Setelah terkuaknya jaringan narkoba yang masuk ke lingkungan publik figur, berita nasional perlahan mereda.
Tidak ada lagi headline besar yang mengguncang seperti sebelumnya.
Yang tersisa hanya berita-berita biasa.
Politik.
Ekonomi.
Kejadian-kejadian kecil yang cepat digantikan oleh berita lain sebelum sempat benar-benar dipahami.
⸻
Tapi nama itu tidak pernah benar-benar hilang.
Fredy.
⸻
Sesekali, nama itu masih muncul di televisi.
Di diskusi panel.
Di talkshow.
Di potongan berita yang diunggah ulang ke media sosial.
⸻
Orang-orang mulai berspekulasi.
Ada yang bilang dia bersembunyi di pulau terpencil.
Ada yang menyebut negara tertentu di luar negeri.
Ada juga yang membuat teori sendiri, seolah-olah Fredy adalah bagian dari cerita yang boleh ditulis ulang sesuka hati siapa pun.
⸻
Yang jelas, semakin lama, semakin terasa bahwa aparat tidak lagi punya arah yang pasti.
Citra mereka mulai retak.
Bukan karena kekalahan besar yang terlihat jelas.
Tapi karena ketidakmampuan untuk menunjukkan bahwa mereka masih memegang kendali.
⸻
Fredy menjadi semacam bayangan publik.
Ada, tapi tidak pernah bisa disentuh.
Dibicarakan, tapi tidak pernah benar-benar ditemukan.
⸻
Beberapa bulan berlalu.
⸻
Aku sudah masuk semester 4.
⸻
Kehidupan kampus berjalan seperti seharusnya.
Lebih terstruktur.
Lebih serius.
Materi kuliah juga mulai masuk ke hal-hal yang benar-benar aku sukai.
Program komputer.
Data.
Sistem.
Logika di balik sesuatu yang terlihat acak di permukaan.
⸻
Dan anehnya, semakin aku belajar, semakin dunia yang dulu terasa kacau itu mulai terlihat… punya pola.
Bukan pola yang membuat semuanya jelas.
Tapi pola yang justru membuat pertanyaan baru muncul.
⸻
Selain itu, hidupku juga berjalan seperti biasa.
Tidak ada lagi kejadian besar seperti di Australia.
Tidak ada lagi perintah tiba-tiba.
Tidak ada lagi pesan yang mengubah arah hidup dalam satu kalimat.
⸻
Fredy masih tidak jelas keberadaannya.
Kadang aku berpikir dia ada di Australia.
Kadang aku merasa itu terlalu sederhana untuk sesuatu yang selama ini terasa begitu kompleks.
Dan kadang… aku tidak yakin dia benar-benar berada di satu tempat yang bisa disebut “di mana”.
⸻
Rosi juga masih ada.
⸻
Dia tidak lagi hanya reporter biasa.
Namanya mulai dikenal di lingkungan media tempat dia bekerja.
Liputannya semakin sering muncul.
Gaya tulisannya semakin tajam.
Seolah dia mulai memahami bahwa dunia yang dia liput bukan lagi sekadar berita…
tapi sesuatu yang saling terhubung jauh lebih dalam dari yang terlihat.
⸻
Namun kami tidak lagi sering berbicara.
Percakapan kami hanya sesekali.
Singkat.
Formal.
Seperti dua orang yang pernah berada di titik yang sama, tapi perlahan bergerak ke arah yang berbeda tanpa benar-benar sadar kapan itu dimulai.
⸻
Kadang dia masih mengirim pesan.
Kadang aku membacanya tanpa membalas.
Dan di antara semua itu, tidak ada yang benar-benar membahas lagi tentang Australia, Fredy, atau apa pun yang terjadi di antara kami sebelumnya.
⸻
Seolah semuanya sudah menjadi bagian dari masa lalu yang disepakati untuk tidak terlalu sering disentuh.
⸻
Tapi di dalam kepalaku, tidak semuanya selesai.
⸻
Karena semakin hari, satu hal tetap sama:
Fredy tidak pernah benar-benar hilang dari cerita ini.
Dia hanya berhenti terlihat.
⸻
Dan itu jauh lebih mengganggu daripada jika dia benar-benar ditangkap.
⸻
Aku sering berpikir tentang satu hal sederhana.
Kalau seseorang bisa menghilang dari semua sistem…
berarti dia tidak sedang menghindari dunia.
⸻
Dia sedang berdiri di luar cara dunia itu melihat.
⸻
Dan entah kenapa, pikiran itu tidak pernah benar-benar membuatku tenang.
⸻
Karena kalau itu benar…
berarti sejak awal, aku tidak pernah benar-benar sedang mencari Fredy.
⸻
Aku hanya sedang bergerak di dalam sesuatu yang sudah lebih dulu bergerak tanpa aku sadari.
⸻
Lalu suatu sore, tepat ketika aku baru pulang dari kampus dan masih dalam perjalanan menuju apartemen, ponselku bergetar.
Nama itu muncul lagi.
