Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Sabtu, 04 Juli 2026

Nero is My Name (Part 12)



Sore itu aku mempersiapkan diri dengan harapan yang lebih baik.


Aku menuju sebuah bar yang disebutkan oleh Fredy.


Dengan hanya berjalan kaki sekitar lima menit dari hotel, aku tiba di tempat itu.


Sebuah bar sederhana, tidak terlalu ramai, hanya berisi beberapa orang yang sedang mengobrol santai sambil meminum pesanan mereka.


Lampu-lampu hangat di dalamnya membuat suasana terlihat normal. Terlalu normal, justru terasa janggal.



Aku masuk dan memilih duduk.


Bukan di bar utama, tapi di sudut yang bisa melihat pintu masuk dengan jelas.


Aku memesan bir.


Lalu menunggu.



Lima belas menit.


Setengah jam.


Satu jam.


Dua jam.


Waktu berjalan tanpa belas kasihan, sementara tidak ada satu pun tanda kehadiran Fredy.


Orang-orang datang dan pergi.


Gelak tawa berubah, musik berganti tempo.


Tapi tidak ada yang berubah untukku.



Aku membuka ponsel.


Mengetik pesan.


Mengirim.



“Aku sudah di sini. Kamu di mana?”



Hening.


Tidak ada balasan.



Aku menatap layar itu cukup lama, lalu memasukkannya kembali ke saku.


Meneguk bir yang sudah mulai kehilangan dinginnya.


Satu gelas.


Lalu satu lagi.


Bukan karena ingin, tapi karena tidak tahu harus melakukan apa selain menunggu.



Hingga hampir tengah malam.


Fredy tidak datang.


Tidak ada pesan.


Tidak ada penjelasan.


Tidak ada apa pun.



Dan untuk pertama kalinya, aku mulai menerima kemungkinan itu sepenuhnya.


Bahwa aku memang tidak sedang ditunggu.


Aku sedang… dibiarkan datang.



Aku berdiri.


Membayar minuman.


Dan melangkah keluar dengan perasaan yang campur aduk.


Marah.


Kaget.


Dan sesuatu yang lebih dalam dari itu—rasa ditinggalkan tanpa penjelasan.



Baru beberapa langkah keluar dari pintu…


ponselku bergetar.



Fredy.



Pesan masuk.



“Kamu sedang diikuti.”



Aku berhenti berjalan.


Menatap layar.


Lalu perlahan mengangkat kepala.


Jalan di depan bar terlihat biasa saja.


Orang-orang lewat tanpa peduli.


Tidak ada yang tampak mencurigakan secara langsung.



Aku menoleh pelan.


Ke kanan.


Ke kiri.


Tidak ada yang jelas.


Tidak ada yang bisa dipastikan.



Pesan berikutnya masuk.



“Dua orang di pintu keluar.”


“Satu di dekat bar.”


“Dua di parkiran.”



Darahku terasa sedikit mengeras.


Bukan karena panik yang meledak-ledak.


Tapi karena cara Fredy menyebutnya… terlalu spesifik untuk diabaikan begitu saja.



Pesan lain masuk lagi.



“Tenang.”


“Bergerak seperti biasa.”


“Jangan tunjukkan bahwa kamu tahu.”


“Semua komunikasi ini terenkripsi.”



Aku berdiri diam beberapa detik.


Lalu mengatur napas.


Berusaha terlihat seperti orang yang hanya selesai minum dan akan pulang ke hotel.



Pesan terakhir datang.



“Dalam 30 menit, kembali ke hotel.”


“Besok pagi, sarapan seperti biasa.”


“Siang hari, pergi ke taman atau museum.”


“Lanjutkan rutinitas wisata. Jangan keluar pola.”



Aku membaca itu sambil tetap berjalan pelan.


Langkahku dibuat se-normal mungkin.


Terlalu normal, sampai rasanya aku sedang memerankan seseorang yang bukan aku.



Dan aku mengikuti.



Kembali ke hotel.


Tanpa berlari.


Tanpa menoleh terlalu sering.


Tanpa melakukan hal yang bisa menarik perhatian.



Di kamar, aku duduk lama di tepi ranjang.


Lampu kota Canberra terlihat tenang dari jendela.


