Teman?
Aku mengulang kata itu dalam hati.
Teman.
Siapa temanku sekarang?
Dinda? Orang yang menyeretku ke dalam semua ini.
Andri? Jelas bukan.
Ron dan Martin? Mereka hanya memanfaatkanku.
Aku mematikan TV dan menyandarkan kepala ke sofa.
Sudah hampir tiga bulan aku tinggal di apartemen ini.
Tiga bulan.
Tidak ada kabar dari siapa pun.
Tidak ada instruksi.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada pekerjaan.
Tidak ada penjelasan.
Seolah-olah aku sengaja dibuang ke sini dan dibiarkan hidup sendiri.
Aku mengambil ponsel dan membuka kontak.
Hanya ada beberapa nomor yang tersimpan.
Salah satunya milik Marisa.
Entah kenapa, aku langsung menekan tombol panggil.
Nada sambung terdengar beberapa kali.
Kemudian terhubung.
“Halo?”
Suara perempuan itu terdengar sama seperti biasanya.
“Marisa… ini Jason.”
“Aku tahu.”
Aku terdiam.
“Ada apa?” tanyanya.
“Aku cuma ingin bicara.”
Hening.
Lalu terdengar suara napas panjang.
“Kamu kesepian ya?”
Aku tidak menjawab.
Tapi mungkin diamku sudah cukup menjelaskan semuanya.
“Aku sedang tidak bekerja. Kalau mau, datang saja ke kedai kopi dekat Chinatown Point. Aku di sana.”
⸻
Sekitar empat puluh menit kemudian aku sampai.
Marisa duduk di sudut ruangan sambil membuka laptop.
Begitu melihatku, dia tersenyum.
“Kelihatannya kamu tambah kurus.”
Aku hanya tertawa kecil.
Kami mengobrol cukup lama.
Tentang makanan.
Tentang kehidupan di negara singa.
Tentang Indonesia.
Untuk pertama kalinya sejak kejadian di money changer itu, aku merasa berbicara dengan seseorang tanpa rasa takut.
Sampai akhirnya aku memberanikan diri bertanya.
“Marisa.”
“Hm?”
“Siapa sebenarnya kamu?”
Dia berhenti mengetik.
Wajahnya berubah serius.
“Aku tahu pertanyaan itu pasti akan muncul cepat atau lambat.”
“Kalau begitu jawab.”
Dia menutup laptopnya perlahan.
“Aku memang sengaja ditempatkan di kursi sebelahmu.”
Aku sudah tahu itu.
“Tapi aku bukan bagian dari kelompok Ron.”
Aku mengernyit.
“Lalu?”
“Aku hanya ditugaskan memastikan kamu sampai ke sini dengan selamat.”
Jantungku berdetak lebih cepat.
“Ditugaskan oleh siapa?”
Marisa tidak langsung menjawab.
Dia melihat ke luar jendela.
Kemudian berkata pelan.
“Orang yang sama yang memilihmu.”
Tubuhku langsung menegang.
Memilihku.
Lagi-lagi kata itu.
“Kenapa semua orang bilang aku dipilih?”
“Tidak ada yang memilih orang secara acak, Jason.”
“Namaku Aditya.”
Marisa menatapku.
Untuk pertama kalinya dia menyebut namaku yang asli.
“Ya. Aditya.”
Aku merasakan sesuatu yang aneh.
Seolah selama ini aku memang sedang memainkan peran orang lain.
“Apa yang sebenarnya kalian inginkan dariku?”
Marisa menghela napas panjang.
“Lihat ke belakang.”
Aku menoleh.
Di meja paling belakang duduk seorang pria tua.
Usianya mungkin sekitar enam puluh tahun.
Memakai kemeja putih sederhana.
Sedang membaca koran.
“Aku tidak kenal dia.”
“Dia mengenalmu.”
Aku kembali menatap Marisa.
“Siapa dia?”
“Orang yang sudah mengawasimu sejak kamu masih bekerja di hotel.”
Darahku seperti berhenti mengalir.
“Apa?”