Fredy.
Pesannya singkat, tapi cukup untuk mengubah ritme pikiranku yang baru saja mulai tenang. Dia menyuruhku pergi ke Bali dua hari lagi.
Aku berhenti berjalan di trotoar.
Menatap layar.
Dan tanpa pikir panjang, aku membalas: untuk apa?
Balasannya datang hampir seketika, seperti dia memang sudah menunggu.
“Datang saja dulu.”
Aku mengernyit.
“Tidak,” balasku cepat. “Aku tidak mau.”
Jeda singkat.
Lalu dia membalas lagi.
“Bukannya kamu ingin bertemu denganku?”
Kalimat itu membuat langkahku benar-benar berhenti.
Ada sesuatu di dalam dadaku yang langsung naik—bukan rindu, bukan juga marah, tapi semacam dorongan lama yang belum selesai.
Tanganku mengetik tanpa banyak kontrol.
“Segampang itu? Setelah kejadian di Australia, aku tidak lagi antusias untuk bertemu denganmu.”
Kali ini, tidak ada balasan.
Seperti biasanya, dia menghilang di tengah percakapan yang belum tuntas.
⸻
Keesokan harinya, sebelum aku sempat benar-benar melupakan pesan itu, ponselku kembali bergetar.
Kali ini bukan ajakan, bukan pertanyaan.
Hanya detail.
Kode booking tiket. Jam penerbangan. Maskapai. Semuanya sudah siap. Bahkan namaku sudah tercantum di sistem itu: Nero.
Aku menatapnya lama.
Lalu mengabaikannya.
Menyimpan ponsel tanpa membalas, seolah dengan begitu aku bisa menunda keputusan yang sebenarnya sudah mulai terbentuk tanpa izin dariku.
⸻
Malamnya, aku hampir tidak tidur.
Aku berdiri lama di depan jendela apartemen itu—apartemen yang diberikan Fredy, yang entah sejak kapan terasa seperti ruang tunggu dari sesuatu yang belum jelas bentuknya.
Jakarta di bawah sana tidak pernah benar-benar diam.
Lampu kendaraan, suara samar kota, kehidupan yang terus berjalan tanpa peduli aku sedang berada di titik apa.
Dan di kepala aku, semuanya berisik.
Terlalu banyak kemungkinan, terlalu sedikit kepastian.
Sampai akhirnya aku tertidur begitu saja, seperti tubuhku menyerah lebih dulu daripada pikiranku.
⸻
Pagi datang tanpa peringatan yang jelas.
Dan entah kenapa, aku bangun dengan perasaan yang berbeda.
Bukan tenang.
Bukan gelisah.
Lebih seperti tertarik.
Seperti ada sesuatu yang menarikku keluar dari tempat tidur tanpa perlu alasan yang masuk akal.
Aku mandi, berpakaian, lalu tanpa banyak berpikir…
pergi ke bandara.
⸻
Di dalam pesawat, aku mencoba meyakinkan diriku bahwa ini hanya perjalanan singkat, tidak lebih.
Satu setengah jam menuju Bali seharusnya tidak berarti apa-apa.
Tapi setiap menit terasa seperti aku sedang dipindahkan dari satu lapisan hidup ke lapisan lain yang belum pernah aku kenal.
Dan meskipun logikaku terus berusaha menolak, ada bagian lain dari diriku yang sudah menerima arah ini sejak awal.
⸻
Setibanya di Bali, udara langsung menyambut dengan panas yang lembap dan suara kehidupan yang lebih terbuka.
Aku menuju hotel di seberang Pantai Kuta.
Bangunannya cukup tinggi, modern, dengan balkon yang langsung menghadap laut.
Aku tidak lagi banyak mempertimbangkan biaya.
Uang dari Fredy sudah lama berhenti terasa seperti sesuatu yang asing.
Lebih seperti alat yang memang disiapkan untuk situasi seperti ini.
⸻
Begitu masuk kamar, aku langsung membuka pintu balkon.
Dan di hadapanku, Pantai Kuta terbentang tanpa batas.
Ombak datang dan pergi tanpa henti, seolah tidak pernah kehabisan tenaga.
Langit mulai berubah warna, perpaduan jingga dan biru yang perlahan memudar ke arah senja.
Orang-orang di bawah terlihat kecil, bergerak bebas, tertawa, berjalan, hidup tanpa beban yang tidak terlihat.
Semuanya tampak sederhana.
Terlalu sederhana dibanding apa yang ada di kepalaku.
⸻
Tak lama setelah itu, ponselku bergetar lagi.
Fredy.
Pesannya kali ini bukan ajakan biasa.
Dia menyuruhku datang ke sebuah restoran di Sanur keesokan harinya.
Jam dua belas siang.
Aku harus ke resepsionis dan menyebut satu kalimat: atas nama Nero.
Dia bilang semuanya sudah dipesan.
⸻
Aku tidak membalas.
Tidak menolak.
Tidak menerima.
Aku hanya menatap layar itu sampai redup dengan sendirinya.