Terlalu tenang untuk malam yang baru saja terasa berubah arah.



Aku membuka ponsel lagi.


Menatap pesan-pesan Fredy.


Dan untuk pertama kalinya sejak aku datang ke Australia, sebuah pikiran lain muncul—lebih tajam daripada rasa takut atau marah.



Kalau semua ini benar…


kalau aku memang diikuti…


kalau Fredy benar-benar melihat semua ini dari jarak tertentu…



maka siapa yang membocorkan keberadaanku?



Hanya ada satu orang yang benar-benar tahu rencanaku sejak awal.


Rosi.



Aku terdiam.


Nama itu tidak terasa asing.


Tapi malam ini, rasanya berbeda.


Lebih berat.


Lebih dingin.



Dan untuk pertama kalinya, rasa percaya yang selama ini aku pegang tanpa banyak pertanyaan…


mulai retak sedikit demi sedikit.



Aku menatap layar ponsel, lalu mengetik nama itu di pikiranku berulang kali.


Rosi.


Rosi.


Rosi.



Bukan lagi sebagai rekan.


Bukan lagi sebagai satu-satunya orang yang “mengerti”.


Tapi sebagai satu-satunya kemungkinan yang tersisa.



Dan itu membuatku takut.


Bukan karena Fredy.


Tapi karena aku mulai tidak yakin lagi siapa sebenarnya yang sedang memegang kendali dari semua ini.



Pada keesokan harinya dan hari-hari selanjutnya, aku beraktivitas seperti turis pada umumnya.


Pergi ke beberapa tempat wisata.


Makan dan ngopi di café-café kecil yang tersebar di sudut kota.


Berbelanja seperlunya.


Dan berusaha tetap terlihat normal.



Sejauh ini tidak ada pergerakan yang mencurigakan.


Tidak ada wajah yang terasa “mengikuti”.


Tidak ada pola yang bisa aku tangkap sebagai ancaman.


Canberra tetap terasa seperti kota yang tenang… terlalu tenang untuk sesuatu yang selama ini terasa begitu rumit di kepalaku.



Hari-hari berlalu lebih cepat dari yang aku duga.


Dan tanpa sadar, masa tinggalku di Australia sudah hampir berakhir.



Tapi satu hal tetap sama.


Aku masih belum bisa menemuinya.


Fredy.



Aku mencoba memahami itu dengan cara yang paling masuk akal.


Mungkin dia memang tidak bisa muncul.


Mungkin dia memang tidak ingin muncul.


Atau mungkin… memang tidak pernah ada ruang aman untuk sebuah pertemuan.



Aku mulai menerima kemungkinan itu.


Dengan cara yang tidak sepenuhnya ikhlas, tapi cukup untuk membuatku tidak melawan kenyataan.



Fredy pasti punya alasan.


Dan kalau dia selama ini benar-benar dalam pengawasan atau pengejaran, maka wajar kalau keberadaannya harus tetap tersembunyi.


Aku mencoba mengerti itu.


Terlalu mencoba.



Lalu hari kepulangan tiba.



Pesan masuk dari Fredy.



“Maaf aku tidak bisa menemuimu kali ini. Terlalu berbahaya.”



Aku menatap layar itu lama.


Tidak ada kemarahan yang meledak.


Hanya sesuatu yang lebih sunyi.


Seperti ruang kosong yang tidak diisi oleh harapan sejak awal, tapi tetap terasa kehilangan saat dikosongkan.


Aku hanya membalas:


“Ok.”



Beberapa detik kemudian, pesan lain masuk.



“Besok pergi ke bandara pakai taksi yang biasa parkir di depan hotel.”



Aku tidak membalas.


Aku hanya membaca, lalu mematikan layar ponsel.



Malam itu aku tidak banyak bicara dengan siapa pun.


Aku mulai merapikan barang.


Sesuatu di dalam diriku terasa berat, tapi tidak cukup kuat untuk disebut keputusan.


Lebih seperti… menyerah yang pelan.



Keesokan harinya aku sarapan seperti biasa di hotel.


Tidak ada yang berbeda dari orang-orang di sekitarku.


Turis lain datang dan pergi.


Pelayan tersenyum seperti biasa.


