Aku tidak langsung pergi setelah itu.
Langkahku sempat berhenti beberapa kali, tapi bukan karena ragu.
Lebih seperti tubuhku sedang menunggu sesuatu yang tidak kunjung datang—semacam rasa “akhir” yang biasanya menyertai sebuah jawaban besar.
Tapi tidak ada.
Hanya angin laut Sanur yang terus bergerak seperti tidak pernah ikut campur dalam hidup siapa pun.
⸻
Di belakangku, suara itu masih ada.
Frederica tidak mengejarku lagi.
Tidak memanggil.
Tidak memaksa.
Seolah dia juga tahu, ada titik di mana kata-kata hanya akan berubah menjadi gangguan.
⸻
Aku berjalan tanpa arah dulu.
Pasir panas di bawah kaki terasa nyata, tapi pikiranku seperti tidak menempel pada tubuh.
Semua terasa… jauh.
Seperti aku baru saja mendengar cerita tentang hidup orang lain, bukan hidupku sendiri.
⸻
Sampai akhirnya aku duduk.
Bukan di kursi.
Bukan di tempat tertentu.
Hanya di pinggir pantai, dekat batas air yang datang dan pergi tanpa peduli siapa pun yang sedang runtuh di atasnya.
⸻
Aku menatap laut.
Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, aku mencoba mengingat satu hal sederhana:
kapan terakhir kali aku benar-benar memilih sesuatu sendiri?
⸻
Jawabannya tidak ada.
Bahkan saat aku pikir aku menolak Fredy… aku tetap pergi ke Bali.
Bahkan saat aku pikir aku mengabaikan pesan… tiket itu sudah menungguku.
Bahkan saat aku pikir aku hidup normal… ternyata ada orang yang “mengawasi”.
⸻
Aku tertawa kecil.
Pelan.
Kosong.
Seperti suara yang keluar bukan dari mulut, tapi dari sesuatu yang sudah terlalu lelah di dalam dada.
⸻
“Jadi ini hidupku…” gumamku.
Tidak ada yang menjawab.
Tentu saja.
⸻
Beberapa menit berlalu.
Atau mungkin lebih lama.
Aku tidak tahu lagi.
Waktu mulai kehilangan bentuk sejak percakapan itu dimulai.
⸻
Lalu ponselku bergetar lagi.
Sekali.
Pendek.
Aku menatapnya lama sebelum membukanya.
Nama itu muncul lagi.
Fredy.
⸻
Pesannya hanya satu kalimat:
“Kamu sudah bertemu dengannya?”
⸻
Aku tidak langsung menjawab.
Tanganku diam.
Bukan karena takut.
Tapi karena untuk pertama kalinya, aku tidak tahu apa posisi kata “dia” dalam hidupku lagi.
⸻
Akhirnya aku mengetik:
“Aku sudah tahu semuanya.”
⸻
Pesan terkirim.
Beberapa detik.
Tidak ada balasan.
⸻
Lalu muncul lagi.
“Belum semuanya.”
⸻
Aku menutup mata.
Untuk pertama kalinya sejak lama, aku merasa marah.
Bukan ledakan.
Tapi jenis marah yang dingin.
Yang tidak butuh suara untuk hidup.
⸻
Aku berdiri.
Pasir jatuh dari kaki.
Dan aku berjalan lagi, kali ini lebih cepat.
⸻
Aku kembali ke hotel tanpa banyak sadar bagaimana caranya aku sampai.
Lift.
Koridor.
Pintu kamar.
Semua seperti berjalan sendiri.
⸻
Begitu masuk, aku duduk di lantai.
Bukan di ranjang.
Bukan di kursi.
Lantai dingin itu terasa paling jujur di seluruh ruangan.
⸻
Aku membuka laptop.
Tidak ada tujuan.
Tapi jari-jariku bergerak sendiri.
Seperti ada sesuatu yang sudah lama ingin keluar.
⸻
Nama pertama yang aku ketik:
FREDY
⸻
Tidak ada hasil yang baru.
