Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Sabtu, 04 Juli 2026

Nero is My Name (Part 8)



Aku dihubungi oleh Rosi. 


Nada suaranya kali ini tidak seperti biasanya.


Lebih cepat.

 

Lebih langsung.


Seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ingin diucapkan.



“Ada orang lain,” katanya.


“Yang mungkin mengenal kamu… selain Fredy.”


Aku terdiam.



“Siapa?”



Rosi tidak langsung menjawab.


Hening sebentar.


Lalu hanya satu kalimat.


“Tanyakan ke Fredy.”



Kalimat itu membuat dadaku sedikit mengeras.


Bukan karena jawabannya.


Tapi karena cara dia menyampaikannya.


Seolah nama itu sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.



Aku akhirnya bertanya langsung ke Fredy malam itu.


Tidak banyak basa-basi.


Hanya satu pertanyaan.



“Siapa Satria?”



Jawaban Fredy datang tanpa emosi.


Singkat.


Tegas.



“Dia ada di Nusakambangan.”



Aku membaca ulang kalimat itu.


Nusakambangan.


Tahanan.



Lalu Fredy melanjutkan.


Satria adalah seseorang yang pernah sangat dekat dengan struktur lama.


Dan yang lebih penting…


dia adalah ayah dari Fredy.



Aku diam cukup lama.



Berarti dia adalah kakekku.



Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku merasa struktur keluarga ini bukan lagi sekadar hubungan darah.


Tapi seperti rantai yang terhubung ke sesuatu yang lebih tua.


Lebih dalam.


Dan lebih berbahaya.



Rosi kemudian menjelaskan detailnya.


Satria sudah lebih dulu ditangkap.


Bahkan sebelum MR.


Sebelum Frans.


Sebelum semua nama yang selama ini muncul di permukaan.



Seolah dia adalah titik awal dari seluruh rangkaian yang sekarang sedang runtuh satu per satu.



Aku menatap layar cukup lama setelah itu.


Lalu bertanya pada Rosi.



“Apakah aku harus menemuinya?”



Jawabannya datang cepat.


Tegas.



“Jangan.”



Tidak ada ruang diskusi.


Tidak ada kompromi.



“Kalau kamu muncul di sana,” lanjutnya,


“itu akan menarik perhatian.”


“Bukan cuma aparat. Tapi juga orang-orang yang sedang memburu jaringan Fredy.”



Aku tidak membantah.


Tapi juga tidak benar-benar merasa tenang.



Akhirnya aku mengikuti sarannya.


Tetap diam.


Tetap di Jakarta.


Tetap menjalani hari seperti biasa.


Seolah tidak ada apa pun yang berubah.


Padahal semuanya sudah berubah sejak lama.



Beberapa hari setelah itu, aku mulai bertanya lagi pada Fredy.


Bukan tentang masa lalu.


Bukan tentang Satria.


Tapi tentang sesuatu yang lebih dekat.



“Kamu punya anak selain aku?”



Jawaban Fredy datang cepat.



“Tidak.”



Hanya itu.



“Anakmu hanya kamu.”



“Tidak ada yang lain.”



Aku membaca itu berulang kali.


Seperti memastikan tidak ada ruang untuk interpretasi lain.



Aku satu-satunya.


Satu-satunya yang diketahui oleh Fredy.


Dan mungkin… satu-satunya yang tidak pernah benar-benar hidup di dunia yang sama seperti dia.



Selain Fredy, hanya paman, bibi, dan Rosi yang tahu keberadaanku.


Dan itu saja sudah terasa terlalu banyak.



Aku berhenti mencari tentang Frederica.


Bukan karena aku menemukan jawabannya.


Tapi karena aku mulai menerima bahwa mungkin jawaban itu memang tidak akan pernah utuh.



Frederica ada di Thailand.


Itu yang aku tahu.


Dan untuk pertama kalinya, itu cukup.



Aku tidak lagi mengejar nama itu.


Tidak lagi mencoba menyusunnya menjadi sesuatu yang bisa kupahami.



Seolah sebagian diriku sudah menyerah.


Bukan karena tidak peduli.


Tapi karena terlalu lelah untuk terus membuka pintu yang tidak pernah memberi bentuk jelas.



Sampai suatu malam, ponselku bergetar lagi.



Pesan dari Fredy.



“Target selanjutnya.”



Aku membaca itu pelan.


Lalu pesan berikutnya muncul.



“File diterima.”


“Nama: EOSH”



Aku menatap layar lebih lama dari biasanya.



Pejabat kementerian hukum.



Nama baru.


Struktur baru.


Target baru.



Aku bertanya.



“Kenapa dia harus ditangkap?”



Jawaban Fredy datang seperti biasa.


Singkat.



“Dia pernah menerima suap dariku.”



Aku mengernyit.



Tapi Fredy belum selesai.



“Lalu dia mulai menekanku.”


“Memeras lebih jauh dari yang seharusnya.”



Dan kali ini nada pesannya tidak hanya dingin.


Tapi seperti seseorang yang sudah mengunci keputusan lama.



Aku menerima file itu.


Membukanya.



Data di dalamnya bukan hanya tentang EOSH.


