Nama itu semakin sering muncul di kepalaku.
Fredy.
Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa ini hanya kebetulan.
Nama yang sama bisa muncul di banyak tempat.
Tapi semakin aku membaca, semakin aku sadar… ini bukan kebetulan biasa.
⸻
Aku kembali membuka situs yang pernah kutemukan itu.
Data di dalamnya masih bisa diakses.
Aku menelusuri satu file yang sebelumnya hanya sekilas kulihat.
File itu berisi struktur penanganan kasus.
Nama-nama lembaga yang terlibat muncul di sana.
Salah satunya adalah badan dari BNN.
⸻
Aku membuka profil yang tercantum di dalam sistem itu.
Bukan profil Fredy, tapi orang-orang yang menangani kasusnya.
Ada daftar panjang nama, jabatan, dan unit kerja.
Semua terlihat resmi, seperti dokumen internal yang seharusnya tidak bisa diakses sembarang orang.
Aku membaca satu per satu dengan hati-hati.
Dan semakin aku membaca, semakin aku merasa ini bukan sekadar kasus biasa.
⸻
Beberapa hari berlalu.
Aku mencoba kembali menjalani hidup seperti biasa.
Kuliah, tugas, dan rutinitas kos.
Tapi setiap kali aku membuka berita, nama itu selalu muncul lagi.
Fredy.
⸻
Sampai suatu hari, berita besar muncul di televisi.
Penangkapan salah satu kaki tangan Fredy di Bandara Denpasar.
Beritanya ramai.
Gambar, video, dan pernyataan resmi ditampilkan di mana-mana.
Tapi satu hal tetap sama:
Fredy sendiri masih belum tertangkap.
⸻
Malam itu aku tidak tahan lagi.
Aku membuka email itu kembali.
Jari-jariku sedikit ragu saat mengetik.
“Kenapa kamu memilih aku?”
Aku berhenti sebentar.
Lalu melanjutkan.
“Kalau aku penting, seharusnya kamu menjauhkan aku dari ini, bukan menarikku masuk.”
Aku kirim.
⸻
Tidak lama.
Balasan masuk.
⸻
Pesannya singkat.
Terlalu singkat untuk sesuatu yang selama ini terasa begitu besar.
⸻
“Aku tidak memilihmu.”
“Aku hanya mengingatkanmu.”
⸻
Aku membaca itu beberapa kali.
Lalu aku membalas lagi.
“Kamu siapa sebenarnya?”
Dan kali ini, aku tidak menunggu lama.
Jawaban datang lebih cepat dari sebelumnya.
⸻
“Karena kamu adalah anakku.”
⸻
Aku terdiam.
Layar laptop masih menyala, tapi aku tidak bergerak.
Kata itu tidak langsung masuk ke pikiranku dengan benar.
Seperti otakku menolak untuk menerimanya.
⸻
Aku membaca ulang pesan itu.
Pelan-pelan.
Satu per satu kata.
Kamu adalah anakku.
⸻
Tanganku melemah di meja.
Aku mencoba mengingat kembali hidupku.
Bandung.
Bibi.
Paman.
Rumah kecil itu.
Tidak pernah ada cerita tentang ini sebelumnya.
Tidak pernah ada tanda apa pun.
⸻
Aku mengetik lagi, lebih lambat.
“Apa maksudmu?”
⸻
Balasan tidak langsung datang.
Beberapa menit terasa sangat lama.
Lalu akhirnya pesan itu muncul lagi.
⸻
“Ada hal yang tidak pernah diceritakan kepadamu.”
“Kamu tidak dibesarkan oleh orang yang kamu pikir.”
⸻
Aku diam.
Jari-jariku berhenti di atas keyboard.
⸻
“Kenapa aku bisa sampai di mereka?” aku mengetik lagi.
⸻
Kali ini balasannya lebih panjang.
⸻
“Itu bukan kebetulan.”
“Ada alasan kenapa kamu tumbuh jauh dari aku.”
“Tapi itu bukan sesuatu yang bisa dijelaskan dalam satu percakapan.”
⸻
Aku membaca itu berulang kali.
Kepalaku mulai terasa berat.
Semua yang kupikir selama ini tentang hidupku…
mulai retak sedikit demi sedikit.
⸻
Aku menutup laptop.
Tapi kali ini bukan karena sudah selesai.
Tapi karena aku tidak siap melanjutkan.
⸻
Di dalam kamar kos yang sunyi itu…
aku hanya duduk diam.
Mencoba memahami satu hal sederhana yang tiba-tiba menjadi sangat rumit:
siapa sebenarnya aku.