Tidak ada yang jelas.
Semua sudah seperti sebelumnya—bayangan, rumor, berita lama.
⸻
Tapi aku tidak berhenti.
Aku mulai menggabungkan hal-hal kecil:
- Australia
- Rosi
- pesan-pesan lama
- “pengawasan”
- Nero
- Frederica
- Thailand
⸻
Semua itu aku tulis di satu layar.
Seperti mencoba memetakan sesuatu yang tidak pernah mau menjadi peta.
⸻
Dan di tengah semua itu…
aku melihat pola kecil.
Sangat kecil.
Terlalu kecil untuk disebut kebetulan.
⸻
Semua jalur selalu kembali ke satu titik:
Fredy tidak pernah benar-benar hilang.
Dia hanya berpindah bentuk.
⸻
Aku menatap layar lama-lama.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sedang mencari ayahku.
Aku merasa sedang… mengikuti jejak sesuatu yang sengaja membiarkan aku berjalan di belakangnya.
⸻
Lalu ada suara ketukan di pintu.
Pelan.
Satu kali.
⸻
Aku tidak bergerak.
Ketukan kedua.
Lebih pasti.
⸻
Aku berdiri perlahan.
Langkah ke pintu.
Tangan di gagang.
Berhenti sejenak.
⸻
Dan di kepala aku hanya satu pikiran sederhana:
kalau semua ini memang dirancang…
maka bahkan pintu ini pun bukan kebetulan.
⸻
Aku membuka pintu.
⸻
Di sana tidak ada Frederica.
Tidak ada Fredy.
Hanya sebuah amplop kecil di lantai.
Tanpa nama.
⸻
Aku mengambilnya.
Membuka.
Di dalamnya hanya satu lembar kertas.
⸻
Dan satu kalimat:
“Kalau kamu sudah mulai melihat pola, berarti kamu sudah terlalu jauh untuk kembali.”
⸻
Tanganku berhenti.
Kertas itu tidak gemetar.
Aku yang gemetar sedikit.
⸻
Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai…
aku sadar satu hal:
aku tidak pernah benar-benar “didekati” oleh masa laluku.
aku sedang “diaktifkan” oleh sesuatu yang sudah lama berjalan.
⸻
Aku menutup pintu perlahan.
Dan dunia di luar sana tetap berjalan seperti biasa.
⸻
Aku mulai mencerna semuanya.
Tanganku masih memegang amplop itu, tapi rasanya seperti benda itu sudah bukan sekadar kertas lagi—lebih seperti pintu kecil yang baru saja terbuka di tengah hidupku, dan aku tidak tahu apa yang ada di baliknya.
Aku membaliknya perlahan.
Di bagian belakang amplop itu, ada tulisan tangan.
Sebuah nama tempat.
Dan alamat.
“Rumah di Ubud.”
Tidak ada penjelasan lain. Tidak ada petunjuk tambahan. Hanya itu.
Tapi di bawahnya, ada satu kalimat pendek yang membuat dadaku sedikit mengencang.
Pengirim: Frederica.
⸻
Aku diam lama.
Nama itu masih terasa asing, tapi tidak lagi kosong. Ada bentuk. Ada wajah. Ada suara yang kemarin menangis di depan laut Sanur.
Ibuku.
Kalimat itu masih belum terasa benar di kepalaku, tapi juga tidak bisa lagi sepenuhnya aku tolak.
⸻
Keesokan harinya, aku pergi.
Perjalanan ke Ubud terasa seperti transisi yang aneh—dari laut ke hutan, dari suara ombak ke suara yang lebih dalam dan tertahan. Jalanan berkelok, pepohonan tinggi, udara yang lebih lembap, lebih sunyi.
Dan di tengah semua itu, kepalaku tidak benar-benar di tempat yang sama dengan tubuhku.
⸻
Setibanya di alamat itu, aku berhenti.
Rumahnya besar.
Bukan sekadar besar—tapi terlalu terawat, terlalu tenang, terlalu “terpisah” dari dunia luar. Pagar tinggi, taman rapi, bangunan yang berdiri seperti sesuatu yang tidak ingin diganggu oleh waktu.
