Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Selasa, 27 Agustus 2024

Cerita dari Negeri Amerika (Part 12)


Setelah hampir enam tahun tidak menginjakkan kaki di negara asalku, Indonesia, kali ini aku berkesempatan untuk pulang ke tanah air karena ada beberapa urusan pekerjaan yang harus aku selesaikan. Meskipun aku sudah memiliki paspor Amerika, hatiku masih tetap berada di negara kesatuan ini. 


Surat tugas dan beberapa dokumen pendukung untuk kelengkapan perjalananku selama di Indonesia sudah lengkap. Tepat pada pertengahan bulan Mei 2017, aku melakukan perjalanan ke Jakarta. Ini adalah penerbangan terjauhku untuk ketiga kalinya setelah ke Arab Saudi dan Irak. Hanya saja kali ini aku benar-benar berangkat sendiri karena biasanya aku bersama tim. Tugasku tidak lain dan tidak bukan adalah menjadi penyelidik rahasia. Tentu saja pekerjaanku kulakukan secara diam-diam. 


Dokumen-dokumen yang aku bawa juga semuanya sangat penting. 

Setelah kurang lebih 22 jam berada di atas awan, sampailah aku di Bandara Soekarno-Hatta. Sebelumnya, aku transit di Dubai. Tidak lupa aku juga mengabari Ibu perihal kedatanganku ke Indonesia. 

Dari bandara, aku menuju sebuah hotel yang berada di daerah Jakarta Timur. Semuanya sudah diurus oleh bagian administrasi di Langley. Tentu saja aku sudah tidak asing dengan hal-hal seperti ini karena pada awal bekerja sebagai staf administrasi, tugasku memang mengurus hal-hal tersebut. 


Begitu sampai di kamar hotel, aku tidak langsung istirahat. Setelah mandi dan mengganti pakaian, aku pun bersiap-siap untuk bertemu dengan beberapa orang yang pekerjaannya hampir sama denganku, yaitu sebagai agen intelijen lokal yang menyelidiki berbagai jenis kejahatan dengan unsur terorisme. 

Kami bertemu di sebuah restoran yang menyajikan makanan khas Padang. Kebetulan aku juga sangat rindu masakan yang menjadi makanan terlezat di dunia itu. Mereka adalah Rodi, Amin, dan Taufik. Tidak lupa aku memperkenalkan diri, kemudian langsung memulai inti pembahasan dan tujuanku datang ke Jakarta, yaitu menyelidiki sebuah organisasi terkenal dari Irak dan Suriah. Pada saat itu, organisasi mereka tercium oleh agen pusat Langley melalui screening kode yang biasa kelompok itu pergunakan. Tentu saja tempat kantorku bekerja sangat ahli dalam hal seperti itu. 


Dari beberapa dokumen yang aku bawa, ada sebuah rencana besar yang akan terjadi pada suatu malam perayaan menjelang bulan Ramadan. Di dokumen tersebut juga tertulis jelas ciri-ciri calon pelaku dan lokasi yang akan dijadikan tempat kejadian. 

Setelah membahas dan membuat beberapa rencana bersama mereka—juga beberapa anggota lain yang kebetulan sedang berhalangan hadir—aku pun pamit untuk kembali ke hotel untuk beristirahat dan akan melanjutkan pembahasan keesokan harinya. 


Setelah sampai di hotel, aku begitu terkejut karena bertemu dengan orang-orang yang selama ini hanya bisa berkabar melalui telepon saja. Mereka adalah Ibu dan adikku, Nina. Aku langsung memeluk erat mereka. Aku sangat merindukan mereka. Mereka juga sangat senang mendengar kabar bahwa aku akan berada di Jakarta beberapa hari. Makanya, setelah aku mengabari bahwa aku akan berangkat ke sini, mereka langsung bertanya akan menginap di mana. Keadaan Ibu cukup baik, meskipun kadang ada beberapa keluhan kesehatan, tapi sejauh ini semuanya masih dalam tahap wajar. 


Adikku sekarang sudah bekerja di sebuah perusahaan asuransi ternama di Bandung. Banyak kata yang ingin aku sampaikan saat berada jauh, tapi setelah bertemu mereka, terutama Ibu, semuanya lupa begitu saja. Banyak hal yang setelah aku pikirkan kembali, lebih baik aku simpan sendiri. Aku tidak ingin mereka mengkhawatirkan keadaanku. Aku hanya ingin terlihat baik-baik saja di depan mereka. 