⸻
Nero is My Name.
Dan malam itu, aku sadar…
jawaban yang aku cari tidak lagi tentang Fredy.
Tapi tentang diriku sendiri.
⸻
Tanganku masih gemetar saat menatap layar.
Pesan itu belum hilang dari kepalaku.
“Kamu adalah anakku.”
Aku tidak langsung membalas.
Tapi akhirnya aku mengetik lagi.
⸻
“Ke mana kamu selama ini?”
Jariku berhenti sebentar, lalu lanjut lagi.
“Kenapa baru muncul sekarang?”
“Aku sedang dalam situasi yang tidak aman. Kamu sadar itu?”
Aku menarik napas.
Lalu menambahkan lagi.
“Apakah ini tidak membahayakan aku?”
⸻
Aku menatap layar, masih belum selesai.
Aku mengetik lebih cepat, tanpa benar-benar memikirkan kalimatnya.
“Kenapa kamu menghubungiku sekarang?”
“Di saat semua ini sedang terjadi?”
⸻
Jarinya terus bergerak.
“Untuk apa semua uang di rekening ini?”
Aku berhenti.
Lalu melanjutkan lagi, lebih pelan.
“Jumlahnya tidak sedikit.”
⸻
Aku terdiam sebentar.
Bayangan hidupku tiba-tiba muncul di kepala.
Kos kecilku.
Hidup sederhana bersama bibi dan paman.
Uang yang selalu cukup pas-pasan.
Tidak pernah lebih.
Tidak pernah ada yang berlebihan.
⸻
Aku mengetik lagi.
“Kamu mungkin punya hidupmu sendiri sekarang.”
“Mungkin kamu sudah punya keluarga lain.”
“Aku tidak tahu.”
“Tapi aku… hidup seperti orang biasa.”
⸻
Aku berhenti.
Dadaku terasa sesak.
Tanganku mulai tidak stabil di keyboard.
⸻
“Sedangkan aku,” lanjutku lagi,
“hidup dalam keterbatasan.”
“Bersama orang yang aku panggil keluarga…”
“…tanpa pernah tahu kebenaran apa pun tentang diriku sendiri.”
⸻
Aku tidak sadar sejak kapan mataku mulai panas.
Tapi air itu jatuh begitu saja.
Satu, lalu dua.
Aku tidak mengusapnya.
Aku hanya menatap layar.
⸻
Aku mengetik lagi, kali ini lebih lambat.
“Untuk apa semua ini?”
“Untuk apa uang itu?”
“Dan… apa yang kamu minta dariku?”
⸻
Aku menekan tombol kirim.
Lalu diam.
Kos terasa lebih sunyi dari biasanya.
Jam dinding terdengar jelas.
Detik demi detik berjalan terlalu lambat.
⸻
Beberapa menit tidak ada jawaban.
Aku hanya duduk di kursi, menunduk.
Tidak tahu harus berharap apa.
⸻
Lalu ponselku bergetar.
Email masuk.
⸻
Aku membuka dengan pelan.
Hanya satu kalimat di awal.
⸻
“Aku tidak bisa menjawab semuanya sekarang.”
⸻
Aku membaca lanjutannya.
⸻
“Aku tidak pernah meninggalkanmu karena ingin.”
“Tapi karena aku tidak punya pilihan.”
⸻
Aku terdiam.
⸻
Lalu pesan itu berlanjut.
⸻
“Uang di rekening itu bukan untuk kamu gunakan sekarang.”
“Itu hanya untuk memastikan kamu tetap aman jika waktunya tiba.”
⸻
Aku menelan ludah.
Tanganku masih dingin.
⸻
Dan di bagian terakhir, ada satu kalimat lagi.
⸻
“Aku tidak butuh kamu melakukan apa pun.”
“Tapi dunia akan memaksamu untuk memilih.”
⸻
Aku menatap layar lama sekali.
Air mataku sudah tidak jatuh lagi.
Tapi dadaku masih terasa berat.
⸻
Aku menutup laptop perlahan.
Bukan karena sudah selesai.
Tapi karena aku tidak tahu harus percaya apa lagi.
⸻
Di kamar kos yang sunyi itu…
aku akhirnya hanya duduk diam.
Dengan satu pertanyaan yang tidak pernah berhenti berputar di kepalaku:
kalau dia benar ayahku… kenapa hidupku justru terasa seperti jebakan yang baru saja terbuka?
⸻
Nero is My Name.
Dan malam itu, aku mulai sadar…
bahwa kebenaran tidak selalu datang sebagai jawaban.
