Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Minggu, 26 April 2026

Nugraha is My Name (Part 55)



PERINGATAN!


Sebelum membaca artikel ini, diharapkan agar pembaca sudah berusia 17 tahun, mempunyai kemampuan untuk menghargai dan menerima juga open minded. 

Karena artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi dan terdapat konflik secara mendalam dari konteks, paradigma, opini dan juga akan menyertakan orang-orang yang pernah ada di kehidupan pribadi sang penulis secara jujur yang bisa dikonfirmasi secara komprehensif. 

 

-------


Bandung, 9 April 2026 16:09


Hidup di lingkungan yang sudah banyak orang mengenali dan hampir mengetahui seluk-belukku itu terkadang membuatku semakin memahami diriku sendiri. Aku menjadi tahu apa yang aku mau dan apa yang menjadi keinginanku. 

Ternyata aku tidak terlalu nyaman ketika harus menceritakan satu kisah berulang kali. Apalagi ketika harus dihadapkan dengan orang-orang yang aku menyebutnya sedikit toxic. Toxic dalam artian yang sebenarnya. 

Aku tinggal di sebuah kavling selama satu tahun lebih.  Kalau ada yang pernah membaca cerita di blog ini yang berjudul "Kavling", itu memang terinspirasi oleh mereka yang sama-sama tinggal di kavling ini. 

Bahkan hampir semua tulisanku tercipta karena "terinspirasi oleh..." Jadi, kalau ditanya salah satu judul tulisan di blog ini fiksi atau non-fiksi, aku akan jawab bahwa itu tidak semuanya benar alias fiksi belaka. Hanya saja semuanya memang terinspirasi dari kehidupan sehari-hariku. Entah itu mendengar cerita orang, melihat kehidupan seseorang, atau banyak hal yang membuatku semakin terinspirasi untuk aku olah menjadi suatu tulisan. Betul, ujung-ujungnya hanya untuk tulisan. Tapi untungnya sekarang aku sudah tidak bekerja sama dengan salah satu perusahaan artikel online lagi. Jadi besar kemungkinannya semua akan aku tulis di sini lagi. 


Kembali ke awal. 

Aku sudah terlalu lama tinggal di sebuah wilayah yang orang-orangnya sudah cukup kenal dalam artian "oh si ini, oh si itu" dan begitu pun orang lain terhadapku. 

Rasanya dunia menjadi cukup sempit. 

Aku membutuhkan suasana yang baru. 

Jadi, sementara aku akan pergi ke luar kota. 

Salah satu kota tujuanku adalah Yogyakarta. 

Aku sudah beberapa kali ke sana. 

Tapi entah apa yang akan terjadi. Kita lihat saja nanti. 


---



Yogyakarta, 11 April 2026 22:06.


Aku kira, dengan melimpahkan lebih dari yang aku miliki, aku akan mendapatkan hal yang setimpal, bahkan lebih. Tapi pada kenyataan justru menyingkap hal yang sebaliknya. 

Kebaikan itu disambut oleh kesewenang-wenangan. 

Ketika aku memilih beranjak pergi, mereka menjerit dalam terluka. Seolah kepergianku adalah kejahatanku.

Kenapa? 


---


Aku sedang melepas lelah di atas kasur hotel yang ada di jalan Malioboro. Setelah melakukan perjalanan panjang antara Bandung dan Jogja, aku cukup senang bisa beristirahat dengan nyaman dan tenang kali ini. Scroll beberapa acara di TV, mencari beberapa film yang mungkin menarik, melihat berita yang tidak terlalu penting untuk diberitakan, ternyata semua acara TV membosankan, mungkin karena aku bukan penikmat acara TV kali ya. Aku pun kembali membuka HP dan melihat-lihat isi galeriku. Melihat foto dari masa ke masa. Dan, aku menulis ini. 


Aku berlari dari kehidupanku di Kota Bandung. Mungkin lebih tepatnya melepaskan semuanya. 

Jauh dari rumah, keluarga, teman-teman, dan juga bocil yang sebentar lagi akan memasuki masa SMA. Bukannya aku tidak peduli, hanya saja aku masih ingin mengejar apa yang belum aku dapat, bahkan aku pun belum sempat untuk mengejarnya. 

Aku pernah hidup di beberapa kota.

Sumedang, Cianjur, Bandung, Jakarta, Bali, Kalimantan Timur, hingga pada akhirnya kembali ke kota Bandung. Hingga kini aku memutuskan untuk mencoba tinggal di Yogyakarta. 