Keesokan harinya, untuk pertama kalinya setelah hampir enam tahun tidak makan bersama, kami kembali duduk bertiga untuk sarapan. Rasanya bahagia melebihi apa pun yang pernah aku lalui selama ini. Melihat Ibu dengan senyuman bahagia seraya menatapku pada setiap suapannya, mengisyaratkan bahwa momen seperti ini yang selalu dia rindukan. Adikku juga terlihat begitu senang karena akhirnya bisa bertemu lagi denganku, kakak satu-satunya. Ada sedikit rasa berdosa dalam hatiku karena di hari tua Ibu, aku malah tinggal begitu jauh. Secara tidak langsung aku juga memberi beban kepada adikku untuk menjaga Ibu sendirian. Padahal, di usianya saat ini, seharusnya dia sedang asyik menikmati hidup bersama teman-temannya. Tapi mau bagaimana lagi, semua ini sudah terjadi. 


Setelah selesai sarapan, aku berpamitan kepada Ibu dan adikku untuk pergi sebentar karena ada urusan. Aku bergegas menuju sebuah markas besar kepolisian di daerah Sudirman. 

Aku kembali bertemu dengan Rodi, Amin, dan Taufik. Selain mereka, aku juga bertemu dengan beberapa petinggi kepolisian. Setelah kembali membahas beberapa rencana, akhirnya Rodi, Amin, dan Taufik akan menyamar sebagai anggota kepolisian yang mengamankan acara pawai obor yang akan dilaksanakan besok malam setelah Isya. Aku cukup ragu dengan rencana mereka yang malah terlihat mencolok sebagai petugas. Karena pada dasarnya mereka adalah agen, ketentuan dan peraturan sederhananya adalah jangan sampai terlihat. Aku mengusulkan agar mereka jangan sampai memakai seragam atau perlengkapan yang mudah dikenali, tapi sayangnya masukanku tidak mereka terima. 


Tepat pukul 9 malam di tengah kerumunan orang yang sedang melakukan pawai obor, terdengar suara ledakan yang tidak begitu jauh dari Terminal Busway Kampung Melayu. 


Seketika semuanya menjadi kacau.


Namaku (Part 3)


Hujan tidak berguna lagi untuk pohon yang sudah mati.

Aku bukan lagi manusia tanpa harapan. Aku tidak bisa terus berada dalam ruang yang sesak dan penuh dengan amarah. Aku harus melepaskan diri dari semua ini.


2014 akhir

Kini hanya kami berdua yang tinggal di rumah.

Keseharianku hanya tidur, makan, dan sesekali pergi mengunjungi makam Nenek dan Ibu.
Sedangkan Paman berkegiatan seperti biasanya.
Pergi ke kantor dan pulang hingga larut malam.
Sesekali dia baru pulang ketika pagi hari.

Aku tidak peduli.


Malam itu aku memutuskan untuk menjalankan sebuah rencana.

Tepat pada hari Sabtu pukul 9 malam, seperti biasa dia akan menghabiskan waktunya di luar rumah dan akan pulang pada keesokan harinya. Terdengar suara mobil Paman menyala, mengisyaratkan bahwa dia sudah siap untuk berangkat.
Kemudian aku mengikutinya dengan sepeda motor.

Setelah berkendara sekitar 30 menit, akhirnya dia sampai di sebuah diskotik. Ya, memang di tempat seperti ini kebanyakan orang datang untuk bersenang-senang, menutupi rasa sakit hati, dan tidak sedikit pula yang berlari dari banyaknya masalah hidup. Tapi tidak denganku, justru aku akan menyelesaikan semua masalah di tempat ini.

Terlihat dia keluar dari mobilnya dan langsung masuk ke tempat itu. Aku yang dari tadi hanya mengawasinya dari motor kemudian segera mengikutinya masuk, tetapi tetap menjaga jarak agar tidak diketahui oleh Paman.

Di dalam ternyata sangat penuh dengan orang. Aku sempat kehilangan pandangan darinya. Mungkin karena kebetulan sekarang adalah malam Minggu.

**

Jadi ingat saat ulang tahun temanku dua tahun yang lalu.

Ketika kami mencoba menerobos masuk, kami ditahan oleh petugas keamanan karena memang belum cukup umur saat itu. Tapi temanku melakukan cara andalannya dengan memberi uang rokok kepada mereka. Alhasil, kami pun bisa masuk ke dalam.

