Setelah berita tentang penangkapan mantan kepala daerah di Batam, aku mulai merasa sesuatu berubah di sekitarku.
Bukan di dunia luar.
Tapi di dalam caraku menjalani hidup.
Aku jadi lebih was-was.
Lebih sering menoleh tanpa alasan jelas.
Dan lebih sering merasa bahwa hal-hal kecil yang dulu tidak aku pikirkan… sekarang terasa punya makna lain.
Aku tetap berstatus sebagai mahasiswa biasa di mata orang lain.
Kuliah, tugas, kehidupan sehari-hari—semuanya terlihat normal dari luar.
Tapi aku sendiri tahu, hidupku sudah tidak lagi sesederhana itu.
Aku tidak lagi pulang ke kost seperti dulu.
Sekarang aku lebih sering kembali ke apartemen.
Apartemen Fredy.
Beberapa barangku juga sudah aku pindahkan dari kost ke sana, tanpa banyak pertanyaan dari siapa pun.
Seolah itu adalah keputusan yang wajar.
Seolah aku memang seharusnya ada di sana sejak awal.
⸻
Suatu malam, saat Jakarta sudah tenggelam dalam cahaya lampu yang dingin, ponselku bergetar.
Pesan masuk.
Dari Fredy.
Hanya satu kalimat.
“Buka file yang bernama FRN AKA Frans.”
Aku menatap layar cukup lama.
Nama itu tidak asing, tapi juga belum pernah benar-benar aku pahami.
Aku mengetik pelan.
“Siapa Frans?”
Balasan Fredy tidak datang segera.
Tapi ketika akhirnya masuk, isinya terasa seperti jawaban yang sudah lama disimpan.
Frans adalah mantan bendahara Fredy.
Orang yang dulu mengurus hampir seluruh urusan keuangan di belakang layar.
Semua aliran uang.
Semua transaksi besar.
Semua pergerakan yang tidak pernah muncul di permukaan.
Dialah orang yang tahu terlalu banyak.
Dan mungkin… terlalu jauh masuk ke dalam sistem yang dibangun Fredy.
Fredy menginginkan satu hal.
Data tentang Frans harus dibuka ke publik.
Dan pada akhirnya, Frans harus ditangkap oleh polisi.
⸻
Aku membaca itu pelan-pelan.
Lalu jari-jariku bergerak lagi.
“Kamu di mana sekarang?”
Jawaban Fredy datang singkat.
“Di suatu tempat yang sangat jauh. Dan tidak akan pernah tersentuh oleh siapa pun.”
⸻
Aku menatap layar cukup lama.
Lalu bertanya lagi.
“Kenapa Frans harus tertangkap?”
Fredy tidak langsung menjawab.
Beberapa menit berlalu.
Lalu pesan itu muncul.
Frans pernah menggelapkan uang dalam jumlah besar.
Uang hasil dari penjualan yang bahkan aku tidak tahu bentuk pastinya.
Dan ketika konflik itu terjadi, Frans tidak hanya menghilang.
Dia mulai bergerak.
Diam-diam.
Mengamankan dirinya sendiri.
Membangun jalur pelarian.
Dan yang paling penting… mencoba membeli keselamatan.
Dengan satu syarat.
Jika Frans ingin tetap aman, ia harus mendapatkan bagian besar dari uang itu sebagai “jaminan”.
Bukan negosiasi.
Lebih seperti ancaman halus.
⸻
Fredy tidak menyebutnya pengkhianatan secara langsung.
Tapi maknanya tidak perlu dijelaskan lagi.
Dan untuk pertama kalinya, aku mulai melihat sesuatu yang baru tentang Fredy.
Bukan hanya sebagai ayah.
Bukan hanya sebagai sosok yang memberi arah.
Tapi sebagai seseorang yang menjaga sistemnya sendiri dengan cara yang sangat dingin.
⸻
Aku akhirnya membuka file itu.
FRN AKA Frans.
Data di dalamnya tidak sederhana.
Nama.
Jejak transaksi.
Relasi ke beberapa entitas yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.
Pola aliran uang yang jauh lebih besar dari kasus MR.
Dan di bagian catatan, ada satu pola yang membuatku berhenti lebih lama dari biasanya:
beberapa pergerakan uang itu tidak hanya keluar.
Tapi juga “ditarik kembali” lewat jaringan perantara yang tidak pernah tercatat secara resmi.
Seolah Frans sedang membangun sesuatu… sambil menyembunyikan sesuatu yang lain.
⸻
Aku mulai bekerja.
Bukan sendiri.
Aku mengirim sebagian data itu ke Rosi.
Tanpa banyak penjelasan.