“Dia juga yang mengatur supaya kamu bertemu Ron dan Martin.”
Aku berdiri dari kursi.
“Jadi ini semua jebakan?”
Beberapa pengunjung mulai melihat ke arah kami.
Marisa memberi isyarat agar aku duduk kembali.
Aku menurut.
Dengan napas yang tidak beraturan.
“Kalau ini jebakan, aku pasti sudah mati sejak lama.”
Aku tidak bisa membantah.
Itu benar.
Sejak hari perampokan itu terjadi, ada banyak kesempatan untuk menghilangkanku.
Tapi mereka tidak melakukannya.
“Lalu kenapa?”
Marisa menatap lurus ke mataku.
Karena apa yang akan dia katakan berikutnya tampaknya sangat penting.
“Karena yang mereka butuhkan bukan uangnya.”
Aku diam.
“Mereka membutuhkan kamu.”
Aku merasakan bulu kudukku berdiri.
“Untuk apa?”
Marisa tidak menjawab.
Sebaliknya, dia mengambil sebuah amplop putih dari dalam tasnya.
Persis seperti amplop yang pernah kuterima sebelum berangkat ke bandara.
Di bagian depan hanya tertulis satu kata.
ADITYA
Bukan Jason.
Bukan identitas palsu.
Namaku yang sebenarnya.
“Apa ini?”
“Jawaban yang selama ini kamu cari.”
Aku memegang amplop itu.
Tanganku gemetar.
“Siapa yang mengirimnya?”
Marisa berdiri dari kursinya.
“Mulai hari ini, kamu akan mengetahuinya sendiri.”
“Lalu kamu?”
Dia tersenyum tipis.
“Mungkin kita akan bertemu lagi.”
Marisa berjalan meninggalkan kedai.
Aku tidak mengejarnya.
Pandanganku hanya tertuju pada amplop putih di tanganku.
Amplop yang mungkin berisi jawaban atas semua pertanyaan yang menghantuiku selama berbulan-bulan.
Tentang Dinda.
Tentang Ron.
Tentang Martin.
Tentang Andri.
Tentang diriku sendiri.
Perlahan aku membuka segelnya.
Dan saat melihat isi halaman pertama di dalamnya…
Aku langsung membeku.
Karena di bagian atas dokumen itu tertulis:
“DOSSIER SUBJEK: ADITYA PRATAMA”
Dan di bawahnya terdapat foto diriku saat berusia sekitar lima tahun.
Tanganku membeku.
Foto itu memang diriku.
Aku yakin seratus persen.
Meskipun usiaku saat itu mungkin baru sekitar lima tahun, aku masih mengenali wajah kecil itu. Di samping foto terdapat beberapa lembar data yang berisi informasi tentang diriku.
Nama.
Tanggal lahir.
Alamat rumah orang tuaku di Bandung.
Nama sekolah dasar.
Bahkan nama wali kelasku waktu kelas satu SD.
Aku langsung menutup kembali map itu.
Jantungku berdebar semakin kencang.
Siapa yang memiliki data sedetail ini?
Aku menoleh ke arah pintu keluar kedai.
Marisa sudah tidak terlihat.
Begitu juga pria tua yang tadi membaca koran.
Kursinya kosong.
Seolah-olah mereka sengaja menghilang bersamaan.
Aku segera memasukkan map ke dalam tas dan meninggalkan kedai.
⸻
Sesampainya di apartemen, aku langsung mengunci pintu.
Semua kunci tambahan yang tersedia aku pasang.
Entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak tinggal di negara singa ini, aku merasa benar-benar tidak aman.
Aku duduk di meja makan.
Map itu kembali kubuka.
Di halaman berikutnya terdapat tulisan:
Subjek menunjukkan kemampuan adaptasi tinggi.
Mampu membangun hubungan sosial dengan cepat.
Memiliki tingkat kepercayaan diri yang baik.
Tidak memiliki catatan kriminal.
Memiliki loyalitas tinggi terhadap keluarga.
Aku membaca berulang kali.
Ini bukan biodata biasa.
Ini seperti laporan pengamatan.
