Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Rabu, 10 Februari 2016

Cerita dari Negeri Amerika (Part 10)



Aku pun mulai membaca surat tugas pertamaku.

 

Ternyata tugas pertamaku adalah melakukan penyelidikan terhadap kasus pembunuhan yang ada di sebuah rumah di kawasan elit daerah Buttonwood Ln, Virginia, sekitar dua jam perjalanan menggunakan mobil. Meskipun masih sekadar asisten penyelidik, aku sangat antusias. 

Bersama teman baru yang baru kukenal beberapa jam, namanya Richard, aku berangkat. Dia berasal dari London dan sudah dua tahun bekerja di sini, di kantor intelijen Amerika. Sejak pertama kali bekerja pun, dia sudah bergelut di bagian lapangan. Kebetulan dia lulusan dari sekolah ternama di negara asalnya, Inggris. Setibanya di tempat kejadian perkara (TKP), ternyata polisi sudah melakukan penyelidikan terlebih dahulu, tapi kami tetap harus melaksanakan tugas ini. Kami pun turun dari mobil. 


Pembunuhan? 

Seorang wanita yang berusia 25 tahun ditemukan tidak bernyawa di dalam rumahnya. Dia sudah menikah tapi belum mempunyai anak. Sedangkan suaminya sedang dalam perjalanan pulang dari Rusia ketika mendengar kabar bahwa istrinya ditemukan tidak bernyawa di rumah mereka. 

Aku hanya mengikuti ke mana Richard berjalan saat berada di rumah itu. Dia dengan teliti menyelidiki setiap bagian rumah, mulai dari pintu depan, pintu belakang, jendela, CCTV, dan terakhir di kamar, tempat mayat perempuan itu terbaring. Hanya secarik kertas dan pulpen yang aku pegang; aku sigap mencatat setiap temuan Richard. Kenapa ini menjadi tugas kami? Kenapa bukan hanya polisi negara bagian saja yang melakukan hal seperti ini? Ternyata, Linda, wanita yang meninggal itu, adalah salah satu anggota dari tempat kami bekerja. Jadi, polisi hanya berjaga di sekitar rumah saja. Hampir satu jam kami mencoba mencari sebab terjadinya pembunuhan itu, dan kami pun bergegas meninggalkan TKP dengan beberapa catatan yang sudah kutulis. 


Sesampainya di kantor, kami mulai berdiskusi dengan pembahasan satu per satu seperti yang sudah kutulis sebelumnya. Karena ini baru pertama kali melakukan tugas lapangan, aku belum banyak mengerti ke mana arah pembahasan ini. Aku hanya mencoba memberi ide dan beberapa pendapat saja, lebih menggunakan logika, karena pengalamanku dalam hal ini masih nol. 

Setelah beberapa jam membahasnya, Richard memutuskan untuk kembali ke TKP dan mengajakku. Malam hari saat itu, kami bertemu dengan beberapa petugas di luar rumah dan ada dua orang kerabat dari Linda. Ada juga suaminya yang baru datang dari luar negeri untuk urusan pekerjaan, katanya. Richard mulai menginterogasi setiap orang yang mengenal Linda, termasuk kerabat dan suaminya, seperti kapan terakhir mereka berkunjung ke rumah korban dan kapan si suami terakhir kali meninggalkan rumah. Setelah hampir 30 menit, kami pun kembali ke kantor. 


Sesampainya di kantor, Richard menyambungkan sebuah ponsel ke komputernya. Ponsel dari mana? Setahuku dia hanya memiliki satu ponsel. Oh iya, itu ponsel milik korban. Dia mengambilnya diam-diam saat tadi melakukan penyelidikan kedua kalinya. Terlihat di layar komputer setiap data yang ada di ponsel itu. Aku pernah melakukan hal ini saat di tempat latihan dulu; mencari dan mengumpulkan data adalah hal dasar dan sangat penting untuk seseorang yang bekerja di lapangan. Saking canggihnya komputer itu, ditemukan juga kapan terakhir kali ponselnya digunakan, padahal telepon itu dalam keadaan mati dan rusak. Terlihat semua data lengkap terbuka, seperti panggilan terakhir, SMS, dan segala bentuk data yang ada di dalamnya, termasuk surel dan akun bank. Bukan hanya data di ponsel itu yang ditemukan Richard, tapi terlihat jelas sidik jari yang pernah menyentuh ponsel korban. Bukankah ini harus ke bagian forensik? Aku tidak terlalu mengerti. 


Setelah mendapatkan apa yang dicari, Richard menelepon petugas polisi dan langsung menugaskannya untuk menangkap suami korban. Aku hanya takjub melihat usaha Richard yang dengan cepat menemukan pelaku pembunuhan itu. 


