Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Sabtu, 04 Juli 2026

Nero is My Name (Part 3)



Aku melangkah keluar dari lift saat angka 22 menyala di atas pintu.


Lorong apartemen itu sunyi.  


Karpet tebal menutupi lantai. Lampu-lampu dinding memantulkan cahaya hangat. Semuanya terlihat mahal dan terawat.


Aku berjalan perlahan menuju unit yang alamatnya dikirim oleh Fredy.


Jantungku berdetak lebih cepat.


Sampai sekarang aku masih belum yakin kenapa aku berada di sini.


Aku hanya ingin jawaban.


Tentang Fredy.


Tentang diriku.


Dan tentang masa lalu yang selama ini tidak pernah aku ketahui.


Aku memasukkan kode akses yang dikirim melalui email.


Pintu terbuka.


Aku masuk.


Dan langsung terdiam.


Apartemen itu jauh lebih mewah daripada yang pernah kubayangkan.


Ruang tamunya sangat luas.


Dinding kaca besar memperlihatkan pemandangan Jakarta dari ketinggian.


Lampu-lampu kota terlihat seperti bintang yang tersebar di bawah sana.


Rak buku memenuhi salah satu sisi ruangan.


Ada lukisan besar di dinding.


Perabotannya terlihat mahal, tetapi tidak berlebihan.


Tempat itu terasa aneh.


Bukan seperti rumah orang asing.


Melainkan seperti tempat yang memang sudah lama menunggu seseorang untuk datang.


Aku.


Di atas meja ruang tamu terdapat sebuah laptop.


Menyala.


Seolah memang sengaja ditinggalkan.


Aku duduk di sofa dan mulai membukanya.


Di dalamnya terdapat banyak folder.


Dokumen.


Foto.


Catatan transaksi.


Rekaman percakapan.


Dan laporan yang tersusun rapi berdasarkan tahun.


Semakin banyak yang kubuka, semakin sulit aku mempercayai apa yang kulihat.


Ada catatan mengenai berbagai operasi yang pernah dijalankan Fredy selama bertahun-tahun.


Ada nama-nama.


Ada tanggal.


Ada tempat.


Ada aliran dana dalam jumlah besar.


Dan yang membuatku terdiam adalah nama-nama penerimanya.


Nama-nama itu bukan orang biasa.


Beberapa di antaranya adalah tokoh yang sering muncul di televisi.


Orang-orang yang selama ini dikenal masyarakat sebagai figur penting.


Aku membaca satu per satu.


Semakin lama, semakin terasa bahwa dunia yang selama ini kulihat tidak sesederhana yang kubayangkan.


Saat sedang membaca, sebuah email baru masuk.


Dari Fredy.


Aku langsung membukanya.


“Hanya ada satu alasan aku menunjukkan semua ini kepadamu.”


“Aku ingin kebenaran diketahui.”


Aku terus membaca.


“Mereka mengenalku sebagai penjahat.”


“Mungkin memang aku telah melakukan banyak kesalahan.”


“Tapi mereka bukan orang suci seperti yang selama ini ditampilkan.”


Aku terdiam.


Lalu kalimat berikutnya muncul.


“Aku ingin semua bukti itu sampai kepada publik.”


Aku membaca pesan itu beberapa kali.


Untuk pertama kalinya aku merasa berada di persimpangan.


Di satu sisi, aku ingin mengetahui kebenaran.


Di sisi lain, aku masih tidak tahu apakah aku bisa mempercayai Fredy sepenuhnya.


Aku tidak langsung mengambil keputusan.


Aku mulai memeriksa dokumen satu per satu.


Mencocokkan tanggal.


Mencari arsip berita lama.


Membandingkan berbagai data yang ada.


Aku ingin memastikan sendiri apa yang benar dan apa yang tidak.


Karena jika semua ini memang nyata, maka banyak hal yang selama ini tersembunyi bisa berubah.


Namun semakin lama aku membaca, pikiranku justru kembali pada pertanyaan yang lain.


Pertanyaan yang jauh lebih penting.


Aku membuka email baru.


Lalu menulis.


“Kenapa aku tinggal bersama paman dan bibi?”


“Kenapa bukan bersamamu?”


Kali ini balasan datang cukup cepat.


“Aku ingin kamu hidup normal.”


Aku mengernyit.


Lalu membaca lanjutannya.


“Ketika kamu masih kecil, hidupku sudah terlalu berbahaya.”


“Ada banyak orang yang menginginkanku jatuh.”


