Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Sabtu, 04 Juli 2026

Nero is My Name (Part 7)



Setelah menunggu lama, Rosi akhirnya menghubungiku lagi.


Nada suaranya berbeda. 


Tidak seperti biasanya yang penuh pertanyaan atau analisis cepat.


Kali ini lebih pelan.

 

Lebih hati-hati.


Dan ada sesuatu di dalamnya yang terdengar seperti keputusan yang sudah matang.


Dia menyebut sebuah daerah.


Di Thailand.


Aku diam cukup lama setelah mendengarnya.


Karena untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, sesuatu yang aku cari… mulai punya bentuk geografis.



“Frederica ada di sana,” kata Rosi.


“Bukan sekadar kemungkinan. Tapi jejak administratif yang paling masuk akal.”


Aku mengulang kata itu di kepalaku.


Thailand.



Dan tiba-tiba semuanya masuk akal dengan cara yang aneh.


Selama ini aku tidak pernah menemukan jejaknya di sistem mana pun di Indonesia.


Tidak di arsip publik.


Tidak di catatan lama.


Tidak di data digital yang biasanya selalu meninggalkan serpihan.


Seolah dia tidak pernah hidup di sistem yang sama denganku.



Dan sekarang aku tahu alasannya.


Dia bukan bagian dari sistem itu.


Dia berada di luar.



Malam itu aku menghubungi Fredy.


Untuk pertama kalinya aku bertanya langsung.


Tanpa perantara.


Tanpa data.


Hanya kata-kata.



“Apakah ibuku ada di Thailand?”


Jawaban Fredy datang cepat.


“Ya.”


Aku menahan napas.


Tapi dia belum selesai.


“Tapi dia tidak tahu kamu pernah ada.”



Kalimat itu membuat ruang di kepalaku terasa berhenti sesaat.


Aku membaca ulang pesan itu beberapa kali.



Fredy melanjutkan.


Aku lahir di waktu yang berbeda.


Sebelum Fredy seperti sekarang.


Sebelum semua struktur yang aku kenal hari ini terbentuk.



Dan di balik semua itu, ada fakta lain yang lebih dingin.


Bukan hanya aku yang mencari Frederica.


Polisi Indonesia juga pernah mencoba menelusuri jejaknya.



Aku menatap layar lama.


Lalu mengetik lagi.


“Kamu sekarang bersamanya?”



Jawaban Fredy singkat.


“Tidak.”



Hening sebentar.


Lalu pesan berikutnya masuk.


“Dia sedang hidup bersama pria lain.”


“Dari kehidupannya yang lain.”



Aku membaca itu pelan-pelan.


Seolah kalimat itu punya lapisan yang tidak langsung bisa dipahami.



“Frederica adalah masa lalu bagi Fredy.”



Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa Fredy tidak sedang menyembunyikan sesuatu.


Dia sedang memisahkan sesuatu dariku.



Hari-hari setelah itu aku kembali bersama Rosi.


Tapi pencarian kami berubah.


Bukan lagi sekadar data.


Melainkan jejak yang semakin kabur setiap kali kami mencoba mendekatinya.


Frederica tidak menjadi lebih jelas.


Justru sebaliknya.


Semakin dicari… semakin tidak ada bentuknya.



Rosi tidak banyak bicara selama beberapa hari itu.


Hanya mengirim beberapa potongan data.


Catatan perjalanan.


Jejak administratif yang tidak konsisten.


Nama-nama yang tidak pernah bisa disatukan menjadi satu narasi utuh.


Dan akhirnya dia menyimpulkan satu hal sederhana.


“Kosong.”



Tapi kekosongan itu tidak terasa seperti tidak ada.


Lebih seperti sesuatu yang sengaja dihapus dengan sangat rapi.



Suatu hari di kampus, semuanya berubah arah lagi.


Aku baru selesai kelas ketika ponselku bergetar.


Rosi menelepon.


Suaranya cepat.


Tidak seperti biasanya.



Dia bilang dia ada di depan kampus.


Dan dia ingin bertemu langsung.


Sekarang.



Aku turun tanpa banyak berpikir.