Laporan seseorang yang sudah memperhatikanku selama bertahun-tahun.
Halaman berikutnya membuatku semakin bingung.
Di sana terdapat foto-foto yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya.
Foto saat aku bekerja di hotel.
Foto saat sedang makan bersama teman-teman.
Foto ketika aku mengantar tamu ke kamar hotel.
Bahkan ada foto saat aku sedang duduk sendirian di taman kota.
Semuanya diambil dari jarak jauh.
Aku merasa mual.
Seseorang benar-benar mengawasiku.
Bukan selama beberapa hari.
Bukan selama beberapa bulan.
Mungkin selama bertahun-tahun.
⸻
Aku terus membuka halaman demi halaman.
Sampai akhirnya menemukan sebuah nama.
PROYEK GARUDA
Apa itu?
Di bawahnya terdapat catatan:
Kandidat berhasil melewati fase observasi.
Fase berikutnya telah dijalankan pada insiden Money Changer.
Aku langsung berdiri.
Insiden Money Changer?
Berarti perampokan itu memang bagian dari sesuatu yang sudah direncanakan.
Bukan kebetulan.
Bukan nasib buruk.
Aku kembali duduk.
Tanganku mulai berkeringat.
Di halaman berikutnya tertulis:
Tujuan fase kedua:
Menguji kemampuan bertahan hidup subjek.
Menguji kemampuan mengambil keputusan di bawah tekanan.
Menguji tingkat loyalitas dan moralitas subjek.
Aku menelan ludah.
Mereka sedang mengujiku?
Dengan menjadikan aku buronan?
Dengan memisahkanku dari keluargaku?
Dengan menghancurkan hidupku?
Siapa orang-orang ini?
⸻
Kemudian sebuah amplop kecil terjatuh dari bagian belakang map.
Aku membukanya.
Di dalamnya terdapat sebuah kartu memori berukuran kecil.
Tidak ada tulisan apa pun.
Hanya kartu memori biasa.
Aku langsung mengambil laptop yang kubeli beberapa minggu lalu.
Dengan perasaan campur aduk, aku memasukkan kartu itu.
Di dalamnya hanya terdapat satu berkas video.
Durasi: 12 menit 47 detik.
Aku menekan tombol putar.
Layar hitam.
Kemudian muncul gambar sebuah ruangan.
Di tengah ruangan duduk seorang pria.
Wajahnya tidak asing.
Sangat tidak asing.
Aku membesarkan volume suara.
Lalu aku hampir menjatuhkan laptop dari meja.
Karena orang yang muncul di video itu adalah…
Andri.
Atasanku di hotel.
Perampok yang terakhir kulihat saat membawa tas penuh uang keluar dari kamar hotel beberapa bulan lalu.
Andri menatap kamera.
Lalu berkata:
“Jika kamu sedang menonton video ini, berarti kamu berhasil sampai ke tahap berikutnya.”
Aku tidak berkedip.
“Pertama-tama, selamat, Aditya.”
Napas ku mulai terasa berat.
“Yang perlu kamu ketahui adalah…”
Andri terdiam beberapa detik.
Wajahnya terlihat jauh lebih serius daripada yang pernah kulihat.
“…perampokan money changer itu hanyalah permulaan.”
Tubuhku langsung menegang.
Permulaan?
Permulaan dari apa?
Andri melanjutkan:
“Dan jika semuanya berjalan sesuai rencana…”
Suara di video tiba-tiba terputus.
Layar berubah menjadi hitam.
Aku mengira file-nya rusak.
Namun beberapa detik kemudian muncul tulisan putih.
AKSES DITOLAK
LANJUTAN VIDEO AKAN TERSEDIA SETELAH INSTRUKSI BERIKUTNYA DITERIMA
“Apa-apaan ini?” teriakku.
Aku mencoba membuka ulang video itu.
Tetap sama.
Bagian akhir tidak bisa diputar.
Seolah-olah seseorang memang sengaja memotongnya.
Tepat saat jawaban yang paling penting akan diberikan.
⸻

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar kamu disini!👇✌️😁