Cerita Dari Negeri Paman Sam (Part 1)
Sejak keberadaanku di kota kecil ini, aku belum berani mengaktifkan telepon atau menggunakan barang elektronik yang terhubung dengan internet, karena besar kemungkinan hal tersebut akan langsung terlacak oleh mereka. Bahkan untuk segala jenis pembayaran, aku hanya mengandalkan uang tunai seadanya yang memang sudah aku persiapkan sebelumnya.
Setelah beberapa tahun bekerja sebagai salah satu agen intelijen di Amerika Serikat, yang pada awalnya aku anggap luar biasa, kini hidupku tidak lagi baik-baik saja. Aku harus terus berlari dan bersembunyi.
Aku ingin kembali ke kehidupan lamaku 14 tahun yang lalu. Di mana semuanya terasa baik-baik saja.
***
Inilah ceritaku.
Aku berasal dari negara Republik yang kini semakin banyak masalah, Indonesia. Aku masih ingat saat pertama kali belajar lagu "Indonesia Raya" di bangku sekolah dasar dulu, "Hiduplah Indonesia Raya".
Ini memang keinginanku untuk keluar dari zona nyaman, mencoba hal-hal baru, mengunjungi tempat-tempat baru, dan bertemu dengan orang-orang baru demi menambah pengalaman hidup. Begitu pikirku dulu, karena aku selalu percaya bahwa setiap nasib bisa diubah.
Untuk pertama kalinya, aku mendapat lotre Green Card (program DV Lottery). Beruntung sekali aku, karena dari setiap periode aku selalu ikut mendaftar. Tidak hanya sendiri, aku mendaftar bersama salah satu temanku sewaktu kuliah, Resti. Mungkin dia belum beruntung saja, meskipun setiap tahun ikut mendaftar, keberuntungan belum berpihak kepadanya. Kesempatan itu justru jatuh kepadaku, padahal saat itu aku baru pertama kali mengikuti program tersebut. Wajar saja, karena perbandingannya adalah 1 berbanding 1.000 orang di seluruh dunia yang mendapatkan kesempatan untuk tinggal menetap di Negeri Paman Sam itu.
Mengapa aku memilih jalur Green Card? Karena aku pikir tidak perlu banyak dana yang harus aku keluarkan untuk mengurus visa atau izin tinggal tetap. Apalagi ada syarat harus pernah sekolah atau bekerja di sana sebelumnya, itu pun kalau ada pihak yang bersedia menjadi sponsor. Untuk lotre ini, aku hanya perlu registrasi secara gratis dan menunggu sekitar tujuh bulan untuk pengumuman apakah mendapat kesempatan itu atau tidak. Pendaftaran dibuka pada awal Oktober dan pemberitahuan pada tahun berikutnya, tepatnya bulan Mei.
Setelah mengurus semua persyaratan, termasuk visa yang diurus sendiri dengan pulang-pergi ke Kedubes di Jakarta, kurang lebih enam bulan kemudian, tepatnya pada bulan November, semua persyaratan selesai. Wawancara dilakukan berkali-kali dengan berbagai petugas, diikuti tes bahasa dan sedikit pengetahuan mengenai Amerika. Aku juga sudah menyewa apartemen di daerah Los Angeles sebelum keberangkatan. Yang paling penting, aku mempersiapkan mental dan tidak lupa mencari info sebanyak-banyaknya tentang lingkungan yang akan aku tempati.
Aku diantar ke bandara oleh ibu, adik perempuanku yang kala itu masih duduk di bangku SMA, serta temanku, Resti. Kami dijemput oleh bus travel khusus angkutan bandara.
Pagi itu, kami langsung menuju bandara internasional terbesar di negaraku, yaitu Bandara Soekarno-Hatta. Tidak lebih dari tiga jam, kami sampai di terminal 1. Aku melakukan check-in dan memasukkan semua barang bawaan ke bagasi. Aku juga bisa melewati bagian imigrasi dengan cepat karena sudah diurus oleh pihak kedutaan sehari sebelumnya. Karena jadwal keberangkatan masih sekitar dua jam lagi, kami memutuskan untuk makan.
Sambil mengobrol "ngalor-ngidul" (istilah bahasa Sunda untuk mengobrol ke sana kemari), aku merasa sedih karena akan meninggalkan negara tercinta ini untuk waktu yang lumayan lama. Aku tidak terlalu khawatir tentang biaya untuk kehidupan ibu dan adikku, tetapi masalah kesehatan ibu—yang kadang drop karena darah tinggi—dan beberapa keluhan lainnya membuatku kepikiran. Aku tidak lupa meminta doa restu kepada ibu dan berpesan kepada adikku agar selalu menjaga ibu.