Dan ketika aku keluar, dia sudah berdiri di dekat gerbang.


Tidak dengan laptop.


Tidak dengan catatan.


Hanya tatapan yang jauh lebih tajam dari sebelumnya.



“Aku butuh jawaban sekarang,” katanya langsung.


“Peran kamu sebenarnya apa untuk Fredy?”



Aku diam sebentar.


Lalu menjawab jujur.


“Secara resmi… aku anaknya.”


Aku berhenti.


“Secara fakta… aku juga masih mencoba memastikan itu benar.”



Aku lalu membuka ponsel.


Menunjukkan percakapan dengan Fredy.


Dan beberapa foto lama.


Foto masa kecilku.


Bersamanya.



Rosi menatap semuanya tanpa berkedip.


Tapi bukannya semakin tenang…


dia justru semakin tenggelam dalam rasa ingin tahu.



“Jadi kamu percaya dia ayahmu?”



Pertanyaan itu tidak langsung aku jawab.


Karena jawabannya tidak sederhana.



“Aku… tidak tahu,” kataku akhirnya.


“Kadang iya.”


“Kadang tidak.”



Rosi terdiam lama.


Lalu menghela napas kecil.


“Kalau begitu… kita harus cek dari sumber lain.”



Dia menyebut satu hal.


Paman dan bibi di Bandung.


Orang yang mungkin pernah tahu sesuatu sebelum semuanya menjadi seperti sekarang.



Aku pergi ke Bandung beberapa hari kemudian.


Tidak banyak percakapan.


Tidak banyak penjelasan.


Hanya pertanyaan yang aku bawa sendiri.



Dan jawaban mereka… membuatku berhenti lebih lama dari yang aku kira.


“Ya.”



Aku mengulangnya.


“Ya?”


Mereka mengangguk.



Tapi bukan dengan cara yang biasa.


Bukan sebagai orang asing.


Bukan sebagai anak yang datang tiba-tiba.



Mereka mengatakan sesuatu yang lebih aneh.


Aku tidak pernah dianggap sebagai “orang lain”.


Tapi seperti anak sendiri.



Aku terdiam.



Lalu aku bertanya satu hal yang paling penting.


Hubungan mereka dengan Fredy.



Jawabannya mulai terbuka pelan.


Dulu, paman pernah bekerja untuk Fredy.


Bukan pekerjaan biasa.


Tapi pekerjaan yang cukup dalam untuk menyentuh urusan pribadi.



Sampai suatu titik.


Dia keluar.



Bukan karena konflik besar.


Tapi karena satu perintah.



Perintah untuk membawa dan mengurus seorang bayi.



Aku tidak langsung bereaksi.


Karena aku sudah mulai mengerti ke mana arah ini.


Tapi tetap saja… mendengarnya langsung membuat semuanya terasa nyata dengan cara yang berbeda.



Aku bertanya pelan.


“Bayi itu… aku?”



Paman mengangguk.



Ruangan itu menjadi sunyi.



Lalu aku bertanya lagi.


Tentang satu nama yang masih belum pernah terjawab.


Frederica.



Tapi kali ini tidak ada jawaban.


Tidak ada penjelasan.


Tidak ada spekulasi.



Hanya diam.



Dan dari diam itu, aku mengerti satu hal yang lebih berat dari semua data yang pernah aku baca.



Mereka tidak tahu siapa Frederica.



Dan lebih dari itu…


mereka tidak pernah benar-benar tahu siapa ibuku.



Aku hanya seorang anak yang dititipkan.


Oleh Fredy.



Tanpa penjelasan.


Tanpa asal yang bisa dilacak.


Tanpa cerita yang utuh di awalnya.



Nero is My Name.


Dan untuk pertama kalinya, aku mulai sadar bahwa hidupku bukan sekadar rangkaian kejadian yang aku jalani.


Tapi sesuatu yang sudah dipindahkan ke tanganku… sejak aku bahkan belum tahu cara bertanya.



Beberapa hari berlalu.


Aku kembali ke Jakarta.


Tapi rasanya aku bukan kembali sebagai orang yang sama.


