Tidak pernah terbayangkan kalau suatu saat aku akan menginjakkan kaki di negara ini. Aku hanya pernah mendengar cerita dari teman-temanku yang pernah datang ke sini.
Keadaannya memang seperti yang mereka ceritakan. Terlihat dari bandaranya yang sangat modern. Sangat berbeda dengan keadaan di negaraku.
Malam itu aku memutuskan untuk menuju sebuah hotel yang tidak jauh dari bandara. Kemudian, aku ikut mengantre untuk mendapatkan taksi. Di sana, antreannya sangat tertib, tidak seperti di Indonesia.
Begitu masuk ke dalam taksi, sopir langsung bertanya aku ingin menuju ke mana. Aku menjawab ingin pergi ke hotel terdekat tanpa menyebutkan nama hotelnya.
Baru beberapa menit keluar dari area bandara, aku sudah melihat banyak hotel megah yang membuka pintu masuk mereka untuk para tamu.
Tanpa berpikir panjang dan tanpa memilih-milih, aku langsung menunjuk salah satu hotel agar sopir berhenti di sana.
Kebetulan, di kantongku masih ada uang dolar yang belum dipisahkan dari gepokannya. Aku mengambil selembar untuk membayar ongkos taksi, dan ternyata masih ada kembaliannya.
Aku langsung bergegas menuju lobi hotel, tepatnya ke meja resepsionis.
Petugas resepsionis bertanya aku ingin menginap berapa malam dan apakah pembayarannya menggunakan kartu kredit atau tunai (cash).
Meskipun aku masih menyimpan dompet yang berisi kartu identitas dan kartu ATM, aku merasa tidak mungkin menggunakannya.
Aku lebih memilih membayar secara tunai dan hanya memesan kamar untuk satu malam.
Karena tidak membawa barang bawaan, aku menolak ketika ditawari bantuan untuk diantar menuju kamar.
Aku lebih memilih pergi sendiri.
Lagipula, mencari nomor kamar bukanlah hal yang sulit bagiku karena itu sudah menjadi bagian dari pekerjaanku sehari-hari.
Tepat di lantai lima, aku akhirnya menemukan kamarku.
Aku masih belum bisa memejamkan mata, padahal waktu sudah hampir pagi.
Aku mencoba melemaskan otot-ototku yang sejak siang tadi terus menegang.
Aku masuk ke kamar mandi dan mulai membilas tubuh.
Setelah selesai mandi, aku berdiri di depan jendela.
Terlihat gemerlap lampu kota yang begitu indah.
Dari kejauhan, bandara yang tadi kutinggalkan masih terlihat jelas.
Jangankan untuk tidur.
Aku masih terus memikirkan semua yang telah terjadi.
Aku benar-benar tidak habis pikir, kenapa nasibku bisa berubah seperti ini.
Seingatku, aku tidak pernah berbuat zalim kepada siapa pun.
Lalu, kenapa ada orang yang tega memperlakukanku seperti ini?
Meskipun uang yang kubawa sangat banyak, tetap saja semuanya bertolak belakang dengan isi hatiku yang sama sekali tidak bisa menerima perlakuan seperti ini.
Semoga saja ada banyak hikmah di balik semua kejadian ini.
Tidak pernah terbayangkan kalau suatu saat aku akan menginjakkan kaki di negara ini. Aku hanya pernah mendengar cerita dari teman-temanku yang pernah ke sini.
Keadaannya memang seperti yang diceritakan teman-temanku. Terlihat dari bandaranya yang sangat modern. Berbeda sekali dengan keadaan di negaraku.
Malam ini aku memutuskan untuk menuju hotel yang tidak jauh dari bandara. Kemudian, aku ikut mengantre untuk mendapatkan taksi. Di sana, antreannya memang sangat tertib, tidak seperti di Indonesia.
Begitu masuk ke dalam taksi, aku langsung ditanya hendak menuju ke mana. Aku menjawab menuju hotel terdekat tanpa menyebutkan nama hotelnya. Hanya beberapa menit keluar dari area bandara, aku langsung melihat banyak hotel yang dengan megahnya membuka pintu masuk untuk para tamunya.
Tanpa berpikir panjang atau memilih-milih, aku langsung menunjuk salah satu hotel agar sopir berhenti di sana. Kebetulan ada uang dolar di kantongku yang masih menyatu dalam satu gepok. Aku mengambil selembar, dan ternyata masih ada kembaliannya.
Aku langsung bergegas menuju lobi hotel, tepatnya ke meja resepsionis. Petugas resepsionis bertanya aku ingin menginap berapa malam dan apakah pembayarannya menggunakan kartu kredit atau tunai.
Meskipun aku masih membawa dompet yang berisi kartu identitas dan kartu ATM, aku merasa tidak mungkin menggunakannya. Aku lebih memilih membayar secara tunai dan hanya memesan kamar untuk satu malam.
Karena tidak membawa barang bawaan yang banyak, aku pun menolak diantar menuju kamar. Aku lebih memilih pergi sendiri. Tidak akan bingung hanya untuk mencari nomor kamar karena itu sudah menjadi pekerjaanku sehari-hari.
Tepat di lantai lima, aku menemukan kamarku.
Aku masih belum bisa memejamkan mata, padahal hari sudah hampir pagi. Aku mencoba melemaskan otot-ototku yang sejak siang tadi menegang. Aku menuju kamar mandi dan mulai membilas badan.