**

Terlihat Paman duduk di bar bersama beberapa orang, mungkin teman-temannya. Aku terus memperhatikannya dari jarak jauh yang sesekali terhalangi oleh lalu lalang orang, tetapi tetap pandanganku tidak teralihkan darinya.

Semakin malam, semakin sesak dipenuhi oleh banyak orang yang datang ke tempat itu. Aku masih sabar menunggu saat yang tepat.

Beberapa saat kemudian dia terlihat beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke toilet. Aku pun mengikutinya.

Namun, keadaan toilet cukup penuh dan sangat terang. Kalau aku masuk, pasti dia akan menyadari kehadiranku di sana.
Aku pun menunggunya di pintu keluar toilet. Begitu dia keluar, aku langsung menusuk perutnya beberapa kali dengan pisau yang sedari tadi sudah aku simpan di kaki bagian bawah. Darah pun terlihat mengalir dari perutnya, meskipun tidak terlalu jelas karena redupnya lampu di tempat itu, tetapi cukup terasa di tanganku.

Tidak lama, ada beberapa orang berteriak karena melihat kejadian yang baru saja terjadi.

Aku pun segera pergi dan keluar mengikuti orang-orang yang mulai berhamburan meninggalkan tempat itu.

Aku segera kembali ke rumah untuk mengambil beberapa barang pribadiku dan beberapa barang berharga yang ada di sana.

Aku langsung menuju sebuah hotel untuk bersembunyi dan menenangkan diri.

Jantungku tidak berhenti berdebar kencang. Rasanya seperti mau copot.

Aku juga tidak berani menyalakan TV, apalagi keluar kamar.

Dua hari kemudian aku memutuskan untuk pergi ke luar kota.


Semua orang melakukan kesalahan, entah itu pernah atau bahkan setiap saat. Tidak mungkin ada orang yang belum pernah melakukannya.
Tetapi tidak semua orang mempunyai keberanian untuk mengakuinya.

Aku bukan orang yang berada di tengah-tengah kebenaran dan selalu berperilaku salah, tetapi jika memang aku memilih berada di jalan yang tidak baik, maka sudah pasti dan bisa dipastikan bahwa aku sudah memikirkan dan memutuskan untuk melakukan hal itu sebelumnya.

Aku tidak akan malu, apalagi takut untuk mengakui jika aku salah. Tidak akan ragu untuk meminta maaf. Aku juga tidak akan sulit untuk memaafkan.

Namun memang ada kalanya tidak semua orang berhak atas permintaan maafku ataupun menerima maaf atas kesalahan yang mereka lakukan.
Karena ada beberapa hal yang sebenarnya tidak bisa diterima jika sudah melebihi batas, apalagi menyangkut dengan pilihan yang aku jalani.


2015

Aku merasakan sesuatu yang tidak pernah aku alami sebelumnya.
Ada rasa ingin cepat bertemu ketika aku jauh darinya.

Pada suatu sore aku kembali bertemu dengan Diana.
Untuk pertama kalinya aku berniat akan mengatakan sebuah kejujuran kepadanya.

Setelah selesai aku bercerita, Diana pun hanya terdiam dan seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja aku ceritakan.

Aku pun merasa khawatir karena telah memberitahu orang lain tentang apa yang sudah aku perbuat, apalagi melihat reaksi Diana yang sejak tadi hanya membisu.

Namun itu tidak berlangsung lama, karena beberapa saat kemudian dia bercerita tentang kejadian pada masa lalunya yang membuatku sedikit kaget.

Diana bercerita.

Dia mempunyai sepupu yang seumuran dengannya, ketika itu mereka kelas 1 SMP.

Mereka sering mengerjakan tugas bersama dan terkadang Diana mengajak sepupunya untuk menginap di rumahnya atau Diana yang menginap di rumah sepupunya.

Pada suatu malam, Diana menginap di rumah sepupunya, lebih tepatnya di rumah tantenya, adik dari ayah Diana.

Pada malam itu, ketika mereka sedang mengerjakan tugas, tiba-tiba listrik padam dan tantenya menyalakan beberapa lilin.
Setelah menunggu cukup lama, ternyata listrik tidak juga menyala. Akhirnya semua orang memutuskan untuk tidur karena sudah larut malam.

Namun Diana tidak langsung tidur, dia masih mengerjakan tugasnya, sedangkan sepupunya sudah terlebih dahulu tidur.