Kadang, ia datang sebagai beban.
⸻
Aku menatap layar laptop tanpa berkedip.
Pesan itu belum selesai benar-benar aku pahami…
ketika satu file baru masuk ke emailku.
⸻
Tanpa subjek.
Hanya lampiran.
⸻
Aku ragu sebentar.
Tapi aku tetap membukanya.
⸻
Foto pertama muncul.
Aku langsung diam.
⸻
Seorang bayi.
Dipeluk oleh seseorang.
Wajah orang itu… tidak asing.
Aku sudah sering melihat wajah itu akhir-akhir ini.
Di berita.
Di layar TV.
Di berbagai laporan kasus besar yang sedang ramai dibicarakan.
⸻
Aku menelan ludah.
Tanganku langsung kaku.
⸻
Aku membuka foto berikutnya.
Dan berikutnya.
⸻
Semua foto itu menunjukkan hal yang sama.
Aku kecil.
Di tangan orang yang sama.
Dengan berbagai momen berbeda.
Seperti dokumentasi lama yang sengaja disimpan.
⸻
Tidak ada lagi ruang untuk “kebetulan”.
⸻
Aku langsung mengetik pesan.
Tanganku sedikit gemetar.
⸻
“Apa yang kamu mau dariku?”
⸻
Tidak lama.
Jawaban masuk.
⸻
Kali ini tidak panjang.
Tapi cukup untuk membuatku berhenti bergerak.
⸻
“Pindahkan uang itu ke rekening pribadimu.”
⸻
Aku langsung terdiam.
⸻
Aku menatap layar dengan tidak percaya.
Jumlah uang di rekening itu…
terlalu besar.
Hampir menyentuh 1 miliar jika dihitung kasar.
⸻
Aku mengetik cepat.
“Apa kamu sadar kamu sedang bicara apa?”
⸻
Balasan masuk lagi.
⸻
“Aku sadar.”
⸻
Aku menutup mata sebentar.
Ini bukan hal kecil.
Ini bukan sekadar transfer biasa.
⸻
Aku mengetik lagi.
“Aku tidak bisa langsung percaya kamu.”
⸻
Lalu aku melanjutkan.
“Aku perlu bukti.”
“Bukti bahwa kamu benar-benar dijebak seperti yang kamu katakan.”
⸻
Beberapa menit hening.
Tidak ada balasan.
⸻
Aku pikir mungkin dia tidak akan menjawab lagi.
Tapi ternyata salah.
⸻
Pesan masuk.
⸻
“Kamu akan menemukannya.”
“Tapi tidak di sini.”
⸻
Aku mengernyit.
Lalu pesan berikutnya muncul.
⸻
“Satu alamat akan dikirim.”
⸻
Dan benar saja.
Beberapa detik kemudian…
sebuah lokasi masuk ke emailku.
⸻
Hanya satu titik.
Di Jakarta.
⸻
Seminggu berlalu sejak itu.
Aku mencoba menjalani hidup seperti biasa.
Kuliah.
Kos.
Rutinitas.
Tapi uang di rekening itu…
tidak pernah benar-benar hilang dari pikiranku.
⸻
Setiap kali aku mengeceknya…
angka itu tetap ada.
Tidak berubah.
Seperti menunggu sesuatu.
⸻
Beberapa hari kemudian, sebuah pesan baru masuk lagi.
⸻
“Apartemen.”
⸻
Disusul alamat lengkap.
Di pusat Jakarta.
Sebuah gedung mewah.
⸻
Keesokan harinya, aku berdiri di depan gedung itu.
⸻
Apartemen tinggi.
Bersih.
Modern.
Dengan keamanan ketat di pintu masuk.
⸻
Aku ragu sebentar.
Tapi di tanganku sudah ada kode akses.
Dikirim oleh Fredy.
⸻
Aku memasukkannya.
Pintu terbuka.
⸻
Aku melangkah masuk perlahan.
Lift langsung terbuka seperti sudah menunggu.
⸻
Aku masuk.
Menekan lantai yang sudah ditentukan.
⸻
Angka naik.
20…
21…
22…
⸻
Dan saat pintu lift terbuka…
aku tahu satu hal.
⸻
Apa pun yang sedang terjadi…
ini bukan lagi percakapan jarak jauh.
⸻
Aku sudah masuk ke dalamnya.
⸻
Nero is My Name.
Dan kali ini…
jawaban tidak lagi berada di layar.
Tapi di tempat yang sedang kutapaki sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar kamu disini!👇✌️😁