Nero is My Name (Part 1)
Namaku Nero.
Aku 20 tahun, mahasiswa di salah satu universitas negeri di Jakarta, jurusan teknologi komputer dan cyber.
Kalau orang melihatku sekilas, aku terlihat biasa saja. Tidak terlalu menonjol, tidak juga menarik perhatian berlebihan. Aku lebih sering diam daripada banyak bicara, dan biasanya hanya berbicara kalau memang perlu.
⸻
Aku berasal dari Bandung.
Sejak kecil aku tidak tinggal dengan orang tua. Aku dibesarkan oleh bibi dan pamanku di sebuah rumah sederhana.
Mereka tidak pernah memperlakukanku buruk. Hidupku cukup normal, sekolah seperti anak-anak lain, makan cukup, dan tidak kekurangan kebutuhan dasar.
Tapi tetap saja, ada bagian dari hidupku yang terasa kosong—bukan karena kekurangan materi, tapi karena aku tidak pernah benar-benar tahu cerita lengkap tentang orang tuaku.
Dan lama-kelamaan aku berhenti bertanya.
⸻
Di sekolah, aku termasuk siswa yang cukup baik dalam pelajaran.
Terutama yang berhubungan dengan logika, matematika, dan komputer.
Aku tidak pernah jadi yang paling menonjol di kelas, tapi nilai-nilaiku stabil.
Cukup untuk membuatku bisa masuk universitas negeri di Jakarta tanpa masalah besar.
Aku memilih jurusan teknologi komputer dan cyber karena memang itu bidang yang paling aku sukai.
Aku selalu penasaran bagaimana sistem bekerja di balik layar.
⸻
Sekarang aku tinggal di kos sederhana, tidak jauh dari kampus.
Kamarku kecil. Ada kasur, meja belajar, lemari kecil, dan laptop yang hampir selalu aku gunakan setiap hari.
Tidak ada yang istimewa di tempat ini.
Tapi cukup untuk hidup seorang mahasiswa.
⸻
Hobiku adalah berselancar di internet.
Bukan sekadar media sosial atau hiburan.
Aku suka membaca forum lama, melihat arsip yang sudah jarang diakses, atau sekadar mempelajari hal-hal teknis yang tidak banyak orang pedulikan.
Kadang aku hanya membaca tanpa tujuan jelas.
⸻
Malam itu hujan turun cukup deras di Jakarta.
Aku sudah berada di kos sejak sore.
Seperti biasa, aku duduk di depan laptop.
Mengerjakan beberapa hal kecil, lalu membuka internet tanpa tujuan tertentu.
Sampai aku menerima sebuah email.
⸻
Email itu tidak memiliki subjek yang jelas.
Tidak ada nama pengirim yang bisa dikenali.
Hanya satu kalimat pendek di dalamnya:
“Aku menemukan sesuatu yang seharusnya tidak dibuka sembarangan.”
Di bawahnya ada satu link.
Tidak ada penjelasan lain.
⸻
Awalnya aku mengabaikannya.
Tapi rasa penasaran itu muncul begitu saja.
Aku membuka link tersebut.
Halaman yang muncul terlihat seperti situs biasa pada awalnya.
Sederhana, tanpa desain yang mencolok.
Tapi semakin aku membaca, semakin terasa bahwa ini bukan situs publik.
Beberapa bagian seperti akses internal, bukan untuk umum.
Di salah satu halaman, aku menemukan data yang mengarah ke sebuah badan kepolisian.
Strukturnya terlihat seperti sistem internal—bukan informasi yang biasanya bisa diakses publik.
Aku terdiam cukup lama.
Aku tidak yakin ini nyata atau hanya tampilan palsu.
Tapi semua detailnya terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
⸻
Di dalam situs itu, ada satu bagian lagi yang membuatku berhenti.
Sebuah link lain.
Ketika kubuka, itu mengarah ke sebuah halaman login akun bank.
Dan anehnya…
akun itu sudah terbuka.
Di dalamnya terlihat saldo dalam jumlah besar.
Terlalu besar untuk sebuah akun biasa.
Aku tidak langsung percaya apa yang kulihat.
Aku hanya menatap layar, diam cukup lama.
⸻
Tanganku berhenti di atas mouse.
Aku tahu ini bukan hal normal.
