Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Senin, 18 Mei 2026

ANAK Yang Tak Diharapkan (Part 3)



Aku dan Ayah sering duduk makan bersama atau sekadar menonton TV di tempat yang sama. Tapi seumur hidupku dan sudah pasti selama hidupnya pun kita belum benar-benar saling bicara.

Terlalu banyak hal yang tidak bisa diungkapkan dan diucapkan juga mungkin banyak yang kami sembunyikan satu sama lain.

Kadang aku membencinya, kadang aku merindukannya. Lucunya kenapa rindu, padahal ada di pelupuk mata. 

Tapi kini, sejauh apa pun aku pergi, tetap dirinyalah yang aku inginkan. 

Entah di hari yang sudah berlalu atau di hari yang akan datang, aku dan dirinya masih dalam perjalanan panjang untuk belajar saling memaafkan hal yang sebenarnya tidak tahu salahnya di mana. 


***


Dulu, di sela-sela jam istirahat sekolah, Ayah Ahmad selalu mengajarinya bermain catur. 

Melalui permainan catur, Ahmad diajari tentang strategi hidup. Bagaimana sebuah kreativitas dalam memecahkan masalah juga tentang pengorbanan hidup yang mungkin hanya menguntungkan beberapa orang saja sekalipun orang itu terperdaya dan bahkan terkecoh. 

Secara tidak langsung Ahmad menerapkan semua pola permainan catur yang diajarkan oleh Ayahnya itu di dalam kehidupannya. 


Ketika Angkasa berusia 2 tahun, 3 tahun bahkan hingga sekarang pun Ahmad tidak pernah lupa untuk mengucapkan ulang tahun kepada anaknya. Berusaha untuk selalu hadir dan memberikan hadiah walau alakadarnya. Memang tidak pernah mewah, tapi Ahmad selalu mempunyai keyakinan bahwa yang paling berharga itu bukanlah harta tapi waktu dan obrolan ringan sesederhana bertanya kabar. Memastikan tidak ada yang kurang, meminta maaf karena terkadang ketidakhadiran di saat yang dibutuhkan, dan berusaha menciptakan banyak momen bersama karena betapa besarnya rasa sayang Ahmad untuk anaknya. 

Ahmad tidak ingin jika anaknya merasakan hal yang sama seperti yang pernah dia alami. 


Saat usia Ahmad 20 tahun dia pergi ke kota lain yang lebih besar untuk bekerja di sebuah hotel sebagaai housekeeping. 

Tidak sulit bagi Ahmad untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. 

Meskipun tidak berpengalaman di bidang perhotelan, tapi Ahmad bisa dengan mudah mendapatkan apresiasi dari atasannya. Selain karena pekerjaannya yang hanya membersihkan kamar, tapi Ahmad bisa meyakinkan atasannya untuk mendapatkan tanggung jawab yang lebih dengan gaji yang cukup besar pula. 

Jika shift malam tiba, pekerjaan Ahmad tidak lagi membersihkan dan merapikan juga mempersiapkan kamar untuk tamu lagi, tapi dia juga diberi tugas menjadi resepsionis hotel. 

Di mana tugasnya itu adalah menyambut tamu, mengelola reservasi, juga membantu proses check-in dan check-out tamu. Terkadang dia juga harus menjawab panggilan telepon yang bertanya tentang ketersediaan kamar hotel.


Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Ahmad sudah nyaman dengan pekerjaan barunya sebagai housekeeping di siang hari dan menjadi resepsionis ketika mendapatkan shift malam. 

Karena tuntutan pekerjaan yang harus selalu ramah kepada tamu dan siapa pun yang datang ke hotel itu, Ahmad kenal dengan seseorang yang bernama Rian. 

Rian bukanlah tamu hotel. Namanya hampir tidak pernah tertulis di buku daftar tamu. Tapi wajahnya menjadi tidak asing lagi karena saking seringnya dia memasuki hotel tempat Ahmad bekerja. 