“Aku tidak ingin mereka mengetahui keberadaanmu.”


Aku terdiam.


Email berikutnya masuk beberapa menit kemudian.


“Aku tahu kamu akan membenciku karena itu.”


“Tapi menjauh darimu adalah satu-satunya cara yang kupunya untuk melindungimu.”


Dadaku terasa sesak.


Aku tidak tahu harus marah atau memahami.


Karena selama dua puluh tahun aku hidup tanpa pernah mengenalnya.


Tapi sekarang aku mengetahui bahwa mungkin semua itu memang disengaja.


Aku mengetik lagi.


“Kalau begitu siapa ibuku?”


Lama sekali tidak ada jawaban.


Aku menunggu.


Beberapa menit.


Lalu hampir satu jam.


Akhirnya sebuah pesan masuk.


Tapi jawabannya tidak benar-benar menjawab pertanyaanku.


“Ibumu adalah orang terbaik yang pernah hadir dalam hidupku.”


Hanya itu.


Tidak ada nama.


Tidak ada alamat.


Tidak ada penjelasan.


Aku kembali bertanya.


“Di mana dia sekarang?”


Tidak ada balasan.


Aku menatap layar lama.


Semakin banyak jawaban yang kudapatkan, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul.


Lalu aku melihat sebuah folder lain di laptop itu.


Namanya sederhana.


“NERO”


Tanganku berhenti.


Perlahan aku membukanya.


Di dalamnya terdapat puluhan foto masa kecilku.


Dokumen pendidikan.


Catatan kesehatanku.


Bahkan beberapa foto ketika aku masih sekolah di Bandung.


Aku membeku.


Fredy ternyata mengetahui banyak hal tentang hidupku.


Jauh lebih banyak daripada yang kubayangkan.


Di antara semua file itu terdapat sebuah surat.


Surat yang ditulis beberapa tahun sebelumnya.


Aku membacanya perlahan.


Jika suatu hari kamu membaca ini, berarti waktunya sudah tiba.


Apartemen ini memang disiapkan untukmu.


Bukan kemarin.


Bukan tahun ini.


Tapi sudah lama.


Aku tidak pernah tahu apakah aku akan sempat bertemu denganmu atau tidak.


Karena itu aku menyiapkan tempat ini.


Kalau suatu hari aku gagal bertahan, setidaknya kamu masih memiliki tempat untuk memulai hidupmu sendiri.


Aku menurunkan layar laptop perlahan.


Lalu memandang keluar jendela.


Jakarta masih ramai seperti biasa.


Tapi hidupku tidak lagi biasa.


Aku datang ke apartemen ini untuk mencari jawaban tentang diriku.


Namun yang kutemukan justru sebuah kenyataan baru.


Bahwa seseorang yang selama ini tidak pernah hadir dalam hidupku…


ternyata diam-diam mempersiapkan tempat ini untukku sejak lama.


Dan sampai malam itu berakhir…


aku masih belum menemukan jawaban atas pertanyaan yang paling sederhana.


Kalau dia begitu peduli kepadaku…


kenapa baru sekarang dia muncul?


---


Malam itu aku memutuskan menginap di apartemen tersebut.


Aku belum kembali ke kos.


Entah kenapa, tempat ini terasa lebih aman.


Atau mungkin aku hanya terlalu lelah untuk memikirkan semuanya.


Aku menghabiskan malam dengan membaca file demi file yang tersimpan di laptop peninggalan Fredy.


Semakin banyak yang kubaca, semakin besar pula pertanyaan yang muncul.


Tentang dirinya.


Tentang orang-orang yang pernah bekerja dengannya.


Dan tentang diriku sendiri.


Aku tertidur menjelang pagi di sofa ruang tamu.


Dengan laptop yang masih menyala di hadapanku.



Keesokan harinya aku mengambil keputusan.


Aku mulai mengirim beberapa dokumen yang sebelumnya sudah kuperiksa.


Bukan semuanya.


Hanya sebagian kecil.


Cukup untuk menarik perhatian.


Aku mengirimkannya ke beberapa alamat email media nasional yang cukup besar di Jakarta.


Setelah itu aku hanya menunggu.


Sepanjang hari tidak ada balasan.


Aku mulai berpikir mungkin emailku dianggap spam atau bahkan langsung dihapus.


Namun malam harinya sebuah email masuk.


Dari alamat yang belum pernah kulihat sebelumnya.



“Halo.”


“Perkenalkan, nama saya Rosi.”