Actually banyak kota lain yang pernah aku datangi sebelumnya. Kota ini juga bukan pertama kalinya aku singgahi. 


---


20 April 2026.


Aku tinggal di sebuah kost yang berada di kabupaten Sleman. Mencoba tidak ingin mengenal siapa pun selain orang-orang yang memang perlu untuk aku kenal. Menyimpan kebiasaanku yang cepat akrab dengan orang baru, menunda basa-basiku ketika bertemu dengan orang, menolak untuk memulai percakapan dengan orang yang bersebalahan, berhenti sejenak dari menjawab pertanyaan dari mereka yang hanya sekadar bertanya tanpa tujuan, dan aku mencoba menjadi orang yang baru tanpa mengenal siapa pun di sini. 


Aku mencoba apply pekerjaan baru, bertemu dengan para HRD yang katanya menjadi pelindung perusahaan bukan pencari karyawan. Katanya memang begitu yang aku ketahui dari fakta tentang tugas HRD yang sebenarnya. 

Aku berhasil dipanggil untuk interview oleh beberapa perusahaan. Bertemu dengan orang-orang yang sedang mencari pekerjaan juga. Hanya saja aku tidak pernah bertanya seperti biasanya kepada mereka, orang baru. Karena aku mencoba untuk menjadi pribadi yang baru di sini. 

Ada perusahaan yang sudah lama maju, ada yang masih dalam tahap berkembang, dan ada juga yang masih dalam proses pembentukan. 

Di antara mereka ada yang tertarik kepadaku. 

Hanya saja aku juga tidak selalu tertarik dengan mereka. Bukannya aku menolak pekerjaan, hanya saja jika aku melihat kandidat lain meskipun hanya sepintas, rasanya lebih fair jika orang lain yang berkesempatan untuk mendapatkan pekerjaan itu. Apalagi jika kandidatnya hanya dua orang. Ada di antaranya yang sesama pelamar pernah cerita kalau mereka mencari kerja itu hasilnya untuk keluarga. Untuk ini, untuk itu, si ini si itu dan banyak lagi. Sedangkan aku? 

Bukannya aku takabur. Aku mencari pekerjaan hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan sisanya untuk bocil. Untuknya bocilku pengertian dan tidak membutuhkan biaya besar juga. Apalagi keluargaku juga bukan yang mengandalkan penghasilanku. Mereka sudah santai di atas sana menikmati keindahan hidupnya. Jadi sejauh ini aku mencari uang hanya untuk kebutuhanku saja pokoknya. Makanya ada beberapa pekerjaan yang akhirnya aku tolak. 


---


25 April 2026 4:18.


Aku teringat akan banyak keberuntungan yang aku dapatkan. Aku bersyukur sampai di titik ini dengan keadaan yang meskipun terkadang tidak selalu baik-baik saja, tapi pada akhirnya aku tetap baik-baik saja. 

Keberuntungan itu berkali-kali di banyak kesempatan yang tidak hanya sekali melainkan bertubi-tubi. 

Untung aku sehat, untung aku bisa makan, untung aku bisa tidur dengan nyenyak di tempat yang layak, untung aku tidak kehujanan di perjalanan, untung aku pernah bertemu dengan orang-orang baik, untung aku selamat sampai tujuan, dan masih banyak untung yang aku syukuri hingga saat ini termasuk untung aku masih diberi kesempatan untuk hidup. Karena masih banyak orang yang hidupnya tidak seberuntung aku. 


Di lain waktu aku juga pernah berpikir tentang mencari pasangan baru. Karena apa-apa aku menjalani semuanya kini sendiri. 

Sebenarnya tidak sulit untukku bertemu dengan salah satu di antara miliaran manusia yang ada di bumi ini. Hanya saja aku terlalu malas untuk memulainya lagi. Apalagi aku sudah hapal selahnya akan bagaimana. 

Karena setelah masa lalu itu, aku putuskan untuk tidak lagi mau bertemu dengan orang yang baru. 


Karena ketika aku dihadapkan dengan jatuh cinta, aku akan jatuh sejatuh-jatuhnya. Tapi setelah jatuh cinta itu, aku tidak akan pernah menemukan cinta sehebat itu lagi, setelah kehilangan semua yang aku miliki, rasa cintaku pun hilang sirna entah ke mana. 


