Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Sabtu, 04 Juli 2026

Nero is My Name (Part 14)



Aku masih bingung, kaget, sekaligus penasaran.

Aku berhenti makan.

Lalu aku menatap dia; Frederica dengan seksama.


Aku mulai bertanya.

Apakah kamu benar ibuku?


Lalu dia diam, menghela napas.

Lalu menjawab:


“Iya. Aku ibumu.”



“Kamu kemana selama ini?” tanyaku dengan serius.


Dia menjawab:


“Selama ini kami ada. Tapi tidak pernah berhenti melihatmu.”


“Aku dan dia, Fredy, ayahmu, mengawasimu dengan baik.”



“Lalu kenapa selama itu?” tanyaku lagi.


Dia menjawab:


“Karena kami takut kalau kamu terbawa ke situasi rumit yang menjebak kami di kehidupan buruk ini.”



“Benarkah begitu?” tanyaku.


“Iya.” jawabnya.



Lalu aku terdiam, mencoba memahami.

Semua kalimat itu tidak terasa seperti jawaban, tapi seperti potongan yang sengaja ditahan terlalu lama sebelum akhirnya dilepaskan sekaligus.



“Lalu… di mana kalian selama ini?” tanyaku lantang.


Dia menatapku beberapa detik.

Tidak buru-buru. Tidak ragu.


Lalu menjawab:


“Jujur… aku ada di Thailand bersama keluarga baruku.”


Aku tidak langsung merespons.


Kata “Thailand” itu tidak meledak di kepalaku seperti jawaban besar yang seharusnya menjelaskan semuanya. Justru sebaliknya. Ia jatuh pelan. Seperti sesuatu yang terlalu ringan untuk menahan seluruh berat pertanyaan yang sudah aku simpan bertahun-tahun.


Aku menatapnya lama.


Bukan lagi sebagai “Frederica”.


Bukan juga sebagai “ibu”.


Tapi sebagai seseorang yang tiba-tiba muncul di tengah hidupku, membawa kalimat yang terlalu rapi untuk sebuah kekacauan yang selama ini aku jalani sendirian.



“Thailand…” ulangku pelan, hampir seperti memastikan aku tidak salah dengar.


Dia mengangguk.


Tidak ada tambahan penjelasan. Tidak ada pembelaan. Tidak ada usaha memperhalus.


Hanya… fakta.



Tanganku yang tadi masih ada di meja, perlahan menarik diri.


Aku bersandar ke kursi.


Untuk pertama kalinya sejak dia duduk, aku benar-benar merasa letih.


Bukan letih karena perjalanan.


Bukan karena makanan.


Tapi karena sesuatu yang lebih lama dari itu—sesuatu yang tiba-tiba menemukan bentuknya, tapi tidak memberi kelegaan apa pun.



“Jadi selama ini…” suaraku berhenti sebentar. Aku menarik napas.

“…kalian memilih pergi.”



Dia tidak langsung menjawab.


Dan jeda itu lebih jujur dari semua kalimat sebelumnya.



“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya supaya tidak terdengar seperti kami meninggalkanmu,” katanya akhirnya.


Suaranya tetap tenang. Terlalu tenang.


“Karena kalau aku jujur, ya… memang begitu yang terjadi.”



Aku tertawa kecil.


Bukan karena lucu.


Tapi karena rasanya ada sesuatu di dalam dadaku yang tidak tahu lagi harus jatuh ke arah mana.



“Dan Fredy?” tanyaku.


Nama itu keluar lebih pelan dari yang aku harapkan.


“Dia juga di Thailand?”



Dia mengangguk lagi.


“Kadang.”



Satu kata itu.


Kadang.


Seolah seseorang bisa menjadi ayah, menjadi bayangan, menjadi seluruh sumber kekacauan hidupku—dan tetap hanya “kadang” ada di satu tempat.



Aku menunduk.


Melihat meja.


Makanan yang tadi terasa biasa sekarang sudah dingin.


Tidak tersentuh.


Seperti hidup yang tiba-tiba kehilangan selera di tengah jalan.



“Jadi semua ini…” suaraku serak sedikit.

“…semua yang terjadi pada aku… Fredy… pesan-pesan itu… pengawasan… Australia…”


Aku berhenti.


Karena aku bahkan tidak tahu harus menamai apa itu semua lagi.



Frederica menghela napas.


Kali ini lebih dalam.


“Aku tidak bilang kami tidak terlibat,” katanya pelan.

“Tapi kami juga tidak selalu mengendalikan semuanya seperti yang kamu kira.”



Aku menatapnya lagi.


Dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu di wajahnya yang tidak sepenuhnya tenang.


Sedikit retak.


Sedikit lelah.


Seperti seseorang yang sudah lama hidup dengan keputusan yang tidak pernah benar-benar selesai.



“Aku tumbuh tanpa kalian,” kataku akhirnya.


Tidak keras.


Tidak juga penuh emosi meledak.


Hanya… fakta lain.


“Dan sekarang kalian muncul seperti ini, seolah itu cuma jeda sebentar.”



Dia menunduk.


Untuk pertama kalinya sejak duduk, dia tidak langsung menjawab.