Hotel Ahmad bekerja bukanlah hotel yang berkelas. Jadi, siapa pun yang dengan hanya memiliki uang 300 ribu saja kala itu bisa menginap di sana. Termasuk Rian dan tamu-tamunya. 

Ya, Rian selalu datang dengan orang yang berbeda-beda. Baik itu tamu perempuan maupun laki-laki. Tamunya pun dari semua kalangan usia.  

Pernah pada suatu malam ketika Ahmad sedang duduk-duduk di luar, Rian keluar hotel dengan salah satu tamunya. Tapi bukan untuk check-out, tapi Rian hanya mengantarkan tamunya saja ke parkiran. 

Rian pun menghampiri Ahmad. 

Mereka berkenalan dan mengobrol seperti teman yang sudah lama tidak bertemu.

Bercerita satu sama lain tentang latar belakang keluarga dan obrolan itu menuju ke sebuah topik yang membuat Ahmad sedikit terkejut. Dan ternyata Rian adalah seorang pria panggilan. 


Rian mempunyai latar belakang yang sama dengan Ahmad. Hubungan dengan Ayahnya yang tidak dekat, komunikasi dengan keluarganya juga tidak berjalan dengan baik. 

Rian hidup seorang diri karena keterpaksaan bukan pilihan. Karena Ayahnya sudah membiarkannya hidup seorang diri ketika Rian masih duduk di bangku SMP. 

Ada alasan dan keputusan juga sebuah kesempatan bagi Rian hingga dia menjadi seorang pria panggilan.

Selain karena uangnya yang cukup mudah untuk didapatkan, dia tidak perlu lagi bersusah-payah bekerja seharian dan menunggu tanggal gajian. 


Seiring berjalannya waktu, Ahmad dan Rian pun berteman. 

Mereka sering pergi bersama jika Ahmad sedang libur bekerja. Apalagi keduanya berasal dari kota yang sama yang menjadikan ada sebuah ikatan pertemanan erat di antara mereka. 




Di tempat kerjanya Ahmad tidak menemukan kendala apa pun. Justru Ahmad bisa melihat banyak hal dengan berbagai macam alasan juga tentunya. 

Dia menjadi orang yang cepat dalam berpikir dan bertindak juga sangat hati-hati dalam mengambil keputusan. 

Ahmad bisa dengan mudah membaca karakter seseorang hanya dengan melihat sepintas, bertemu sekali atau hanya mengobrol beberapa saat saja. Selain bertemu dengan para tamu hotelnya, dia juga sangat mengenal banyak pribadi orang-orang yang ada di tempat kerjanya. 

Hingga setahun berlalu Ahmad bekerja di hotel itu dan memutuskan untuk resign. 

Selain karena gaji yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dia sendiri dan untuk sekadar membantu uang jajan anaknya, dia merasa bahwa jika terus-menerus bekerja di sana hanya akan membuat kehidupannya seperti itu saja, tidak ada tantangan. Dia membutuhkan suatu pekerjaan yang memacu adrenalin. 


Setelah keluar dari pekerjaan itu, Ahmad mulai menerapkan bagaimana bermain catur bisa dipakai di kehidupan nyata yang sesungguhnya. 

Permainan yang dilihatnya sederhana saat diajarkan oleh Ayahnya dulu, tapi justru menjadi suatu naluriah yang merubah kehidupan Ahmad ke depannya. 

Ahmad masih berteman dengan Rian. 

Dia tertarik dengan apa yang pernah dikatakan Rian, "percuma punya tampang cakep kalau tidak jadi uang". 

Ya, perjalanan Ahmad yang baru pun dimulai. 


Ahmad mempunyai tampang yang cukup menarik. Terbukti saat dia dan Rian duduk di sebuah tempat kopi yang isinya orang-orang kantoran berpakaian rapi dan rambut klimis seperti baru disisir itu banyak dilirik. 