Ada sesuatu yang berubah di dalam kepalaku.


Bukan cara aku melihat kota ini.


Bukan juga cara aku membuka laptop atau membaca pesan.


Tapi cara aku memahami diriku sendiri.



Aku sudah tahu satu hal yang selama ini hanya berupa kemungkinan.


Aku adalah anak Fredy.


Bukan asumsi.


Bukan spekulasi.


Tapi fakta yang disampaikan langsung oleh orang-orang yang pernah berada di lingkaran hidupnya.


Pamanku.


Dan masa lalu yang tidak pernah aku lihat sendiri.



Aku duduk di apartemen itu lebih lama dari biasanya.


Sunyi.


Luas.


Terlalu rapi untuk terasa seperti rumah.


Tapi kali ini rasanya berbeda.


Bukan dingin.


Lebih seperti… menunggu.



Aku tidak tahu harus merespons bagaimana.


Karena di satu sisi, aku merasa kehilangan sesuatu yang tidak pernah benar-benar aku miliki.


Tapi di sisi lain…


ada perasaan yang tidak bisa aku tolak.


Bahwa aku masih punya seseorang.


Seorang ayah.



Dan anehnya…


aku tidak membencinya.


Justru sebaliknya.


Aku mulai melihat Fredy bukan sebagai sosok bayangan yang mengatur semuanya dari jauh.


Tapi sebagai seseorang yang mungkin… sengaja menjauhkan aku dari dirinya sendiri.



Beberapa hari kemudian, ponselku bergetar.


Pesan masuk.


Dari Fredy.



“Sekarang kamu sudah tahu siapa aku?”



Aku menatap kalimat itu lama.


Tidak ada rasa ragu lagi di dalam jawabanku.



“Iya. Kamu ayahku.”



Kirim.



Beberapa detik berlalu.


Lalu aku menambahkan satu pertanyaan.



“Apakah kita akan bertemu?”



Tidak ada jawaban langsung.


Hening.


Lalu akhirnya pesan itu muncul.



“Mungkin.”



Hanya itu.


Tidak ada kepastian.


Tidak ada penolakan.


Hanya jarak yang tetap dibiarkan terbuka.



Lalu Fredy mengirim pesan lain.


Lebih singkat.


Lebih tegas.



Dia menyuruhku pindah total ke apartemen.


Bukan sementara.


Tapi penuh.



Apartemen itu memang untukku.


Itu yang dia katakan.



Tidak akan ada yang tahu bagaimana awalnya.


Tidak akan ada jejak yang bisa ditelusuri dengan mudah.


Dan yang paling penting…


aku akan tetap aman di sana.



Aku membaca pesan itu berulang kali.


Tapi kali ini aku tidak merasa dikendalikan.


Lebih seperti… diarahkan pulang ke sesuatu yang memang sudah disiapkan sejak lama.



Beberapa waktu kemudian, pesan lain masuk.


Dari Rosi.



Dia langsung ke inti.



“Ada file lain?”



Aku menatap layar sebentar sebelum menjawab.



“Belum ada data masuk.”


“Aku masih menunggu kabar dari Fredy… ayahku.”



Kata “ayahku” terasa berbeda ketika aku menuliskannya.


Lebih nyata.


Lebih berat.


Tapi juga… lebih pasti dari sebelumnya.



Rosi tidak langsung membalas.


Tapi beberapa menit kemudian, pesan baru masuk.



“Kamu punya saudara?”



Aku terdiam.



Pertanyaan itu tidak pernah muncul di kepalaku sebelumnya.


Tidak dari Fredy.


Tidak dari Rosi.


Tidak dari data mana pun yang pernah aku lihat.



Tapi justru karena itu…


pertanyaan itu terasa berbahaya.



Aku mengetik pelan.


Tidak langsung mengirim.



“Apakah Fredy punya anak lain?”



Jari-jariku berhenti di atas layar.



Dan untuk pertama kalinya sejak aku tahu kebenaran tentang diriku sendiri…


aku merasa bahwa cerita ini belum selesai.


Bahkan mungkin baru saja membuka halaman yang sebenarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