“Aku tahu,” katanya akhirnya.


Dan suaranya kali ini sedikit berbeda.


Lebih manusia.


Lebih rapuh.


“Aku tahu itu tidak bisa diperbaiki hanya dengan pertemuan seperti ini.”



Angin dari laut Sanur lewat di antara kami.


Pelan.


Hangat.


Tapi terasa seperti memisahkan dua orang yang duduk terlalu dekat untuk jarak yang sebenarnya sudah terlalu jauh.



Aku berdiri pelan.


Kursi bergeser sedikit.


Tidak ada kemarahan besar di dalam gerakanku.


Hanya kekosongan yang mencoba menemukan bentuknya sendiri.



“Kamu datang ke sini cuma untuk bilang itu?” tanyaku.



Dia menatapku.


Dan untuk sesaat, aku melihat sesuatu yang tidak ingin aku lihat.


Rasa bersalah yang tidak punya tempat untuk dibuang.



“Tidak,” katanya pelan.

“Aku datang karena kamu sudah terlalu lama ada di dalam sesuatu yang tidak bisa kami hentikan lagi.”



Aku terdiam.


Kata “kami” itu kembali.


Selalu ada “kami”.


Seolah hidupku tidak pernah benar-benar tentang aku seorang diri.



Aku melangkah mundur sedikit.


“Kalau begitu… kalian juga bagian dari itu.”



Dia tidak membantah.


Itu justru jawabannya.



Aku menarik napas panjang.


Untuk pertama kalinya sejak aku duduk di meja ini, aku merasa ingin pergi.


Bukan karena takut.


Tapi karena terlalu banyak jawaban yang tidak benar-benar menjawab apa pun.



Sebelum aku benar-benar berbalik, dia berkata pelan:


“Nero…”



Aku berhenti.


Tidak menoleh.



“Aku tidak pernah berhenti memikirkanmu,” lanjutnya.



Kalimat itu tidak terdengar seperti alasan.


Lebih seperti sesuatu yang sudah terlambat untuk disebut sebagai penebusan.



Aku berjalan.


Langkah pertama.


Langkah kedua.


Dan setiap langkah terasa seperti menjauh dari sesuatu yang seharusnya hangat, tapi sudah terlalu lama dingin untuk bisa kembali disebut rumah.



Di belakangku, suara ombak tetap sama.


Orang-orang tetap makan.


Dunia tetap berjalan seperti tidak ada yang pecah.



Tapi di dalam diriku, ada sesuatu yang akhirnya benar-benar berubah bentuk.


Bukan hancur.


Bukan selesai.


Hanya… tidak bisa kembali seperti sebelumnya.



Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak tahu apakah bertemu jawaban itu berarti aku sedang menemukan sesuatu.


Atau justru kehilangan satu-satunya pertanyaan yang membuatku bertahan selama ini.


----


Aku duduk diam.


Kata-kata terakhirnya masih menggantung di udara, tapi kepalaku seperti tidak mampu lagi menangkap semuanya dengan utuh. Suara ombak Pantai Sanur terdengar jauh, seperti datang dari dunia yang berbeda.


“Jadi… selama ini bukan dia?” tanyaku pelan, hampir tidak yakin suaraku benar-benar keluar.


Frederica mengangguk. Air matanya masih belum berhenti, jatuh terus tanpa jeda.


“Bukan Fredy,” katanya lirih. “Bukan dia yang menghubungimu langsung.”


Aku menatap pasir di bawah kakiku. Hangat. Nyata. Tapi semuanya di dalam diriku terasa seperti runtuh pelan-pelan tanpa suara.


“Lalu kenapa harus aku?” tanyaku lagi, kali ini lebih tajam. “Kenapa semua ini harus terjadi padaku?”


Dia tidak langsung menjawab.


Untuk pertama kalinya, dia terlihat seperti seseorang yang kehabisan alasan, bukan kehabisan kata.


“Karena dia tidak pernah bisa keluar dari hidup yang dia pilih,” jawabnya akhirnya. “Dan kamu… kamu satu-satunya hal yang masih tersisa dari hidup itu.”


Aku tertawa kecil.


Bukan karena lucu.


Tapi karena tidak ada reaksi lain yang lebih masuk akal.


“Sisa?” ulangku. “Aku ini sisa?”


Dia menunduk.


Dan itu saja sudah cukup untuk menjawab semuanya tanpa perlu kalimat tambahan.


Angin laut bertiup lebih kencang. Beberapa orang di kejauhan berjalan tanpa peduli apa pun yang sedang pecah di sini.


Aku berdiri.


Kursi di belakangku bergeser sedikit di pasir.


“Jadi selama ini,” kataku pelan, “aku hidup di antara orang-orang yang tidak pernah jujur satu sama lain… tapi semua merasa paling berhak mengatur hidupku?”


Frederica membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar.


Aku mengangkat tangan, menghentikannya sebelum sempat berkata apa pun.


“Cukup.”


Satu kata itu jatuh seperti pintu yang ditutup.


Aku berbalik.


Dan berjalan pergi.


Tidak cepat.


Tidak lambat.