Entah karena melihat mereka aneh atau benar-benar ada yang tertarik. Di sanalah Rian mengajarkan Ahmad bagaimana cara melihat orang yang tertarik atau tidak. Bagaimana juga membedakan apakah orang tersebut hanya berniat sekadar berkenalan atau ada tujuan lebih. Harus dilihat juga apakah orang itu berduit atau hanya orang pas-pasan. Dilihat dari penampilan, jam yang dia pakai, merek sepatu, tas yang dia bawa, atau mungkin ada kunci mobil yang sengaja digantung di antara sakunya. Rian mengajarkan Ahmad semua hal dasar itu. 

Tapi tentu saja jika mereka melihat seseorang dari penampilannya, mereka berdua pun harus sudah terlihat menarik juga bagi orang lain. 

Diajaklah Ahmad untuk berbelanja pakaian demi menunjang penampilannya. 

Selain Rian membantu dia dari cara berpenampilan dan menentukan calon targetnya, Rian juga membantu dia bagaimana mengobrol dengan sesederhana bercanda kecil dan yang terpenting adalah menuntun ke arah pembicaraan di mana semuanya harus berakhir. Ya, tentu saja tujuannya adalah untuk uang. 

Mereka berdua harus mengaku sebagai anak kuliah yang berasal dari kota yang jauh dan tidak mempunyai sanak saudara di kota yang sama. Semuanya harus dimulai dari latar belakang yang sedemikian rumit. Jangan sampai ada satu hal pun yang benar-benar jujur. 

Jika ada yang benar-benar tertarik, di sanalah mesin uang akan mengalir. 


Ahmad pindah ke sebuah apartemen milik Rian yang berada di kawasan elit. Tidak murah, memang. Tapi dengan kelihaian Rian, Ahmad bisa merasakan bagaimana semuanya bisa dibeli dengan uang. Dan untuk mendapatkan uangnya pun tidaklah sulit. Hanya bermodalkan tampang dan penampilan yang mendukung juga gaya bicara dan pembawaan yang meyakinkan, dengan hanya menjentikkan jari maka semuanya bisa didapatkan. 


Pada suatu hari, ketika Rian pergi keluar kota bersama seseorang, Ahmad makan di suatu tempat makanan saji langganannya. 

Ketika dia sedang makan, ada seseorang yang menghampirinya untuk berkenalan. Untuk pertama kalinya bagi Ahmad berkenalan dan bertukar Pin BB. Karena pada saat itu HP Blackberry masih banyak orang yang menggunakannya. 

Ternyata orang itu adalah seorang karyawan bank ternama yang tidak jauh dari apartemen Ahmad. Statusnya sudah memiliki keluarga. 

Di sanalah Ahmad mulai menerapkan strategi bermain catur untuk kehidupan nyatanya. 


***


Kehidupan Ahmad yang baru pun dimulai. 


Jumat, 15 Mei 2026

ANAK Yang Tak Diharapkan (Part 2)



Masa remaja Ahmad dihabiskan dengan perjalanan panjang dengan arah dan tujuan yang berlawanan hingga menjadi tidak karuan. 

Di tengah pencarian jati diri yang begitu bergelombang, Ahmad bertemu dengan banyak orang yang membentuk jati dirinya hingga menjadi seperti sekarang. 

Tapi sejauh apa pun dia berjalan, dia hanya ingin satu hal, yaitu kasih sayang. 


***


Pada masa SMP hingga SMA, kenakalan Ahmad semakin menjadi. Apalagi berpindah-pindah tempat tinggal dari satu rumah saudara ke rumah saudara yang lainnya membentuk Ahmad menjadi pribadi yang tidak terbentuk dengan satu jalan dan kebenaran yang baginya kini menjadi banyak pilihan. Tapi sejauh itu Ahmad belum menemukan cara agar kenakalannya dimengerti oleh orang dewasa di sekitarnya. Semua orang hanya melihat sisi kenakalan dirinya saja. 

