudah. Di tengah perjalananku mungkin aku bertemu dengan orang-orang yang memberiku inspirasi, ada buku yang membuatku sedikit terilhami, ada firman yang sesekali menguatkanku. 

Hingga membuatku berpikir bahwa apa pun yang terjadi, sekalipun itu membuatku semakin hari semakin terbelenggu, aku akan semakin terbiasa nantinya. 


Di sepertiga malam menuju hari yang tidak pasti, aku selalu berdoa agar diberikan kesempatan untuk tetap sehat dan panjang umur juga rezeki yang cukup. Agar aku tetap bisa menyaksikan bagaimana mereka menghabiskan sisa kehidupan terbaik yang mereka miliki. Tanpa iri apalagi dengki. Aku cukup bersyukur tidak memiliki semua perasaan itu.