Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Selasa, 02 Februari 2016

Money Changer Story (Part 6)



Kalimat Andri terus terngiang di kepalaku.


“Besok malam.”


Hanya dua kata.


Namun rasanya jauh lebih berat daripada semua ancaman yang pernah kuterima.


Malam itu aku hampir tidak tidur.


Setiap kali memejamkan mata, bayangan perampokan money changer kembali muncul.


Wajah sopir taksi.


Suara tembakan.


Dan berita yang menayangkan wajahku sebagai buronan.



Pukul delapan pagi, pintu kamarku diketuk.


“Sudah bangun?”


Suara Ron terdengar dari luar.


Aku membuka pintu.


Dia melemparkan sebuah kantong kertas.


“Pakai ini malam nanti.”


Aku membuka isinya.


Kemeja putih.


Celana hitam.


Sepasang sepatu kulit.


Semuanya tampak seperti pakaian seorang pegawai kantoran.


Aku semakin bingung.


Kalau mereka hendak merampok bank, kenapa justru berpakaian seperti ini?


Ron hanya tersenyum tipis.


“Nanti juga kamu tahu.”



Sepanjang hari suasana rumah sangat tenang.


Martin terus menatap layar laptopnya.


Sesekali ia mengetik sesuatu dengan cepat.


Andri membaca beberapa dokumen sambil sesekali menerima telepon.


Tidak ada pembahasan mengenai rencana.


Tidak ada latihan.


Tidak ada pengarahan.


Justru ketenangan itulah yang membuatku semakin gelisah.


Menjelang malam, Andri berdiri.


“Waktunya.”


Semua langsung bergerak.



Jam menunjukkan pukul 20.15.


Empat mobil hitam meninggalkan rumah persembunyian secara bergantian.


Aku berada di mobil kedua bersama Ron dan Martin.


Tidak ada yang berbicara.


Suara mesin mobil menjadi satu-satunya yang terdengar sepanjang perjalanan.


Sesekali Ron memeriksa jam tangannya.


Martin memperhatikan denah sebuah gedung di layar tabletnya.


Aku hanya memandangi lampu-lampu Jakarta dari balik jendela.


Tidak ada seorang pun di luar sana yang mengetahui bahwa beberapa mobil itu sedang menuju sebuah operasi besar.



Sekitar tiga puluh menit kemudian kami berhenti.


Bukan di depan bank.


Melainkan di sebuah gedung parkir yang berjarak sekitar dua ratus meter.


Semua turun.


Andri membagikan alat komunikasi kecil.


“Mulai sekarang jangan menyebut nama.”


Aku menerima sebuah earpiece.


“Kalau aku menolak?”


“Sudah terlambat.”


Aku memasangnya.


Suara Ron langsung terdengar.


“Semua tim siap.”


“Satu siap.”


“Dua siap.”


“Tiga siap.”


Andri menatapku.


“Empat?”


Aku menarik napas panjang.


“…Siap.”



Kami berjalan memasuki area parkir bawah tanah.


Tidak ada seorang pun yang memakai topeng.


Kami semua mengenakan pakaian formal.


Persis seperti pegawai bank.


Di depan pintu akses sudah berdiri dua petugas keamanan.


Aku menegang.


Namun salah satu dari mereka justru mengangguk kepada Andri.


Pintu dibuka.


Kami dipersilakan masuk.


Aku semakin tidak mengerti.



Lift berhenti di lantai paling bawah.


Di depan kami terbentang lorong panjang yang dipenuhi kamera CCTV.


Martin membuka koper kecil.


Bukan senjata yang ia keluarkan.


Melainkan laptop dan beberapa perangkat elektronik.


Ia menyambungkan kabel ke panel kontrol.


Lampu indikator berubah hijau.


“Empat puluh detik.”


Seluruh kamera berhenti bergerak.


Layar monitor membeku.


Ron memberi isyarat.


“Lari.”


Kami berlari melewati lorong.



Di ujung lorong berdiri empat petugas keamanan bersenjata.


Aku mengira akan terjadi baku tembak.


Namun salah satu dari mereka justru membuka pintu untuk kami.


Aku benar-benar tidak mengerti.


Berapa banyak orang yang terlibat dalam operasi ini?



Kami memasuki sebuah ruangan yang sangat besar.


Aku langsung terdiam.


Tidak ada brankas.


Tidak ada uang.


Tidak ada emas.


Yang ada hanyalah puluhan rak server berjajar rapi.


Lampu indikator berkedip tanpa henti.


Suara pendingin ruangan berdengung keras.


Aku menoleh kepada Andri.


“Bank ini…”


“Bukan uang yang kami incar.”


“Lalu?”


“Data.”


Martin segera memasang sebuah perangkat ke salah satu server.


Layar laptopnya dipenuhi angka.