Aku juga tahu aku seharusnya menutup semuanya saat itu juga.
Tapi ada sesuatu yang menahan aku.
Bukan karena uangnya.
Tapi karena satu hal yang terus muncul di kepalaku sejak email itu datang:
Siapa yang mengirim ini… dan kenapa aku?
⸻
Dan malam itu, aku tidak menutup laptopku.
Aku hanya duduk diam.
Melihat layar yang sama.
Sambil tanpa sadar…
aku baru saja melangkah masuk ke sesuatu yang tidak pernah aku rencanakan.
⸻
Aku tetap mencoba menjalani hidup seperti biasa.
Kuliah semester dua berjalan seperti normal.
Datang ke kampus, duduk di kelas, mencatat materi, lalu pulang.
Dari luar, tidak ada yang berubah.
Tapi di kepalaku, semua tidak pernah benar-benar kembali normal.
⸻
Email itu masih ada di pikiranku.
Dan situs yang pernah kubuka itu.
Aku berusaha mengabaikannya, tapi justru semakin sering muncul di kepala.
Bukan karena aku mencari jawaban…
tapi karena aku merasa ada sesuatu yang belum selesai.
⸻
Suatu hari sepulang kuliah, aku kembali ke kos lebih cepat.
Kos sedang sepi.
Aku duduk di meja, menyalakan laptop.
Tanganku sempat berhenti sebelum membuka browser.
Aku tahu ini tidak seharusnya kulakukan lagi.
Tapi aku tetap melakukannya.
⸻
Situs itu masih bisa diakses.
Tampilannya tidak berubah.
Aku mulai membuka beberapa file di dalamnya.
Isinya tetap seperti sebelumnya—data, catatan, dan struktur yang terlihat seperti sistem internal.
Aku berhenti di satu dokumen.
Judulnya:
Pasal 609
Aku membaca pelan-pelan.
Isinya membahas tindak pidana narkotika dalam KUHP terbaru, dengan tambahan catatan penyelidikan dan pengembangan kasus.
Di bawahnya ada daftar kasus.
Dan satu bagian menarik perhatianku:
“24 Tersangka Kasus Narkotika – Malaysia (5 Bulan Terakhir)”
Aku mulai membaca satu per satu nama yang tercantum.
Sebagian hanya nama yang tidak kukenal.
Tapi satu nama membuatku berhenti.
⸻
Nama itu terasa familiar.
Aku ingat pernah melihatnya di berita besar beberapa hari sebelumnya.
Kasusnya cukup ramai dibicarakan.
Tapi yang membuatku berhenti bukan itu saja.
⸻
Dari berita yang pernah kulihat, orang yang disebut sebagai dalang utama kasus itu belum tertangkap.
Yang berhasil diamankan hanya beberapa kaki tangannya.
Sedangkan sosok yang diduga mengendalikan jaringan itu masih buron.
⸻
Aku menatap layar cukup lama.
Lalu aku membuka tab baru untuk mencari berita lama itu.
Dan benar.
Nama yang ada di situs itu cocok dengan salah satu nama yang muncul di berita.
⸻
Aku kembali ke halaman sebelumnya.
Lalu memperhatikan bagian kecil di bawah data.
Ada informasi tambahan tentang kontak sistem.
Sebuah alamat email.
Username-nya terlihat seperti rangkaian huruf acak.
Tapi saat aku perhatikan lebih lama…
ada pola yang terasa tidak asing.
⸻
Aku mencoba mengingat email yang pernah mengirim link kepadaku.
Email tanpa nama pengirim itu.
Yang hanya berisi satu link dan satu kalimat pendek.
⸻
Aku mulai mencocokkan pola hurufnya.
Dan perlahan, aku mulai menyadari sesuatu.
Username email itu tidak benar-benar acak.
Ada bagian yang mirip dengan pola di sistem ini.
Seperti keduanya saling terhubung.
⸻
Aku menatap layar cukup lama tanpa bergerak.
Lalu kembali ke halaman utama situs itu.
Aku membuka bagian akun bank yang sebelumnya kutemukan.
Akun itu masih aktif.
Saldo masih ada.
Terlalu besar untuk sesuatu yang bisa disebut normal.
⸻
Aku tidak menyentuh apa pun.
Aku hanya diam.
