Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Sabtu, 04 Juli 2026

Nero is My Name (Part 11)



Aku mencoba mengabaikan ketakutanku.


Mungkin semua ini hanya ilusi yang kebetulan terlalu rapi untuk disebut kebetulan.


Tentang perasaan diawasi.


Tentang pesan-pesan anonim itu.


Tentang log akses yang tidak masuk akal.


Aku berusaha menutup semuanya dari kepalaku.


Seolah dengan tidak memikirkannya, semuanya akan berhenti ada.



Aku mulai memaksa diriku kembali normal.


Berjalan seperti biasa.


Kuliah seperti biasa.


Makan seperti biasa.


Menjawab orang-orang dengan senyum yang tidak terlalu lama.


Aku bahkan mulai meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tetap bersih.


Bahwa semua yang terjadi di sekitarku… tidak pernah benar-benar menyentuhku.



Tentang jejak sinyal yang pernah muncul di lokasi apartemenku…


aku memilih untuk percaya itu hanya kesalahan sistem.


Atau mungkin sinyal ponselku sendiri yang tumpang tindih.


Tidak lebih dari itu.


Aku menolak memberi makna lain.


Aku menyedekahkan semua pikiran yang terlalu tegang itu, satu per satu.



Hari-hari kembali berjalan.


Lebih tenang.


Lebih kosong.


Dan anehnya… lebih ringan.


Seolah dunia berhenti mendorongku ke arah tertentu.



Sampai suatu malam, ponselku bergetar.


Pesan masuk dari Fredy.



“Kamu diawasi.”



Aku membaca kalimat itu tanpa langsung bereaksi.


Lalu pesan berikutnya muncul.



“Polisi.”


“Pengawasan wajar.”


“Mereka melihat aliran uang di rekeningmu.”



Aku terdiam.



Fredy melanjutkan.


Aku tidak perlu panik.


Justru sebaliknya.


Aku harus terlihat normal.



“Buka akun trading.”


“Kripto. Forex. Apa saja.”


“Buat mereka percaya uang itu dari aktivitasmu sendiri.”



Aku membaca itu berulang kali.


Bukan karena sulit dimengerti.


Tapi karena terlalu mudah untuk sesuatu yang seharusnya tidak normal.



Lalu aku menjawab.


“Aku ikut.”



Tidak ada diskusi panjang.


Tidak ada penjelasan tambahan.


Seperti biasa, keputusan sudah dibuat sebelum aku benar-benar punya ruang untuk mempertanyakannya.



Hari-hari setelah itu kembali terasa “normal”.


Aku membuat akun trading seperti yang diminta.


Aku mengikuti instruksi tanpa banyak berpikir.


Dan perlahan, ketakutan yang sempat tumbuh itu… mulai mereda.


Atau mungkin bukan mereda.


Hanya tertutup oleh rutinitas baru yang lebih sibuk.



Sampai suatu hari, pesan baru masuk lagi.


Dari Fredy.



“Target berikutnya.”



Aku membuka file yang dikirim bersamanya.


Nama itu muncul di layar.


Seorang petinggi kepolisian.


Samba—nama yang hanya disebut singkat dalam sistem.


Tapi cukup untuk membuat seluruh konteks terasa berat.



Ada catatan di dalam file itu.


Aliran dana.


Jejak transaksi lama.


Semua mengarah ke satu titik: hubungan masa lalu antara orang itu dan Fredy.



Aku bertanya.


“Kenapa dia?”



Fredy menjawab cepat.



“Dia pernah menerima uang dariku.”


“Bertahun-tahun lalu.”



Aku diam.



Tapi Fredy belum selesai.



“Lalu dia mencoba membuka semuanya.”


“Dia ingin menjatuhkan sistem ini… untuk naik sendiri.”



Aku membaca itu pelan-pelan.


Seperti mencoba memisahkan fakta dari cara Fredy menyusunnya.



Aku bertanya lagi.


“Rencananya apa?”



Jawaban Fredy datang lebih detail dari biasanya.


Aku hanya perlu memindahkan uang.


Dari rekening anonim yang sudah disiapkan.


Ke beberapa rekening lain.



Nama-nama muncul di layar.


Putri.


Ricky.


Ma’ruf.



Aku mengernyit.


“Apa peran mereka?”



Fredy menjawab tanpa ragu.



“Mereka akan jadi cerita.”