Dunia tetap berjalan tanpa memperhatikan bahwa ada sesuatu yang selesai di dalam diriku.



Aku kembali ke kamar, mandi, lalu bersiap check-out.


Tas kecilku sudah kembali menjadi satu-satunya bentuk hidup yang kubawa.



Di depan hotel, taksi yang dimaksud sudah menunggu.


Mobil biasa.


Pengemudi yang tidak terlihat mencurigakan.


Semua terlihat terlalu normal untuk sesuatu yang terasa begitu berat di kepalaku.



Aku masuk.


Pintu ditutup.


Dan taksi mulai bergerak menuju bandara Canberra.



Di tengah perjalanan, aku duduk diam.


Menatap jalanan.


Bangunan-bangunan yang mulai terasa akrab, padahal aku baru sebentar di sini.


Dan entah kenapa, ada rasa sedih yang perlahan naik tanpa aku minta.



Aku tidak benar-benar marah.


Tapi kecewa itu ada.


Pelan.


Tertahan.


Dan akhirnya jatuh juga.



Aku tidak sadar kapan tepatnya air mataku keluar.


Hanya terasa hangat di pipi, lalu cepat kuusap sebelum terasa lebih nyata.



Supir taksi itu melihatku sekilas lewat kaca di dasbor.


Tidak berkata apa-apa.


Hanya pandangan singkat.


Seolah dia memahami sesuatu yang tidak perlu dijelaskan.



Aku langsung menoleh ke luar jendela lagi.


Berusaha menghilangkan rasa canggung yang tiba-tiba muncul.



Setibanya di bandara, aku membayar dan turun.


Menarik napas panjang.


Lalu berjalan masuk menuju area check-in.



Langkahku belum jauh ketika ponselku bergetar.


Pesan masuk.


Fredy.



“Maaf aku membuatmu menitikkan air mata.”



Aku berhenti berjalan.


Menatap layar itu.


Lalu refleks menoleh ke belakang.



Kok dia bisa tahu?



Pikiranku langsung melompat.


Supir taksi itu?



Aku berbalik cepat.


Berlari keluar area bandara menuju titik drop-off.


Mencari taksi yang tadi.



Tapi jalanan sudah berbeda.


Taksi itu sudah tidak ada.


Seolah tidak pernah benar-benar berada di sana lama.



Ponselku bergetar lagi.


Pesan baru masuk.



“Pulanglah ke Jakarta.”



“Suatu saat kita akan bertemu.”



Aku berdiri di tepi jalan itu cukup lama.


Tidak bergerak.


Tidak bicara.


Tidak tahu harus merasa apa lagi selain satu hal yang paling jelas di antara semuanya.



Kecewa.




Aku kembali ke Jakarta sebagai Nero.


Kota ini tidak berubah.

Tapi aku yang terasa sedikit berbeda.



Aku kembali menjalani aktivitas seperti biasa.

Kuliah.

Pulang.

Layar laptop.

Rutinitas yang seolah tidak pernah tahu bahwa aku baru saja kembali dari sesuatu yang… tidak bisa sepenuhnya aku jelaskan.



Tidak ada pesan dari Fredy.


Hening.


Terlalu hening untuk seseorang yang sebelumnya selalu muncul di saat yang tidak terduga.



Tapi Rosi menghubungiku.



“Nero, kamu sudah bertemu dengannya?”

“Fredy. Ayahmu?”



Aku membaca pesan itu lama.


Tidak membalas.



Beberapa saat kemudian, pesan lain masuk.



“Gimana dia?”



Aku tetap diam.


Tidak mengetik apa pun.


Tidak menghapus apa pun.


Hanya membiarkan layar itu mati sendiri.



Dan sejak saat itu… aku mulai menjaga jarak.


Bukan karena aku membenci Rosi.


Tapi karena ada sesuatu di kepalaku yang tidak bisa lagi menganggapnya sepenuhnya aman.



Aku mulai berpikir.


Kalau semua ini selalu berputar di sekitar informasi…


maka orang yang paling dekat dengan informasi, adalah orang yang paling berbahaya.



Setiap hari setelah itu, Rosi tetap mengirim pesan.


Kadang pendek.

Kadang hanya satu kalimat.

Kadang tidak ada urgensi sama sekali.