Di ruang interogasi, suami korban diberikan banyak pertanyaan. Richard langsung menginterogasi di dalam sana, sedangkan aku hanya menyaksikannya di balik kaca satu arah. Terdengar dari pengeras suara bahwa suaminya memang yang melakukan pembunuhan itu dengan alasan Linda ketahuan berselingkuh beberapa kali. Tanpa ada jejak sedikit pun, suami korban melancarkan niatnya itu. Pintu dan jendela tidak ada yang rusak, dan alasan pergi ke luar negeri menjadi alibi yang sangat meyakinkan jika ditanya di mana dia berada saat pembunuhan terjadi. 


Tapi tidak sulit bagi Richard menebak siapa yang melakukan pembunuhan itu. Selain tidak ada jalan masuk yang rusak, dari panggilan yang masuk dan keluar dari ponsel korban pun tidak ada yang berasal dari atau ke luar negeri—berbeda dengan pengakuan suaminya bahwa beberapa hari yang lalu saat sedang di luar negeri, dia sempat berbincang melalui telepon bersama istrinya. Hal ini dikuatkan dengan bukti paspor yang tidak memiliki cap kedatangan/kepergian dari luar negeri. Apalagi saat Richard meminta bukti tiket penerbangannya, tersangka malah menjawab bahwa dia menghilangkannya. 


Memang terlihat mudah mengungkap kasus hanya dalam beberapa jam saja, tapi perlu insting dan pengetahuan yang sangat luar biasa. Ini pengalaman pertamaku saat bertugas lapangan dan masih menunggu beberapa tugas lainnya. Kasus pembunuhan ini cepat sekali kami selesaikan, meskipun aku hanya membantu hal-hal kecil saja bersama rekan baruku, Richard si jenius.



Cerita dari Negeri Amerika (Part 9)



Aku hanya berdiri dan terdiam. 


Andaikan waktu bisa diulang kembali, aku tidak akan pernah menerima tawaran kerja dari Mrs. Anne. Aku akan meneruskan pekerjaanku meskipun hanya di kedai kopi yang upahnya hanya mencukupi keseharianku saja. Daripada di sini, karena aku menganggap ini bukan bidangku, bukan diriku, dan sudah jelas bukan yang aku inginkan. Hanya tubuhku saja yang ada di sini karena pikiran dan perasaanku sangat jauh sekali dari tempat ini. Aku ingin segera menyelesaikan pelatihan ini, ingin segera keluar dari tempat yang aku anggap melebihi penjara—meskipun aku belum pernah masuk penjara, tapi pasti tidak akan jauh berbeda dari ini, apalagi dengan disiplin waktu yang sangat berlebihan. Bukan hanya waktu istirahat yang harus disiplin, bahkan mandi, makan, dan istirahat pun tidak boleh melebihi waktu yang sudah ditentukan. 


Namun mau bagaimana lagi, tidak mungkin aku melarikan diri dari tempat ini, apalagi dengan penjagaan yang sangat ketat. Baiklah, sementara akan kujalani saja karena saat ini aku sedang menjalani nasibku, bukan takdir. Aku masih bisa mengubahnya. 


Sekitar pukul 3 pagi, semua orang yang sedang tertidur lelap dibangunkan dengan suara alarm yang begitu keras, padahal kami baru istirahat dua jam saja, dan latihan sebelumnya juga sangat melelahkan. Berlari, mengangkat beban, belajar menembak, belajar menggunakan kode-kode yang ada di komputer, berenang dan menyelam, hingga latihan bela diri—selain sangat menguras energi, mentalku juga sedikit terganggu. 


Kemudian semua orang dikumpulkan di lapangan; semuanya wajib berkumpul. Jika tidak mengikuti arahan pelatih, nasibnya akan sama seperti budak di zaman kehidupan kuno: akan dihukum dan mendapatkan sanksi yang sangat berat. Ini bukan latihan pramuka atau baris-berbaris, tapi sudah serius seperti militer. Jika ada kesalahan yang sama berulang kali, sudah pasti akan mendapatkan "hadiah" yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Contohnya saja, tidak boleh tidur di kamar melainkan harus tidur di kolam lumpur. Selain itu, tidak akan mendapat jatah makan selama sehari penuh, dan akan mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi jika beberapa kali melanggar aturan. Terakhir, aku pernah melihat orang yang disuruh menembak kepalanya sendiri meskipun ternyata dengan peluru kosong, karena dia sudah beberapa kali mencoba melarikan diri dengan menyandera beberapa petugas keamanan, dan berkali-kali pula banyak petugas yang tertembak. Sangat mengerikan. Makanya, lebih baik aku mengikuti semua aturan yang ada, sekalipun aku tidak menyukainya. 


Satu tahun berlalu. 