Aku diam.



Lalu penjelasan itu datang seperti potongan yang sudah lama disusun.



Sebuah skenario.


Drama yang akan membentuk narasi besar.


Tentang konflik pribadi.


Tentang kecemburuan.


Tentang sebuah kasus yang akan meledak di media.



Dan di ujung cerita itu…


orang yang ditunjuk sebagai dalang adalah Samba.



Aku menutup mata sebentar.


Bukan karena tidak paham.


Tapi karena terlalu mudah membayangkan bagaimana dunia akan mempercayainya.



Aku mengirim pesan ke Rosi.


“Akan ada berita besar lagi.”



Tanpa banyak penjelasan.


Aku hanya mengirim sebagian file.


Aliran dana.


Jejak lama.


Dan potongan yang bisa cukup untuk memicu sesuatu.



Rosi membalas cepat kali ini.


Terlalu cepat.


Tapi tidak ada kata-kata panjang.


Hanya satu kalimat.


“Aku akan cek.”



Hari-hari setelah itu berjalan seperti sesuatu yang sudah ditentukan arah akhirnya.


Dan benar saja…


berita besar itu muncul.



Media mulai menyebarkan kasus itu.


Narasi terbentuk dengan cepat.


Terlalu cepat.


Tentang konflik.


Tentang kekuasaan.


Tentang tragedi yang sudah punya “penjelasan” sebelum semua bukti benar-benar dipahami.



Nama itu menjadi pusat.


Seperti Fredy bilang.


Seperti sistem yang bekerja.



Dan seperti biasa…


Fredy tidak pernah muncul di mana pun dalam cerita itu.



Hanya jejak yang tersisa.



Beberapa hari setelah semuanya mereda, aku mencoba kembali ke hidupku.


Kuliah.


Apartemen.


Layar laptop.


Rutinitas yang seharusnya terasa ringan.



Aku bahkan mulai menggunakan uang dari Fredy.


Awalnya ragu.


Tapi lama-lama… terbiasa.


Tidak ada yang benar-benar menolak kenyamanan jika diberikan terus-menerus tanpa syarat yang jelas.



Sampai satu malam, aku tidak tahan lagi.


Aku mengetik pesan ke Fredy.



“Aku mau ketemu kamu.”



Jeda panjang.


Tidak seperti biasanya.



Lalu akhirnya balasan masuk.



“Mungkin.”



Aku menatap kata itu lama.



Lalu aku mengetik lagi.



“Aku anakmu.”


“Aku cuma ingin bertemu ayahku.”



Kirim.



Dan untuk pertama kalinya…


tidak ada jawaban setelah itu.


Hanya keheningan yang terasa lebih dalam dari semua pesan sebelumnya.



Dan di keheningan itu, aku mulai menyadari sesuatu:



bahwa mungkin selama ini aku tidak sedang menunggu Fredy muncul.



tapi sedang menunggu apakah aku benar-benar diperbolehkan untuk mengenalnya.



Suatu siang setelah aku selesai jam kuliah, ada pesan masuk dari Fredy.

Buatlah paspor, belilah tiket pulang pergi ke Australia. Booking lah hotel di pusat kota untuk beberapa hari.


Aku membaca pesan itu dua kali. Lalu tiga kali.

Seolah ada bagian dari kalimat itu yang berubah kalau aku cukup lama menatapnya.


Aku tidak langsung membalas.

Bukan karena tidak mengerti. Tapi karena terlalu cepat semuanya bergerak ke arah yang selama ini hanya berupa kemungkinan jauh.


Tanganku berhenti di atas layar ponsel.


Apakah ini… berarti aku akan bertemu dengannya?


Fredy.



Aku tetap duduk diam cukup lama di bangku kampus itu setelah kelas selesai. Orang-orang sudah mulai pulang. Suara langkah kaki, kursi yang digeser, percakapan ringan yang tidak ada hubungannya denganku—semuanya berjalan seperti biasa.


Tapi di kepalaku, tidak ada yang biasa.


Australia.


Paspor.


Hotel di pusat kota.


Kalimat itu tidak terdengar seperti permintaan. Lebih seperti instruksi yang sudah memperhitungkan bahwa aku akan patuh tanpa banyak pertanyaan.


Dan anehnya… aku memang tidak menolak.



Saat aku sampai di apartemen, aku membuka laptop.


Tidak ada file baru dari Rosi.