Di kota ini aku mengisi hari-hariku dengan pergi ke mall hanya sekadar melihat harga baju, harga sepatu, sesekali makan di restoran bagus, nongkrong di tempat kopi langganan, Malioboro sudah terlalu muak untukku, sangat membosankan. Ujung-ujungnya hanya mencari tempat kopi baru dan duduk sambil membaca beberapa artikel dan belajar lagi tentang literasi bahasa, juga sesekali mengobrol dengan penjual yang aku beli dagangannya. 

Aku pernah duduk berjam-jam dengan penjual cendol yang biasa aku beli ketika siang. Kebetulan tidak begitu jauh dari kost-ku. Dia cerita tentang kakek buyutnya sampai dia sendiri mempunyai buyut. Luar biasa memang si Gemini ini kalau sudah menjadi pendengar. 


---


26 April 2026 23:55


Aku kembali memikirkan tentang keluarga. 

Menurutku bohong, ketika ada orang tua yang berkata sayang kepada semua anaknya.

Pasti pada kenyataannya akan ada satu anak kesayangannya. Walaupun si anak itu sudah menghabiskan harta benda pun masih saja akan tetap dia bela. 

Jangan mengira ini tentang keluargaku. 

Kembali ke awal, semua tulisan di sini semuanya selalu "terinspirasi oleh."


Kadang ada anak yang orang tua itu sendiri sudah tahu kapasitasnya tidak mumpuni, tapi masih saja dia prioritaskan. Orang tua itu akan mengabaikan anak yang lain yang sebenarnya akan lebih unggul jika di-support olehnya. 

Tidak ada anak yang baik-baik saja ketika orang tuanya mengabaikan. 

Semuanya harus dia tanggung sendiri. 

Bukan masalah finansial, tapi support batin itu yang paling utama. Katanya sih begitu ya kata psikolog juga. 

Ya mungkin si anak sudah besar, sudah dewasa, sudah cukup umur dan bisa mencari semuanya sendiri. Tapi dukungan dari orang tua itu sampai kapan pun tetap dibutuhkan. Sesederhana, "bertanya kabar" mungkin? 

Mungkin ya. 


Skip. 


Aku sendiri sedang memikirkan pilihan tentang kota mana lagi yang akan aku sambangi nantinya. 



Jumat, 03 April 2026

Nugraha is My Name (Part 54)



PERINGATAN!


Sebelum membaca artikel ini, diharapkan agar pembaca sudah berusia 17 tahun, mempunyai kemampuan untuk menghargai dan menerima juga open minded. 

Karena artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi dan terdapat konflik secara mendalam dari konteks, paradigma, opini dan juga akan menyertakan orang-orang yang pernah ada di kehidupan pribadi sang penulis secara jujur yang bisa dikonfirmasi secara komprehensif. 

 

-------


Tahun ini memang bukanlah tahun yang terberat, tapi aku sedang ada di fase menerima dan menerka banyak hal dari semua konsekuensi yang pernah aku lakukan. Tidak banyak yang tahu bagaimana keadaanku yang sebenarnya. Selain Dia yang memang memberikan ini semua, mungkin beberapa orang dan bahkan hanya segelintir orang yang benar-benar tahu bagaimana kenyataan hidupku yang sebenarnya. 

Mereka melihatku baik-baik saja. 

Ini bukan salah mereka yang tidak pernah bertanya kepadaku, tapi personaku yang sedari dulu memang terlihat baik-baik saja. Aku yang tidak pernah memperlihatkan kelemahanku, burukku, jatuhku, dan segala hal yang sebenarnya lumrah terjadi kepada setiap manusia yang hidup. 

Aku yang terlalu kuat membangun jati diri paling berbeda dari orang lain. Istilahnya tidak akan ada yang percaya kalau aku bilang sedang tidak ada uang. Karena kepribadianku yang sejak dulu terbentuk begitu sempurna dalam artian tidak mencerminkan kepribadian yang sama seperti orang-orang pada umumnya. 

Penampilanku, perkataanku, pembawaanku dan yang aku share pun semuanya tampak luar biasa di hadapan mereka. Seolah tidak ada celah untukku berkata bahwa aku tidak selalu baik-baik saja. Seolah tidak ada kesempatan untukku mengakui bahwa aku sedang membutuhkan pertolongan orang lain seperti mereka yang hampir setiap saat meminta uluran tanganku. Pada kenyataannya aku juga sedang membutuhkan uluran tangan yang lain. 


Mungkin aku memang tidak sejatuh itu, tapi lihatlah aku sebagai manusia pada umumnya. Manusia yang ada saat di mana aku juga membutuhkan sandaran dan pelukan dari manusia lainnya. 