Hingga pada akhirnya setelah mendapat ijazah SMA yang dibuat oleh Ayahnya sendiri di rumah, Ahmad pun mulai benar-benar berani menguatkan tekadnya untuk meninggalkan semua rumah yang dia sebut sebagai keluarga itu. 


Pada saat itu usia Ahmad belum 17 tahun. 

Dia pergi ke kota besar untuk mencari pekerjaan agar dia mendapatkan penghasilan sendiri. 

Dia sudah menghapus semua cita-citanya ketika kecil. Dia mulai bekerja di sebuah toko roti yang tidak begitu jauh dari alun-alun yang ada di kota itu. Dengan gaji yang cukup minimal pada saat itu, penghasilannya hanya cukup untuk dia tinggal di sebuah kost sederhana dan benar-benar hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadinya saja.

Di tengah pengalaman pertamanya bekerja, Ahmad berkenalan dengan seorang perempuan yang seumuran dengannya bernama Hani yang kebetulan bekerja di tempat yang sama. 

Perempuan itu cukup menarik perhatian Ahmad. Selain cantik, Hani juga perempuan yang sangat perhatian terhadap keluarganya. Terbukti dengan penghasilannya yang tidak seberapa tapi semuanya untuk membantu perekonomian keluarganya. Sangat berbeda dengan Ahmad yang hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadinya saja. Hani membuat Ahmad kagum. 

Hingga mereka berdua pun berpacaran. 

Tapi masa muda memang begitu mempesona. Selain karena cinta, mereka mempunyai hasrat yang tidak bisa dikatakan cukup lumrah bagi orang dewasa untuk seumurannya. Hani pun hamil. 

Dengan perasaan yang tidak terlalu yakin, Ahmad pun menikahi Hani dengan hanya disaksikan oleh keluarga terdekat Hani saja. 

Pada saat itu Ahmad tidak ada keinginan untuk memberitahu keluarganya. Selain karena hubungan dengan keluarganya yang tidak begitu harmonis, Ahmad juga mempunyai ketakutan tersendiri. Apalagi dia sudah cukup tahu bagaimana sikap Ayah dan keluarganya sejauh ini memperlakukannya. 

Tapi mau bagaimana lagi, fokus Ahmad saat itu sudah bukan hanya tentang dirinya lagi, tapi ada  calon anak tidak berdosa yang sebentar lagi akan segera lahir. 

Mereka berdua pun tinggal di sebuah kontrakan sederhana. 


Umur Ahmad belum cukup dewasa untuk mencerna semua hal yang terjadi di dalam hidupnya. Tapi dia dipaksa untuk dewasa di umur yang belum bisa dikatakan cukup dewasa. 

Tiba-tiba dia menikah dan dinanti untuk tanggung jawab yang begitu besar, tapi sayangnya tidak ada seorang pun yang bisa dia ajak bicara atas semua kejadian yang begitu nyata bahkan begitu cepat menghampiri kehidupan untuk seusia Ahmad pada saat itu. 

Nasi sudah menjadi bubur. Ahmad harus menanggung beban itu sendirian. Tanpa bantuan dari siapa pun termasuk keluarganya. 


Ketika usia Ahmad belum genap 18 tahun, anaknya pun lahir. 

Seorang anak laki-laki yang diberi nama Angkasa itu lahir di tengah perekonomian dan kehidupan Ahmad yang masih dalam proses pembentukan pendewasaan. 

Tapi Ahmad begitu menyayangi anaknya. Semuanya dia curahkan untuk anaknya itu. 

Dia belajar dan berusaha untuk menjadi seorang Ayah yang cukup baik dan bertanggung jawab. 

Meskipun kelahiran Angkasa tidak pernah direncanakan, tapi Ahmad menganggap bahwa kini hidupnya bukan lagi tentang dirinya. Kini ada seorang anak yang harus dia sayangi walaupun dirinya saja masih membutuhkan kasih sayang dari orang lain. 