Hanya pergi.



Pasir panas di bawah kakiku terasa seperti hukuman kecil yang tidak relevan dibanding apa yang baru saja aku dengar. Matahari menyengat, tapi anehnya aku tidak benar-benar merasa panas. Atau mungkin tubuhku sudah terlalu penuh untuk merasakan hal-hal sederhana seperti itu.


“Nero!”


Suara itu memanggil dari belakang.


Tapi aku tidak berhenti.


Langkahku terus maju menuju garis ombak.


“Nero, tolong—!”


Langkah kaki itu menyusul.


Semakin dekat.


Semakin panik.


Dan sebelum aku sempat menjauh lebih jauh, tangannya menarik lenganku.


Kencang.


Tapi bukan untuk menahan.


Lebih seperti seseorang yang takut kehilangan sesuatu untuk kedua kalinya.


Aku berhenti.


Tidak langsung menoleh.


Beberapa detik kami hanya berdiri seperti itu—aku menghadap laut, dia menghadap punggungku.


Lalu aku mendengar suaranya pecah.


“Maaf…” katanya.


Aku menoleh.


Dan di sana, dia tidak lagi terlihat seperti wanita yang datang dengan jawaban.


Dia terlihat seperti seseorang yang sudah lama hidup dengan penyesalan yang tidak pernah selesai.


“Maafkan aku, Nero…”


Air matanya jatuh tanpa bisa dikendalikan lagi.


Aku menatapnya lama.


Terlalu lama sampai rasanya waktu berhenti mencoba bergerak.


Lalu perlahan, aku menarik tanganku kembali.


Bukan dengan kasar.


Tapi cukup untuk membuat jarak itu kembali ada.


Aku berjalan ke kursi pantai yang tadi kami tinggalkan.


Duduk.


Dan membiarkan dia berdiri di hadapanku.



Dia tidak langsung duduk.


Seolah tidak berhak.


Seolah pantai ini bukan tempat untuk orang-orang yang membawa masa lalu seperti beban.


“Aku akan ceritakan semuanya,” katanya akhirnya.


Aku tidak menjawab.


Hanya menatap ombak.


Dan dia mulai berbicara.



“Dulu… aku pikir hidup itu sederhana,” katanya pelan. “Aku tidak pernah membayangkan kalau satu malam bisa mengubah semuanya.”


Aku tetap diam.


Tapi aku mendengar.


“Pulau Umang…” lanjutnya, suaranya sedikit bergetar, “itu bukan awal yang aku rencanakan. Tapi itu awal dari semuanya.”


Dia menarik napas panjang.


“Aku jatuh cinta tanpa rencana. Dan dia… dia terlihat seperti seseorang yang bisa dipercaya.”


Aku menelan ludah.


Tidak ada rasa di situ. Tidak ada amarah yang jelas. Hanya kosong yang terlalu luas.


“Setelah aku tahu siapa dia,” katanya, “aku sudah terlambat.”


Suara ombak menabrak pantai.


Satu demi satu.


Seperti penanda waktu yang tidak peduli cerita manusia.


“Fredy bukan orang yang bisa ditinggalkan begitu saja,” lanjutnya. “Dan ketika kamu lahir… semuanya sudah terlalu jauh untuk kembali.”


Aku menatap ke arah laut.


Langit terasa terlalu cerah untuk percakapan ini.


“Lalu kamu pergi?” tanyaku akhirnya.


Dia mengangguk pelan.


“Dipaksa… dan juga memilih,” jawabnya jujur. “Aku pikir itu satu-satunya cara supaya kamu tidak ikut tenggelam di dalam hidupnya.”


Aku tertawa kecil lagi.


Tapi kali ini lebih pahit.


“Jadi aku ditinggalkan demi ‘melindungiku’?”


Dia tidak menjawab langsung.


Tapi diamnya cukup keras untuk terdengar seperti jawaban.



Aku berdiri dari kursi.


Kali ini lebih pelan.


Lebih berat.


Frederica ikut berdiri, seolah takut aku akan pergi lagi dan tidak pernah kembali.


Aku menatapnya sebentar.


Wajah itu… seharusnya asing.


Tapi ada bagian kecil dari diriku yang tidak bisa sepenuhnya menolak kemungkinan bahwa itu benar-benar berasal dari tempat yang sama denganku.


“Kalau semua ini benar,” kataku pelan, “berarti hidupku dari awal memang bukan milikku, ya?”


Dia membuka mulut.


Tapi tidak ada kata yang cukup cepat lahir.


Aku mengangguk kecil, lebih ke diriku sendiri daripada ke dia.


“Menarik.”


Aku berbalik.


Dan kali ini aku benar-benar berjalan pergi tanpa berhenti lagi.



Di belakangku, aku masih bisa mendengar suaranya memanggil.


Tapi suara itu semakin jauh.


Bukan karena jarak.


Tapi karena sesuatu di dalam diriku perlahan menutup akses untuk mendengarnya.


Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai…


aku tidak lagi yakin apakah aku sedang kehilangan seseorang.


Atau baru saja menemukan alasan kenapa aku selalu merasa sendirian sejak awal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