Aku sudah menguasai semuanya, apalagi ilmu bela diri yang sejak kecil sudah aku tekuni. Aku pun harus kembali ke kantor di Langley dengan dijemput oleh Mr. Adam dan Mrs. Anne. Kabarnya, aku akan mulai melaksanakan tugas pertama, yaitu tugas lapangan. Menurut berkas yang aku baca pada catatan laptop milik Mr. Adam saat perjalanan menuju apartemenku, jujur saja aku malah sedikit penasaran dengan tugas ini. Meskipun masih ada rasa takut, aku sangat ingin segera melaksanakannya, melakukan hal-hal yang baru bagiku dan bagi kehidupanku. Sudah pasti hal ini akan berpengaruh pada kehidupanku selanjutnya di masa mendatang. Tapi, aku akan mencoba menjalaninya, mencoba menjadi apa yang mereka mau. 


Setelah seminggu beristirahat, aku pun mulai kembali ke kantor. Hanya saja berbeda lantai. Kali ini aku berada di sebuah ruangan yang berisi banyak komputer dan jendela kaca; sangat jelas jika melihat ke luar gedung. Apalagi ruanganku lebih tinggi dari ruangan kerjaku saat masih mengurusi administrasi. Teman satu ruangan pun ada beberapa yang tidak asing, ya, di antaranya ada yang pernah satu sesi saat latihan di markas (kami menyebutnya markas, tempat latihan). Ada dua perempuan dan empat laki-laki. Tidak pernah ada yang akrab dengan mereka, hanya kenal sepintas saja. 


Aku pun mulai membaca surat tugas pertamaku yang mereka kirim melalui surel. Ternyata tugas pertamaku adalah melakukan penyelidikan terhadap kasus pembunuhan yang ada di sebuah rumah yang terletak di kawasan elit daerah Buttonwood Ln, Virginia—sekitar dua jam perjalanan menggunakan mobil. Meskipun masih sekadar asisten penyelidik, aku sangat antusias sekali. Setibanya di tempat kejadian perkara, ternyata polisi sudah melakukan penyelidikan terlebih dahulu, tapi kami tetap harus melaksanakan tugas ini. Kami pun turun dari mobil. 


Pembunuhan?


Cerita dari Negeri Amerika (Part 8)



Natally pergi ke dapur. Karena kamar tanpa pintu, aku masih bisa melihat meja makan di arah sana, sedangkan aku masih merebahkan tubuhku yang terasa lemas di kasur. Entah apa yang terjadi semalam, yang aku ingat hanya minuman berbotol saja. Terasa juga bekas sulutan rokok di lenganku. Tapi, kenapa aku sampai di kamar Natally? Tidak mungkin dia memopong tubuhku dalam keadaan mabuk ke tempat tidurnya sendirian. Begitu melihat ke arah jendela, matahari begitu terik di luar sana, sudah siang. Ternyata aku berada di sebuah gedung yang tinggi. Aku langsung memakai bajuku. Oh iya, aku tidak memakai pakaian sama sekali. 


Aku mengikuti Natally ke dapur. Di sana dia sedang duduk dengan kopi yang masih panas—terlihat dari asap yang mengepul dari gelasnya. Tapi dia terlihat sedang sibuk dengan ponselnya; sepertinya penting. Begitu menyadari aku menghampirinya, dia langsung menutup panggilannya. Tapi aku tidak mau tahu soal itu. Aku mengucapkan terima kasih karena sudah memberi tumpangan semalam. Aku juga tidak lupa meminta nomornya yang baru karena nomor yang lama sudah tidak aktif lagi. Sekalian saja aku pamit karena harus pergi ke kantor, meskipun hari ini adalah akhir pekan—kebanyakan orang menggunakan waktunya untuk istirahat dari semua pekerjaan. Tapi, memang harus aku kerjakan karena ini sebuah pekerjaan. 


Sesampainya di kantor, aku langsung menemui seseorang. Katanya dia tamu yang datang dari luar kota. Kebetulan staf yang biasa menerima tamu sedang ada urusan keluar, begitu kata operator yang tadi pagi meneleponku. 

Dia adalah salah satu asisten dari seorang pejabat tinggi di Amerika. Karena ini baru pertama kali menerima tamu dengan urusan yang belum jelas, aku hanya memperkenalkan diri, begitu pun dia. Albert namanya. Usianya sekitar 30-an, keturunan Latin. Setelah saling memperkenalkan diri, kami masuk ke sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk menerima tamu. Di sana dia menjelaskan alasannya menemuiku. Benar saja, tidak jauh dari sesuatu yang aku kuasai dan sudah jelas pula, yaitu tentang administrasi keuangan. Dia mengajukan sebuah proposal—lebih jelasnya perihal kerja sama. Saat aku membaca dengan rinci, ternyata atasannya meminta bantuan agar bisa membantu beberapa urusannya. Di situ juga tertulis jumlah biaya yang akan dia berikan, sangat besar menurutku. Tapi aku tidak membacanya sampai selesai. Kemudian, aku meminta izin beberapa saat untuk menelepon atasanku karena Albert ingin keputusannya saat itu juga. 