Keseharian Ahmad diisi dengan bekerja dan sepulangnya dari bekerja dia membantu Hani untuk mengurus anaknya. 

Terlihat sederhana tapi begitu bahagia kehidupan Ahmad pada saat itu. 

Baginya, kehadiran Angkasa merubah dia menjadi orang tua seketika dan harus dewasa karena sebuah keadaan dan tuntutan bukan keinginan. Bahkan untuk memilih pun tidak ada celah baginya. 

Mau tidak mau, suka ataupun tidak, Ahmad mencoba untuk menjalaninya dengan sukacita. 


Setahun berlalu. 

Ahmad dan Hani merayakan ulang tahun Angkasa yang pertama. Mereka membuat acara yang cukup sederhana. Mengundang beberapa orang di sekitar kontrakannya. 

Ahmad ingin membuat kesan terbaik untuk anaknya. Meskipun usia anaknya belum bisa mengerti apa itu arti ulang tahun, tapi Ahmad berjanji untuk selalu ada demi anaknya hingga nanti di ulang tahun Angkasa di setiap tahunnya. 

Angga merasakan apa itu artinya bahagia ketika memberi, berbagi, dan menyayangi dengan setulus hati. Meskipun itu hanya dengan hal-hal yang sederhana. 


Di usia Ahmad yang ke 19 tahun, untuk pertama kalinya dia tidak pulang ke rumah untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri. 

Dia pergi ke kota lain bersama keluarga besar Hani. 

Bahagia karena bisa berkumpul bersama keluarga barunya, tapi juga sedih karena tidak bisa bertemu dengan keluarganya sendiri. 

Anak usia 19 tahun harus memikul beban dan tanggung jawab sebegitu besarnya. 

Dapat pekerjaan yang alakadarnya, lalu harus menjadi suami juga menjadi seorang Ayah, padahal dirinya sendiri pun masih membutuhkan figur seorang Ayah. Dan di tengah kegundahan hatinya, Ahmad menemukan Hani berselingkuh dengan orang lain. 

Tapi Ahmad menyadari banyak hal dalam dirinya. Mungkin apa yang dibutuhkan oleh Hani tidak sebanding dengan apa yang diberikan oleh dirinya sebagai seorang suami. Ahmad juga menyadari bahwa untuk menjadi seorang suami dan membangun rumah tangga itu bukan sesuatu yang mudah ketika ekonomi menjadi patokannya. 

Ahmad pun berpisah dengan Hani dan membiarkan Angkasa untuk dibawa oleh Ibunya bersama keluarga barunya.  

Sedih dan kecewa merasuki jiwa Ahmad. 

Karena dia merasa bahwa semua hal sudah dia berikan dan dia curahkan meskipun masih dalam keterbatasan. Tapi begitulah kehidupan. 

Kadang yang memperjuangkan akan kalah dengan orang yang memberi harapan. 

Karena setahun kemudian Ahmad mendengar kabar bahwa Hani sudah kembali bercerai dengan suami barunya. 


Ahmad masih muda. Dia merelakan dan membiarkan dirinya terbawa oleh arus kehidupan yang haus akan kasih sayang yang belum dia temukan selama ini. 

Sesekali dia masih pulang ke rumah orang tuanya. Membawa foto Angkasa dan dirinya yang dia tempel di dinding kamarnya. 

Berharap rindunya akan sedikit terobati walau hanya memandang foto itu yang tampak berwarna tapi terpecah karena print-an yang alakadarnya. 

Besar harapan Ahmad untuk mempertemukan Angkasa dengan keluarganya. Tapi dia mempunyai kebingungan dan kebuntuan. Karena tidak tahu harus memulainya dari mana. 

Apalagi kini Angkasa sudah tinggal bersama Kakek dan Neneknya. Di mana untuk bertemu saja Ahmad harus mencari waktu yang tepat agar kedua mantan mertuanya itu mengizinkannya. 

