Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Rabu, 10 Februari 2016

Cerita dari Negeri Amerika (Part 2)


Setelah 14 tahun menjadi agen intelijen, hidupku benar-benar berubah drastis. Yang tadinya hanya seorang yang bekerja di bagian administrasi, berubah menjadi sosok yang berbeda. Jangankan orang lain, diriku sendiri saja hampir lupa siapa diriku. 

Dua bulan terakhir, aku menghabiskan hampir setiap hari untuk mencari tahu bagaimana kehidupan orang di sini, yang notabene sangat berbeda dengan negara asalku. 


*** 


Dari bandara, aku menuju sebuah apartemen yang sudah aku pesan (booking) sebulan sebelumnya dengan bantuan petugas kedutaan di sini. Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, tibalah aku di tempat tujuan. Tidak sendirian, tentu saja, karena aku dijemput oleh petugas dari kedutaan. 

Apartemen itu terletak di daerah Long Beach, Los Angeles. Di kota LA ini, penduduknya berjumlah lebih dari 3 juta jiwa. LA (Los Angeles) dijuluki City of Angels. LA adalah pusat dunia bisnis, perdagangan internasional, hiburan, budaya, media, mode, ilmu pengetahuan, olahraga, teknologi, dan pendidikan terdepan; kota ini juga merupakan kota terkaya ketiga di dunia, serta menjadi kota paling kuat dan berpengaruh kelima di dunia. 


Turun dari mobil, aku dihadapkan dengan apartemen yang sangat minimalis—tidak kecil juga tidak besar—sama seperti yang aku lihat di situs webnya. Yang jelas, apartemen itu cocok untuk ditinggali oleh anak muda sepertiku. Letaknya di lantai 18 dengan tipe studio, dilengkapi tempat tidur queen size, kamar mandi dengan shower (tentu saja di Amerika tidak memakai gayung berbentuk "love"), televisi, terkoneksi dengan jaringan internet khusus penghuni, dapur yang lengkap dengan peralatannya, serta ada sofa kecil, lemari, dan meja yang cocok digunakan untuk menyimpan beberapa barang. Tentu saja tipe studio di sini berbeda dengan yang ada di Bandung pada umumnya. 


Setelah orang dari kedutaan menunjukkan bagian-bagian apartemen, mereka menyerahkan beberapa dokumen yang harus ditandatangani dan memberikan buku tabungan baru atas namaku, lengkap dengan kartu ATM-nya. Ternyata, di buku tabunganku sudah tercetak sejumlah saldo yang menurutku cukup banyak. Mereka pun pamit. 

Jujur saja, perasaanku menjadi tidak karuan, mungkin karena jet lag. Tubuhku memanggil untuk beristirahat, tapi jam di sini menunjukkan waktu untuk bangun. Baru saat itulah aku sadar akan perbedaan waktu. 

Setelah selesai membereskan semua barang bawaan, aku mencoba mengistirahatkan pikiran dan tubuhku karena perjalanan yang begitu melelahkan. Saking lelahnya, sekitar pukul 3 sore aku baru terbangun. Aku langsung mandi dan berniat mengelilingi tempat tinggalku. Di sini tidak seperti di New York yang penduduknya sangat padat. Jika tidak mempunyai mobil, aku harus berjalan kaki atau minimal mempunyai sepeda, karena jarak menuju pemberhentian busway lumayan jauh. Di sini pun kalau ada motor, hanya motor-motor besar saja. Tidak seperti di Bandung atau hampir di setiap kota di Indonesia yang lalu lintasnya sesak dengan kendaraan bermotor dan mobil pribadi. 

Ketika keluar apartemen sejauh satu blok saja, aku sudah bisa menemui beberapa restoran, pub, dan masih banyak tempat hiburan lainnya. 


Sebenarnya, orang dari kedutaan sewaktu masih di Indonesia memberi pilihan daerah untuk tempat tinggalku. Ada dua pilihan: daerah Santa Ana yang wilayahnya lebih jauh dari Long Beach—memang katanya daerahnya tidak seramai di sini, tapi wajib sekali memiliki kendaraan karena kendaraan umum sangat jarang—sedangkan pilihan kedua adalah Long Beach ini. Aku lebih memilih di sini karena lebih menyukai tempat yang ramai. Setelah berkeliling sebentar, aku putuskan untuk kembali ke apartemen dan memasak mi instan. 

Sambil makan, aku menyalakan ponsel dan laptop. Aku diberi kartu SIM baru khusus untuk telepon saja, karena jaringan internet sudah tersedia bagi setiap penghuni apartemen. Kemudian, aku membuka surel dan beberapa pesan yang masuk. Aku mengabari Ibu di Bandung kalau aku sudah sampai, tidak lupa membalas pesan dari teman-temanku. Reply, reply, dan close. Aku harus mempersiapkan beberapa dokumen untuk mengunjungi kantor yang sudah ditunjuk kedutaan untukku bekerja besok. 


Hari itu aku semangat sekali, terlihat dari caraku bangun pagi. Setelah mandi dan membereskan semuanya, aku mencoba mencocokkan selera makanku dengan daerah tempat tinggalku. Ada roti dan susu sambil melihat siaran TV. Siaran TV-nya semua berbahasa Inggris, tentunya. Ada juga yang menggunakan bahasa Mandarin, Spanyol, dan Meksiko. 

Aku masih ingat saat staf di Kedubes AS melakukan tes bahasa. Persyaratannya minimal harus mampu mengingat setidaknya 600 suku kata. Ternyata aku orang pertama yang melebihi target minimal itu. Wajar saja, karena nilai bahasa Inggris-ku sewaktu sekolah tidak pernah kurang dari A. 