Mungkin entah sudah berapa kali aku memilih

menjadi pengecut. Berdiam dan menghindar dari cerita pilu yang bertebaran di atas sana. Seolah itu cukup untuk menyelamatkanku, atau paling tidak membuatku tersenyum lebar tapi hambar. Meskipun hari demi hari berlalu, tapi tetap saja itu menjeratku dalam kekakuan yang menyiksa. Hingga pada kenyataannya tidak ada yang benar-benar berubah kecuali aku yang tetap terlilit rasa sakit di dalam sini. 

Duniaku terus berputar, mengitari ruang dan waktu yang sama, sementara aku terjebak di dalamnya, tidak mampu lagi bergerak, tidak tahu kapan semua ini akan rampung. Ataukah mungkin memang akan terus seperti ini? 


Di antara yang jelas tidak akan terjadi, terkadang aku tetap menaruh doa seperti orang yang tidak tahu diri. Meminta yang sudah ditutup rapat oleh kenyataan, seolah Dia bisa diajak mengulang akhir.

Dalam hatiku yang lain bilang itu mustahil, kata yang terdengar seperti titik, bukan koma. Tapi aku terus berjalan membawa keras kepala yang tersisa, karena menyerah terasa lebih menyakitkan daripada berharap tanpa jaminan.

Jika itu terdengar seperti putus asa yang dibungkus iman, maka biarkan aku tetap percaya dengan cara yang paling rapuh.

Sebab di antara semua yang tidak mungkin, aku hanya ingin satu hal, Engkau mengubahnya menjadi mungkin.


Dengan mengakui bahwa aku lemah dan lelah juga perih, aku tidaklah berkurang hanya karena pengakuan itu. Luka juga tidak membuatku hina, itu hanya membuatku lebih dalam.

Akan kucoba untuk merapikan kembali hatiku, memeluk diriku sendiri, dan bangun dengan keyakinan baru. Aku tetap berharga, tetap layak dicintai, dan tetap pantas bahagia.

Aku tetap utuh, tetap berhak atas cinta yang lebih sehat dan masa depan yang lebih tenang.

Akan kucoba untuk melangkah lagi, walaupun kecil. 


Aku juga kadang berandai-andai. 

Seandainya manusia bisa menakar jarak antara lahir dan berpulang. Mungkin lidah akan berhenti pongah, tidak gemar menyayat lewat kalimat lalu pulang tanpa rasa bersalah.

Kita akan hidup dengan lebih takut kehilangan, lebih sungguh mencintai, lebih pelan menyakiti. Sebab setiap hari bisa saja adalah halaman terakhir seseorang.

Tapi kita memilih ceroboh, malah menghamburkan waktu, mengeraskan kata, seolah hidup ini panjang dan bisa diulang. Padahal jarak itu pendek,

dan sering habis sebelum sempat disesali.

Oleh karenanya aku tidak pernah bertanya soal

kehidupan orang lain, selain dia mau cerita sendiri.

Mungkin terlihat tidak peduli, tapi itu adalah etika kehidupan dengan manusia lainnya.

Dan mungkin kenapa tidak ada yang bertanya lebih kepadaku, mungkin mereka juga sedang menerapkan etika itu selamanya? Sepanjang hidupnya? 


Mungkin untuk saat ini aku akan terus mengedepankan kepentingan hatiku yang memeluk kepekaan diriku sendiri tanpa harus memperlihatkan yang sebenarnya terjadi. Karena itu semua tidak akan berarti apa-apa bagi mereka yang mengetahuinya. Yang akan tetap peduli kepadaku hanyalah diriku sendiri. Alangkah lebih baiknya jika aku terus bertahan dengan persona ini juga apa yang terlihat baik-baik saja di mata orang lain itu. Semoga saja menjadi doa dan kenyataan bahwa aku benar-benar selalu baik-baik saja. 

Harapan akan kusimpan, aku hanya akan melangkah dan menerima juga mensyukuri pemberian-Nya apa pun itu. Karena banyak orang yang menderita karena harapan mereka sendiri, dan aku menyimpan itu hanya agar tidak terluka oleh harapan-harapan yang sebenarnya membuatku tetap bisa berjalan beriringan dengan kehidupan ini. 


Kamu? 

Iya, kamu. 

Aku tahu kamu tidaklah selalu baik-baik saja. 

Tapi aku tahu satu hal dari banyak kemungkinan yang akan terjadi di hidupmu, bahwa kamu akan tetap baik-baik saja pada akhirnya. 