Dan yang paling menyedihkan bagi Ahmad adalah ketika harus dipanggil "Om" oleh anaknya sendiri. 

Entah ada obrolan apa yang terjadi di antara mereka, hingga Ahmad pun dengan sukarela diperlakukan seperti itu hanya agar dia tetap bisa bertemu dengan anaknya. Mungkin karena keuangan Ahmad yang tidak seberapa hingga tidak selalu ada untuk memenuhi semua kebutuhan anaknya. Atau mungkin karena memang harus seperti itu jalannya. 


Hubungan Ahmad dengan keluarganya terlihat baik-baik saja. Tapi itu tampak luarnya saja.

Mungkin orang lain melihat keluarganya begitu rukun dan penuh kebahagiaan. Apalagi Ayah Ahmad juga seorang guru yang sangat disegani seperti penglihatan Ahmad yang biasanya. Tapi pada kenyataannya hubungan Ahmad dengan orang tuanya tidaklah dekat. 

Dia selalu merasa ada sebuah batas untuk mengungkapkan perasaan dan keinginannya kepada Ayahnya. Jika ditanya apa batas yang menjadi penghalang itu, Ahmad pun tidak tahu. 


Meskipun kehadiran Angkasa di hidup Ahmad bukanlah sesuatu yang diharapkan, tapi Ahmad tetap menyayangi dan mencoba selalu ada untuk anaknya meskipun masih dalam proses yang seadanya. 

Justru "Anak Yang Tak Diharapkan" itu bukanlah Angkasa, tapi dirinya sendiri. 

Selasa, 12 Mei 2026

ANAK Yang Tak Diharapkan (Part 1)



Kenapa ada orang yang tidak ingin mempunyai anak? 

Kenapa ada orang yang tidak menginginkan kesempatan untuk diberi anugerah terindah dari sang Maha Pencipta? 

Kenapa ada orang yang tidak menginginkan kehadiran anak di tengah kehidupan terbaik yang sedang dia jalani? 

Kenapa ada orang yang tidak bahagia atas hadirnya sosok dari darah dagingnya sendiri? 

Kenapa ada orang yang tidak menerima baik dan buruk anaknya sendiri? 

Kenapa ada orang yang mengabaikan anaknya sendiri? 


Dan dari sekian banyak pertanyaan yang muncul di kepala Ahmad, kini dia menemukan jawabannya.

Jawabannya adalah karena anak itu memang tidak pernah diharapakan. 


***


Ahmad adalah seorang Housekeeping di sebuah hotel yang berada di pusat kota. Usianya 34 tahun yang sudah bisa dikatakan cukup matang untuk menerima beberapa permasalahan dalam hidupnya. Mungkin banyak pria yang seumuran dengan Ahmad yang cara berpikirnya belum seperti dirinya. Tapi dia sudah cukup dewasa untuk bisa berpikir dan menerima semua permasalahan yang ada, baik itu masalah yang datang dari lingkungan pekerjaan maupun pribadinya. Meskipun Ahmad hanya seorang petugas kebersihan hotel dan hanya lulusan SMA yang tidak seperti saudara-saudaranya yang pernah mengenyam pendidikan berpredikat sarjana, tapi dia memiliki pemikiran yang logis dan sistematis tapi juga cukup sederhana. 

Terbukti Ahmad bisa dengan mudah mendidik anaknya dengan sangat baik. 

Anaknya kini sudah berusia 16 tahun.

Masa transisi dari remaja hingga dewasa Ahmad sejak berumur 18 tahun sudah dihabiskan untuk membesarkan seorang anak yang sangat dia sayangi. Dia takut jika anaknya tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang cukup atau bahkan lebih seperti yang pernah dia alami. Dia selalu berusaha untuk memenuhi apa yang dibutuhkan oleh anaknya, baik itu sekadar materi atau sebagai figur dengan menjadi sosok yang selalu ada untuk anaknya. Karena bagi Ahmad, materi itu masih bisa dicari dan ditemukan di banyak tempat dan dari orang lain. Sedangkan figur itu tidak semua orang mampu memberikannya. 