Tapi kali ini pikiranku tidak lagi sederhana.
⸻
Kalau nama itu benar-benar terkait dengan sistem ini…
berarti ini bukan sekadar situs yang kebetulan aku temukan.
Dan kalau email itu memang benar ditujukan kepadaku…
berarti aku tidak hanya menemukan sesuatu.
Tapi ditarik masuk ke dalam sesuatu.
⸻
Aku menutup laptop pelan.
Bukan karena sudah selesai.
Tapi karena aku mulai sadar satu hal:
Aku tidak sedang melihat data biasa.
Aku sedang melihat sesuatu yang sedang berjalan…
dan aku sudah masuk ke dalam alurnya.
⸻
Nero is My Name.
Dan sejak saat itu, aku tidak lagi yakin mana yang kebetulan…
dan mana yang sebenarnya sudah direncanakan sejak awal.
⸻
Siap, aku lanjutkan tetap di Part 1, dengan gaya yang tetap sederhana dan masuk akal.
⸻
Rasa penasaranku semakin lama semakin tidak bisa aku kontrol.
Pertanyaan itu terus muncul di kepalaku.
Kenapa semua ini dikirim ke aku?
Kenapa aku?
⸻
Aku kembali membuka laptop.
Kali ini aku tidak hanya melihat situsnya.
Aku mencoba melacak sumber email itu.
Aku mulai mencari jejak IP address pengirim.
Awalnya terlihat seperti berpindah-pindah lokasi.
Seperti seseorang yang sengaja menyembunyikan posisinya.
Mungkin menggunakan VPN atau fake location.
⸻
Tapi aku tidak berhenti di situ.
Aku memang sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini.
Bukan karena aku ahli besar, tapi karena dari dulu aku memang suka mempelajari pola dan jejak digital.
Hobi yang mungkin tidak dimiliki kebanyakan orang seumuranku.
⸻
Aku mulai mengamati pola pergerakan IP itu.
Perpindahannya tidak benar-benar acak.
Ada ritme tertentu.
Ada momen di mana ia berhenti lebih lama di satu titik.
Dan dari situ aku mulai menyaring kemungkinan lokasi asli.
⸻
Setelah cukup lama mencoba, aku akhirnya menemukan satu titik yang paling konsisten.
IP address asli itu muncul di satu wilayah yang lebih stabil dibandingkan lainnya.
Aku tidak yakin 100 persen, tapi ini adalah hasil paling masuk akal dari semua data yang ada.
⸻
Aku menatap layar cukup lama.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku mengambil keputusan sederhana.
Aku membalas email itu.
⸻
Aku menulis singkat:
“Siapa kamu? Kenapa mengirim ini ke aku?”
Tidak banyak harapan sebenarnya.
Aku pikir tidak akan ada balasan.
⸻
Tapi beberapa menit kemudian, email masuk.
Balasan datang.
⸻
Isi pesannya pendek.
Terlalu pendek untuk sesuatu yang selama ini terasa rumit.
⸻
“Kamu adalah orang penting dalam hidupku.”
“Tidak ada yang tahu tentangmu.”
“Aku butuh bantuanmu untuk mengakses beberapa informasi dari kepolisian yang sedang mengejarku.”
⸻
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Dan di bagian paling bawah email itu, ada satu nama.
⸻
Fredy.
⸻
Aku berhenti bergerak.
Nama itu terasa seperti sudah pernah aku dengar, tapi tidak jelas dari mana.
Aku mencoba mengingat.
Berita? Forum? Atau data yang tadi aku lihat di situs itu?
⸻
Tapi satu hal langsung terasa jelas.
Ini bukan sekadar pesan acak.
Orang ini tahu aku.
Dan dia tidak menghubungiku tanpa alasan.
⸻
Aku menutup laptop pelan.
Tapi kali ini bukan karena takut.
Lebih karena pikiranku mulai dipenuhi satu kemungkinan baru:
Kalau Fredy benar-benar mengenalku…
berarti aku mungkin bukan hanya penonton dari semua ini.
Tapi bagian dari sesuatu yang lebih lama dari yang aku sadari.
⸻
Nero is My Name.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya…
aku mulai merasa bahwa jawabannya tidak akan datang dengan mudah.
⸻

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar kamu disini!👇✌️😁