Pemilihan umum 2024 akhirnya berakhir.
Indonesia tetap berjalan seperti biasa di mata sebagian besar masyarakat. Berita berganti setiap hari. Tokoh-tokoh politik saling mengklaim kemenangan. Para pendukung kembali menjalani hidup mereka masing-masing.
Namun bagiku, semuanya justru baru dimulai.
Selama berbulan-bulan aku menyimpan satu rencana yang tidak pernah kuberitahukan kepada siapa pun.
Aku masih menjalankan tugasku sebagai Rangga. Aku masih hadir dalam rapat. Masih membuat laporan. Masih terlihat sebagai bagian dari sistem.
Tetapi diam-diam, aku sedang menyiapkan jalan keluar terakhir.
Aku sudah terlalu lama hidup di dunia yang dipenuhi rahasia.
Terlalu banyak organisasi.
Terlalu banyak kebohongan.
Terlalu banyak orang yang menganggap manusia hanya sebagai aset yang bisa digunakan lalu dibuang kapan saja.
Aku tidak ingin menjadi bagian dari semuanya lagi.
Setelah pemilihan umum selesai, aku mengajukan cuti beberapa minggu.
Secara resmi aku pergi untuk berlibur.
Tidak ada yang mencurigakan.
Setidaknya itulah yang mereka pikirkan.
Padahal tujuan sebenarnya jauh berbeda.
Aku pergi ke sebuah negara yang selama bertahun-tahun selalu muncul di berbagai laporan intelijen yang pernah kubaca.
Negara itu bukan tujuan wisata bagiku.
Negara itu adalah tujuan pelarian.
Di sanalah aku bertemu dengan sebuah organisasi yang sebelumnya hanya kukenal dari potongan-potongan informasi yang tersebar di berbagai dokumen rahasia.
Pertemuan itu berlangsung tertutup.
Tanpa nama.
Tanpa catatan resmi.
Tanpa jejak.
Mereka sudah mengetahui siapa aku.
Mereka mengetahui siapa Rian.
Siapa Randy.
Siapa Rangga.
Bahkan mereka mengetahui identitas-identitas lain yang pernah kugunakan selama bertahun-tahun.
Dan yang lebih mengejutkan, mereka mengetahui data-data yang kubawa.
Data dari Amerika.
Data dari Rusia.
Data dari Cina.
Data dari Indonesia.
Data yang selama bertahun-tahun menjadi alasan mengapa aku terus diburu.
Mereka tidak melihatku sebagai agen.
Mereka melihatku sebagai seseorang yang membawa informasi bernilai tinggi.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, ada pihak yang menawarkan sesuatu yang selama ini tidak pernah diberikan siapa pun.
Kebebasan.
Bukan kebebasan semu.
Bukan kebebasan yang disertai kontrak.
Bukan kebebasan yang harus dibayar dengan loyalitas.
Melainkan kesempatan untuk benar-benar menghilang.
Mereka menawarkan identitas baru yang tidak terhubung dengan masa laluku.
Dokumen baru.
Riwayat hidup baru.
Akses keuangan baru.
Bahkan wajah baru.
Aku sempat menganggapnya gila.
Namun setelah bertahun-tahun hidup dalam dunia yang sama gilanya, tawaran itu justru terdengar masuk akal.
Beberapa bulan kemudian semuanya selesai.
Pria yang menatap cermin kini bukan lagi orang yang sama.
Wajahnya berbeda.
Namanya berbeda.
Identitasnya berbeda.
Dan yang paling penting, tidak ada lagi hubungan yang bisa ditelusuri menuju Rian, Randy, atau Rangga.
Sebagai imbalannya, seluruh data yang kubawa berpindah tangan.
Aku tidak pernah bertanya apa yang akan mereka lakukan terhadap informasi itu.
Aku juga tidak ingin tahu.
Yang kuinginkan hanya satu.
Kesempatan untuk hidup normal.
Ketika semuanya selesai, aku kembali ke Indonesia.