Tibalah saatnya aku berpisah dengan mereka. Rasanya sedih sekali. Aku memeluk mereka dengan erat. "Jaga diri baik-baik, ya, Nak," bisik ibu. Aku juga berpamitan kepada Resti yang sejak awal sudah menemaniku.
Setelah sekian jam berada di atas awan, sampailah aku di bandara yang begitu mewah di Los Angeles, California. Sebelumnya, aku transit di Bandara Changi, Singapura. Ada pengalaman menarik saat berada di pesawat ketika transit tersebut.
Di pesawat, aku duduk bersebelahan dengan seorang wanita yang aku perkirakan berusia sekitar 40 tahun. Penampilannya sederhana; aku pikir dia orang yang cukup friendly (ramah), tetapi terkesan sedikit berkelas dari caranya duduk dan menganggukkan kepala seraya tersenyum tipis ke arahku, mengisyaratkan bahwa kami akan duduk bersebelahan sampai akhir penerbangan. Sedikit menegangkan juga akan duduk lama di atas awan. Aku tidak pernah naik pesawat dengan jarak tempuh sejauh itu; paling lama hanya ke negara-negara Asia, itu pun jika ada tabungan lebih, bukan untuk urusan bisnis atau tujuan menetap lama.
Dengan polosnya, aku mencoba memperkenalkan diri, "Saya Rian dari Indonesia." Dengan senyum ramah, dia menyambut sapaanku, "Saya Anne dari Virginia." Kebetulan sekali, dia adalah warga asli dari negara yang akan aku kunjungi. Bahasa Inggrisku sangat fasih; terbukti aku selalu mendapat nilai tertinggi saat sekolah dan sempat dipuji oleh pewawancara di kedutaan.
Setelah berkenalan, aku berani bertanya lebih jauh. Tanpa ragu, dia menjawab apa yang aku tanyakan. Ternyata dia adalah seorang akuntan dari lembaga ternama di Amerika. Kebetulan juga dia baru selesai menghadiri acara di Singapura. Aku pun menjelaskan tujuanku pergi ke Negeri Paman Sam itu.
Tibalah saatnya makan malam di pesawat. Aku hanya memilih makanan ringan saja karena melihat nama menunya, aku tahu itu tidak akan cocok dengan lidahku. Setelah selesai makan, aku mencoba menonton film bergenre action drama di monitor depan kursiku. Mrs. Anne—begitu aku memanggilnya—ikut menonton film yang ada di layar monitor, meskipun tanpa suara. Gambar sesekali pecah karena perjalanan saat itu sedikit terganggu oleh cuaca; "Sudah biasa," kata pilot melalui pengeras suara.
Dia berkomentar, "Itu film dengan sutradara peraih Oscar terbaik tahun lalu," dan dia juga menyebutkan para pemainnya. Dia berpesan agar aku tidak terlalu sering menonton film seperti itu karena bisa memengaruhi cara berpikir. Aku tidak terlalu memperhatikan apa yang dia katakan karena filmnya semakin asyik ditonton, sudah mau mencapai ending.
Sepanjang perjalanan, dia selalu memperhatikanku. Entah apa yang menarik dariku. Terakhir, dia berpesan bahwa jika hidup di mana pun, apalagi di negara seperti Amerika, harus selalu siap dalam setiap kondisi, terutama mental. Bukan hanya akan bertemu orang-orang baru, tapi akan hidup di lingkungan yang berbeda, termasuk beragam suku, budaya, gaya hidup, hingga agama dan kepercayaan. Apalagi, penduduk asli biasanya tidak terlalu terbuka bagi pendatang; bukan berarti tidak menerima imigran, hanya saja tidak semua penduduk asli bersedia untuk cepat bersosialisasi. Yang namanya hidup di negara orang, harus pandai-pandai menjaga diri, terutama dari pergaulan dan lingkungan.
Karena pesawat sudah landing, semua penumpang sangat ramai dan berisik. Tidak sedikit yang sibuk dengan barang bawaannya, begitu pun aku. Meskipun hanya membawa ransel dan tas jinjing berisi laptop—sedangkan barang bawaan lainnya ada di bagasi—aku tidak mau kalah terlihat sibuk dari penumpang lain.
Sebelum keluar dari pesawat, Mrs. Anne memberikan kartu nama. Katanya, jika suatu saat aku membutuhkan bantuan, aku bisa menghubunginya kapan saja. Namun, yang membuatku terharu adalah ketika dia memelukku dan berkata, "Maybe he's like you now. This's for you." Selain kartu nama, dia juga memberikan sebuah amplop.
"Ini apa?" tanyaku ragu.
"Terima saja, itu sedikit uang saku untukmu, karena dulu saya juga pernah seperti kamu."
Aku hanya mampu mengucapkan terima kasih. Selain nasihat yang sepanjang perjalanan tadi aku dengarkan, aku juga mendapat sesuatu yang membuatku penasaran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar kamu disini!👇✌️😁