Ahmad terlahir dari keluarga yang cukup berada. 

Ahmad kecil mempunyai Ayah seorang guru. 

Kakeknya pun seorang guru. Banyak anggota keluarganya yang berlatar belakang guru. Bahkan cita-cita Ahmad pada saat kecil pun ingin menjadi seorang guru. 

Menjadi guru itu bagi Ahmad adalah sebuah mimpi yang sangat mulia. Selain karena melihat sosok Ayahnya yang banyak disegani oleh orang lain karena berprofesi sebagai seorang guru, dulu dalam pikiran Ahmad jika menjadi guru akan membuat kehidupannya bermanfaat untuk orang banyak. 

Tapi cita-cita Ahmad itu seketika memudar di saat dia duduk di bangku SMA dan mengetahui suatu rahasia kecil ketika menyaksikan bagaimana Kakak perempuannya memperoleh ijazah untuk mendaftar menjadi seorang guru dengan hanya membelinya seharga belasan atau puluhan juta rupiah. 

Ahmad menjadi skeptis terhadap Ayahnya sendiri yang dengan terang-terangan melakukan hal seperti itu. 

Setelah kejadian membeli itu, Ahmad pun mulai melihat dengan cermat kebiasaan Ayahnya yang lain. Dulu masih ada pengelolaan uang BOS sekolah. 

Mendengar desas-desus yang pada saat itu Ahmad tidak terlalu jelas dengan melihat faktanya tapi sangat terekam jelas di memorinya. Apalagi ditarik mundur ketika musim pembagian Susu Sekolah. Ayahnya selalu mempunyai stok susu banyak di rumahnya. Kenapa ada Susu Sekolah di rumah? 

Ahmad tidak begitu tahu bagaimana perilaku Ayahnya di luar sana. 

Karena Ahmad kecil sebelum SMA tinggal dengan salah satu anggota keluarga lainnya yang merupakan Kakak dari Ayahnya Ahmad. 


Ahmad kecil. 

Ibunya seorang perempuan cantik yang membuat tertarik seorang pemuda yang sedang menempuh pendidikan SPG atau setingkat SMA pada masanya. 

Karena keduanya saling jatuh cinta, mereka pun memutuskan untuk menikah. 

Di tengah kebahagiaan pasangan itu lahirlah seorang anak perempuan bernama Sinta yang semakin menambah kebahagiaan keluarga kecil itu. Tapi semua kebahagiaannya sedikit terganggu karena pada masa itu yang namanya guru baru diangkat harus bersedia ditempatkan di wilayah mana saja. 

Jadi sang suami harus bertugas ke luar kota. 

Sedangkan sang istri dan Sinta kecil hanya tinggal berdua saja. 

Ahmad tidak terlalu mengingat cerita tentang bagaimana kisah pilu antara Ibu dan anak perempuan yang ditinggal bertugas itu. Tapi yang Ahmad ingat itu cerita bagaimana ketika Ibunya mulai sakit-sakitan dan bahkan harus dioperasi. Pada saat itu Sinta sudah berusia 4 tahun setidaknya sudah banyak mengingat apa yang dia lihat. 

Di tengah perjuangan sang istri melawan rasa sakit dan harus mengurus anaknya, dikabarkan bahwa ternyata sang suami jatuh cinta di tempat di mana dia bertugas. Bahkan sang suami memutuskan untuk menikahi seorang janda yang membuat dirinya kembali jatuh cinta untuk kedua kalinya yang pada saat itu caranya pun cukup diragukan kebenarannya. Diceritakan bahwa untuk mendapatkan surat izin menikah lagi dengan alasan karena istri pertama sudah tidak sanggup untuk memenuhi kebutuhan sang suami lagi pun hanya memakai secarik kertas yang bertanda tangan mertuanya saja.

