Aku pun mulai membaca surat tugas pertamaku.
Ternyata tugas pertamaku adalah melakukan penyelidikan terhadap kasus pembunuhan yang ada di sebuah rumah di kawasan elit daerah Buttonwood Ln, Virginia, sekitar dua jam perjalanan menggunakan mobil. Meskipun masih sekadar asisten penyelidik, aku sangat antusias.
Bersama teman baru yang baru kukenal beberapa jam, namanya Richard, aku berangkat. Dia berasal dari London dan sudah dua tahun bekerja di sini, di kantor intelijen Amerika. Sejak pertama kali bekerja pun, dia sudah bergelut di bagian lapangan. Kebetulan dia lulusan dari sekolah ternama di negara asalnya, Inggris. Setibanya di tempat kejadian perkara (TKP), ternyata polisi sudah melakukan penyelidikan terlebih dahulu, tapi kami tetap harus melaksanakan tugas ini. Kami pun turun dari mobil.
Pembunuhan?
Seorang wanita yang berusia 25 tahun ditemukan tidak bernyawa di dalam rumahnya. Dia sudah menikah tapi belum mempunyai anak. Sedangkan suaminya sedang dalam perjalanan pulang dari Rusia ketika mendengar kabar bahwa istrinya ditemukan tidak bernyawa di rumah mereka.
Aku hanya mengikuti ke mana Richard berjalan saat berada di rumah itu. Dia dengan teliti menyelidiki setiap bagian rumah, mulai dari pintu depan, pintu belakang, jendela, CCTV, dan terakhir di kamar, tempat mayat perempuan itu terbaring. Hanya secarik kertas dan pulpen yang aku pegang; aku sigap mencatat setiap temuan Richard. Kenapa ini menjadi tugas kami? Kenapa bukan hanya polisi negara bagian saja yang melakukan hal seperti ini? Ternyata, Linda, wanita yang meninggal itu, adalah salah satu anggota dari tempat kami bekerja. Jadi, polisi hanya berjaga di sekitar rumah saja. Hampir satu jam kami mencoba mencari sebab terjadinya pembunuhan itu, dan kami pun bergegas meninggalkan TKP dengan beberapa catatan yang sudah kutulis.
Sesampainya di kantor, kami mulai berdiskusi dengan pembahasan satu per satu seperti yang sudah kutulis sebelumnya. Karena ini baru pertama kali melakukan tugas lapangan, aku belum banyak mengerti ke mana arah pembahasan ini. Aku hanya mencoba memberi ide dan beberapa pendapat saja, lebih menggunakan logika, karena pengalamanku dalam hal ini masih nol.
Setelah beberapa jam membahasnya, Richard memutuskan untuk kembali ke TKP dan mengajakku. Malam hari saat itu, kami bertemu dengan beberapa petugas di luar rumah dan ada dua orang kerabat dari Linda. Ada juga suaminya yang baru datang dari luar negeri untuk urusan pekerjaan, katanya. Richard mulai menginterogasi setiap orang yang mengenal Linda, termasuk kerabat dan suaminya, seperti kapan terakhir mereka berkunjung ke rumah korban dan kapan si suami terakhir kali meninggalkan rumah. Setelah hampir 30 menit, kami pun kembali ke kantor.
Sesampainya di kantor, Richard menyambungkan sebuah ponsel ke komputernya. Ponsel dari mana? Setahuku dia hanya memiliki satu ponsel. Oh iya, itu ponsel milik korban. Dia mengambilnya diam-diam saat tadi melakukan penyelidikan kedua kalinya. Terlihat di layar komputer setiap data yang ada di ponsel itu. Aku pernah melakukan hal ini saat di tempat latihan dulu; mencari dan mengumpulkan data adalah hal dasar dan sangat penting untuk seseorang yang bekerja di lapangan. Saking canggihnya komputer itu, ditemukan juga kapan terakhir kali ponselnya digunakan, padahal telepon itu dalam keadaan mati dan rusak. Terlihat semua data lengkap terbuka, seperti panggilan terakhir, SMS, dan segala bentuk data yang ada di dalamnya, termasuk surel dan akun bank. Bukan hanya data di ponsel itu yang ditemukan Richard, tapi terlihat jelas sidik jari yang pernah menyentuh ponsel korban. Bukankah ini harus ke bagian forensik? Aku tidak terlalu mengerti.
Setelah mendapatkan apa yang dicari, Richard menelepon petugas polisi dan langsung menugaskannya untuk menangkap suami korban. Aku hanya takjub melihat usaha Richard yang dengan cepat menemukan pelaku pembunuhan itu.
Di ruang interogasi, suami korban diberikan banyak pertanyaan. Richard langsung menginterogasi di dalam sana, sedangkan aku hanya menyaksikannya di balik kaca satu arah. Terdengar dari pengeras suara bahwa suaminya memang yang melakukan pembunuhan itu dengan alasan Linda ketahuan berselingkuh beberapa kali. Tanpa ada jejak sedikit pun, suami korban melancarkan niatnya itu. Pintu dan jendela tidak ada yang rusak, dan alasan pergi ke luar negeri menjadi alibi yang sangat meyakinkan jika ditanya di mana dia berada saat pembunuhan terjadi.
Tapi tidak sulit bagi Richard menebak siapa yang melakukan pembunuhan itu. Selain tidak ada jalan masuk yang rusak, dari panggilan yang masuk dan keluar dari ponsel korban pun tidak ada yang berasal dari atau ke luar negeri—berbeda dengan pengakuan suaminya bahwa beberapa hari yang lalu saat sedang di luar negeri, dia sempat berbincang melalui telepon bersama istrinya. Hal ini dikuatkan dengan bukti paspor yang tidak memiliki cap kedatangan/kepergian dari luar negeri. Apalagi saat Richard meminta bukti tiket penerbangannya, tersangka malah menjawab bahwa dia menghilangkannya.
Memang terlihat mudah mengungkap kasus hanya dalam beberapa jam saja, tapi perlu insting dan pengetahuan yang sangat luar biasa. Ini pengalaman pertamaku saat bertugas lapangan dan masih menunggu beberapa tugas lainnya. Kasus pembunuhan ini cepat sekali kami selesaikan, meskipun aku hanya membantu hal-hal kecil saja bersama rekan baruku, Richard si jenius.