Setelah aku menelepon atasanku, Mr. Adam, ternyata dia menyetujuinya. Dia meminta agar aku langsung menandatangani surat itu. Albert pun bergegas pamit, sedangkan aku menuju ruangan kerjaku untuk menyimpan berkas itu. 

Sore hari. 


Ketika aku sedang duduk santai di sofa sambil menonton acara musik favoritku, tiba-tiba ponselku berdering. Ternyata itu dari Mr. Adam. Dia ingin aku menemuinya di kafe yang tidak jauh dari apartemenku. Ah, padahal aku sedang bersantai. Tapi mau bagaimana lagi, kalau urusannya dengan Mr. Adam, aku tidak bisa menolak, apalagi dia adalah atasanku. 

Hanya berjalan beberapa blok, aku sudah sampai di kafe yang tadi diberitahukan oleh Mr. Adam. Dia tidak sendirian; ada seorang perempuan dan seorang pria. Aku masih mengingat semua wajah itu. Mereka adalah Mrs. Anne dan Albert. 

Ada apa ya? Sampai mendadak begini mereka meminta agar aku menemuinya. Pentingkah? 

Kemudian Mrs. Anne menjelaskan dengan rinci permasalahannya, disambung oleh Mr. Adam yang melanjutkan rincian yang tadi disebutkan oleh Mrs. Anne. 


Aku hampir tidak percaya, ternyata aku akan diikutsertakan dalam pelatihan untuk bekerja di lapangan; aku tidak akan bekerja di belakang meja lagi. Dengan beberapa pertimbangan, hingga akhirnya aku harus siap mengikuti latihan itu. Tentu saja ini juga sudah disetujui oleh atasan mereka, yaitu Mr. X (aku tidak pernah tahu yang mana orangnya dan siapa nama aslinya). 


Oh iya, aku pernah bertemu dengan ketua intelijen tempatku bekerja. Tepatnya bulan kedua saat pertama masuk. Dia orangnya tegas dan sangat to the point. Dia mengingatkanku agar benar-benar total dalam bekerja dan harus lebih disiplin tentunya. 

Aku pun menyetujui apa yang sudah mereka sampaikan. Aku juga menerima sebuah amplop yang berisi rincian gajiku selama bekerja kemarin. Selain itu, ada berkas yang isinya menyatakan bahwa aku harus menyetujui setiap aturan yang akan aku ikuti saat latihan nanti. Baiklah, aku sudah siap untuk semuanya. 

Aku tidak pernah menyimpan uang di rekening yang diberikan oleh kedutaan. Aku juga tidak pernah mengecek berapa saldo yang tersisa karena sekarang aku memakai fasilitas yang diberikan dari kantor. Tapi aku menyimpan uangku di sebuah bank swasta, tanpa kartu ATM apalagi kredit atau debit. Semuanya murni yang aku gunakan adalah apa yang memang disediakan oleh mereka. 


Tidak lupa juga, aku selalu mengirimkan uang kepada Ibu di rumah untuk sekadar membantu biaya sekolah adikku. Aku juga selalu menyempatkan waktu untuk menelepon mereka. Meskipun hanya berbincang beberapa menit saja, setidaknya bisa melepas rindu. 

Pada pagi hari, aku dijemput oleh dua orang yang berbadan tegap seperti tentara. Oh, mereka memang tentara, tapi memakai jas hitam yang sangat rapi. Aku memasuki mobil van. Dari dalam van, aku tidak bisa melihat keluar jendela, kecuali hanya ke arah depan saja. Seperti tahanan saja. Mau latihan atau mau diculik? 

Setelah van melaju sekitar 30 menit, tibalah kami di depan sebuah gedung yang tinggi, terlihat sangat luas, juga dengan penjagaan masuk yang sangat ketat. Setelah masuk ke dalam gedung, aku langsung dihadapkan dengan pelatih yang bernama Grandy Em, aku cukup memanggilnya G saja. Usianya sekitar 45 tahun. Kemudian, aku diarahkan ke suatu ruangan yang akan menjadi kamarku. Tidak begitu luas, hanya cukup untuk tidur dengan kasur yang sangat tipis, sedangkan kamar mandi ada di ujung lorong. Ternyata bukan hanya satu kamar saja, melainkan ada puluhan. Banyak sekali, tapi saat itu sedang dalam keadaan sepi tanpa seorang pun. Hanya ada aku dan G. Ketika berjalan ke arah lain, masih ada puluhan kamar. Pasti peserta latihannya ratusan. 


Setelah menyimpan barang bawaanku—yang aku bawa hanya tas berisi baju nonformal—aku pun langsung diminta ganti pakaian dengan baju yang sudah dipersiapkan. 

Latihan untuk kerja lapangan? Aku penasaran sekaligus merasa takut. Karena aku pernah bertemu dengan orang-orang yang pekerjaannya di lapangan. Tidak sedikit luka yang terlihat di badannya, termasuk wajah. 