Dengan bantuan penerangan lilin yang seadanya, Diana berusaha menyelesaikan tugasnya itu hingga akhirnya dia tertidur di ruang tamu.

Tiba-tiba terasa ada hawa panas. Ternyata api sudah melahap sebagian ruangan dan menjalar ke berbagai ruangan lainnya.
Dia tidak sempat membangunkan semua orang yang ada di rumah itu karena api semakin membesar. Dia pun langsung berlari keluar rumah.

Dia selamat, tetapi tidak dengan sepupu, tantenya, dan anggota keluarga yang lain yang ada di rumah itu.
Mereka semua meninggal dalam kebakaran itu.

Ketika menceritakan itu, terlihat air mata Diana mengalir di pipinya. Terlihat juga rasa penyesalan di wajahnya. Sejenak dia terdiam, tetapi aku berusaha meyakinkan dia bahwa itu sebuah kecelakaan, berbeda dengan yang sudah aku perbuat yang jelas-jelas sengaja aku lakukan.

Kami pun melanjutkan cerita tentang masa kecil masing-masing dan beberapa hobi serta musik favorit yang kami sukai.

Untuk mengalihkan topik serius yang sedari tadi kami bahas.

Apakah kami sama-sama seorang pembunuh?


Caraku memandang dunia hingga sejauh ini sudah jauh berbeda. Kebenaran bagiku adalah apa yang aku nilai benar, dan tidak ada kesalahan yang mutlak tanpa alasan ataupun sebuah pemikiran. Sesalah apa pun perbuatan orang masih bisa diperbaiki melalui banyak cara dan berbagai upaya.

Tentang orang yang katanya paling mengerti kita, kita hanya harus melihat perlakuannya, bukan mendengarkan perkataannya. Dan semua tergantung dari sisi mana kita melihatnya.


Namanya Rangga, tahun ini umurnya 9 tahun.
Ya, aku sudah mempunyai anak hasil buah cinta antara aku dan Diana. Saat ini dia tinggal bersama kakakku.
Sedangkan yang mengetahui hal ini hanya beberapa orang saja.

2015 (9 tahun yang lalu)

Hubunganku dengan Diana cukup dekat, bahkan lebih dari dekat.

Saat itu usiaku baru 19 tahun, sedangkan Diana sudah berumur 23 tahun.

Aku sedang dalam pelarian, tidak mempunyai pekerjaan. Aku memang memiliki uang, tetapi tujuanku belum jelas akan ke mana dan harus bagaimana.

Takdir mempertemukanku dengan Diana, yang kehidupannya bisa dibilang sudah mapan dan tidak banyak masalah.
Sedangkan aku sebaliknya.
Namun cinta tidak memandang itu semua.

Kami pun menikah, meskipun tanpa restu dari orang tua Diana. Kami tetap melakukan pernikahan itu karena saat itu Diana sudah mengandung buah cinta kami.

Jadi teringat saat kakak melangsungkan acara pernikahan.

Karena tidak ada wali dari anggota keluarga ayah, maka yang berhak menjadi wali nikah kakak adalah aku.
Saat itu umurku baru 17 tahun.

Aku diberi tanggung jawab yang cukup besar, yaitu mempercayakan nasib kakakku kepada seorang laki-laki yang tidak pernah aku kenal.
Menyaksikan betapa bahagianya keluargaku untuk terakhir kalinya.

Karena setelah acara pernikahan itu kehidupanku kembali berubah, bahkan menjadi titik ketidakseimbangan dalam hidupku.

Kehilangan kakak meskipun masih bisa ditemui, tetapi karena sudah berumah tangga tentu tidak akan sama seperti saat masih sendiri.
Kemudian aku kehilangan Nenek, dan disusul kepergian Ibu karena kecerobohanku sendiri.

Kehidupanku setelah pernikahan itu berubah drastis, tanpa terkecuali Diana.

Kami tidak tinggal bersama keluarga Diana, karena kami memilih mengontrak rumah yang tidak terlalu jauh dari tempat Diana bekerja.

Keseharianku mulai sibuk dengan pekerjaan baruku. Aku belajar bertanggung jawab, dimulai dari menikahinya dan dilanjutkan dengan memenuhi kebutuhan keluarga kami, termasuk biaya persalinan nanti.
Sedangkan Diana masih tetap bekerja di tempat sebelumnya.