Aku menekan bel.
Satu kali.
Tidak ada respons.
Aku menekan lagi.
Kali ini lebih lama.
⸻
Beberapa saat kemudian, pintu kecil di samping terbuka.
Seorang pria keluar.
Seragam rapi. Tatapan waspada tapi terlatih. Bukan penjaga biasa yang sekadar menjaga rumah—lebih seperti seseorang yang sudah terbiasa menjaga sesuatu yang tidak boleh diketahui orang luar.
“Ya?” tanyanya singkat.
“Aku… Nero,” kataku.
Nama itu keluar begitu saja. Tanpa ragu. Tanpa tambahan penjelasan.
Pria itu menatapku beberapa detik lebih lama dari yang nyaman, lalu mengangguk kecil.
“Silakan masuk.”
⸻
Gerbang terbuka.
Aku melangkah masuk.
Dan begitu kaki melewati batas itu, rasanya seperti masuk ke dunia yang berbeda.
⸻
Di dalam, rumah itu jauh lebih sunyi daripada yang terlihat dari luar.
Ruang tamu luas, langit-langit tinggi, sofa besar, meja marmer, lukisan-lukisan yang terlihat mahal tapi dingin. Ada barang-barang antik yang ditata seperti tidak untuk disentuh, hanya untuk dilihat dari jarak tertentu.
Semua terasa rapi.
Terlalu rapi.
Seolah tidak ada ruang untuk kekacauan di tempat ini.
⸻
Aku berdiri di tengah ruangan itu cukup lama sebelum akhirnya langkah kaki terdengar dari arah koridor.
Pelan.
Teratur.
Dan ketika aku menoleh…
dia ada di sana.
Frederica.
⸻
Tidak ada kejutan di wajahnya.
Hanya sesuatu yang lebih dalam.
Seperti seseorang yang sudah lama mempersiapkan momen ini, tapi tetap tidak pernah benar-benar siap menghadapinya.
“Duduk,” katanya pelan.
Aku tidak langsung bergerak.
Tapi akhirnya aku duduk di sofa yang berhadapan dengannya.
⸻
Kami diam beberapa detik.
Cukup lama sampai aku bisa mendengar jam di dinding berdetak terlalu jelas.
⸻
Aku memperhatikannya.
Wajahnya masih sama seperti di pantai Sanur kemarin—tapi sekarang tidak ada angin laut yang bisa menyamarkan apa pun.
Ada kelelahan di sana.
Ada rasa bersalah yang tidak disembunyikan dengan baik.
Dan ada sesuatu yang lebih sulit dijelaskan…
seperti seseorang yang sudah lama hidup dengan keputusan yang tidak pernah benar-benar selesai.
⸻
“Aku tidak tahu harus mulai dari mana,” katanya akhirnya.
Aku tidak menjawab.
Hanya menunggu.
⸻
“Fredy kadang menghubungiku,” lanjutnya pelan. “Tidak sering. Tidak langsung. Tapi dia selalu tahu cara meninggalkan kabar.”
Aku mengernyit sedikit.
“Jadi dia masih hidup?” tanyaku cepat.
Dia tidak langsung menjawab.
Dan jeda itu sudah cukup menjawab lebih banyak daripada kata-kata.
⸻
“Aku tidak tahu di mana dia sekarang,” katanya akhirnya. “Mungkin di suatu tempat. Mungkin tidak ingin ditemukan.”
Aku menatapnya tajam.
“Dia menghilang, tapi masih bisa mengirim kabar?”
Dia menunduk sedikit.
“Dia selalu seperti itu.”
⸻
Aku menarik napas panjang.
“Lalu aku?” tanyaku.
“Selama ini aku ada di mana?”
⸻
Matanya sedikit berubah saat mendengar itu.
Lebih berat.
Lebih manusia.
“Kamu tinggal dengan paman dan bibi di Bandung,” katanya.
Aku diam.