Hanya cukup untuk membuatnya mengerti bahwa ini berbeda dari kasus sebelumnya.
Rosi merespons cepat.
Tapi kali ini nadanya berubah.
Lebih serius.
Lebih hati-hati.
Dia bilang akan mencoba menelusuri pola aliran dana itu lewat jaringan jurnalistiknya.
⸻
Beberapa hari setelah itu, semuanya mulai bergerak.
Bukan secara tiba-tiba.
Tapi seperti sesuatu yang sudah lama disiapkan, lalu mulai “dilepaskan”.
Pertama muncul laporan kecil di media lokal.
Tentang transaksi mencurigakan di pelabuhan tertentu.
Nama Frans belum disebut.
Tapi pola uangnya cocok dengan data yang aku kirim.
Lalu laporan kedua muncul.
Kali ini lebih jelas.
Sebuah sumber anonim menyebut adanya mantan bendahara pejabat besar yang sedang dicari terkait penggelapan dana dan jaringan pelarian uang lintas daerah.
Nama Frans mulai muncul di pinggir-pinggir narasi.
Masih samar.
Tapi mulai terlihat.
⸻
Aku tidak tahu siapa yang memulai eskalasi itu.
Rosi tidak bilang apa pun.
Fredy juga tidak mengirim pesan apa pun.
Tapi aku bisa merasakan satu hal:
ini bukan lagi sekadar “mencari”.
Ini sudah berubah menjadi “mengarahkan”.
⸻
Malam berikutnya, berita besar itu pecah.
Polisi melakukan operasi penangkapan.
Lokasinya tidak diumumkan secara detail.
Hanya disebut sebuah rumah transit di pinggiran kota.
Frans tertangkap tanpa perlawanan berarti.
Tidak ada pengejaran dramatis.
Tidak ada baku tembak.
Hanya pintu yang dibuka.
Dan seseorang yang sudah tidak punya banyak ruang untuk lari lagi.
⸻
Di televisi, wajahnya muncul sebentar.
Lalu hilang lagi.
Digantikan oleh narasi yang lebih besar: jaringan uang, pejabat, dan keterkaitan dengan kasus sebelumnya di Batam.
Nama MR kembali disebut.
Seolah semua ini adalah satu rangkaian yang akhirnya mulai terlihat bentuknya.
⸻
Tapi Fredy tetap tidak tersentuh.
Bahkan tidak disebut sebagai pusat.
Hanya bayangan yang selalu berada di luar bingkai.
⸻
Beberapa hari setelah penangkapan itu, Fredy mengirim pesan lagi.
Hanya satu kalimat.
“Sekarang lebih tenang.”
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada emosi.
Hanya pernyataan.
⸻
Aku menatap layar lama.
Lalu menutupnya tanpa menjawab.
Karena untuk pertama kalinya, aku mulai memahami sesuatu yang tidak ingin aku akui:
setiap orang yang jatuh dari sistem ini…
tidak benar-benar jatuh secara acak.
⸻
Mereka jatuh dalam urutan.
⸻
Dan aku masih berada di dalam urutan itu.
⸻
Nero is My Name.
Dan malam itu, aku mulai sadar bahwa aku bukan hanya orang yang mencari kebenaran.
Tapi seseorang yang sedang berada di tengah peta yang sedang digambar ulang… tanpa aku pernah diminta memilih berada di dalamnya.
⸻
Setelah tertangkapnya Frans, aku menjadi lebih waspada.
Bukan hanya terhadap Fredy.
Tapi juga terhadap semua orang di sekitarku.
Termasuk Rosi.
Ada sesuatu yang berubah darinya.
Cara dia menatapku.
Cara dia menanyakan hal-hal kecil yang dulu tidak pernah dia pertanyakan.
Seolah setiap jawabanku sekarang sedang ditimbang.
Diperiksa ulang.
Dicari celahnya.
Dan aku bisa merasakannya.
Dia mulai mencurigaiku.
Bukan lagi sebagai sumber data.
Tapi sebagai bagian dari sistem itu sendiri.
Kaki tangan Fredy.
⸻
“Aku bukan itu,” kataku suatu malam ketika dia menanyakan hal yang sama lagi.
“Bukan kaki tangan Fredy.”
Rosi tidak langsung percaya.
Matanya tetap tajam.
Seolah jawaban sederhana justru membuatnya semakin ragu.
“Kalau bukan, kamu ini apa, Nero?”
Aku diam sebentar.
Pertanyaan itu terlalu dekat.
Terlalu dalam.
⸻
Akhirnya aku menjawab.
Bukan sepenuhnya jujur.
Tapi juga tidak sepenuhnya bohong.