Sewaktu masih mengurusi bagian administrasi, tidak sedikit juga biaya yang dikeluarkan untuk membiayai karyawan yang kami sebut sebagai agen yang ada masalah dengan pekerjaannya di lapangan. Kecelakaan mungkin, pikirku saat itu. 

Rasa was-was dan jantungku selalu berdebar tidak karuan, keringat dingin mengucur. Sambil berjalan mengikuti G, aku melihat beberapa senjata yang terpajang di tembok lorong, tapi tertutupi oleh kaca yang terlihat sangat tebal. Aslikah? 


Untungnya rasa penasaranku tidak berlangsung lama karena aku langsung dihadapkan dengan banyak orang yang berada di sebuah ruangan yang sangat luas. Ada yang berwajah oriental, berkulit hitam, putih, dan sudah pasti orang-orang yang belum pernah aku temui. Ada juga beberapa wajah asli dari Asia. Di ruangan itu juga lengkap dengan berbagai fasilitas olahraga; ada ring tinju, basket, ada juga dinding kaca, dan yang paling menarik adalah ada tempat menembak yang lengkap dengan berbagai macam senjata. 

Aku hanya berdiri dan terdiam.engan berbagai macam senjata.



Aku hanya berdiri dan terdiam.


Cerita dari Negeri Amerika (Part 7)



Pada masa lalu, semua aplikasi visa (DV Lottery) harus mengeluarkan sedikit biaya untuk mengirim semua dokumen, termasuk pasfoto, melalui pos ke Kentucky Consular Center (KCC) di Amerika. Tidak seperti sekarang, katanya semua aplikasi visa bisa diisi secara daring (online). 


Pada saat aku terpilih mendapat kesempatan Green Card waktu itu, kata pihak KBRI, jumlah pendaftarnya lebih dari 5.000 orang. Namun, hanya ada sekitar 50 orang saja yang bisa diterima (acc) dari seluruh negara, salah satunya adalah aku. 

Semenjak bekerja di kantor intelijen ini, kebiasaan hidupku berubah 180 derajat. Yang tadinya tidak suka pantai, karena banyak teman di kantor yang mengajak, aku sering ikut pergi ke pantai hanya untuk sekadar mengantar teman atau jalan-jalan jika hari libur. 

Pekerjaanku juga tidak aneh-aneh, masih mengurus administrasi saja, seperti mencatat pemasukan dan pengeluaran. Ada urusan untuk pelatihan, obat-obatan, serta pengadaan alat-alat kantor dan lapangan. Ada juga pemasukan dana dari A, B, dan dari lembaga-lembaga penting di negara ini. Tidak sedikit pula dana yang masuk dari perusahaan swasta maupun perorangan. 


Oh iya, kantor tempatku bekerja juga punya cabang di negara lain, termasuk di negara-negara Asia. Bahkan di Indonesia pun ada. Tapi, benar-benar masih tertutup; hanya orang-orang atau lembaga tertentu saja yang mempunyai akses ke sana. Info ini aku dengar dari salah satu rekan kerjaku. 


Di Amerika ada universitas yang lulusannya nanti akan langsung bekerja di kantor ini. Di Indonesia ada salah satu sekolah khusus yang hampir mirip, letaknya di daerah Bogor. Tapi memang belum dibuka untuk umum pada 2011; kalau untuk sekarang, kabarnya sudah banyak tersebar bahkan setiap orang bisa mendaftar. 


Suatu hari setelah jam pulang kerja, aku diajak hang out oleh beberapa temanku ke pantai, tepatnya ke Virginia Beach. Ada empat orang waktu itu. Di antara kami semua adalah pendatang; meskipun ada Lerry yang berasal dari New York, yang lainnya dari negara bagian perbatasan, keturunan Latin, dan beberapa ada yang dari Meksiko. Aku yang paling berbeda sendiri, secara keturunan Asia, orang Sunda lagi. Banjaran? Kalau yang belum tahu Banjaran, bisa search di Google. 

Kehidupan di VA Beach (Virginia Beach) ternyata tidak seramai pantai-pantai ternama lainnya seperti Hawaii dan Miami, tapi tetap saja gemerlap malamnya sangat luar biasa. Sekitar pukul 10 malam, kami sampai di sebuah pub yang tidak jauh dari pantai. Udara pantai sangat terasa. Lerry mulai menawarkan minuman yang sudah dia pesan untuk kami berempat. 


Jujur saja, meminum minuman beralkohol sangat jarang aku lakukan semenjak tinggal di sini. Dulu pernah waktu masih tinggal di LA, itu pun karena ada tetangga sebelah yang merayakan pesta ulang tahun dan kebetulan aku diundang. Kebanyakan di sana minumannya khas dari Rusia. Yang sekarang kami minum pun dengan jenis yang sama. 