“Orang-orang itu…” lanjutnya pelan, “sebenarnya bukan keluarga kandungmu. Mereka dulu… bagian dari orang-orang yang bekerja dengan Fredy.”
⸻
Kata “bekerja” itu terasa terlalu ringan untuk sesuatu yang mungkin tidak pernah benar-benar ringan.
Aku tertawa kecil tanpa suara.
“Jadi dari kecil aku dititipkan ke orang yang bahkan bukan keluarga?”
Dia mengangguk pelan.
⸻
Hening lagi.
Tapi kali ini bukan hening yang kosong.
Hening yang penuh.
⸻
“Aku datang ke sini untuk apa?” tanyaku akhirnya.
⸻
Dia menatapku lama.
Lalu menjawab pelan.
“Aku hanya merindukanmu, Nero.”
⸻
Air matanya jatuh.
Satu.
Lalu berikutnya.
Tidak dramatis.
Tidak meledak.
Tapi cukup untuk membuat ruangan itu terasa lebih sempit.
⸻
Aku terdiam.
Bukan karena tidak percaya.
Tapi karena tidak tahu harus menaruh rasa itu di mana.
⸻
“Kamu sudah punya keluarga lain,” kataku pelan.
⸻
“Iya,” jawabnya langsung. “Tapi kamu tetap anakku.”
⸻
Kalimat itu tidak terdengar seperti alasan.
Lebih seperti sesuatu yang sudah terlalu lama dipendam, akhirnya keluar tanpa filter.
⸻
Dia menarik napas.
“Aku tidak minta kamu langsung percaya,” lanjutnya. “Tapi aku ingin mulai dari sini. Dari sekarang.”
⸻
“Mulai?” ulangku pelan.
⸻
“Iya,” katanya. “Aku akan ada untukmu sekarang.”
⸻
Aku menatapnya lama.
Ada bagian dari diriku yang ingin menerima itu tanpa syarat.
Tapi ada bagian lain yang sudah terlalu terbiasa hidup tanpa kepastian untuk bisa begitu saja percaya pada kata “sekarang”.
⸻
“Dan Fredy?” tanyaku akhirnya.
“Setelah semua ini… apa?”
⸻
Dia terdiam sejenak.
Lalu menjawab pelan.
“Kita cari dia.”
⸻
Aku tertawa kecil.
Kali ini benar-benar keluar.
Bukan lucu.
Bukan sedih.
Lebih seperti refleks dari sesuatu yang sudah terlalu absurd untuk diproses dengan serius.
⸻
“Jadi hidupku dari awal,” kataku pelan, “sekarang jadi proyek pencarian?”
⸻
Dia tidak menjawab langsung.
Tapi matanya tidak menghindar.
⸻
Dan untuk pertama kalinya sejak aku masuk rumah ini…
aku sadar sesuatu.
⸻
Aku tidak sedang pulang.
Aku sedang masuk lebih dalam ke sesuatu yang belum selesai sejak aku lahir.
Kami duduk berdua di sofa.
Tidak ada yang langsung bicara setelah itu.
Ruangan besar itu terasa semakin sunyi, seperti rumah ini ikut menahan napas bersama kami. Sesekali aku menatapnya. Bukan sebagai “orang asing” lagi, tapi juga belum sepenuhnya sebagai “ibu”.
Lebih seperti seseorang yang tiba-tiba punya tempat di cerita hidupku, tanpa sempat meminta izin dari kepalaku.
Dan di dalam semua kebingungan itu… ada sesuatu yang lain.
Rindu.
Pelan, tapi nyata.
Aku bahkan tidak tahu kapan tepatnya rasa itu muncul. Mungkin sejak aku mendengar suaranya di Sanur. Mungkin sejak aku melihat air matanya. Atau mungkin jauh sebelum itu, tanpa aku sadari sama sekali.
Tapi sekarang, di ruangan ini, semuanya terasa lebih jelas.
Aku tidak sendirian lagi dalam arti yang paling dasar.
Kedua orang tuaku masih ada.