Tapi aku tidak pernah membalas.



Sampai suatu hari, Fredy muncul lagi.



Kali ini bukan pesan singkat seperti biasanya.


Ada file.



“Buka.”



Aku membuka file itu.


Nama-nama muncul satu per satu di layar.


Orang-orang yang pernah aku lihat sekilas di televisi.

Wajah publik.

Figur terkenal.


Amir Zino.

Fakru Akbar.

Faris MR.

Leonard.



Ada catatan di bawahnya.


Aliran barang.

Transaksi.

Jejak pertemuan.

Nama-nama yang saling terhubung dalam pola yang tidak nyaman dilihat terlalu lama.



Fredy menjelaskan lewat pesan.


Mereka disebut sebagai pengguna.

Orang-orang yang membeli dari jaringan yang terhubung dengannya.

Dan sebagian dari mereka… disebut ikut memberi informasi ke pihak kepolisian.



Aku membaca itu tanpa langsung menjawab.



Lalu Fredy menambahkan:


“Ini bagian dari kenapa Samba mulai bergerak.”



Aku bertanya singkat.


“Kenapa aku harus tahu ini?”



Fredy menjawab:


“Kamu perlu kirim ke Rosi.”



Aku diam beberapa detik.


Lalu mengetik:


“Rosi tidak bisa dipercaya.”



Balasan datang cepat.


“Kenapa?”



Aku berhenti.


Lalu menjawab jujur.


“Dia membocorkan rencanaku ke Australia. Ada orang yang mengikuti aku di sana.”



Fredy tidak langsung membalas.


Jeda itu terasa lebih lama dari biasanya.



Lalu akhirnya muncul pesan:


“Bukan dia.”



“Yang di Australia bukan karena Rosi.”


“Mereka memang sudah mencurigai pergerakan Fredy.”



Aku membaca itu pelan.


Seolah mencoba memisahkan dua versi kebenaran yang saling bertabrakan.



Aku membuka chat Rosi lagi.


Jari-jariku berhenti sebentar.


Lalu aku mengetik:


“Aku curiga kamu yang membocorkan rencanaku ke Australia.”



Pesan terkirim.



Tidak lama kemudian, Rosi membalas.



“Itu tidak mungkin aku lakukan, Nero.”



Kalimat itu sederhana.


Tapi terasa seperti seseorang yang tidak sedang berusaha meyakinkan dunia…


melainkan dirinya sendiri.



Lalu dia menambahkan:


“Aku nggak pernah main sejauh itu.”



Aku tidak membalas lagi.



Beberapa jam kemudian, aku memutuskan untuk mengirim file dari Fredy ke Rosi.


Nama-nama itu.

Data.

Lokasi yang disebutkan.

Foto-foto yang sebagian sudah terlihat blur, sebagian masih jelas.


Tanpa penjelasan tambahan.



Hanya itu.



Hari-hari setelahnya berjalan cepat.


Terlalu cepat.



Sampai berita itu muncul.



Media meledak.


Nama-nama itu muncul di mana-mana.


Figur publik.

Skandal.

Jaringan narkoba.

Jejak transaksi yang dikaitkan dengan mereka.



Narasi terbentuk dengan cepat.


Seperti biasa.


Terlalu cepat untuk sesuatu yang seharusnya masih diperiksa.



Dan seperti sebelumnya…


Fredy tidak pernah muncul di mana pun dalam cerita itu.



Hanya jejak.


Hanya nama yang tidak disebut langsung.



Beberapa pihak mulai menuntut kepolisian untuk membuka penyelidikan lebih dalam.


Bukan hanya pada para artis itu.


Tapi juga pada sosok yang disebut sebagai pemasok utama.


Fredy.



Dan di tengah semua itu…


aku hanya duduk di kamar.


Menatap layar yang terus dipenuhi berita.


Tanpa tahu lagi apakah aku sedang membantu seseorang…


atau hanya sedang ikut mendorong sesuatu yang tidak bisa lagi dihentikan.



Dan untuk pertama kalinya setelah semua ini…


aku bertanya pada diriku sendiri dengan jujur:


Kalau semua ini benar-benar terbuka sampai ujungnya…


siapa sebenarnya yang akan paling dulu jatuh?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