Di antara kami berempat, Lerry-lah yang paling agresif. Melirik perempuan sana-sini, menggoda setiap perempuan yang berjalan di depan kami. Kami bertiga hanya tertawa melihat tingkahnya, apalagi kepalaku mulai terasa sedikit pusing. Karena kami merasa masih ada yang kurang, ada yang mengusulkan bagaimana kalau mampir ke sebuah kelab sebentar sebelum pulang. Akhirnya kami sepakat. 

Tapi kami tidak masuk ke diskotek di daerah pantai sana—Lerry mungkin sudah punya tempat favoritnya—kami pun menuju kawasan Richmond, VA. Sekitar beberapa menit berkendara, Lerry-lah yang lihai dalam hal itu. Kami pun sampai. 

NU Night Club nama tempatnya. (Promosi, karena saat itu sedang ada diskon, hitung-hitung balas budi). Alasannya karena tempat ini sangat strategis dan aman dari para gangster di sana, dengan keamanan yang ketat pula. Seperti saat kami mau masuk, wajib sekali melewati kotak pemeriksaan. Kabarnya, tidak jarang para selebriti di sana menghabiskan waktu luang di tempat ini. 


Memang bukan kali pertama aku memasuki tempat clubbing seperti ini, tapi semenjak di sini, baru sekarang aku melakukannya. 

Aku tidak ikut yang lainnya ke tengah untuk mengikuti alunan musik. Aku hanya duduk saja di bar. Seru juga. Beda sekali saat masih di Bandung, kawasan Pasir Kaliki. Masih ingat saat itu diajak beberapa teman kuliah, kebetulan di antara temanku ada yang sedang merayakan ulang tahun kala itu. 

Karena aku hanya sendiri dan duduk saja, aku pun terus memesan minuman. Minum, minum, dan minum lagi. Dan yang aku ingat... 


Aku terbangun di sebuah tempat tidur dengan sinar matahari yang langsung menyinari mataku; di sampingku ada seorang perempuan. Oh Tuhan! Apa yang telah terjadi? 


Ternyata semalam aku terlalu banyak minum hingga akhirnya aku ambruk. Untungnya, temanku sewaktu kerja di LA, namanya Natally, masih mengenaliku. Kebetulan juga dia semalam ada di sana. Kabarnya dia juga pindah kantor ke daerah yang tidak jauh dari pantai, dan dia pun membawaku ke apartemennya. 


Natally? Ternyata Amerika tidak terlalu luas.



Cerita dari Negeri Amerika (Part 6)



Tadi malam, aku mendapat kabar dari Mrs. Anne bahwa dia akan menjemputku untuk berangkat ke Virginia, tepatnya ke daerah Langley. 


Langley adalah permukiman lepas yang terletak di wilayah sensus McLean di Fairfax County, Virginia. Sekitar pukul 6 pagi, rombongan Mrs. Anne sudah menunggu di depan apartemenku. 

Kami pun langsung menuju bandara Los Angeles. Sudah jelas bahwa kami akan berangkat menggunakan pesawat karena tidak mungkin melalui jalur darat; jaraknya sangat jauh, sekitar 2.400 mil lebih atau sekitar 3.800 km. 


Sepanjang perjalanan, Mrs. Anne sibuk sekali dengan laptopnya. Aku juga tidak mungkin mengobrol dengan para asistennya. Akhirnya, aku hanya diam saja tanpa sepatah kata pun. Sesekali aku melihat pemandangan dari jendela, meskipun hanya hamparan lautan. 

Setelah beberapa jam di atas pesawat, kami pun sampai di bandara Washington Dulles, Virginia—bandara yang lumayan megah menurutku. Masih tanpa sepatah kata pun, kami langsung memasuki mobil yang sepertinya sudah dipersiapkan khusus untuk penjemputan ke kantornya. 


Di perjalanan menuju daerah Langley, aku satu mobil dengan Mrs. Anne. Saat itu dia baru berbicara kepadaku sambil memberikan kartu identitas untuk kupakai, sudah lengkap dengan foto, nama lengkapku, dan disertai dengan kode pemindai (scanner). Dapat foto aku dari mana? Aku baru ingat, itu foto saat aku pertama kali membuat kartu tanda penghuni di apartemen. Tapi, kok bisa? Ya sudahlah. 

"Nanti akan ditemani oleh Mr. Adam. Jika perlu apa pun, kamu cukup menghubungi dia. Jangan terlalu banyak bicara dengan orang lain," katanya dengan nada suara yang sedikit pelan. 

Oh iya, katanya aku juga sudah disediakan apartemen yang tidak begitu jauh dari kantor. Sisa barang-barangku nanti akan langsung diantar ke sana. Apabila kinerjaku selama tiga bulan hasilnya bagus, aku akan diberikan fasilitas kendaraan dari kantor. Namun, untuk sementara, aku harus memakai kendaraan umum. 