Selesai mandi, aku berdiri di depan jendela. Terlihat gemerlap lampu kota yang begitu indah, juga bandara yang tadi baru saja kutinggalkan.
Jangankan untuk tidur, aku masih terus berpikir.
Aku tidak habis pikir mengapa nasibku bisa menjadi seperti ini. Seingatku, aku tidak pernah berbuat zalim kepada siapa pun. Namun, mengapa ada orang yang tega memperlakukanku seperti ini?
Meskipun uang yang kubawa sangat banyak, tetap saja semuanya bertolak belakang dengan isi hatiku yang tidak mampu menerima perlakuan seperti ini.
Semoga saja ada banyak hikmah di balik semua kejadian ini.
Bel apartemenku tiba-tiba berbunyi. Ada tamu? Padahal sebelumnya belum pernah ada yang datang ke sini. Malam-malam begini lagi. Siapa?
Malam itu aku sedang bersantai di sofa sambil menyaksikan acara musik di TV. Kebetulan sedang ada acara pencarian bakat di salah satu stasiun televisi swasta di negaraku, ya, negara berlambang Burung Garuda.
Tiba-tiba saja bel apartemenku berbunyi.
Aku belum berani membuka pintu. Aku melihat jam yang menunjukkan pukul 11 malam. Meskipun suara bel berbunyi beberapa kali, aku tetap enggan membuka pintu. Aku hanya mengintip melalui lubang kecil di pintu.
Ya Tuhan.
Aku melihat dua orang dengan pakaian seperti polisi.
Benar saja, mereka adalah polisi.
Seragam mereka tidak asing lagi bagiku karena aku sering melihatnya di sepanjang jalan kota. Mau apa mereka mendatangi apartemenku?
Bukannya membuka pintu, aku justru semakin ketakutan. Aku mencoba mencari cara agar mereka mengira bahwa aku sedang tidak berada di dalam.
Aku terus berpikir.
Setelah beberapa menit berdiri di balik pintu, aku sempat mempunyai ide untuk keluar dari apartemen tanpa melewati pintu depan.
Pintu belakang?
Tentu saja tidak ada. Ini apartemen, berada di lantai “setengah awan” pula, bukan rumah satu lantai.
Bagaimana caranya aku keluar dari sini?
Aku takut mereka datang untuk menangkapku karena mengetahui bahwa aku tinggal di sini. Aku mengira berita tentang perampokan money changer itu telah sampai ke luar negeri, ke negara singa ini.
Aku benar-benar ketakutan.
Akhirnya, setelah hampir sepuluh menit menunggu di luar karena aku tidak kunjung membukakan pintu, mereka pun pergi. Terdengar suara langkah sepatu bot mereka menjauh.
Uh… lega.
Aku pun mencoba mengakhiri malam dengan memejamkan mata.
Aku terbangun keesokan harinya.
Oh, bukan pagi lagi, melainkan sudah siang.
Seperti biasa, aku langsung membuat sarapan dan mencoba menikmatinya sambil menonton TV.
Baru beberapa suap, suara bel kembali terdengar, persis seperti tadi malam.
Aku mencoba mengintip siapa yang berada di balik pintu apartemenku.
Ternyata dia adalah tetangga apartemenku, seorang perempuan tua yang menurutku sangat pandai bergaul. Aku teringat saat pertama kali tinggal di sini. Dia langsung menyapa dan memperkenalkan dirinya, tetapi sampai sekarang aku masih tidak mengingat namanya.
Kemudian aku membuka pintu.
Dengan ramah, dia menyapaku sambil mengucapkan selamat siang. Tentu saja aku membalas sapaan itu.
Ternyata dia menawarkan beberapa kue buatannya sendiri. Katanya, dia baru akan membuka usaha secara daring. Padahal, berdasarkan peraturan tata tertib penghuni apartemen, tempat tinggal tidak boleh dijadikan tempat usaha.
Dia menawarkan beberapa macam kue kering.
Aku pun membelinya, tetapi hanya satu macam karena aku memang kurang menyukai kue, apalagi kue kering.
Sebelum pamit, dia bertanya apakah semalam ada yang mendatangi apartemenku atau tidak.
Aku menjawab bahwa aku tidak tahu karena mungkin sudah tertidur.
Ternyata orang yang dimaksud adalah petugas keamanan bersama patroli polisi di sekitar apartemen kami. Kebetulan semalam terjadi pencurian di lantai bawah, sehingga mereka mendatangi hampir setiap penghuni untuk mengingatkan agar selalu mengunci pintu dan tidak membiarkan sembarang orang masuk ke dalam apartemen.
Aku kira ada apa.
Ternyata hanya patroli polisi.
Aku merasa sangat kesepian.
Aku pun mulai menyusun rencana sambil mencoba kue yang tadi kubeli dari tetanggaku.
Lumayan enak.
Aku mulai berpikir untuk kembali ke negara asalku.
Namun bagaimana kalau aku tertangkap?
Aku kembali berpikir, memikirkan apa yang harus kulakukan.
Haruskah aku kembali, dengan risiko yang mungkin akan membuat rasa takutku semakin besar?
Atau tetap tinggal di sini, dengan risiko hidup tanpa teman, tanpa pekerjaan, dan tanpa harapan?
Teman?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar kamu disini!👇✌️😁