Meskipun satu masih hilang di antara nama, bayangan, dan jejak yang tidak pernah utuh—Fredy.
⸻
Aku menarik napas pelan.
“Lalu kita mencarinya di mana?” tanyaku akhirnya.
Suaraku terdengar lebih tenang dari yang aku rasakan.
“Karena yang sedang mencarinya bukan cuma kita berdua. Polisi juga. Semua orang.”
Aku berhenti sebentar.
“Kalau dia memang seaktif itu… kita mulai dari mana?”
⸻
Frederica tidak langsung menjawab.
Dia menatap meja di depan kami, seperti sedang memilih kata yang tidak akan memecahkan sesuatu yang sudah rapuh.
“Biarkan semuanya tenang dulu,” katanya pelan.
Aku mengernyit sedikit.
“Tenang?”
Dia mengangguk.
“Jangan kita buat gerakan apa pun. Jangan tarik perhatian. Jangan ubah pola yang sudah ada.”
Aku menatapnya lebih tajam.
“Maksudmu kita diam saja?”
⸻
Dia menggeleng kecil.
“Bukan diam.”
Lalu dia menatapku langsung.
“Tapi mengikuti.”
⸻
Aku diam.
Kata itu terasa tidak nyaman di telingaku.
“Mengikuti siapa?”
⸻
“Dia,” jawabnya singkat. “Fredy.”
⸻
Aku tertawa kecil, kali ini tanpa bisa ditahan.
“Fredy itu buronan. Bukan orang yang bisa diikuti.”
⸻
“Tapi dia selalu meninggalkan arah,” katanya tenang. “Selalu ada pola. Selalu ada jejak, walaupun samar.”
Aku terdiam.
Karena bagian itu… tidak sepenuhnya salah.
⸻
Frederica melanjutkan.
“Kalau kita mulai bergerak sekarang, dia akan menghilang lagi. Atau lebih buruk… dia akan berhenti memberi akses.”
Aku menatapnya lama.
“Jadi kamu ingin aku jadi apa?”
⸻
Dia tidak ragu menjawab.
“Kamu jadi titik yang dia tidak bisa abaikan.”
⸻
Kata-kata itu jatuh pelan, tapi berat.
Aku menatapnya, mencoba memastikan aku tidak salah dengar.
“Jelaskan.”
⸻
Dia menarik napas pelan.
“Selama ini dia masih mengirim pesan ke kamu. Masih mengarahkan hidupmu. Masih memastikan kamu tetap berada di jalur tertentu.”
Aku mengangguk pelan, tidak sepenuhnya nyaman dengan fakta itu, tapi juga tidak bisa membantah.
“Ya.”
⸻
“Berarti,” lanjutnya, “kamu bukan sekadar anak yang dia tinggalkan.”
Dia berhenti sebentar.
“Kamu adalah satu-satunya hal yang masih dia pantau secara aktif.”
⸻
Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih dingin.
Aku bersandar sedikit ke sofa.
“Dan kamu ingin memanfaatkan itu.”
⸻
Dia tidak membantah.
Itu cukup untuk membuat jawabannya jelas.
⸻
“Jadi,” kataku pelan, “kita tidak mencari dia.”
Aku menatapnya.
“Kita menunggu dia datang ke kita.”
⸻
Frederica mengangguk.
“Ke kamu,” koreksinya lembut.
⸻
Aku menatap lantai.
Beberapa detik aku hanya diam, mencoba menyusun ulang semua yang baru saja kudengar.
Di satu sisi, ada logika dingin yang masuk akal.
Di sisi lain, ada sesuatu yang terasa salah… seperti aku sedang diposisikan bukan sebagai orang, tapi sebagai umpan dalam permainan yang tidak pernah aku setujui.
⸻
“Dan kalau dia tidak datang?” tanyaku akhirnya.
⸻
Frederica terdiam sedikit lebih lama dari sebelumnya.
Lalu dia menjawab pelan.
“Dia akan datang.”
⸻
Aku menoleh lagi padanya.
“Kenapa kamu begitu yakin?”
