Pada masa lalu, semua aplikasi visa (DV Lottery) harus mengeluarkan sedikit biaya untuk mengirim semua dokumen, termasuk pasfoto, melalui pos ke Kentucky Consular Center (KCC) di Amerika. Tidak seperti sekarang, katanya semua aplikasi visa bisa diisi secara daring (online).
Pada saat aku terpilih mendapat kesempatan Green Card waktu itu, kata pihak KBRI, jumlah pendaftarnya lebih dari 5.000 orang. Namun, hanya ada sekitar 50 orang saja yang bisa diterima (acc) dari seluruh negara, salah satunya adalah aku.
Semenjak bekerja di kantor intelijen ini, kebiasaan hidupku berubah 180 derajat. Yang tadinya tidak suka pantai, karena banyak teman di kantor yang mengajak, aku sering ikut pergi ke pantai hanya untuk sekadar mengantar teman atau jalan-jalan jika hari libur.
Pekerjaanku juga tidak aneh-aneh, masih mengurus administrasi saja, seperti mencatat pemasukan dan pengeluaran. Ada urusan untuk pelatihan, obat-obatan, serta pengadaan alat-alat kantor dan lapangan. Ada juga pemasukan dana dari A, B, dan dari lembaga-lembaga penting di negara ini. Tidak sedikit pula dana yang masuk dari perusahaan swasta maupun perorangan.
Oh iya, kantor tempatku bekerja juga punya cabang di negara lain, termasuk di negara-negara Asia. Bahkan di Indonesia pun ada. Tapi, benar-benar masih tertutup; hanya orang-orang atau lembaga tertentu saja yang mempunyai akses ke sana. Info ini aku dengar dari salah satu rekan kerjaku.
Di Amerika ada universitas yang lulusannya nanti akan langsung bekerja di kantor ini. Di Indonesia ada salah satu sekolah khusus yang hampir mirip, letaknya di daerah Bogor. Tapi memang belum dibuka untuk umum pada 2011; kalau untuk sekarang, kabarnya sudah banyak tersebar bahkan setiap orang bisa mendaftar.
Suatu hari setelah jam pulang kerja, aku diajak hang out oleh beberapa temanku ke pantai, tepatnya ke Virginia Beach. Ada empat orang waktu itu. Di antara kami semua adalah pendatang; meskipun ada Lerry yang berasal dari New York, yang lainnya dari negara bagian perbatasan, keturunan Latin, dan beberapa ada yang dari Meksiko. Aku yang paling berbeda sendiri, secara keturunan Asia, orang Sunda lagi. Banjaran? Kalau yang belum tahu Banjaran, bisa search di Google.
Kehidupan di VA Beach (Virginia Beach) ternyata tidak seramai pantai-pantai ternama lainnya seperti Hawaii dan Miami, tapi tetap saja gemerlap malamnya sangat luar biasa. Sekitar pukul 10 malam, kami sampai di sebuah pub yang tidak jauh dari pantai. Udara pantai sangat terasa. Lerry mulai menawarkan minuman yang sudah dia pesan untuk kami berempat.
Jujur saja, meminum minuman beralkohol sangat jarang aku lakukan semenjak tinggal di sini. Dulu pernah waktu masih tinggal di LA, itu pun karena ada tetangga sebelah yang merayakan pesta ulang tahun dan kebetulan aku diundang. Kebanyakan di sana minumannya khas dari Rusia. Yang sekarang kami minum pun dengan jenis yang sama.
Di antara kami berempat, Lerry-lah yang paling agresif. Melirik perempuan sana-sini, menggoda setiap perempuan yang berjalan di depan kami. Kami bertiga hanya tertawa melihat tingkahnya, apalagi kepalaku mulai terasa sedikit pusing. Karena kami merasa masih ada yang kurang, ada yang mengusulkan bagaimana kalau mampir ke sebuah kelab sebentar sebelum pulang. Akhirnya kami sepakat.
Tapi kami tidak masuk ke diskotek di daerah pantai sana—Lerry mungkin sudah punya tempat favoritnya—kami pun menuju kawasan Richmond, VA. Sekitar beberapa menit berkendara, Lerry-lah yang lihai dalam hal itu. Kami pun sampai.
NU Night Club nama tempatnya. (Promosi, karena saat itu sedang ada diskon, hitung-hitung balas budi). Alasannya karena tempat ini sangat strategis dan aman dari para gangster di sana, dengan keamanan yang ketat pula. Seperti saat kami mau masuk, wajib sekali melewati kotak pemeriksaan. Kabarnya, tidak jarang para selebriti di sana menghabiskan waktu luang di tempat ini.
Memang bukan kali pertama aku memasuki tempat clubbing seperti ini, tapi semenjak di sini, baru sekarang aku melakukannya.
Aku tidak ikut yang lainnya ke tengah untuk mengikuti alunan musik. Aku hanya duduk saja di bar. Seru juga. Beda sekali saat masih di Bandung, kawasan Pasir Kaliki. Masih ingat saat itu diajak beberapa teman kuliah, kebetulan di antara temanku ada yang sedang merayakan ulang tahun kala itu.
Karena aku hanya sendiri dan duduk saja, aku pun terus memesan minuman. Minum, minum, dan minum lagi. Dan yang aku ingat...
Aku terbangun di sebuah tempat tidur dengan sinar matahari yang langsung menyinari mataku; di sampingku ada seorang perempuan. Oh Tuhan! Apa yang telah terjadi?
Ternyata semalam aku terlalu banyak minum hingga akhirnya aku ambruk. Untungnya, temanku sewaktu kerja di LA, namanya Natally, masih mengenaliku. Kebetulan juga dia semalam ada di sana. Kabarnya dia juga pindah kantor ke daerah yang tidak jauh dari pantai, dan dia pun membawaku ke apartemennya.
Natally? Ternyata Amerika tidak terlalu luas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar kamu disini!👇✌️😁