Tidak ada pesan lain dari Fredy.


Hanya satu hal yang terus mengambang di kepalaku: kemungkinan bahwa semua ini akhirnya bergerak ke satu titik temu.


Aku membuka tab baru.


Mengisi data paspor secara perlahan.


Nama. Tanggal lahir. Dokumen yang sudah lama tidak aku pikirkan lagi sebagai sesuatu yang penting.


Setiap klik terasa seperti mengunci satu langkah ke arah yang tidak bisa aku batalkan lagi.



Beberapa jam kemudian, semuanya selesai.


Tiket sudah ada.


Hotel sudah terkonfirmasi.


Aku menatap layar lama setelahnya.


Tidak ada rasa benar-benar senang. Tidak juga takut.


Yang ada hanya semacam ruang kosong di dalam kepala yang tidak bisa langsung diisi oleh satu emosi pun.


Lalu ponselku bergetar.



Fredy.


“Hindari banyak pertanyaan. Di sana kamu hanya perlu datang.”


Aku membaca pesan itu pelan.


Lalu mengetik:


“Apakah aku akan ketemu kamu?”


Jari-jariku berhenti sebelum menekan kirim.


Aku ragu sebentar. Tapi akhirnya tetap kukirim juga.



Tidak ada balasan.



Malamnya, aku mencoba tidur seperti biasa.


Tapi setiap kali mata mulai terpejam, pikiranku selalu kembali ke satu hal yang sama.


Bukan tentang perjalanan.


Bukan tentang Australia.


Tapi tentang seseorang yang selama ini hanya hadir dalam bentuk pesan, perintah, dan bayangan di balik semua kejadian hidupku.


Dan sekarang, bayangan itu mulai punya arah yang jelas.



Tiga jam kemudian, aku masih terjaga.


Ponselku tetap diam.


Tidak ada pesan masuk.


Tidak ada koreksi.


Tidak ada perubahan rencana.


Hanya keheningan yang terasa terlalu rapi untuk sesuatu yang disebut kebetulan.



Dan di antara semua itu, satu pikiran kecil muncul tanpa aku minta:


Kalau aku benar-benar bertemu Fredy…


apakah aku akan pulang sebagai orang yang sama?


-----


Setelah berita besar tentang kasus Samba benar-benar meledak di media, aku bertemu lagi dengan Rosi.


Kami duduk di tempat yang sama seperti sebelumnya—tempat yang tidak terlalu ramai, tapi cukup jauh dari telinga yang tidak perlu ikut mendengar.


Dia tidak membuang waktu.


“Fredy sebenarnya mau apa?” tanyanya langsung.



Aku diam sebentar.


Bukan karena tidak tahu jawabannya.


Tapi karena cara menjawabnya terasa seperti sedang menegaskan sesuatu yang selama ini masih aku hindari untuk diakui sepenuhnya.



“Mungkin dia sakit hati,” kataku akhirnya.


“Terhadap Samba.”



Rosi menatapku, tidak langsung bereaksi.


Aku melanjutkan.


“Tapi Samba juga bukan orang yang bersih.”


“Dia memanfaatkan jabatan, kekuasaan… untuk kepentingannya sendiri.”



Aku menghela napas pelan.


“Kalau Fredy benar-benar merasa dikhianati, wajar kalau dia akan melakukan sesuatu yang di luar dugaan Samba.”



Rosi tidak langsung menjawab.


Ada jeda yang cukup lama di antara kami.


Lalu dia hanya berkata pelan,


“Kamu ngomongnya seperti sudah mulai mengerti cara kerja mereka.”



Aku tidak membantah.


Karena mungkin… aku memang mulai mengerti, atau setidaknya terbiasa dengan logika yang tidak seharusnya jadi normal.



Setelah itu, berita tentang Samba perlahan menghilang dari headline.


Seperti semua kasus besar sebelumnya—ribut, meledak, lalu digantikan oleh kasus baru yang lebih segar.


Dunia bergerak cepat.


Terlalu cepat untuk sesuatu yang menyimpan banyak pertanyaan yang belum benar-benar dijawab.



Aku dan Rosi mulai jarang bertemu setelah itu.


Percakapan kami lebih banyak terjadi lewat pesan singkat.


Tidak lagi panjang.


Tidak lagi mendalam seperti sebelumnya.


Tapi aku tetap mengabari dia tentang satu hal.



