Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2024 by Personal Blog & Google

Rabu, 10 Februari 2016

Cerita dari Negeri Amerika (Part 1)



Sejak keberadaanku di kota kecil ini, aku belum berani untuk mengaktifkan telepon atau menggunakan beberapa barang elektronik berinternet yang besar kemungkinan akan langsung terlacak oleh mereka. 
Bahkan untuk segala jenis pembayaran saja aku mengandalkan uang tunai seadaanya yang memang sudah aku persiapkan sebelumnya. 

Setelah beberapa tahun aku bekerja sebagai salah satu agen intelejen di negara Amerika, yang pada awalnya aku anggap luar biasa, tapi kini hidupku tidak lagi baik-baik saja. 
Aku harus terus berlari dan bersembunyi.

Aku ingin kembali ke kehidupan lamaku. 

***

10 tahun yang lalu.

***

Aku berasal dari negara Republik yang kini semakin banyak saja masalah, Indonesia. Aku masih ingat saat pertama kali belajar lagu Indonesia Raya di bangku sekolah dasar dulu , "Hiduplah Indonesia Raya".

Ini memang keinginanku untuk keluar dari zona nyaman, mencoba hal-hal baru, mengunjungi tempat-tempat baru, bertemu dengan orang-orang yang baru, demi menambah pengalaman dalam kehidupanku. 
Begitu pikirku dulu. 
Karena aku selalu percaya bahwa setiap nasib bisa diubah. 

*

Untuk pertama kalinya aku mendapat lotre Green Card (Program DV Lottre). Beruntung sekali aku, karena dari setiap periode aku selalu ikut mendaftar. Tidak hanya sendiri, aku ikut mendaftar bersama salah satu temanku sewaktu masih kuliah, Resti. 
Mungkin dia hanya belum beruntung saja, meskipun setiap tahunnya ikut mendaftar, tapi keberuntungan belum berpihak kepadanya. Karena yang saat ini mendapat kesempatan itu adalah aku. Padahal saat itu aku baru ikut program pertama kalinya.
Wajar saja karena 1 berbanding 1000 orang di seluruh dunia yang mendapatkan kesempatan untuk tinggal menetap di Negeri Paman Sam itu. 

Kenapa aku memilih jalur Green Card, karena aku pikir tidak perlu banyak dana yang harus aku keluarkan untuk mengurus visa/ izin tetap tinggal. Apalagi ada syarat harus pernah sekolah atau bekerja di sana sebelumnya. Itu pun kalau ada pihak yang bersedia menjadi sponsor. Kalau untuk lotre ini aku hanya perlu registrasi dengan gratis dan menunggu sekitar 7 bulan untuk mendapat pengumuman apakah akan mendapat kesempatan itu atau tidak.
Dari awal bulan Oktober dan pemberitahuan pada tahun berikutnya, tepatnya pada bulan Mei.

*

Setelah mengurus semua persyaratan, termasuk visa yang memang langsung diurus olehku sendiri, dengan pulang pergi Kedubes di Jakarta. Setelah kurang lebih 6 bulan, tepat pada bulan November, semua persyaratan sudah selesai. 
Wawancara berkali-kali dengan berbagai petugas, tes bahasa dan sedikit pengetahuan mengenai Amerika. 
Aku juga mempersiapkan sebuah apartemen yang sudah aku sewa di daerah Los Angeles sebelum keberangkatan. Dan yang paling penting aku mempersiapkan mental juga tidak lupa mencari info sebanyak-banyaknya tentang lingkungan yang akan aku tempati.

Dengan di jemput oleh bus travel khusus angkutan bandara, diantar oleh ibu dan adik perempuanku yang kala itu masih duduk di bangku SMA. Selain ibu dan adikku, aku juga diantar oleh temanku, Resti

Pagi itu kami langsung menuju bandara internasional terbesar di negaraku, yaitu bandara Soekarno Hatta. 
Tidak lebih dari 3 jam kami sampai di bandara, terminal 1 tepatnya.
Check-in dan memasukkan semua barang bawaan melalui bagasi. Aku juga bisa melewati bagian imigrasi dengan cepat karena sudah diurus oleh pihak kedutaan sehari sebelumnya. 
Kerena jadwal keberangkatan masih sekitar 2 jam lagi, kami memutuskan untuk makan.

Sambil mengobrol ngaler-ngidul (Sunda mode on), apalagi aku akan meninggalkan negara tercinta ini lumayan cukup lama. 
Aku juga harus meninggalkan ibu dan adikku. Aku tidak terlalu khawatir tentang biaya untuk kehidupan mereka, tapi masalah kesehatan ibu yang kadang-kadang drop karena darah tingginya dan beberapa keluhan lainnya.
Aku juga tidak lupa meminta doa restu kepada ibu, juga berpesan kepada adikku agar selalu menjaga ibu.

Tibalah saatnya aku berpisah dengan mereka, rasanya sedih sekali saat itu. 
Aku memeluk mereka dengan erat. "Jaga diri baik-baik ya, Nak", ibu berbisik.
Tidak lupa aku juga berpamitan kepada Resti yang sejak awal sudah menemaniku sampai sejauh ini. 