Dia perempuan yang selalu menghargai aku.
Perlakuannya masih sama seperti pertama kali kami bertemu.
Meskipun penghasilannya lebih besar dariku, dia tetap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri dengan baik.

Aku sangat menyayanginya.
Dia seperti rumah bagiku.
Seperti tetesan hujan di tengah gurun.
Sangat lembut dalam perlakuannya.

Mungkin karena umurnya empat tahun lebih tua dariku, terlihat dari kedewasaan yang selalu dia tunjukkan.

Kehidupan kami yang sederhana tidak menjadi cobaan bagi pernikahan kami. Gajiku tidak seberapa, tempat tinggal seadanya, makanan pun sederhana.
Kehidupan remajaku berubah menjadi kehidupan yang lebih bertanggung jawab.

Hubungan kami selalu baik-baik saja.

Hingga suatu sore ketika aku sedang bekerja seperti biasa, tiba-tiba ponselku berdering.
Diana menelepon bahwa perutnya terasa sakit, pertanda akan segera melahirkan.

Di sebuah klinik yang tidak jauh dari kontrakan kami, Diana berjuang dengan nyawanya demi buah hati yang selama ini kami nantikan.

Setelah beberapa lama, terdengar suara bayi.
Tangisannya memecah keheningan hidupku.
Wajahnya seperti mentari yang menyinari kehidupanku.

Kulihat wajah mungil itu yang membuat hidupku terasa luar biasa bahagia.

Kugendong dia dengan pasti.
Kehadirannya melengkapi keluarga kecil kami.

Anak laki-laki itu kami beri nama Rangga, diambil dari bahasa Jawa yang berarti kesatria.

Semoga suatu hari nanti dia menjadi kesatria bagi orang-orang di sekitarnya, terutama untuk dirinya sendiri.

Kehidupan kami menjadi lebih lengkap dan sangat bahagia.

Aku semakin giat bekerja demi keluargaku.
Diana juga cepat beradaptasi menjadi seorang ibu.
Dia merawat Rangga dengan baik.
Rangga tumbuh sehat dan kuat.

Hari-hariku dipenuhi tangis dan tawa anak tercinta kami.

Satu tahun pun berlalu.


2016

Rangga akan merayakan ulang tahun pertamanya.
Kami sudah merencanakan pesta kecil untuknya.
Kami mengundang beberapa anak kecil di sekitar kontrakan.

Meskipun dia belum mengerti, kami ingin mengabadikan momen itu sebagai kenangan.

Pestanya tidak meriah, hanya kue kecil dengan lilin merah berbentuk angka satu.
Kami bahagia dengan sederhana, seperlunya, dan sewajarnya.

Namun semua itu tidak berlangsung lama.


Di depan rumah kontrakan kami sudah ada beberapa polisi yang bersiap menjemputku.



Namaku (Part 2)



Terkadang kita harus melakukan hal buruk untuk bertahan hidup, dan terkadang kita perlu bersikap kejam demi menyelesaikan masalah.


Aku hampir tidak percaya menyaksikan betapa ngerinya pemandangan yang aku lihat di kamar Nenek.
Nenek sudah terbujur kaku dengan bersimbah darah di atas tempat tidurnya.
Paman langsung menelpon polisi.

Tidak lama kemudian, polisi pun tiba di rumah.

Tapi sudah bisa dipastikan bahwa Nenek sudah benar-benar meninggal.

Ada spekulasi kalau Nenek dibunuh oleh orang yang mencoba merampok rumah kami yang masuk melalui jendela.
Terbukti dengan hilangnya beberapa perhiasan, uang, dan beberapa barang berharga lainnya milik Nenek.

Setelah kejadian itu, pikiranku tidak pernah tenang.
Hampir setiap saat aku terus memikirkan kejadian pada malam saat Nenek meninggal. Entah itu sedang di sekolah, di jalan, apalagi jika sedang berada di rumah.

Ibu kini mencoba membuka usaha menjahit yang letaknya tidak jauh dari rumah.
Sedangkan Paman selalu sibuk dengan banyak pekerjaannya. Berangkat pagi dan pulang pada sore bahkan larut malam, tanpa terlihat sedih atau memikirkan apalagi menyesali apa yang sudah dia lakukan.

Aku mengetahui sesuatu, tapi tidak berani membicarakannya kepada Ibu, apalagi kepada orang lain.

Sekalipun aku berusaha untuk terus melupakan kejadian itu, semakin lama aku diam, semakin tidak terkendali pula rasa ingin mengungkapkan fakta yang sebenarnya.