Kenapa tidak bercerai dan ditinggalkan saja? 


Di tengah situasi yang sudah mempunyai keluarga baru, sang suami masih bertemu dengan istri pertama. 

Padahal dokter sudah berkata bahwa setelah operasi jangan sampai melakukan hubungan selayaknya suami istri. Tapi yang namanya manusia, semakin dilarang semakin antusias untuk melanggar. 

Hingga pada akhirnya kedua istri itu pun hamil dalam waktu yang bersamaan. 

Sembilan bulan kemudian lahirlah anak perempuan dari istri kedua yang diberi nama Santi. Dan 19 hari kemudian pun lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Ahmad. 

Karena Ahmad kecil tidak memungkinkan untuk dirawat dan dibesarkan oleh Ibunya, dia pun dibawa oleh Kakak dari Ayahnya Ahmad. 

Tidak ada kenangan yang terekam dalam ingatan Ahmad pada saat kecil bersama Ibunya. 

Karena selain jarak yang jauh, ketika Ahmad berusia 6 tahun Ibunya pun meninggal karena sakit yang dideritanya. Jadi Ahmad menghabiskan masa kecilnya bersama kedua orang tua asuhnya saja. Bertemu dengan Ayahnya pun hanya sesekali dan lebih sering di sekolah saja. Itu pun karena kebetulan Ahmad bersekolah di sekolah yang sama di mana Ayahnya mengajar. 


Ahmad remaja. 

Ahmad remaja yang hanya tinggal bersama kedua orang tua asuhnya sangatlah sederhana. 

Tapi di tengah kesederhanaan itu dia tumbuh menjadi anak yang baik dan cukup pintar. 

Baik itu pendidikan agama di rumah dan pendidikan formal di sekolah pun cukup bagus. 

Terbukti dengan menjadi ranking di sekolah dan menjadi peserta MTQ. 

Sekilas tidak ada yang kurang dari penglihatan mata manusia pada umumnya. 

Tapi Ahmad kecil tidaklah sebaik itu. 

Dia mulai mencari perhatian dengan beberapa  kenakalan yang dia lakukan. 

Karena hati terdalam Ahmad tidak merasakan bagaimana kasih sayang orang tua yang utuh sebagaimana yang dia inginkan. Hanya saja Ahmad kecil tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Hingga pada akhirnya Ahmad tumbuh menjadi sosok yang berani melawan bahkan membangkang. 


Hanya saja kenapa semua orang tidak ada yang memahami keinginan Ahmad kecil pada saat itu? 

Di tengah bentakan dan kemarahan semua orang atas perilaku Ahmad yang mungkin sudah melewati batas wajar, kenapa tidak ada seorang pun yang membelanya bahkan untuk memeluknya? Bahkan ketika Ahmad kecil menangis karena telinganya dijewer tidak ada seorang pun yang menyeka air matanya. 

Atau mungkin ada yang bertanya keinginan Ahmad kecil pada saat itu apa. 


Padahal keinginan Ahmad kecil pada saat itu sederhana, dia hanya ingin dirinya diperlakukan seperti "anak" yang masih membutuhkan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya sesederhana pelukan atau kalimat penenang bukan bentakan apalagi tangan-tangan yang dengan gampangnya menjewer telinganya. Karena betapa hausnya kasih sayang yang Ahmad kecil harapkan pada saat itu. Ahmad kecil hanya ingin disayangi dan dicintai. 

Kenapa semua orang hanya melihat sisi Ahmad kecil yang bandel? 

Kenapa tidak ada seorang pun yang mencoba untuk menemukan alasan kenapa Ahmad kecil senakal itu? 

Kenapa? 


Ataukah karena? 



(Ini merupakan cerita fiksi/ karangan semata. Jika terdapat kesamaan dari alur cerita, itu merupakan ide dan kreatifitas sang penulis semata).