Bukan ke Jakarta.
Bukan ke kantor.
Bukan ke dunia lama yang pernah mengenalku.
Aku memilih Bali.
Tempat yang selama ini hanya kulihat sebagai tujuan wisata.
Aku membeli sebuah rumah besar yang menghadap laut.
Tidak terlalu mencolok.
Tetapi cukup jauh dari keramaian.
Setiap pagi aku bisa mendengar suara ombak.
Setiap sore aku bisa melihat matahari tenggelam dari teras rumah.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak perlu memeriksa apakah ada kendaraan yang mengikutiku.
Tidak perlu mengganti nomor telepon setiap minggu.
Tidak perlu menghafal jalur pelarian.
Aku bahkan bekerja di sebuah kafe kecil dekat pantai.
Bukan karena membutuhkan uang.
Uang bukan lagi masalah.
Aku bekerja karena ingin merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah kumiliki.
Kehidupan biasa.
Melayani pelanggan.
Menyeduh kopi.
Berbicara dengan wisatawan.
Tertawa tentang hal-hal sederhana.
Aktivitas yang dulu terlihat membosankan kini terasa mewah.
Hari demi hari berlalu.
Minggu berganti bulan.
Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Indonesia bertahun-tahun lalu, aku mulai merasakan sesuatu yang hampir terlupakan.
Ketenangan.
Aku bukan agen.
Bukan aset.
Bukan target.
Bukan buronan.
Aku hanyalah seseorang yang hidup di tepi pantai.
Seseorang yang setiap pagi membuka kafe dan setiap malam pulang ke rumahnya sendiri.
Kadang-kadang aku masih terbangun di tengah malam.
Masih ada mimpi tentang ruang interogasi.
Tentang David.
Tentang Sofia.
Tentang Mrs. Anne.
Tentang semua orang yang pernah hadir dalam hidupku.
Namun perlahan mimpi-mimpi itu mulai memudar.
Seperti ombak yang menghapus jejak kaki di pasir.
Aku mulai percaya bahwa semuanya benar-benar telah berakhir.
Bahwa akhirnya aku berhasil lolos dari permainan yang selama bertahun-tahun mengendalikan hidupku.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahagia.
Benar-benar bahagia.
Setidaknya…
itulah yang kupikirkan saat itu.
Karena aku belum tahu bahwa masa lalu memiliki cara yang aneh untuk menemukan orang-orang yang berusaha melupakannya.
Aku pernah memiliki banyak nama.
Rian.
Randy.
Rangga.
Dan mungkin beberapa nama lain yang bahkan sudah tidak lagi kuingat.
Setiap nama membawa kehidupan yang berbeda.
Setiap kehidupan meninggalkan luka yang berbeda.
Aku pernah percaya bahwa keberuntungan mengubah hidupku.
Aku pernah percaya bahwa sebuah tiket menuju Amerika adalah awal dari mimpi yang menjadi kenyataan.
Aku pernah percaya bahwa kerja keras akan membawaku menuju kehidupan yang lebih baik.
Ternyata tidak semua jalan yang terlihat terang benar-benar membawa seseorang menuju kebahagiaan.
Sebagian jalan hanya membawa kita semakin jauh dari rumah.
Selama bertahun-tahun aku berlari.
Dari satu negara ke negara lain.
Dari satu organisasi ke organisasi lain.
Dari satu identitas ke identitas berikutnya.
Aku kehilangan banyak hal di sepanjang perjalanan.
Aku kehilangan teman.
Aku kehilangan kepercayaan.
Aku kehilangan kesempatan untuk hidup seperti manusia biasa.
Dan yang paling menyakitkan…
Aku kehilangan waktu.
Waktu yang tidak akan pernah kembali.
Waktu yang seharusnya bisa kuhabiskan bersama orang-orang yang kucintai.
Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, apakah semua ini layak?
Apakah semua rahasia yang kusimpan sebanding dengan semua yang harus kukorbankan?