Tapi aku tetap berusaha tenang dan terlihat baik-baik saja.

Ada hal yang menurutku sama pentingnya, yaitu sekolahku.

Tiba saatnya aku mengikuti ujian akhir sekolah.

Dua minggu berlalu.
Kini tiba saatnya mengetahui hasil kelulusan.

Pagi ini hatiku terasa tidak karuan, jantung terus berdebar, tidak bernafsu untuk sarapan, dan pikiranku sedikit kalut. Tapi aku melihat pancaran wajah Ibu yang menggambarkan betapa bahagianya dia melihat aku yang akan segera lulus sekolah.

Karena semua siswa harus didampingi oleh orang tua masing-masing, pagi ini aku pergi ke sekolah bersama Ibu dengan mengendarai motor kesayanganku pemberian Nenek saat ulang tahunku yang ke-17.

Dalam perjalanan menuju sekolah, aku sedikit mengobrol dengan Ibu. Dia bilang kalau aku boleh memilih tempat kuliah yang aku mau. Katanya dia ingin aku mempunyai pendidikan yang tinggi agar nantinya mempunyai jenjang karier yang bagus.

Aku masih melihat wajah Ibu yang memancarkan kebahagiaan itu di kaca spion motor. Rasanya aku bahagia ketika melihat Ibu terus tersenyum seperti itu, aku terus memandang wajahnya melalui spion.

Dalam hati, ingin rasanya aku menceritakan apa yang selama ini aku ketahui.
Tapi aku segera menyimpan keinginan itu, karena untuk saat ini aku lebih mementingkan kebahagiaan Ibu, dan mungkin Paman juga tidak dengan sadar telah melakukan perbuatannya itu.
Tapi tidak menutup kemungkinan jika suatu hari aku akan mengungkap perbuatan yang sudah Paman lakukan.
Karena tidak sepantasnya Nenek diperlakukan seperti itu oleh anaknya sendiri.

Saking lamanya aku melamun, aku tidak fokus lagi melihat jalan, sehingga aku tidak sadar sudah beralih ke jalur sebelah kanan. Di depan ada sebuah mobil yang melaju cukup kencang, dan tabrakan pun tidak terhindarkan.

Aku tidak ingat apa-apa lagi, semuanya menjadi gelap.


  1. 2024.

Sore ini aku akan berjalan-jalan menyusuri pantai. Kebetulan cuacanya cukup bagus, cocok sekali untuk menikmati angin sore sambil menunggu sunset.

Setelah lumayan lelah berjalan, aku memutuskan untuk masuk ke sebuah bar yang letaknya jauh dari bibir pantai. Aku memesan bir dan menyalakan rokok yang selalu aku bawa di saku celana. Kurang lebih sama seperti kebiasaanku 10 tahun yang lalu.

Hampir setiap hari aku bersantai di bar dan pergi ke diskotik ketika malam hari.

Itu saat pertama kali aku keluar dari rumah.

Tidak terasa sudah hampir 2 jam aku duduk di sana, hari pun mulai gelap, lampu-lampu di sepanjang jalan sudah mulai menyala. Aku segera menuju kasir untuk membayar dan berjalan keluar dari bar.

Ketika melihat lampu yang terang di sepanjang jalan, seketika aku teringat kejadian dulu.


  1. 2014.

Aku terbangun di sebuah ruangan dengan selang infus di tangan dan selang oksigen di hidungku. Ketika melihat keadaan sekitar, ternyata ada banyak orang, termasuk kakakku dan Paman. Tapi aku tidak melihat Ibu.

Terlihat mata kakak yang sembab seperti habis menangis berjam-jam bahkan berhari-hari. Aku tahu pasti dia bukan menangisi apa yang terjadi kepadaku, tapi ada hal lain yang membuatnya lebih bersedih.

Ketika aku bertanya di mana Ibu, kakak hanya terdiam dan malah menjawab dengan air mata yang mengisyaratkan bahwa sesuatu sudah terjadi kepada Ibu.

Di situlah aku merasa bahwa hidupku tidak lagi ada artinya. Aku perlu dihukum atas apa yang sudah aku perbuat. Ini semua salahku yang menyebabkan Ibu meninggal.

Aku tidak sadarkan diri cukup lama.

Aku tidak berkesempatan untuk melihat wajah Ibu untuk terakhir kalinya selain di kaca spion, itu pun seminggu yang lalu.

