Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Rabu, 10 Februari 2016

Cerita dari Negeri Amerika (Part 6)



Tadi malam, aku mendapat kabar dari Mrs. Anne bahwa dia akan menjemputku untuk berangkat ke Virginia, tepatnya ke daerah Langley. 


Langley adalah permukiman lepas yang terletak di wilayah sensus McLean di Fairfax County, Virginia. Sekitar pukul 6 pagi, rombongan Mrs. Anne sudah menunggu di depan apartemenku. 

Kami pun langsung menuju bandara Los Angeles. Sudah jelas bahwa kami akan berangkat menggunakan pesawat karena tidak mungkin melalui jalur darat; jaraknya sangat jauh, sekitar 2.400 mil lebih atau sekitar 3.800 km. 


Sepanjang perjalanan, Mrs. Anne sibuk sekali dengan laptopnya. Aku juga tidak mungkin mengobrol dengan para asistennya. Akhirnya, aku hanya diam saja tanpa sepatah kata pun. Sesekali aku melihat pemandangan dari jendela, meskipun hanya hamparan lautan. 

Setelah beberapa jam di atas pesawat, kami pun sampai di bandara Washington Dulles, Virginia—bandara yang lumayan megah menurutku. Masih tanpa sepatah kata pun, kami langsung memasuki mobil yang sepertinya sudah dipersiapkan khusus untuk penjemputan ke kantornya. 


Di perjalanan menuju daerah Langley, aku satu mobil dengan Mrs. Anne. Saat itu dia baru berbicara kepadaku sambil memberikan kartu identitas untuk kupakai, sudah lengkap dengan foto, nama lengkapku, dan disertai dengan kode pemindai (scanner). Dapat foto aku dari mana? Aku baru ingat, itu foto saat aku pertama kali membuat kartu tanda penghuni di apartemen. Tapi, kok bisa? Ya sudahlah. 

"Nanti akan ditemani oleh Mr. Adam. Jika perlu apa pun, kamu cukup menghubungi dia. Jangan terlalu banyak bicara dengan orang lain," katanya dengan nada suara yang sedikit pelan. 

Oh iya, katanya aku juga sudah disediakan apartemen yang tidak begitu jauh dari kantor. Sisa barang-barangku nanti akan langsung diantar ke sana. Apabila kinerjaku selama tiga bulan hasilnya bagus, aku akan diberikan fasilitas kendaraan dari kantor. Namun, untuk sementara, aku harus memakai kendaraan umum. 


Setelah hampir satu jam perjalanan, sampailah kami di sebuah gedung yang luas sekali. Ada sesuatu yang membuatku kaget setengah mati dan tidak tahu lagi apa yang harus aku ungkapkan: ternyata aku akan bekerja di sebuah kantor intelijen ternama di Amerika. Oh, Tuhan! Dan setahuku, semua orang sudah mengetahui jenis pekerjaan di kantor ini dan seperti apa orang-orang yang bekerja di dalamnya. 

Aku pun berjalan menuju pintu masuk kantor itu. Mr. Adam sudah menungguku di depan. Dia langsung mengajakku masuk menuju lobi. Kami berdua (aku dan Mr. Adam) menuju lift yang ada di sudut ruangan, sedangkan Mrs. Anne dan para asistennya menuju arah yang berbeda. 

Di dalam lift, dia menekan angka 35. "I'm Adam, Mrs. Anne's assistant," katanya. Dan ketika aku akan memperkenalkan diri, dia langsung memotong, "And you... Rian Ariandra from Los Angeles, right?" 

Oke. Aku terdiam. 


Sampailah di lantai 12, menuju ruangan tempat cek kesehatan. Kembali teringat saat aku masih mengurus visa di Jakarta—aku harus melakukan tes kesehatan tentunya di RS daerah Jakarta Selatan karena baru tempat itu yang ditunjuk oleh Kedubes AS. Disuntik vaksin, diambil darah, dan masih banyak lagi. Ternyata sama seperti yang sekarang dilakukan di tempat ini. Setelah hampir satu jam melakukan pemeriksaan, aku diantar menuju tempat kerjaku. Katanya, nanti akan ada sekitar 30 orang yang bekerja di ruangan yang sama. Tapi untuk saat ini masih dalam tahap perbaikan karena ini ruangan baru; jadi, baru akan digunakan dua hari lagi. Aku masih mempunyai waktu dua hari untuk istirahat sambil menunggu hasil tes kesehatan. 


Aku pun hanya berkeliling melihat-lihat, lalu Mr. Adam keluar ruangan menuju lift. 

Aku duduk di sebuah kursi yang masih sedikit berdebu; rasanya lemas. Aku tidak bisa berpikir yang lain lagi selain bertanya kenapa aku sampai mau menerima tawaran Mrs. Anne untuk bekerja di sini. Ada sedikit rasa menyesal karena tidak bertanya sedetail mungkin kepadanya saat itu. Selain jenis pekerjaannya, kantor ini yang jadi masalah: markas intelijen. 

Ya sudahlah. 


Pekerjaanku memang masih tetap berjibun dengan administrasi, bukan seperti di film-film aksi itu. Aku mencoba jalan-jalan sebentar di sekitar lantai yang sama, dengan kamera pengawas yang ada di setiap sudut. Itu baru yang terlihat; aku yakin sekali masih banyak lagi kamera yang tidak terlihat. 

Akhirnya, aku turun menuju lobi dan menemui petugas di sana untuk menghubungi Mr. Adam agar aku diantar ke apartemen. 


Tibalah di sebuah apartemen yang menurutku sepuluh kali lipat lebih mewah daripada apartemenku di LA. Semuanya lengkap. Akses masuknya saja menggunakan kartu dan kata sandi. Sungguh luar biasa. Ketika masuk kamar, aku mendapat sebuah surat. Ternyata itu rincian gaji dan beberapa tunjangan yang akan aku terima selama bekerja di sana. Tertulis bahwa aku tidak akan mendapat gaji bulanan, tapi dibayarkan sekaligus per tahun pada akhir tahun. Sedangkan untuk sehari-hari, semuanya sudah tersedia. Di dalam amplop juga ada kartu kredit yang bisa dipakai untuk kebutuhanku. 

Saat itu juga, aku menelepon Ibu di Bandung. Aku hanya menceritakan kalau aku mendapat pekerjaan baru yang lebih baik dari sebelumnya. Tidak lupa juga meminta doa darinya. 

Ternyata, hal yang banyak diimpikan orang di luar sana bisa aku dapatkan hanya dalam beberapa jam saja. 


Oh, Tuhan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