Setelah hampir satu jam perjalanan, sampailah kami di sebuah gedung yang luas sekali. Ada sesuatu yang membuatku kaget setengah mati dan tidak tahu lagi apa yang harus aku ungkapkan: ternyata aku akan bekerja di sebuah kantor intelijen ternama di Amerika. Oh, Tuhan! Dan setahuku, semua orang sudah mengetahui jenis pekerjaan di kantor ini dan seperti apa orang-orang yang bekerja di dalamnya. 

Aku pun berjalan menuju pintu masuk kantor itu. Mr. Adam sudah menungguku di depan. Dia langsung mengajakku masuk menuju lobi. Kami berdua (aku dan Mr. Adam) menuju lift yang ada di sudut ruangan, sedangkan Mrs. Anne dan para asistennya menuju arah yang berbeda. 

Di dalam lift, dia menekan angka 35. "I'm Adam, Mrs. Anne's assistant," katanya. Dan ketika aku akan memperkenalkan diri, dia langsung memotong, "And you... Rian Ariandra from Los Angeles, right?" 

Oke. Aku terdiam. 


Sampailah di lantai 12, menuju ruangan tempat cek kesehatan. Kembali teringat saat aku masih mengurus visa di Jakarta—aku harus melakukan tes kesehatan tentunya di RS daerah Jakarta Selatan karena baru tempat itu yang ditunjuk oleh Kedubes AS. Disuntik vaksin, diambil darah, dan masih banyak lagi. Ternyata sama seperti yang sekarang dilakukan di tempat ini. Setelah hampir satu jam melakukan pemeriksaan, aku diantar menuju tempat kerjaku. Katanya, nanti akan ada sekitar 30 orang yang bekerja di ruangan yang sama. Tapi untuk saat ini masih dalam tahap perbaikan karena ini ruangan baru; jadi, baru akan digunakan dua hari lagi. Aku masih mempunyai waktu dua hari untuk istirahat sambil menunggu hasil tes kesehatan. 


Aku pun hanya berkeliling melihat-lihat, lalu Mr. Adam keluar ruangan menuju lift. 

Aku duduk di sebuah kursi yang masih sedikit berdebu; rasanya lemas. Aku tidak bisa berpikir yang lain lagi selain bertanya kenapa aku sampai mau menerima tawaran Mrs. Anne untuk bekerja di sini. Ada sedikit rasa menyesal karena tidak bertanya sedetail mungkin kepadanya saat itu. Selain jenis pekerjaannya, kantor ini yang jadi masalah: markas intelijen. 

Ya sudahlah. 


Pekerjaanku memang masih tetap berjibun dengan administrasi, bukan seperti di film-film aksi itu. Aku mencoba jalan-jalan sebentar di sekitar lantai yang sama, dengan kamera pengawas yang ada di setiap sudut. Itu baru yang terlihat; aku yakin sekali masih banyak lagi kamera yang tidak terlihat. 

Akhirnya, aku turun menuju lobi dan menemui petugas di sana untuk menghubungi Mr. Adam agar aku diantar ke apartemen. 


Tibalah di sebuah apartemen yang menurutku sepuluh kali lipat lebih mewah daripada apartemenku di LA. Semuanya lengkap. Akses masuknya saja menggunakan kartu dan kata sandi. Sungguh luar biasa. Ketika masuk kamar, aku mendapat sebuah surat. Ternyata itu rincian gaji dan beberapa tunjangan yang akan aku terima selama bekerja di sana. Tertulis bahwa aku tidak akan mendapat gaji bulanan, tapi dibayarkan sekaligus per tahun pada akhir tahun. Sedangkan untuk sehari-hari, semuanya sudah tersedia. Di dalam amplop juga ada kartu kredit yang bisa dipakai untuk kebutuhanku. 

Saat itu juga, aku menelepon Ibu di Bandung. Aku hanya menceritakan kalau aku mendapat pekerjaan baru yang lebih baik dari sebelumnya. Tidak lupa juga meminta doa darinya. 

Ternyata, hal yang banyak diimpikan orang di luar sana bisa aku dapatkan hanya dalam beberapa jam saja. 


Oh, Tuhan.



Cerita dari Negeri Amerika (Part 5)


Aku mempunyai beberapa identitas. Identitas baruku dibuat oleh seseorang yang aku kenal ketika masih bekerja di kantor intelijen itu. Semuanya aku buat hanya agar aku bisa lepas dari lingkaran dan lingkungan pekerjaan yang menakutkan. Aku kembali berusaha menjadi orang biasa tanpa ada bayang-bayang dari orang yang membahayakan. 


***


Seminggu setelah bertemu dengan Mrs. Anne, aku masih memikirkan tentang pekerjaan yang ia tawarkan. Aku juga penasaran dengan jenis pekerjaan yang ada di kantornya. Apakah tentang administrasi? Atau menjadi pengantar kopi seperti pekerjaanku saat ini? Entahlah, semoga saja lebih baik dari saat ini. 