Aku di sini, menunggu ceritamu yang terus menerus kamu simpan dari mereka. 

Aku yang akan tetap mendengarkan tanpa akan pernah menghakimi seperti biasanya. 

Mungkin pintu rumahku tertutup, tapi kamu masih bisa mengetuknya kapan pun kamu mau. 

Mungkin jarak kita sudah tidak sedekat itu lagi, tapi media sosialku kamu selalu tahu. 

Atau datanglah lewat doa dan mimpi, aku akan menemuimu di sana :) 

Sabtu, 21 Februari 2026

Nugraha is My Name (Part 53)



PERINGATAN!


Sebelum membaca artikel ini, diharapkan agar pembaca sudah berusia 17 tahun, mempunyai kemampuan untuk menghargai dan menerima juga open minded. 

Karena artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi dan terdapat konflik secara mendalam dari konteks, paradigma, opini dan juga akan menyertakan orang-orang yang pernah ada di kehidupan pribadi sang penulis secara jujur yang bisa dikonfirmasi secara komprehensif. 

 

-------


Rumah? 


Aku tinggal di rumah yang tidak terlalu besar. Mungkin hanya cukup dibanding mereka yang tidak pernah memiliki tempat untuk berteduh. 

Tapi aku juga mempunyai beberapa rumah yang bisa kapan saja untuk aku datangi sekaligus bisa aku tinggalkan dengan semauku. 

Rumah juga bisa menjadi tempat di mana semua orang bisa pulang. Lalu, bagaimana jika aku pulang tanpa membawa satu pun tanda kemenangan? 

Aku melihat dunia yang begitu sibuk menghitung hasil, sedangkan aku sibuk menahan diri agar tetap utuh.

Mereka menyebutku hampir, seolah itu sinonim dari gagal. Seolah luka yang kutelan diam-diam tidak pernah layak disebut perjuangan.

Padahal aku tidak hilang di perjalanan, tidak menyerah pada gelap yang nyaris memakan.

Mungkin, diam-diam, itu sudah cukup untuk kusebut kemenangan. Karena kini aku masih menjadi yang terkuat dengan pandangan khalayak mata memandang tanpa pernah terlihat di balik tirai yang selalu tersembunyi selain tulisan demi tulisan yang lirih hingga menggema menjadi suara tanpa kata meski sesekali berlinang air mata. 


Terkadang aku gelisah oleh kata "kapan", seolah hidup harus lekas lunas.

Target ditimbun, mimpi dipaksa matang, demi membungkam suara sekitar.

Padahal waktu tidak pernah berjanji panjang.

Di antara ambisi dan tepuk tangan, "kafan" menunggu tanpa tergesa.

Ironisnya, manusia sibuk mengejar esok, namun lalai menghidupi hari ini.

Dan kini aku tidak lagi memikirkan kapan melainkan kafan. 

Masa lalu bagiku sudah mati, masa depan juga tidak pernah pasti, yang aku miliki hanyalah hari ini.

Maka setiap hari yang aku jalani, aku akan mencoba untuk makan, minum dan hidup dengan gembira. 


Hidupku juga bukan ruang komentar orang, dan langkahku bukan bahan evaluasi siapa pun. 

Apa yang kupilih, kutanggung sendiri.

Apa yang mereka cemaskan, akan kubiarkan tetap di sisi mereka.

Terkadang manusia sering salah kaprah tentang peduli, dan mengira ikut campur adalah bentuk cinta.

Padahal tidak semua pintu perlu diketuk, tidak semua luka ingin disentuh.

Yang menjadi milikku, biar kuselesaikan dengan caraku.

Yang menjadi milik kalian, rawatlah tanpa menyentuh batasku.

Sebab kedewasaan bukan tentang saling mengatur, melainkan tahu kapan harus berhenti melangkah ke wilayah yang bukan hak kita.

Karena semua orang mempunyai ruang, ruang di mana yang ada di dalamnya adalah urusan pemiliknya.


Tentang rumah yang pernah beriringan bersama.

Yang kini menyayat hati seperti mengirisnya tanpa permisi. Mengatakan bahwa aku seperti seekor anjing kelaparan yang tidak pernah diberi makan. 

Rumah yang pernah hampir tahu segalanya tentangku seperti bak ditelanjangi sampai ke bagian terdalam cerita hidupku. Aku sudah memaafkan, bahkan tanpa syarat dan drama.

Tapi tolong, jauhkan wajahmu dari pandanganku.

Menjauhlah dari jangkauanku. 