Aku tidak pernah menemukan jawabannya.
Karena setiap kali aku merasa semakin dekat dengan kebenaran, aku justru semakin jauh dari diriku sendiri.
Yang paling sulit bukanlah hidup sebagai agen.
Bukan hidup sebagai buronan.
Bukan hidup dengan ancaman kematian.
Yang paling sulit adalah menerima bahwa aku tidak bisa pulang.
Aku tidak bisa kembali menjadi anak yang dulu berpamitan kepada ibunya dengan penuh harapan.
Aku tidak bisa kembali menjadi kakak yang dulu bercanda dengan Nina.
Aku tidak bisa lagi duduk di ruang tamu rumah sederhana kami sambil mendengarkan suara televisi yang terlalu keras.
Aku tidak bisa lagi merayakan ulang tahun bersama mereka.
Tidak bisa lagi meminta maaf atas semua ketidakhadiranku.
Tidak bisa lagi menjelaskan ke mana sebenarnya aku pergi selama bertahun-tahun.
Mereka mengenang seseorang yang bernama Rian.
Padahal orang itu sudah lama menghilang.
Ada hari-hari ketika aku ingin menelepon mereka.
Sekadar mendengar suara mereka.
Sekadar memastikan bahwa mereka baik-baik saja.
Namun aku tahu aku tidak bisa.
Karena semakin dekat aku kepada mereka, semakin besar bahaya yang akan mengikuti.
Maka aku memilih menjadi orang asing.
Bukan karena aku berhenti mencintai mereka.
Justru karena aku terlalu mencintai mereka.
Aku pernah berpikir bahwa kebebasan adalah ketika tidak ada lagi orang yang mengejarku.
Sekarang aku mengerti bahwa kebebasan memiliki bentuk yang jauh lebih sederhana.
Kebebasan adalah bisa bangun pagi tanpa rasa takut.
Kebebasan adalah berjalan di bawah matahari tanpa harus melihat ke belakang.
Kebebasan adalah hidup sebagai diri sendiri tanpa harus berbohong kepada siapa pun.
Dan setelah semua yang terjadi…
Akhirnya aku menemukan itu.
Di sebuah tempat yang jauh dari pusat kekuasaan.
Jauh dari ruang rapat.
Jauh dari senjata.
Jauh dari dunia yang pernah mengubah hidupku.
Setiap pagi aku mendengar suara ombak.
Setiap sore aku melihat matahari tenggelam di ufuk yang sama.
Aku membuat kopi.
Aku berbicara dengan orang-orang yang tidak mengenal masa laluku.
Aku tertawa untuk hal-hal kecil yang dulu tidak pernah sempat kunikmati.
Tidak ada yang memanggilku agen.
Tidak ada yang memanggilku aset.
Tidak ada yang memanggilku target.
Aku hanyalah manusia biasa.
Dan mungkin…
selama inilah yang sebenarnya kucari.
Bukan uang.
Bukan kekuasaan.
Bukan rahasia.
Melainkan kesempatan untuk hidup.
Jika suatu hari nanti seseorang membaca kisah ini, mungkin mereka akan mengingat berbagai operasi rahasia, berbagai negara, atau berbagai organisasi yang pernah terlibat.
Namun aku berharap mereka mengingat satu hal yang lebih sederhana.
Bahwa di balik semua nama yang pernah kugunakan…
Aku hanyalah seseorang yang ingin pulang.
Meskipun pada akhirnya rumah yang kucari bukanlah sebuah tempat.
Melainkan ketenangan.
Dan setelah perjalanan yang terasa seperti seumur hidup…
Akhirnya aku menemukannya.
Di tepi pantai.
Di bawah langit yang tenang.
Dengan nama yang tidak lagi penting.
Dengan masa lalu yang perlahan memudar.
Dan dengan hati yang akhirnya bisa berkata:
Aku sudah lelah berlari.
Sekarang…
aku ingin hidup.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar kamu disini!👇✌️😁