⸻
Sejak sore itu sampai pagi berikutnya, aku tidak benar-benar melakukan apa pun.
Aku hanya berada di kamar.
Kasur.
TV yang menyala tanpa benar-benar ditonton.
Film berganti, suara berganti, tapi pikiranku tetap di tempat yang sama.
Di satu titik yang terus berulang: dia tidak akan datang.
Fredy tidak akan muncul.
Dia tidak pernah benar-benar muncul di tempat yang bisa disentuh.
Dan mungkin, sejak awal, aku memang tidak sedang diajak bertemu.
Aku hanya sedang diarahkan untuk terus percaya bahwa pertemuan itu mungkin ada.
⸻
Semakin aku mencoba meyakinkan diri untuk tidak datang, justru semakin kuat dorongan itu terasa.
Seperti ada sesuatu yang menarik dari dalam kepala—pelan, konsisten—mendorongku keluar tanpa benar-benar memberi pilihan.
Hingga akhirnya siang itu aku bangkit juga.
Aku duduk sebentar di tepi ranjang, menatap kamar yang terasa terlalu sunyi untuk pikiran yang sedang tidak berhenti bekerja. Lalu aku berdiri, masuk ke kamar mandi, menyalakan air, dan membiarkannya jatuh begitu saja tanpa benar-benar memikirkan apa pun.
Tidak ada ekspektasi.
Tidak ada harapan.
Hanya langkah yang terjadi karena tidak ada alasan cukup kuat untuk berhenti.
⸻
Aku naik taksi menuju restoran di Sanur.
Bali siang itu terang, hampir menyilaukan. Jalanan bergerak seperti biasa—motor, mobil, orang-orang yang tidak tahu bahwa di dalam satu kepala kecil, ada keputusan yang belum benar-benar dipahami pemiliknya sendiri.
Setibanya di restoran, aku turun.
Dari luar, tempat itu tampak rapi dan tenang. Tapi di dalam, suasana cukup ramai—pengunjung makan siang, percakapan ringan, suara sendok dan piring yang saling bertemu.
Semua terasa normal.
Terlalu normal.
Aku berjalan ke resepsionis.
“Nero,” kataku singkat.
Beberapa detik kemudian aku diarahkan ke area outdoor.
⸻
Meja itu menghadap langsung ke Pantai Sanur.
Laut terbentang tenang, cahaya matahari memantul di permukaan air seperti serpihan kaca kecil yang bergerak pelan. Angin laut masuk tanpa tergesa, membawa suara yang membuat semuanya terasa lebih jauh dari biasanya.
Aku duduk.
Membuka menu.
Memilih tanpa banyak pertimbangan.
Makanan, minuman, dessert.
Aku tidak lagi peduli harga. Sejak lama, angka-angka itu berhenti punya bobot yang sama.
Lebih baik makan dengan benar daripada menunggu sesuatu yang bahkan belum pasti akan terjadi.
⸻
Makanan datang.
Dan untuk beberapa menit, dunia menyusut menjadi hal sederhana: rasa, lapar, dan diam.
Aku makan dengan cukup lahap. Lebih dari yang aku sadari aku butuhkan.
Ada sesuatu yang membuat tubuhku akhirnya merasa sedikit “di sini”, bukan di antara kemungkinan-kemungkinan yang terus menggantung di kepala.
Dan anehnya, untuk sementara, aku benar-benar berhenti memikirkan Fredy.
⸻
Sampai seseorang menarik kursi di hadapanku.
Tanpa banyak suara.
Tanpa basa-basi.
Aku mendongak.
Seorang wanita.
Sekitar empat puluh lima tahun.
Tenang. Rapi. Wajahnya asing tapi tidak sepenuhnya asing—seperti sesuatu yang pernah aku lihat dalam bentuk lain, tapi tidak pernah benar-benar kuingat sebagai orang.
“Apa kabar, Nero?” katanya.
Aku berhenti mengunyah.
Menatapnya.
“Siapa ya?” tanyaku, jujur, tanpa refleks lain.
Wanita itu menatapku balik, lalu menjawab dengan tenang.
“Aku Frederica.”
⸻
Aku membeku.
Nama itu menghantam lebih dalam daripada yang bisa aku jelaskan.
Bukan karena bunyinya.
Tapi karena beberapa waktu lalu, Fredy pernah menyebutnya.
Sebuah nama yang dia katakan sebagai ibuku.
Dan selama ini, itu hanya informasi yang menggantung—tidak pernah benar-benar punya bentuk, tidak pernah punya wajah.
Sampai sekarang.
Aku menatapnya lebih lama.
Makanan di hadapanku tiba-tiba kehilangan arti.
Suara ombak tetap ada di belakang, tapi terasa seperti datang dari tempat yang jauh sekali.
Dan untuk pertama kalinya dalam perjalanan panjang ini…
aku tidak tahu lagi apakah aku sedang duduk di depan seorang asing.
atau di depan jawaban yang selama ini tidak pernah benar-benar berani aku bayangkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar kamu disini!👇✌️😁