Setiap hari aku hanya bisa terdiam dan tidak mampu lagi berkata apa pun, apalagi untuk menangis. Setiap saat aku hanya memandang langit-langit kamar rumah sakit. Sesekali aku memejamkan mata yang membawaku ke kejadian itu, rasanya seperti tertidur dengan mimpi buruk yang tidak pernah berakhir.

Sebulan kemudian aku keluar dari rumah sakit.

Aku langsung mengunjungi makam Ibu, tapi aku masih tetap tidak merasakan kesedihan apalagi menangis, kecuali rasa marah yang luar biasa.


  1. 2024.

Sebelum pulang ke rumah, aku sengaja kembali melewati pantai yang tadi sore aku lalui. Masih tetap dengan rokok di tangan yang sesekali aku hisap. Malam ini cukup dingin, aku selalu lupa membawa jaket atau baju berlengan panjang, memang kebiasaan burukku dari dulu.

Deburan ombak terdengar begitu jelas, mungkin karena semakin malam air laut sedang pasang. Terbukti kakiku basah karena ombak yang sampai ke tepi pantai.

Aku begitu menyukai pantai.

Jadi teringat ketika masih kecil.

Kami sekeluarga berlibur ke sebuah pantai yang tidak terlalu jauh dari rumah. Mungkin saat itu usiaku 5 tahun. Begitu senangnya ketika ombak datang, aku akan melompat agar tubuh kecilku tidak terbawa arus, membuat benteng dan rumah-rumahan dari pasir bersama kakakku. Ayah duduk santai di bawah payung sambil meminum air kelapa, Ibu menunjuk ke arah gulungan ombak yang datang sambil berkata, “Awas, ada ombak, jangan terlalu jauh mainnya,” sambil mengayunkan tangan menyuruh kami ke pinggir.

Terasa ada yang mengalir di pipiku, padahal aku tidak merasa sedih atau apa pun. Dokter menyebutnya hipofrenia. Padahal dulu aku tidak bisa menangis, itu sebelum aku mengikuti hipnoterapi agar bisa kembali menangis seperti orang pada umumnya.

Sedalam itukah rasa sedihku?

  1. 2015.

Saat itu baru seminggu tinggal di ibu kota. Tidak ada teman, apalagi keluarga sama sekali. Aku tinggal di sebuah hotel yang tidak jauh dari jantung kota, dengan berbekal uang yang lumayan banyak dari Pamanku. Hampir setiap hari aku mengunjungi sebuah kafe yang sama, untuk melupakan sedikit demi sedikit beban yang aku rasakan.

Pada suatu ketika, ada yang menyapaku dan bertanya apakah aku duduk sendirian atau sedang menunggu seseorang. Dia juga bertanya siapa namaku dan berasal dari mana.

Namaku saat itu adalah Ale, kata yang diambil dari bahasa Prancis “Aller” yang berarti pergi. Aku bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran.

Tentu saja itu adalah sebuah kebohongan.

Sedangkan nama dia adalah Diana, diambil dari bahasa Latin yang berarti surgawi. Nama yang begitu indah.

Seorang perempuan yang baru lulus dari universitas ternama dan sudah bekerja di perusahaan besar di bidang transportasi sebagai konsultan administrasi.

Kebetulan tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari sana, maka dia cukup sering mampir ke kafe yang sama yang aku kunjungi.

Selama aku hidup hingga saat ini, aku belajar untuk survive alone atau bertahan hidup sendirian.
Bisa saja ada orang lain yang menghampiri atau bersamaku pada saat ini dan menganggap aku penting bagi dirinya, menyukaiku, menyayangiku, tapi di kemudian hari bisa saja aku bukan lagi siapa-siapa baginya, bahkan mungkin dia tidak ingin lagi mengenal siapa diriku.

Maka penting untuk survive alone, because in the end of the day it’s only me and myself.

Pada keesokan harinya kami selalu bertemu di tempat dan waktu yang sama.

Pertemuan kami di hari-hari selanjutnya tidak lagi kaku seperti sebelumnya. Kami mulai bercerita tentang keluarga masing-masing. Ternyata dia anak kedua dari dua bersaudara, dia mempunyai kakak seorang polisi. Bahkan banyak anggota keluarganya yang memiliki latar belakang yang sama.

Di tengah banyaknya obrolan yang kami lakukan, yang paling jujur dari semua ucapanku hanya tentang kesukaanku pada pantai dan makanan favoritku, yaitu nasi goreng masakan Ibu. Selebihnya adalah bualan semata.