Tapi pola yang familiar.


Jejak transaksi.


Rekening.


Dan catatan yang menghubungkan semuanya ke jaringan lama yang perlahan mulai runtuh satu per satu.



Aku menghubungi Rosi.


Mengirim seluruh data itu.


Tanpa banyak kata.



Rosi membaca cepat.


Lalu mulai bekerja.



Beberapa hari kemudian…


berita besar muncul.



Bukan hanya satu media.


Tapi hampir semua.



Nama EOSH disebut.


Skandal suap.


Jaringan tekanan politik.


Dan keterkaitan dengan kasus-kasus sebelumnya.



Dan seperti biasa…


Fredy tidak pernah muncul di permukaan.



Hanya jejak yang tersisa.



Aku duduk diam malam itu.


Laptop terbuka.


Tapi tidak ada yang aku kerjakan.



Karena satu hal mulai terasa jelas.



Setiap orang yang jatuh…


tidak pernah benar-benar jatuh sendirian.



Dan aku mulai bertanya pada diriku sendiri.



Kalau semua ini hanya “target” yang berurutan…



siapa yang sedang menyusun urutannya?



Nero is My Name.


Dan malam itu, aku mulai sadar bahwa aku bukan hanya berada di dalam cerita ini.


Tapi juga berada di antara orang-orang yang sedang membongkar sesuatu…


yang mungkin tidak pernah dimaksudkan untuk dibuka sampai akhir.



Keseharianku sebagai mahasiswa biasa sudah tidak ada lagi.


Atau mungkin… sudah tidak pernah benar-benar ada sejak awal.


Yang tersisa sekarang hanya rutinitas yang terlihat normal dari luar, tapi terasa asing dari dalam.


Aku mulai menyadari satu hal yang tidak nyaman:


aku menjadi sosok yang menakutkan untuk diriku sendiri.



Apakah ini nyata?


Pertanyaan itu muncul lagi.


Bukan sekali dua kali.


Tapi setiap kali aku duduk sendirian di apartemen itu.


Setiap kali aku membuka laptop.


Setiap kali ponselku bergetar.


Seolah hidupku sekarang bergerak tanpa benar-benar menunggu aku siap.



Selang beberapa hari setelah tertangkapnya EOSH, sebuah pemberitahuan muncul di rekeningku.


Transfer masuk.


Jumlahnya besar.


Terlalu besar untuk disebut sekadar “uang saku”.


Aku menatap layar cukup lama tanpa bereaksi.



Lalu aku menghubungi Fredy.


“Uang ini untuk apa lagi?”



Jawaban Fredy datang cepat.


Tanpa penjelasan tambahan.



“Itu untukmu.”


“Jangan tanya untuk apa.”


“Itu memang hanya untukmu.”



Aku membaca kalimat itu berulang kali.


Bukan karena tidak mengerti.


Tapi karena terlalu sederhana untuk sesuatu yang terasa sebesar itu.



Aku menjadi bingung.


Haruskan aku senang?


Atau justru takut?



Beberapa hari aku tidak menyentuh uang itu.


Seolah dengan tidak menggunakannya, aku bisa menjaga jarak dari maknanya.


Tapi pada akhirnya… aku kalah juga dari rasa ingin tahu yang lebih manusiawi.



Keesokan harinya, setelah pulang kuliah, aku mampir ke sebuah mal tidak jauh dari arah apartemen.


Aku tidak merencanakan apa pun sebelumnya.


Tidak ada daftar belanja.


Tidak ada tujuan jelas.


Hanya langkah yang tiba-tiba terasa ingin “hidup seperti orang biasa”.



Aku membeli beberapa barang yang sudah lama aku inginkan.


HP baru.


Pakaian yang lebih bagus dari biasanya.


Laptop baru.


Hal-hal yang dulu terasa jauh, sekarang tinggal di hadapanku tanpa hambatan.



Lalu aku makan di sebuah restoran yang bagus.


Bukan warung.


Bukan tempat cepat saji.


Tapi tempat yang selama ini hanya aku lihat dari luar kaca.



Aku duduk cukup lama.


Menatap makanan di depanku.


Menatap orang-orang di sekitarku yang terlihat seperti menjalani hidup yang normal.


Dan untuk sesaat…


aku mencoba ikut masuk ke dalam dunia itu.



Aku mencoba menerima pemberian Fredy.


Bukan sebagai sesuatu yang mencurigakan.


Tapi sebagai sesuatu yang… memang diberikan untukku.


Sebagai anaknya.



Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu terakhir…


aku tidak terlalu banyak bertanya.


Tidak tentang data.


Tidak tentang target.


Tidak tentang Fredy.


Tidak tentang masa lalu.



Hari-hariku pun berjalan kembali seperti biasanya.


Atau setidaknya… seperti sesuatu yang menyerupai “biasa”.



Tapi di dalam kepalaku, aku tahu satu hal tidak benar-benar berubah.


Aku masih berada di dalam sesuatu yang tidak sepenuhnya aku pahami.


Hanya saja sekarang…


aku mulai berjalan di dalamnya dengan langkah yang lebih tenang.


Dan itu sendiri terasa lebih menakutkan daripada sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