Sekitar pukul 7, aku menuju kantor yang bisa ditempuh sekitar 20 menit dengan busway. Tentu saja, map on the phone wajib sekali untuk mencari letak posisinya. 

Begitu sampai di kantor, aku bertemu dengan resepsionis, seorang perempuan yang aku pikir paras cantiknya tetap saja tidak akan bisa mengalahkan cantiknya mojang Bandung. Jadi teringat sama Resti. Ah, sudahlah. 

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya aku bertemu dengan Mr. Mark. Dia bertanya tentang pengalaman kerjaku (padahal kan sudah aku tulis lengkap di dokumen yang sedang dia pegang. Ah, basa-basi dunia kerja). 

Pekerjaanku sama saja dengan posisi yang akan aku isi di kantor ini. Demi green card ini, aku tinggalkan pekerjaan yang gajinya lumayan tinggi sewaktu masih di Bandung—apalagi aku baru lulus dari universitas ternama juga di sana—karena aku yakin pekerjaan yang lebih baik pun bisa aku dapatkan. Ya, aku tinggalkan semua itu demi keinginanku agar bisa hidup di atas normal. 


Setelah dia menjelaskan bagaimana pekerjaanku nanti, kemudian dia menunjukkan meja kerjaku. Sebelumnya, aku diperkenalkan kepada para pegawai di ruang kantor. Benar juga, orang akan ramah kepada kita apabila kita juga ramah kepada mereka, dan itu sangat berlaku di sini. Ternyata, di sini bukan hanya aku yang bekerja sebagai pendatang; ada juga yang dari Malaysia, Singapura, Tiongkok, dan berbagai negara lainnya di Asia. 


3 Bulan kemudian. 


Aku baru mendapatkan Green Card-ku sekaligus Social Security Number (SSN). SSN ini diperlukan untuk melamar pekerjaan, menerima manfaat jaminan sosial (misalnya asuransi kesehatan bagi yang kurang mampu), dan untuk mendapatkan segala pelayanan pemerintah. SSN juga akan ditanyakan saat akan berlangganan listrik, gas, atau telepon, dan juga untuk membuka rekening bank serta kartu kredit. Dulu, aku hanya memakai nomor yang ada di kartu SSN itu untuk mendapatkan rekening tabungan di sana. Kebetulan juga memang diurus oleh staf dari kedutaan. 


Empat bulan berlalu. 


Aku mempunyai teman seorang wanita, namanya Natally. Kami lumayan dekat. Kebetulan rumahnya searah denganku, daerah Los Angeles Raya. Dia selalu menggunakan mobil jika berangkat bekerja, bahkan sesekali aku menumpang jika jam pulangku kebetulan sama dengannya. Dia sangat ramah, agak berbeda dengan teman sekantorku yang lainnya. Kebetulan juga satu ruangan itu memang mengurus hal yang berkaitan dengan administrasi. 


Setelah berjalan hampir satu tahun lebih, aku memutuskan untuk berhenti bekerja di kantor itu. Sebelumnya, aku menghubungi orang di kedutaan yang memberikan pekerjaan ini; ternyata mereka sangat menyayangkan keputusanku untuk resign. Tapi mau bagaimana lagi? Ini memang sudah menjadi keputusanku. Mereka memberikan syarat: mereka akan melepas tanggung jawab dari pekerjaanku jika aku bukan bekerja di kantor ini lagi, karena hanya kantor ini yang memang mempekerjakan banyak pendatang. Sewaktu aku pamit pada orang-orang di kantor, termasuk Mr. Mark, Natally, dan teman-teman lainnya, ternyata mereka juga menyayangkan keputusanku. 


Alasanku keluar dari kantor itu tidak lain karena ingin mencoba berdiri sendiri, seperti keinginan dan tujuanku datang ke sini. Aku ingin mandiri tanpa bantuan orang lain, apalagi aku sudah memegang Green Card dan juga SSN. Aku juga sudah memiliki paspor berwarna biru. 

Setelah berhenti dari kantor itu, kegiatanku setiap hari hanya bersantai, tidur, makan, menonton TV, dan mengunjungi beberapa tempat wisata. Kebetulan sedang liburan musim panas. 


Suatu ketika, aku membuka ranselku untuk dibersihkan. Aku baru ingat belum membuka amplop yang dulu pernah diberikan oleh seorang wanita di pesawat, Mrs. Anne. Amplop itu berisi uang yang katanya lumayan untuk uang saku, dengan jumlah yang cukup banyak menurutku. Tapi kartu namanya hilang, mungkin terselip di tempat lain, pikirku. 

Keuanganku tidak ada masalah, upah selama aku bekerja hampir lebih dari setahun pun sangat lebih dari cukup. Apalagi ada tunjangan lainnya yang aku dapat, belum terhitung lagi tabungan dari orang kedutaan juga ditambah sedikit tabungan pribadiku. 


Setelah browsing mencari berbagai info, aku memutuskan untuk pergi ke beberapa tempat wisata yang tidak jauh dari tempat tinggalku, masih di kota Los Angeles. Pernah terbayang aku akan bertemu selebriti kelas dunia, seperti Megan Fox, Angelina Jolie, Brad Pitt, Lady Gaga, Ariana Grande, atau mungkin keluarga Kardashian dan masih banyak lagi yang lainnya? Kota ini sangat terkenal dan memang penduduknya tidak hanya masyarakat biasa, tapi ada banyak artis dan orang-orang penting lainnya. 


Studio Film adalah tujuan pertama yang akan aku kunjungi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