Di tengah obrolan, dia menceritakan tentang kakaknya yang pernah bersekolah di tempat khusus di Jawa Barat, namanya sekolah intelijen.

Aku pun mulai tertarik dan penasaran dengan apa yang dia ceritakan.


Hampir setiap hari aku menghabiskan waktu hanya dengan duduk termenung karena belum bisa melupakan apa yang sudah terjadi dalam hidupku.

Pada hari itu aku terbangun ketika matahari sudah tepat di atas kepala. Karena semalaman aku tidak bisa tertidur.

Sudah hampir sebulan aku berpindah-pindah hotel, bukan kamar kos yang pernah aku ceritakan kepada Diana.

Ketika membuka ponsel, ternyata ada pesan masuk dari Diana. Dia menanyakan apa kegiatanku sore nanti. Aku jawab saja akan ke tempat yang sama seperti kemarin.

Pada sore harinya, kami pun bertemu lagi di tempat yang sama.

Aku mempunyai tujuan untuk bertanya lebih lanjut tentang sekolah intelijen yang pernah dia ceritakan sebelumnya.


  1. 2014.

Sejak kejadian itu aku hanya diam di dalam kamar dan sesekali duduk di halaman depan rumah. Selain itu, yang membuat diriku terpuruk adalah kabar bahwa aku tidak lulus sekolah, hasil ujianku gagal.

Tiga bulan berlalu.

Tubuhku sudah benar-benar pulih, cara berpikirku sudah sedikit lebih baik. Aku harus bisa memperbaiki keadaan, meskipun tidak sama seperti sedia kala, karena yang sudah terjadi tidak akan bisa diubah. Waktu tidak akan pernah kembali, maka aku harus lebih siap menghadapi banyak kemungkinan di kemudian hari.

Bukankah hidup akan terus berjalan?

Aku mulai berpikir apa yang salah dari semua ini, dan mencari cara bagaimana memperbaikinya, terutama langkah apa yang akan aku ambil selanjutnya. Aku tidak mau terus begini, hanya duduk terdiam dan merasa tidak berguna.

Ini semua berawal sejak kepergian Ayah, Nenek yang meninggal tidak wajar, hingga Ibu yang menjadi korban kecelakaan karena keteledoranku.

Aku mencoba menerima kenyataan itu. Tidak ada pilihan selain menerima semuanya. Terbukti aku sudah bisa hidup tanpa kesedihan berlebihan atas kepergian mereka.

Aku belajar untuk tidak takut kehilangan siapa pun yang hadir dalam hidupku, entah teman, sahabat, keluarga, atau orang yang aku sayangi.
Karena aku akan lebih takut kehilangan diriku sendiri hanya karena terus memikirkan masa lalu.

Jika aku kehilangan diriku, aku akan kehilangan hidup, jati diri, dan masa depanku.

Aku harus melakukan sesuatu.

Pada suatu malam, aku meyakinkan diri bahwa aku harus meminta pertanggungjawaban dari Paman. Dia adalah orang yang harus disalahkan atas semua yang terjadi.

Dia meminta maaf dengan sungguh-sungguh, bahkan berjanji akan menyerahkan diri ke polisi.

Terlihat air mata mengalir di pipinya. Tapi aku tetap tidak bisa menerima kata maafnya yang begitu mudah dia ucapkan. Dia bahkan bersujud di kakiku agar dimaafkan. Aku memang memaafkannya, tapi aku punya rencana lain yang sudah kupikirkan matang.

Aku memberikan secarik kertas berisi nomor rekening pribadiku yang baru dibuat beberapa hari lalu. Di sana juga tertulis sejumlah uang yang harus dia berikan.

Belakangan diketahui alasan dia melakukan hal keji itu kepada Nenek.

Hanya karena Nenek menolak menandatangani surat wasiat yang berisi bahwa seluruh harta harus diberikan kepadanya.

Pada suatu malam, Paman datang dan memberikan slip transfer. Nominalnya melebihi jumlah yang aku minta. Dia juga meminta agar aku tidak mengadukan kejadian itu kepada siapa pun, apalagi polisi.

Benar saja, dia akan mengingkari janjinya.

Pantas saja dia memberikan uang lebih banyak.
Dia tidak benar-benar tulus meminta maaf.


Nyawa harus dibayar dengan nyawa.