Berpalinglah dari tatapan kosongku. 

Sebab ingatan tidak semudah itu diajak berdamai.

Memaafkan bukan undangan pulang apalagi untuk kembali duduk hingga berbagi cerita dan menyampaikan jeritan kesengsaraan lagi. 

Memaafkan hanya cara halus agar aku bisa bernapas, tanpa harus melihat siapa yang pernah menikam lalu meminta dimengerti.

Aku mencoba untuk kembali tenang. 

Karena bagiku, ketenangan bukanlah suatu pembawaan. Tapi itu suatu bentuk.


Takdir telah mengambil banyak hal dariku. Tapi takdir juga meninggalkan satu pelajaran kecil, bahwa runtuh bukan akhir. Karena runtuh hanya jeda untuk belajar bernapas dan berjalan kembali. Meskipun di setiap jalan yang salah selalu mempunyai jalan untuk pulang, tapi tidak semua orang mampu membayar untuk jalan itu. Tapi sayangnya aku berani membayar jumlah yang lebih ditambah beberapa pengorbanan agar aku mampu membayar semua itu. Karena yang terpenting bagiku sekarang adalah diriku lebih bahagia dengan cara yang tidak merugikan diri sendiri. Apalagi aku menyadari bahwa setiap hari aku selalu mengingat bahwa hari ini adalah hari tertua yang pernah aku alami, dan aku tidak akan pernah semuda itu lagi. 


Di tengah perjalananku yang entah menuju ke mana, anak itu pun sekarang lebih mendekat kepadaku lagi. Mungkin bisa lebih dekat jika aku mau. Usahaku hanya sebatas dan dalam tahap yang sangat wajar sejauh ini. Mungkin dia juga sedang mencari jati diri yang sesungguhnya. Seiring berjalannya usia dia yang kini menginjak usia remaja, mungkin dia juga melihat bagaimana sikapku kepadanya. Aku menyayanginya, mencintainya, aku pun akan rela berkorban apa pun untuknya. Dalam perjalanan hidupku yang sudah cukup panjang ini aku merasakan cinta yang sesungguhnya. Cinta yang aku sebut cinta sejati. Karena cinta yang aku rasakan kepadanya terlahir dari rasa iba dan berkembang menjadi peduli, simpati dan empati, dan kini menjadi cinta yang melewati batas keadaan yang ada. Aku tidak pernah ingin dipanggil "ayah", yang penting dia tahu bahwa aku bisa melebihi orang tua lainnya yang memberikan kasih sayang dan cinta kepada anak-anaknya. 


Sesekali aku juga memang gemar mengeluh, entah melalui bisikan atau sekadar tulisan, dan sesekali aku juga menyebut lelah dengan suara lantang, seolah dunia perlu tahu betapa berat aku menahannya sendirian.

Tapi mereka tidak pernah tahu, di balik keluhan yang cerewet itu aku tetap bangun, tetap berjalan, tetap memilih hidup meski sering tidak ramah.

Aku bangga pada diriku sendiri, pada mulut yang mengadu namun kaki yang tidak pernah benar-benar pergi. Keluh kesahku bukan tanda lemah, melainkan bukti bahwa aku masih bertahan, meskipun sendirian.


Aku sudah menabrak rasa sakitku berkali-kali, dengan kepala yang sama, dengan hati yang masih retak di tempat yang itu-itu saja.

Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana aku merangkak keluar dari gelap, kecuali aku dan Dia yang menyaksikan setiap runtuh yang tidak pernah sempat kuceritakan.

Jadi jangan menghakimiku terlalu jauh.

Yang tampak tenang di permukaan bukan berarti tidak sedang karam, mungkin hanya sedang belajar diam agar tidak sampai tenggelam.


Hingga pada akhirnya, segala yang terasa berat pun akan lewat.

Seperti hujan yang selalu tampak abadi padahal hanya singgah sebentar di atap. 

Sebesar apa pun derasnya, hujan tetap punya waktu untuk reda dan membiarkan tanah yang rapuh belajar untuk kering kembali.

Begitu juga aku.

Sebanyak apa pun luka yang turun, aku selalu percaya bahwa suatu hari aku akan bernapas lega tanpa harus takut dengan badai berikutnya yang akan datang. 


Tentang rumah? 

Rumah yang aku butuhkan di sini bukanlah suatu tempat yang mempunyai atap, tapi rumah yang memilki hati tanpa pernah mempunyai tujuan untuk menghakimi. 


Dan kini aku tidak tahu di mana rumahku.