⸻
Untuk pertama kalinya, dia tersenyum kecil.
Bukan senyum bahagia.
Lebih seperti senyum seseorang yang sudah lama hidup dengan satu kepastian yang tidak menyenangkan.
“Karena dia selalu kembali ke hal yang dia tinggalkan paling penting.”
⸻
Aku menelan ludah.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku masuk rumah ini, aku merasa bukan hanya sedang mendengar cerita tentang Fredy.
Tapi sedang perlahan ditempatkan di tengah sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pencarian.
Sesuatu yang dari awal mungkin memang tidak pernah berniat melepaskanku.
---
Aku terdiam beberapa saat setelah kata-katanya berhenti menggantung di udara.
Tidak ada tambahan penjelasan dari Frederica. Tidak ada upaya untuk meyakinkanku lebih jauh. Hanya keheningan yang terasa seperti batas halus antara apa yang baru saja aku dengar… dan apa yang belum sempat aku pahami.
Aku menarik napas pelan.
Lalu berdiri.
⸻
“Aku pamit dulu,” kataku akhirnya.
Suaraku terdengar datar, tapi di dalamnya ada sesuatu yang belum selesai—bukan marah, bukan juga setuju. Lebih seperti aku sedang butuh jarak untuk memastikan semua ini benar-benar nyata.
Frederica langsung menatapku.
Seperti ada refleks kecil di wajahnya, seolah dia ingin menahan, tapi tidak berani.
“Kamu mau kembali ke hotel?” tanyanya pelan.
Aku mengangguk.
“Ya.”
⸻
Dia tidak langsung menjawab.
Tangannya sempat bergerak sedikit di atas lututnya, ragu, seperti seseorang yang baru saja menemukan kembali sesuatu yang hampir hilang, lalu takut kalau disentuh terlalu cepat akan menghilang lagi.
“Aku… tidak memaksa kamu tinggal di sini,” katanya akhirnya.
Aku mengangguk lagi, lebih pelan.
“Aku tahu.”
⸻
Hening.
Dan di dalam hening itu, ada banyak hal yang tidak diucapkan—tentang dua puluh tahun yang hilang, tentang nama yang tiba-tiba punya wajah, tentang Fredy yang masih menjadi bayangan di setiap percakapan.
Aku melangkah ke arah pintu.
Sebelum benar-benar keluar, aku berhenti sebentar.
Tidak menoleh.
Hanya berkata pelan.
“Kalau semua ini benar… berarti aku baru mulai hidup, ya?”
⸻
Tidak ada jawaban langsung.
Tapi aku mendengar suara kursi bergeser di belakangku, sangat pelan.
Seperti seseorang yang tidak tahu apakah harus menjawab dengan jujur atau menahan semuanya sedikit lebih lama.
⸻
Aku keluar dari rumah itu.
Pintu tertutup di belakangku dengan suara yang tidak keras, tapi cukup untuk terasa seperti garis pemisah.
Di luar, udara Ubud lebih sejuk. Angin bergerak pelan di antara pepohonan, membawa aroma tanah dan daun yang basah.
Tapi kepalaku justru tidak ikut tenang.
⸻
Di mobil dalam perjalanan kembali ke hotel, aku duduk diam.
Jalanan Ubud yang hijau, lengang, dan berkelok-kelok terasa seperti dunia yang tidak peduli pada percakapan yang baru saja terjadi di dalam sebuah rumah besar.
Aku bersandar ke jendela.
Melihat keluar.
Tapi tidak benar-benar melihat apa pun.
⸻
Di kepalaku, satu kalimat terus berulang.
“Kamu adalah satu-satunya hal yang masih dia pantau secara aktif.”
⸻
Aku menghela napas panjang.
Pelan.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku merasa bukan sedang mengejar sesuatu.
Tapi sedang… diposisikan.
⸻
Dan entah kenapa, perasaan itu tidak membuatku takut sepenuhnya.
Lebih buruk dari itu.
Itu membuatku merasa… sudah terlambat untuk mundur.
