PERINGATAN!
Sebelum membaca artikel ini, diharapkan agar pembaca sudah berusia 17 tahun, mempunyai kemampuan untuk menghargai dan menerima juga open minded.
Karena artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi dan terdapat konflik secara mendalam dari konteks, paradigma, opini dan juga akan menyertakan orang-orang yang pernah ada di kehidupan pribadi sang penulis secara jujur yang bisa dikonfirmasi secara komprehensif.
-------
Tahun lalu penuh cerita, sebagian manis, sebagian memar, dan beberapa malah membekas.
Namun yang paling berkesan bukan tentang bahagia, melainkan cara Tuhan membuatku tetap berdiri.
Ada hari ketika aku hampir menyerah.
Lalu entah bagaimana, kekuatan datang tanpa suara, seperti tangan tak terlihat yang menahan jatuhku.
Aku belajar satu hal.
Bahwa bertahan adalah mukjizat, dan jika hari ini aku masih bernapas, itu karena Tuhan belum selesai denganku.
Tapi aku sudah merasa selesai dengan hidup pribadiku. Perjalanan panjang tentangku sudah usai. Usai bukan berakhir, tapi untuk memulai suatu langkah baru untuk hal yang pernah aku benci sebelumnya. Menjadi guru?
Lagi pula hidup ini selalu menjadi kelas terbuka.
Tempat kita melukai tanpa sengaja dan terluka tanpa sempat bersiap.
Setiap orang pernah tersesat, salah membaca arah,
atau gagal memahami hati orang lain.
Namun hidup tidak menuntut sempurna, hanya meminta kita belajar ulang, memaafkan yang pecah, dan tumbuh dari apa pun yang pernah runtuh bahkan sempat remuk.
Hingga pada akhirnya segala yang terasa berat pun akan lewat.
Seperti hujan yang selalu tampak abadi padahal hanya singgah sebentar di atap jiwa.
Sebesar apa pun derasnya, ia tetap punya waktu untuk reda dan membiarkan tanah yang rapuh belajar kering kembali.
Begitu juga aku.
Sebanyak apa pun luka yang turun, percaya bahwa suatu hari aku akan bernapas lega tanpa harus takut badai berikutnya.
Dan kabar baiknya, aku masih hidup.
Tapi kabar buruknya, aku juga masih hidup. Masih hidup menjadi hal yang baik sekaligus buruk bagiku. Baik karena itu berarti aku masih punya ruang untuk mencoba memperbaiki diri atau setidaknya memahami apa yang sedang kacau dalam diriku. Tapi buruk karena setiap hari terasa seperti pengulangan ujian yang belum kutemukan jawabannya, hari demi hari sebatas mengingatkanku pada beban yang belum selesai.
Di tengah dua sisi itu, aku hanya bisa berdiri. Tidak sepenuhnya ingin pergi, tapi juga belum tahu bagaimana caranya benar-benar hidup. Itu dulu sebelum aku memutuskan untuk melangkahkan kaki ke tempat yang baru ini. Tempat di mana aku benar-benar tidak pernah menyukainya. Dan harapan itu menjadi ada hingga benar-benar terlihat meski masih di pelupuk mata sang mentari yang entah kapan akan menyinari suramnya hidup ini.
Dalam perjalanan hidupku, aku tidak pernah berniat untuk jatuh hati, namun dengan hadirnya beberapa orang mengubah segalanya.
Seperti angin sore yang menggerakkan daun tanpa suara. Kehadiran mereka begitu lembut, tapi membuat hatiku bergetar hebat. Dan aku tak lagi bisa berpaling.
Kehangatannya seperti cahaya kecil di tengah ruang gelapku. Aku mulai melihat harapan dari hal-hal sederhana. Dari cara mereka berbicara, berjalan, sampai cara dunia mencintai masing-masing di antara mereka.
Aku terpesona, tanpa mampu mengelak. Jatuh hati ini seperti hujan pertama setelah musim panjang.
Segar, jujur, dan tidak pernah kuminta. Namun ia datang membawa kehidupan baru. Menyentuh relung terdalam dalam jiwaku, tepat di tengah ubun-ubun kepalaku.
Mereka aku anggap seperti deburan ombak yang akan kembali ke tengah samudra. Keberadaannya memang mengesankan, tapi tidak akan pernah aku berusaha untuk memegang salah satu dari tangan mereka.
Dan jika semua itu salah, maka aku tidak ingin benar. Karena setiap bagian dari diri mereka mengajariku arti rasa. Dan aku jatuh hati dengan cara yang paling tenang, dan dengan cara yang paling indah.
Tentangku, tentangmu, tentang mereka dan tentang siapa pun yang ikut andil di dalam kehidupanku. Entah di masa lalu dan di kehidupan yang akan datang, aku sudah dan akan selalu berusaha memperlakukan semuanya dengan cukup baik.
Mungkin akan terlihat terlambat, atau mungkin juga akan terlihat berbeda dari kebanyakan orang pada umumnya yang sudah memulai dan mempunyai segalanya.
Tapi bagiku, tidak harus mempunyai segalanya agar dibilang hebat. Dengan aku selalu berusaha untuk tidak merepotkan siapa pun saja itu sudah lebih dari hebat.