Proses penyalinan dimulai.


10 persen.


18 persen.


25 persen.



Tiba-tiba sirene berbunyi.


“Intrusi terdeteksi.”


Lampu ruangan berubah merah.


Martin langsung panik.


“Sial!”


Ron mengeluarkan pistol dari balik jasnya.


Untuk pertama kalinya sejak mengenal mereka…


aku melihat kepanikan di wajah ketiganya.


Suara langkah kaki mulai memenuhi lorong.


Pintu otomatis perlahan menutup.


“Berapa lama lagi?” teriak Ron.


“Dua menit!”


“Terlalu lama!”


Aku melihat ke sekeliling.


Mataku berhenti pada panel sistem pemadam kebakaran otomatis.


Sebuah ide muncul.


Aku mengambil kursi besi.


“Lindungi Martin!”


“Apa yang mau kamu lakukan?” teriak Ron.


Aku berlari.


Brak!


Kaca pelindung panel pecah.


Aku menarik tuas darurat sekuat tenaga.


Seketika kabut putih menyembur dari langit-langit.


Dalam hitungan detik seluruh ruangan dipenuhi asap putih.


Jarak pandang tinggal beberapa meter.


Petugas keamanan kehilangan arah.


“Jalan!” teriak Ron.


Martin mencabut perangkatnya.


“Datanya sudah masuk!”



Kami berlari menembus kabut.


Tembakan mulai terdengar.


Peluru menghantam dinding.


Percikan beton beterbangan di sekitar kami.


Aku terus berlari tanpa menoleh.


Di depan, pintu darurat mulai menutup.


“Aditya!”


Aku langsung melompat.


Kedua tanganku menahan pintu besi yang hampir tertutup.


“Cepat!”


Ron keluar.


Martin menyusul.


Andri menjadi orang terakhir.


Begitu mereka berhasil melewati pintu, aku ikut menerobos sebelum pintu menutup rapat.


Brak!


Kami semua terjatuh di lorong.


Napas kami memburu.


Beberapa detik kemudian suara sirene polisi mulai terdengar dari luar gedung.


Ron menatapku.


Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu…


dia tersenyum.


“Kamu baru saja menyelamatkan operasi ini.”


Aku tidak menjawab.


Pikiranku hanya dipenuhi satu pertanyaan.


Kalau yang mereka incar bukan uang…


data apa yang baru saja kami curi?



Mereka berhasil keluar dari gedung melalui pintu darurat.


Suara sirene masih terdengar dari segala arah.


Beberapa mobil berhenti di sebuah gudang tua yang sudah tampak tidak terpakai.


Begitu pintu gudang ditutup, suasana mendadak sunyi.


Tidak ada yang berbicara.


Martin langsung membuka laptopnya.


Semua orang berdiri mengelilinginya.


Aku ikut mendekat.


Di layar hanya terlihat satu tulisan.


TRANSFER COMPLETE


Martin mengembuskan napas panjang.


“Lengkap.”


Ron tersenyum lega.


“Kita berhasil.”


Aku masih tidak mengerti.


“Berhasil mendapatkan apa?”


Tidak ada yang menjawab.


Andri hanya menatapku beberapa saat.


“Lihat sendiri.”


Martin memutar monitor laptop ke arahku.


Aku mengira akan melihat daftar rekening bank.


Atau data transaksi.


Atau dokumen rahasia.


Namun yang kulihat justru membuat napasku tertahan.


Puluhan folder.


Ratusan nama.


Foto-foto.


Dokumen identitas.


Rekaman video.


Semuanya berasal dari berbagai negara.


Di bagian paling atas terdapat sebuah folder.


Namanya sangat singkat.


GARUDA


Jantungku langsung berdetak lebih cepat.


Aku pernah melihat nama itu.


Di Singapura.


Di dalam dokumen tentang diriku.


Proyek Garuda.


Aku menoleh ke arah Andri.


“Apa sebenarnya Proyek Garuda?”


Ruangan mendadak hening.


Ron menutup pintu gudang.


Martin mematikan laptop.


Andri menarik sebuah kursi lalu duduk tepat di depanku.


Untuk pertama kalinya…


dia tersenyum.


“Bukankah sejak awal itu pertanyaan yang selalu ingin kamu ketahui?”


Aku mengangguk.


Andri menghela napas panjang.


“Lalu dengarkan baik-baik.”


“Karena mulai malam ini…”


“…kamu tidak akan pernah bisa kembali menjadi orang biasa.”



Keesokan harinya kami kembali ke Singapura.


Sepanjang perjalanan, tidak seorang pun membahas operasi semalam.


Tidak ada ucapan selamat.


Tidak ada pembahasan mengenai data yang berhasil kami ambil.