Pada malam hari setelah pulang kerja, aku mencoba untuk menelepon Mrs. Anne, tapi sayangnya tidak ada jawaban. Mungkin dia sudah istirahat karena waktu itu memang sudah larut malam. Aku pun memutuskan untuk mengirim surel (email) saja. Isinya kurang lebih menanyakan perihal pekerjaan di kantornya, apakah masih ada lowongan atau tidak. Karena malam sudah larut, aku pun tidur. 

Sedikit info tambahan tentang gadget yang banyak dipakai di sana, khususnya anak muda seumuranku: ternyata merek dari Cina di sana hanya nol koma sekian persen yang menggunakannya. Kalau merek ternama seperti Nokia yang kala itu masih banyak dipakai, itu merek dari Finlandia yang diproduksi di Cina karena alasan biaya produksi dan upah pekerja yang lebih murah. Di Amerika, penduduknya rata-rata menggunakan produk dalam negeri, seperti yang aku pakai saat ini: gadget dengan lambang buah apel, Apple—iPhone, iPod, iPad, dan lain-lain. Jarang sekali melihat yang memakai produk dari luar negeri. Kalau pun ada, hanya menggunakan merek ternama saja, seperti Nokia; BlackBerry juga sangat jarang, ada juga yang menggunakan Acer, dan kadang ada pula Sony serta LG. Itu tahun 2011. 



Pagi hari. 


Hari ini kebetulan libur kerja. Aku memeriksa surel masuk, ternyata dari Mrs. Anne. Isinya, dia memberikan alamat rumah barunya yang terletak di daerah Silver Lake. 

Setelah aku mencari tahu di internet, ternyata itu adalah sebuah kawasan perumahan yang sangat elit. Malah ada juga artis Hollywood yang tinggal di kawasan itu. Kalau di Bandung, mungkin seperti Kota Baru Parahyangan atau Dago. Kalau di Jakarta, mungkin saja Kelapa Gading, Pondok Indah, atau PIK. Kalau Menteng sudah di atasnya lagi karena kebanyakan old money yang tinggal di sana. 

Dia juga memberikan rute agar aku sampai ke sana. Tapi katanya, nanti kalau sudah masuk kawasan rumahnya, harus minta diantar saja ke petugas, tinggal sebut saja namanya. Orang pentingkah dia? 


Dengan hanya menaiki taksi sekitar 30 menit, sampailah aku di kawasan perumahan yang menurutku lumayan elit itu. Dengan deretan rumah bertingkat, gaya rumah yang cukup mentereng, juga pepohonan di sepanjang kiri dan kanan jalan. Tidak sedikit juga para petugas keamanan yang hilir mudik seperti tentara yang sedang berlatih. 

Setelah aku memasuki kawasan itu, ada seseorang yang menghampiri dan menyuruhku untuk mengikutinya—petugas dari Mrs. Anne, pikirku. Benar saja, dia adalah asisten di rumah Mrs. Anne. Tidak seperti para asisten rumah tangga kebanyakan, pakaiannya saja menggunakan jas yang terlihat mahal. Beda sekali dengan penampilan asisten rumah tangga di Indonesia. 

Aku pun dipersilakan memasuki rumahnya. Mewah sekali; kamera ada di setiap penjuru rumah, di mana-mana, dengan barang-barang antik di setiap sudutnya. Sangat terlihat kesan glamornya. 


Setelah beberapa menit menunggu, Mrs. Anne pun menemuiku. Kami berbincang sedikit tentang pengalamanku selama bekerja di kantor dan kedai kopi. Tidak mau kalah, dia juga menceritakan masa lalunya yang pernah bersekolah tinggi dengan beasiswa berkat banyak mata pelajaran yang dia kuasai. Kurang lebih satu jam kami mengobrol, tidak ketinggalan dia juga menunjukkan foto William, anaknya yang sudah meninggal itu. Benar saja, anaknya itu sedikit mirip denganku. Wajahnya oriental, tapi ada "bule"-nya. Perpaduan antara Patrick dan Mrs. Anne. 


Barulah kami masuk ke inti tujuanku datang ke sana. Aku akan langsung diterima asalkan sudah ada surat pernyataan bahwa aku memang sudah keluar dari tempat kerjaku saat ini. 

Setelah kembali memikirkan beberapa pertimbangan, aku pun memutuskan untuk keluar dari kedai kopi dan menerima pekerjaan dari Mrs. Anne. Seminggu kemudian, aku menelepon Mrs. Anne untuk memberi kabar bahwa aku menerima tawaran kerja darinya dan sudah mengurus persyaratannya. 


Pagi pun tiba. Ponselku berdering. Ternyata dari Mrs. Anne. Dia sudah menunggu di depan apartemenku.