Natally pergi ke dapur. Karena kamar tanpa pintu, aku masih bisa melihat meja makan di arah sana, sedangkan aku masih merebahkan tubuhku yang terasa lemas di kasur. Entah apa yang terjadi semalam, yang aku ingat hanya minuman berbotol saja. Terasa juga bekas sulutan rokok di lenganku. Tapi, kenapa aku sampai di kamar Natally? Tidak mungkin dia memopong tubuhku dalam keadaan mabuk ke tempat tidurnya sendirian. Begitu melihat ke arah jendela, matahari begitu terik di luar sana, sudah siang. Ternyata aku berada di sebuah gedung yang tinggi. Aku langsung memakai bajuku. Oh iya, aku tidak memakai pakaian sama sekali.
Aku mengikuti Natally ke dapur. Di sana dia sedang duduk dengan kopi yang masih panas—terlihat dari asap yang mengepul dari gelasnya. Tapi dia terlihat sedang sibuk dengan ponselnya; sepertinya penting. Begitu menyadari aku menghampirinya, dia langsung menutup panggilannya. Tapi aku tidak mau tahu soal itu. Aku mengucapkan terima kasih karena sudah memberi tumpangan semalam. Aku juga tidak lupa meminta nomornya yang baru karena nomor yang lama sudah tidak aktif lagi. Sekalian saja aku pamit karena harus pergi ke kantor, meskipun hari ini adalah akhir pekan—kebanyakan orang menggunakan waktunya untuk istirahat dari semua pekerjaan. Tapi, memang harus aku kerjakan karena ini sebuah pekerjaan.
Sesampainya di kantor, aku langsung menemui seseorang. Katanya dia tamu yang datang dari luar kota. Kebetulan staf yang biasa menerima tamu sedang ada urusan keluar, begitu kata operator yang tadi pagi meneleponku.
Dia adalah salah satu asisten dari seorang pejabat tinggi di Amerika. Karena ini baru pertama kali menerima tamu dengan urusan yang belum jelas, aku hanya memperkenalkan diri, begitu pun dia. Albert namanya. Usianya sekitar 30-an, keturunan Latin. Setelah saling memperkenalkan diri, kami masuk ke sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk menerima tamu. Di sana dia menjelaskan alasannya menemuiku. Benar saja, tidak jauh dari sesuatu yang aku kuasai dan sudah jelas pula, yaitu tentang administrasi keuangan. Dia mengajukan sebuah proposal—lebih jelasnya perihal kerja sama. Saat aku membaca dengan rinci, ternyata atasannya meminta bantuan agar bisa membantu beberapa urusannya. Di situ juga tertulis jumlah biaya yang akan dia berikan, sangat besar menurutku. Tapi aku tidak membacanya sampai selesai. Kemudian, aku meminta izin beberapa saat untuk menelepon atasanku karena Albert ingin keputusannya saat itu juga.
Setelah aku menelepon atasanku, Mr. Adam, ternyata dia menyetujuinya. Dia meminta agar aku langsung menandatangani surat itu. Albert pun bergegas pamit, sedangkan aku menuju ruangan kerjaku untuk menyimpan berkas itu.
Sore hari.
Ketika aku sedang duduk santai di sofa sambil menonton acara musik favoritku, tiba-tiba ponselku berdering. Ternyata itu dari Mr. Adam. Dia ingin aku menemuinya di kafe yang tidak jauh dari apartemenku. Ah, padahal aku sedang bersantai. Tapi mau bagaimana lagi, kalau urusannya dengan Mr. Adam, aku tidak bisa menolak, apalagi dia adalah atasanku.
Hanya berjalan beberapa blok, aku sudah sampai di kafe yang tadi diberitahukan oleh Mr. Adam. Dia tidak sendirian; ada seorang perempuan dan seorang pria. Aku masih mengingat semua wajah itu. Mereka adalah Mrs. Anne dan Albert.
Ada apa ya? Sampai mendadak begini mereka meminta agar aku menemuinya. Pentingkah?
Kemudian Mrs. Anne menjelaskan dengan rinci permasalahannya, disambung oleh Mr. Adam yang melanjutkan rincian yang tadi disebutkan oleh Mrs. Anne.
Aku hampir tidak percaya, ternyata aku akan diikutsertakan dalam pelatihan untuk bekerja di lapangan; aku tidak akan bekerja di belakang meja lagi. Dengan beberapa pertimbangan, hingga akhirnya aku harus siap mengikuti latihan itu. Tentu saja ini juga sudah disetujui oleh atasan mereka, yaitu Mr. X (aku tidak pernah tahu yang mana orangnya dan siapa nama aslinya).