Bahkan Andri lebih banyak memejamkan mata selama penerbangan, seolah-olah perjalanan ke Jakarta hanyalah urusan pekerjaan biasa yang sudah sering ia lakukan.


Ron sibuk membaca koran berbahasa Inggris yang dibelinya di bandara.


Sementara Martin terus menatap layar tabletnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Aku hanya duduk memandangi awan dari balik jendela pesawat.


Semakin lama, semakin banyak pertanyaan yang memenuhi kepalaku.


Semalam kami mempertaruhkan nyawa.


Kami dikejar petugas keamanan.


Sirene polisi masih terngiang di telingaku.


Namun bagi mereka…


semuanya tampak biasa saja.


Seolah-olah mengambil data dari bank terbesar di Jakarta hanyalah rutinitas yang sudah berkali-kali mereka lakukan.


Justru sikap tenang itulah yang membuatku semakin yakin.


Operasi semalam bukanlah tujuan akhir.


Hanya satu bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.


Aku mulai bertanya-tanya…


Sudah berapa banyak operasi seperti itu yang pernah mereka jalankan?


Dan berapa banyak orang sepertiku yang pernah mereka libatkan?



Pesawat akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Changi.


Begitu keluar dari area kedatangan, kami langsung berpisah.


Tidak ada jabat tangan.


Tidak ada ucapan sampai jumpa.


Tidak ada instruksi apa pun.


Andri hanya menepuk bahuku pelan sebelum berjalan menuju pintu keluar.


Ron dan Martin menghilang ke arah yang berbeda.


Dalam hitungan menit, aku sudah sendirian.


Seolah-olah kami memang tidak pernah datang bersama.


Aku memanggil taksi.


Selama perjalanan menuju apartemen, aku lebih banyak diam.


Supir beberapa kali mengajakku mengobrol.


Aku hanya menjawab seperlunya.


Pikiranku masih tertinggal di Jakarta.


Masih terjebak di ruang server yang dipenuhi lampu merah dan suara alarm.


Masih mengingat folder bernama GARUDA.


Dan kalimat terakhir Andri sebelum kami meninggalkan gudang tua itu.


“Mulai malam ini… kamu tidak akan pernah bisa kembali menjadi orang biasa.”


Kalimat itu terus berputar di kepalaku.



Hampir satu jam kemudian, aku tiba di apartemen.


Lorong menuju unitku terasa begitu sunyi.


Aku memasukkan kartu akses.


Pintu terbuka perlahan.


Ruangan itu masih sama seperti saat kutinggalkan beberapa hari lalu.


Tidak ada yang berubah.


Sofa masih berada di tempatnya.


Cangkir kopi yang terakhir kupakai masih tergeletak di meja.


Gorden masih tertutup rapat.


Entah mengapa, melihat semua itu justru membuatku sedikit lega.


Setidaknya masih ada satu tempat yang terasa seperti milikku.


Aku mengunci pintu.


Bukan sekali.


Tetapi berkali-kali.


Aku memastikan semua pengunci tambahan terpasang.


Kebiasaan itu muncul begitu saja.


Mungkin karena aku sudah terlalu sering hidup dalam ketakutan.



Tubuhku terasa lengket.


Bau asap, debu, dan keringat dari semalam masih menempel di kulitku.


Aku langsung menuju kamar mandi.


Kubuka keran air hingga deras.


Air dingin membasahi kepalaku.


Perlahan menghapus sisa-sisa kelelahan.


Aku berdiri cukup lama di bawah pancuran.


Mencoba menghilangkan semua bayangan yang terus menghantuiku.


Suara alarm.


Suara tembakan.


Kabut putih yang memenuhi ruang server.


Dan wajah-wajah orang yang berlari menyelamatkan diri.


Namun semakin lama aku memejamkan mata…


semuanya justru terlihat semakin jelas.



Setelah selesai mandi, aku mengenakan pakaian santai.


Aku mengambil semua ponsel yang kumiliki.


Satu demi satu.


Ponsel dengan identitas Jason.


Ponsel dengan identitas lain.


Termasuk telepon yang diberikan Andri.


Aku memandanginya beberapa saat.


Lalu…


aku mematikannya.


Satu.


Dua.


Tiga.


Sampai tidak ada satu pun layar yang masih menyala.


Aku tidak ingin mendengar suara dering.


Aku tidak ingin menerima pesan.


Aku tidak ingin ada siapa pun yang menghubungiku.


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama…


aku hanya ingin sendiri.


Aku menjatuhkan tubuh ke atas sofa.


Memejamkan mata.


Berharap setidaknya malam ini aku bisa tidur tanpa mimpi buruk.


Namun jauh di dalam hati…


aku tahu.


Ketenangan itu mungkin hanya akan bertahan sebentar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!πŸ‘‡✌️😁