*

Setelah sekian jam berada diatas awan, sampailah aku di bandara yang begitu mewah. 
Bandara yang terletak di kota Los Angeles, California. 
Sebelumnya aku transit di bandara Changi, Singapura.

Ada pengalaman yang lumayan menarik ketika berada di pesawat saat transit di bandara Changi.

Ketika di pesawat aku duduk bersebelahan dengan seorang wanita yang aku perkirakan usianya sekitar 40 tahun.
Penampilannya cukup sederhana, aku pikir dia orangnya cukup friendly, tapi terkesan sedikit berkelas dari caranya dia duduk dan menganggukkan kepala seraya senyum tipis ke arahku mengisyarakatkan bahwa kita akan duduk bersebelahan sampai akhir penerbangan. 
Sedikit menegangkan juga akan duduk lama di atas awan.
Aku tidak pernah naik pesawat dengan jarak tempuh yang begitu jauh, paling lama juga hanya ke negara-negara Asia. Itupun kalau ada tabungan lebih, bukan untuk urusan bisnis apalagi dengan tujuan menetap lama di tempat baru.

Dengan polosnya diriku mencoba memperkenalkan diri. "Saya Rian dari Indonesia". Dengan senyum ramah, dia menyambut sapaanku. "Saya Anne dari Virginia". 
Kebetulan sekali, dia adalah orang pribumi dari negara yang akan aku kunjungi.

Bahasa Inggrisku sangat fasih, terbukti aku selalu mendapat nilai tertinggi saat masih sekolah, bahkan sempat dipuji oleh pewawancara di kedutaan.

Setelah memperkenalkan diri, barulah aku berani bertanya lebih jauh. Tanpa ragu dia pun menjawab apa yang aku tanyakan. Ternyata dia adalah seorang akuntan dari sebuah lembaga ternama di Amerika. Kebetulan juga dia baru selesai menghadiri acara dari Singapura.
Aku pun menjelaskan apa tujuanku pergi ke Negeri Paman Sam itu.

Tibalah saatnya makan malam di atas pesawat. Tapi aku hanya memilih makanan ringan saja. Karena hanya melihat dari nama menunya saja aku sudah tahu, itu tidak akan cocok dengan lidahku. 
Setelah selesai makan, aku mencoba menonton film yang bergenre action drama yang ada di monitor depan kursiku. 
Mrs Anne aku memanggilnya. Dia juga ikut menonton film yang ada di layar monitorku meskipun tanpa suara. Dengan gambar yang sesekali pecah karena perjalanan saat itu sedikit terganggu, sudah biasa kata pilot yang berbicara dari pengeras suara.

Dia langsung berkomentar, "itu filmnya dengan sutradara terbaik oscar tahun lalu", dia juga menyebutkan para pemainnya. 
Dia bilang jangan terlalu sering menonton film seperti itu karena bisa mempengaruhi cara berpikir. Tapi aku tidak memperhatikan apa yang dia katakan lagi, karena filmnya semakin asyik untuk ditonton. Sudah mau ending.

Sepanjang perjalanan dia selalu memperhatikanku. Entah apa yang menarik dariku.
Terakhir dia berpesan, kalau hidup dimana pun apalagi di negara seperti Amerika, harus selalu siap dalam setiap kondisi, terutama mental. Karena bukan hanya akan bertemu dengan orang-orang yang baru, tapi akan hidup di lingkungan yang berbeda, termasuk berbagai suku, budaya dan gaya hidup yang beragam, juga agama dan kepercayaan yang beragam juga. Apalagi pribumi biasanya tidak terlalu terbuka bagi para pendatang, bukan berarti tidak menerima imigran, hanya saja tidak semua penduduk asli bersedia untuk cepat bersosialisasi dengan pendatang. Yang namanya hidup di negara orang harus pandai-pandai menjaga diri, terutama dari pergaulan juga lingkungan. 

*

Karena pesawat sudah landing, semua penumpang di pesawat sangat ramai dan sedikit berisik. Tidak sedikit yang sangat sibuk dengan barang bawaannya.
Begitupun aku. Meskipun hanya ransel dan tas jinjing yang berisi laptop, kebetulan beberapa barang bawaan lainnya ada di bagasi, tapi tetap saja aku tidak mau kalah untuk terlihat sibuk dari penumpang lainnya.

Sebelum keluar dari pesawat, Mrs Anne memberikan sebuah kartu nama. Katanya jika suatu saat aku membutuhkan bantuan, aku bisa menghubunginya kapan saja. Tapi yang membuatku terharu adalah ketika dia memelukku dan berkata, "Maybe he's like you now. This's for you."
Selain kartu nama, dia juga memberikan sebuah amplop.
"Ini apa?" Aku bertanya dengan ragu. "Terima saja, itu sedikit untuk uang sakumu, karena dulu saya juga pernah seperti kamu."

Aku hanya mampu mengucapkan terima kasih. Selain pepatah yang sepanjang perjalanan tadi aku dengarkan, aku juga mendapat sesuatu yang membuat aku penasaran.

Next.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