Oh iya, aku pernah bertemu dengan ketua intelijen tempatku bekerja. Tepatnya bulan kedua saat pertama masuk. Dia orangnya tegas dan sangat to the point. Dia mengingatkanku agar benar-benar total dalam bekerja dan harus lebih disiplin tentunya.
Aku pun menyetujui apa yang sudah mereka sampaikan. Aku juga menerima sebuah amplop yang berisi rincian gajiku selama bekerja kemarin. Selain itu, ada berkas yang isinya menyatakan bahwa aku harus menyetujui setiap aturan yang akan aku ikuti saat latihan nanti. Baiklah, aku sudah siap untuk semuanya.
Aku tidak pernah menyimpan uang di rekening yang diberikan oleh kedutaan. Aku juga tidak pernah mengecek berapa saldo yang tersisa karena sekarang aku memakai fasilitas yang diberikan dari kantor. Tapi aku menyimpan uangku di sebuah bank swasta, tanpa kartu ATM apalagi kredit atau debit. Semuanya murni yang aku gunakan adalah apa yang memang disediakan oleh mereka.
Tidak lupa juga, aku selalu mengirimkan uang kepada Ibu di rumah untuk sekadar membantu biaya sekolah adikku. Aku juga selalu menyempatkan waktu untuk menelepon mereka. Meskipun hanya berbincang beberapa menit saja, setidaknya bisa melepas rindu.
Pada pagi hari, aku dijemput oleh dua orang yang berbadan tegap seperti tentara. Oh, mereka memang tentara, tapi memakai jas hitam yang sangat rapi. Aku memasuki mobil van. Dari dalam van, aku tidak bisa melihat keluar jendela, kecuali hanya ke arah depan saja. Seperti tahanan saja. Mau latihan atau mau diculik?
Setelah van melaju sekitar 30 menit, tibalah kami di depan sebuah gedung yang tinggi, terlihat sangat luas, juga dengan penjagaan masuk yang sangat ketat. Setelah masuk ke dalam gedung, aku langsung dihadapkan dengan pelatih yang bernama Grandy Em, aku cukup memanggilnya G saja. Usianya sekitar 45 tahun. Kemudian, aku diarahkan ke suatu ruangan yang akan menjadi kamarku. Tidak begitu luas, hanya cukup untuk tidur dengan kasur yang sangat tipis, sedangkan kamar mandi ada di ujung lorong. Ternyata bukan hanya satu kamar saja, melainkan ada puluhan. Banyak sekali, tapi saat itu sedang dalam keadaan sepi tanpa seorang pun. Hanya ada aku dan G. Ketika berjalan ke arah lain, masih ada puluhan kamar. Pasti peserta latihannya ratusan.
Setelah menyimpan barang bawaanku—yang aku bawa hanya tas berisi baju nonformal—aku pun langsung diminta ganti pakaian dengan baju yang sudah dipersiapkan.
Latihan untuk kerja lapangan? Aku penasaran sekaligus merasa takut. Karena aku pernah bertemu dengan orang-orang yang pekerjaannya di lapangan. Tidak sedikit luka yang terlihat di badannya, termasuk wajah.
Sewaktu masih mengurusi bagian administrasi, tidak sedikit juga biaya yang dikeluarkan untuk membiayai karyawan yang kami sebut sebagai agen yang ada masalah dengan pekerjaannya di lapangan. Kecelakaan mungkin, pikirku saat itu.
Rasa was-was dan jantungku selalu berdebar tidak karuan, keringat dingin mengucur. Sambil berjalan mengikuti G, aku melihat beberapa senjata yang terpajang di tembok lorong, tapi tertutupi oleh kaca yang terlihat sangat tebal. Aslikah?
Untungnya rasa penasaranku tidak berlangsung lama karena aku langsung dihadapkan dengan banyak orang yang berada di sebuah ruangan yang sangat luas. Ada yang berwajah oriental, berkulit hitam, putih, dan sudah pasti orang-orang yang belum pernah aku temui. Ada juga beberapa wajah asli dari Asia. Di ruangan itu juga lengkap dengan berbagai fasilitas olahraga; ada ring tinju, basket, ada juga dinding kaca, dan yang paling menarik adalah ada tempat menembak yang lengkap dengan berbagai macam senjata.
Aku hanya berdiri dan terdiam.engan berbagai macam senjata.
Aku hanya berdiri dan terdiam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar kamu disini!👇✌️😁