“Saya reporter.”


“Saya ingin mengetahui lebih lanjut mengenai dokumen yang Anda kirim.”



Aku membaca email itu beberapa kali.


Reporter.


Artinya seseorang mulai memperhatikan.


Tapi itu juga berarti risikonya semakin besar.


Aku tidak mengenal Rosi.


Aku tidak tahu apakah dia benar-benar reporter atau justru seseorang yang sedang mencoba melacakku.


Posisiku tidak aman.


Apalagi jika ada yang mengaitkanku dengan Fredy.


Aku bisa dianggap bagian dari jaringan yang sedang diburu.



Aku tidak langsung membalas.


Sebaliknya, aku mengirim email kepada Fredy.


Aku menjelaskan bahwa ada seseorang yang menghubungiku.


Seorang reporter yang tertarik dengan dokumen tersebut.



Balasan Fredy datang beberapa jam kemudian.


Singkat.


Seperti biasanya.



“Temui dia.”


“Tapi jangan serahkan semua bukti.”


“Simpan salinannya.”


“Percaya secukupnya.”



Aku membaca pesan itu berulang kali.


Kemudian menutup laptop.


Mungkin memang sudah waktunya.



Esok paginya email baru masuk dari Rosi.


Kali ini lebih jelas.


Ia mengajakku bertemu langsung.


Sebuah kafe di dalam pusat perbelanjaan besar di Jakarta Pusat.


Tempat ramai.


Tempat yang menurutku cukup aman.



Aku akhirnya menyetujui.


Namun aku memberikan satu syarat.



“Aku tidak ingin pertemuan ini diketahui siapa pun.”


“Terutama aparat atau pihak yang sedang menangani kasus ini.”



Beberapa menit kemudian balasan masuk.



“Saya mengerti.”


“Saya datang sendiri.”



Sore harinya aku berangkat.


Sepanjang perjalanan pikiranku tidak tenang.


Aku beberapa kali memastikan tidak ada yang mengikutiku.


Mungkin berlebihan.


Tapi sejak mengenal nama Fredy, hidupku memang tidak pernah terasa normal lagi.



Aku tiba di kafe lebih dulu.


Memilih meja yang menghadap ke pintu masuk.


Agar aku bisa melihat siapa pun yang datang.


Sekitar lima belas menit kemudian seorang perempuan datang menghampiri mejaku.


Masih muda.


Jauh lebih muda daripada yang kubayangkan.



“Kamu Nero?”


tanyanya pelan.


Aku mengangguk.



Dia tersenyum.


“Lalu kamu pasti Rosi.”



Ia mengulurkan tangan.


Aku menyambutnya.



Ternyata Rosi bukan reporter senior.


Bahkan bukan wartawan terkenal.


Dia masih reporter magang.


Baru beberapa bulan bekerja.


Tapi dari cara bicaranya, terlihat jelas bahwa dia serius.



“Aku yang menerima emailmu.”


katanya.


“Aku hampir tidak percaya saat pertama kali membacanya.”



Aku tidak langsung menjawab.


Hanya memperhatikannya.



Rosi membuka laptopnya.


Kemudian menunjukkan beberapa catatan yang sudah ia kumpulkan.


Ia ternyata sudah mencoba memverifikasi sebagian dokumen yang kukirim.


Dan beberapa data memang cocok dengan informasi yang berhasil ia temukan.



“Kalau ini benar…”


katanya perlahan.


“…ini bisa jadi berita terbesar tahun ini.”



Aku terdiam.



“Kenapa?”


tanyaku.



Rosi menatapku serius.


“Karena nama-nama yang muncul di dokumen itu bukan orang sembarangan.”


“Kalau bukti ini valid…”


“…akan ada banyak orang penting yang terkena dampaknya.”



Aku menoleh ke luar jendela kafe.


Jakarta terlihat seperti biasa.


Macet.


Ramai.


Penuh aktivitas.



Tapi di meja kecil tempat kami duduk saat itu…


terdapat sesuatu yang mungkin mampu mengguncang banyak orang.


Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai…


aku merasa tidak sendirian lagi menghadapi rahasia yang ditinggalkan Fredy.


Meski begitu, aku masih menyimpan satu pertanyaan yang belum terjawab.


Pertanyaan yang jauh lebih penting daripada semua dokumen itu.



Siapa sebenarnya ibuku?


Dan kenapa Fredy baru muncul sekarang, setelah dua puluh tahun menghilang dari hidupku?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