“Aku akan ke Australia,” tulisku suatu malam.


“Beberapa hari lagi.”



Rosi membalas lama kemudian.


“Hati-hati.”


Itu saja.



Aku mulai mempersiapkan semuanya.


Paspor aku urus sendiri ke kantor imigrasi.


Antreannya panjang, ruangan penuh orang yang semuanya terlihat punya tujuan masing-masing.


Beberapa hari kemudian, pasporku jadi.


Sederhana.


Resmi.


Seperti tiket menuju sesuatu yang seharusnya normal… tapi tidak terasa normal sama sekali.



Tiket pesawat sudah aku beli sesuai instruksi Fredy.


Hotel juga sudah aku pesan di pusat kota Canberra.


Crowne Plaza Canberra


Harga kamar tidak lagi menjadi sesuatu yang aku pikirkan lama.


Aku masih punya uang dari Fredy.


Dan entah sejak kapan… uang itu berhenti terasa seperti sesuatu yang asing.



Hari-hari menuju keberangkatan terasa seperti waktu yang melambat di beberapa bagian, tapi sekaligus melompat di bagian lain.


Ada rasa deg-degan yang tidak bisa aku jelaskan dengan sederhana.


Bukan sekadar akan bepergian.


Tapi karena aku akan bertemu seseorang yang selama ini hanya hadir sebagai bayangan dalam hidupku.


Seseorang yang bahkan selama ini aku pikir sudah tidak ada.



Hari keberangkatan tiba.


Bandara Soekarno-Hatta terasa seperti biasa—ramai, sibuk, penuh orang yang tidak saling mengenal.


Bandara Internasional Soekarno-Hatta


Aku berjalan menuju konter check-in tanpa membawa banyak barang.


Hanya ransel.


Hanya laptop di dalamnya.


Aku tidak merasa perlu membawa lebih dari itu.


Seolah hidupku sementara ini memang hanya bisa muat dalam satu tas kecil.



Di dalam pesawat, aku tidak banyak tidur.


Enam jam perjalanan terasa seperti kombinasi antara diam dan pikiran yang tidak berhenti bergerak.


Setiap suara pengumuman, setiap guncangan kecil, terasa seperti bagian dari sesuatu yang lebih besar yang sedang mengarahkanku ke satu titik.



Ketika akhirnya pesawat mendarat di Canberra, udara terasa berbeda.


Lebih dingin.


Lebih tenang.


Terlalu tenang.


Canberra


Aku naik taksi menuju hotel tanpa banyak bicara.


Crowne Plaza Canberra


Sepanjang jalan, aku hanya menatap luar jendela.


Bangunan asing.


Jalanan yang tidak kukenal.


Dan perasaan bahwa aku sudah terlalu jauh dari titik di mana aku bisa berpura-pura hidupku masih biasa.



Di kamar hotel, aku langsung menyalakan ponsel.


Aku mengirim pesan ke Rosi.


“Aku sudah sampai.”


Lalu menunggu.



Beberapa menit.


Tidak ada balasan.



Aku mencoba Fredy.


Tidak ada respon juga.



Aku duduk di tepi ranjang.


Laptop masih di ransel.


Tas belum dibuka sepenuhnya.


Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku benar-benar tidak tahu apakah aku sedang menunggu seseorang… atau sedang dibiarkan menunggu tanpa arah.



Keesokan harinya aku mencoba lagi menghubungi Fredy.


Tetap tidak ada jawaban.


Hari kedua juga sama.


Hari ketiga pun begitu.


Keheningan itu tidak lagi terasa seperti kebetulan.


Tapi seperti sesuatu yang sengaja dibiarkan kosong.



Sampai pada suatu siang.


Ponselku bergetar.


Pesan masuk.


Fredy.



“Datang ke sebuah bar dekat hotel.”



Aku membaca pesan itu berkali-kali.


Jari-jariku berhenti di layar.


Dan untuk pertama kalinya sejak aku tiba di Australia…


aku benar-benar merasa bahwa momen yang selama ini aku bayangkan akhirnya benar-benar datang.



Aku berdiri.


Mengambil jaket.


Dan sebelum keluar kamar, satu pikiran muncul begitu saja di kepalaku.



Kalau ini benar-benar pertemuan…


berarti semua jarak yang selama ini ada di antara aku dan dia…


akhirnya akan hilang dalam satu malam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