“Aku akan bilang semuanya,” kataku pelan.
“Tapi bukan sekarang.”
Rosi mengernyit.
“Apa maksudmu?”
Aku menatapnya.
Lalu melanjutkan.
“Aku akan beritahu siapa aku sebenarnya… dan apa hubunganku dengan Fredy.”
“Tapi kamu harus bantu aku satu hal dulu.”
Rosi diam.
“Apa?”
Aku menyebut satu nama.
“Frederica.”
Hening.
Nama itu tidak memicu reaksi apa pun di wajahnya.
Tapi aku tetap melanjutkan.
“Fredy bilang dia ibu kandungku.”
“Aku tidak punya data apa pun tentang dia.”
“Dan aku butuh kamu untuk menemukannya.”
Rosi menatapku lama sekali.
Seolah mencoba memastikan apakah ini permainan lain.
Atau sesuatu yang lebih serius.
⸻
Akhirnya dia mengangguk pelan.
“Tapi setelah ini,” katanya.
“Kamu harus jujur padaku.”
Aku tidak langsung menjawab.
Tapi aku mengangguk.
⸻
Hari-hari setelah itu terasa lebih panjang dari biasanya.
Aku kembali ke rutinitas yang sama.
Laptop.
Data.
Jejak digital.
Tapi kali ini tidak ada Fredy yang memberi arah.
Tidak ada file baru.
Tidak ada pesan.
Hanya aku dan Rosi yang bergerak di dua jalur berbeda.
Mencari satu nama yang bahkan tidak muncul di permukaan sistem mana pun.
Frederica.
⸻
Beberapa hari kemudian, Rosi mengajakku bertemu.
Kali ini bukan di tempat biasa.
Lebih sepi.
Lebih tertutup.
Nada pesannya juga berbeda.
Tidak seperti reporter.
Tapi seperti seseorang yang membawa sesuatu yang berat.
“Aku sudah dapat sesuatu tentang Frederica.”
⸻
Aku tidak langsung bisa tidur malam itu.
Pikiranku penuh.
Bukan hanya tentang hasil pencarian itu.
Tapi tentang kemungkinan-kemungkinan yang muncul bersamanya.
Siapa dia sebenarnya?
Kenapa tidak ada jejaknya sama sekali?
Dan kenapa justru sekarang… setelah Frans jatuh… nama itu mulai bisa disentuh?
⸻
Di hari pertemuan, aku datang lebih awal.
Rosi sudah ada di sana.
Tidak seperti biasanya, dia tidak langsung membuka laptopnya.
Dia hanya menatapku sebentar.
Lalu berkata pelan.
“Aku nemuin sesuatu.”
Aku menelan napas.
Jantungku terasa lebih berat dari biasanya.
“Frederica itu…”
Rosi berhenti.
Seolah kalimat berikutnya terlalu besar untuk diucapkan sembarangan.
Aku menunggu.
Detik terasa memanjang.
Lampu café terdengar lebih pelan.
Dunia seperti mengecil hanya ke meja itu.
⸻
“Frederica itu…,” ulang Rosi pelan.
“…tidak pernah tercatat sebagai orang yang benar-benar ‘hilang’.”
Aku mengernyit.
“Apa maksudmu?”
Rosi membuka file di laptopnya.
Beberapa baris data muncul.
Lalu dia menunjukkannya ke aku.
“Dia tidak hilang.”
“Dia… tidak pernah benar-benar ada di sistem yang sama seperti orang lain.”
Aku menatap layar itu.
Kosong.
Aneh.
Tidak ada jejak normal.
Tidak ada arsip kelahiran yang bisa dilacak dengan cara biasa.
Tidak ada catatan kehidupan yang linear.
Hanya potongan-potongan kecil yang tidak pernah menyatu.
Seperti seseorang yang sengaja dipisahkan dari dunia administratif.
⸻
Aku menatap Rosi.
“Jadi dia apa?”
Rosi tidak langsung menjawab.
Dia hanya menutup laptopnya perlahan.
Lalu berkata satu kalimat yang membuat dadaku terasa jatuh sedikit.
“Aku belum yakin dia itu satu orang.”
⸻
Aku diam.
Dan untuk pertama kalinya setelah semua ini…
aku merasa bahwa pencarianku bukan lagi tentang masa lalu.
Tapi tentang sesuatu yang bahkan belum selesai didefinisikan.
⸻
Nero is My Name.
Dan malam itu, aku mulai sadar bahwa nama Frederica bukan jawaban.
Tapi pintu lain yang jauh lebih dalam dari semua yang pernah kubuka sebelumnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar kamu disini!👇✌️😁