Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Sabtu, 04 Juli 2026

Nero is My Name (Part 10)



Aku mencoba kembali menjadi normal.


Itu niatku di pagi hari.


Bangun.


Kuliah. 

 

Duduk di kelas.


Mendengarkan dosen yang menjelaskan hal-hal yang dulu terasa penting.


Tapi sekarang semuanya terdengar seperti suara yang datang dari ruangan yang bukan milikku.



Orang-orang di kampus masih sama.


Tertawa.


Mengobrol.


Berjalan tanpa beban.


Tapi ada sesuatu yang berbeda dalam cara mereka memandangku.


Atau mungkin… aku yang mulai terlalu sensitif.



Awalnya hanya hal kecil.


Orang yang berhenti bicara ketika aku lewat.


Percakapan yang tiba-tiba berubah arah.


Tatapan yang terlalu cepat dialihkan.


Tidak cukup jelas untuk disebut bukti.


Tapi cukup untuk membuatku tidak tenang.



Aku mulai memperhatikan lebih banyak.


Terlalu banyak.


Dan semakin aku memperhatikan…


semakin aku merasa diperhatikan kembali.



Di ponselku, tidak ada pesan dari Fredy.


Tidak ada perintah.


Tidak ada file.


Hening total.


Dan itu justru membuatku lebih gelisah daripada saat dia aktif menghubungiku.



Rosi juga mulai berubah.


Pesannya lebih jarang.


Balasannya lebih singkat.


Seperti seseorang yang sedang membatasi dirinya sendiri dari sesuatu yang terlalu dekat.



Sampai suatu siang, dia akhirnya mengirim satu pesan.



“Jangan terlalu sering kirim pesan ke aku.”



Aku menatap layar lama.


Lalu mengetik:


“Kenapa?”



Balasannya datang beberapa menit kemudian.



“Aku lagi diawasi juga.”



Kalimat itu membuat sesuatu di dalam kepalaku langsung mengeras.



Dia melanjutkan.


Bukan hanya aku yang masuk radar.


Tapi semua orang yang pernah berhubungan dengan kasus-kasus yang muncul dari jejak data itu.


MR.


Frans.


EOSH.


Dan sekarang… nama itu mulai mengarah ke orang-orang di sekitar mereka.



Termasuk Rosi.


Dan mungkin… aku.



Aku tidak menjawab.


Karena untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa percakapan kami sendiri bisa menjadi bukti.



Sore itu, aku pulang ke apartemen lebih cepat dari biasanya.


Jalanan terasa sama.


Tapi dunia di sekitarku tidak lagi terasa netral.



Di lobi gedung, satpam menatapku sedikit lebih lama dari biasanya.


Aku tidak yakin itu benar.


Tapi aku juga tidak bisa berhenti memikirkannya.



Di lift, ada orang lain.


Dia tidak menatapku.


Tapi tidak juga benar-benar mengabaikanku.


Dan saat pintu terbuka di lantai apartemenku, dia berhenti satu lantai sebelumku.


Tidak turun di lantai yang sama.


Hanya diam.



Aku masuk ke apartemen.


Mengunci pintu.


Dan berdiri cukup lama tanpa bergerak.



Lalu aku menyalakan laptop.


Seperti kebiasaan lama yang sekarang terasa seperti kebiasaan orang yang tidak tahu harus lari ke mana.



Tidak ada file baru.


Tidak ada pesan Fredy.


Tidak ada update dari Rosi.


Hanya folder lama.


Hanya jejak yang sudah aku kenal terlalu baik.



Tapi saat aku membuka sistem…


ada satu hal yang berbeda.



Log akses.


Lebih banyak dari biasanya.


Bukan dari aku.



Aku tidak pernah membuka file-file itu hari ini.


Tapi sistem mencatat seolah aku melakukannya.



Aku menatap layar cukup lama.


Lalu membuka detailnya.



Waktu akses.


Lokasi.


Perangkat.



Dan semuanya…


tercatat dari tempat yang sama.



Apartemen ini.



Aku langsung berdiri.


Menatap sekeliling ruangan.


Sunyi.


Terlalu sunyi.



Aku mulai memeriksa laptop.


Tidak ada software baru.


Tidak ada aplikasi asing.


Tapi jejak itu tetap ada.


Seperti sesuatu yang tidak terlihat, tapi sudah berjalan.



Ponselku bergetar.



Pesan masuk.


Tanpa nama.



“Kamu tidak pernah benar-benar sendiri di sana.”



Aku menatap layar tanpa berkedip.



Dan untuk pertama kalinya, aku tidak langsung mencari jawaban.


Aku hanya duduk.


Diam.


Karena pertanyaan yang muncul bukan lagi “siapa”.


Tapi:



“sejak kapan?”



Malam itu aku mencoba menghubungi Rosi.


Tidak dijawab.


Sekali.


Dua kali.


Tidak ada respons.



Aku mencoba Fredy.


Tidak aktif.



Aku duduk di lantai apartemen.


Laptop masih menyala.


Layar putih.


Tidak ada yang bisa aku lakukan.



Dan di tengah keheningan itu, aku mulai menyadari sesuatu yang jauh lebih buruk dari semua data yang pernah aku lihat.



Bukan bahwa aku diawasi.



Tapi bahwa aku sudah terlalu lama berada dalam pengawasan itu… sampai aku mulai menganggapnya sebagai hal normal.



Keesokan harinya, aku tetap pergi kuliah.


Seperti biasa.


Seperti tidak ada apa-apa.



Tapi dunia tidak lagi terasa seperti dunia yang sama.



Di kelas, dosen menyebut nama.


Aku tidak langsung sadar dia berbicara padaku.


Beberapa detik terlambat.


Dan saat aku berdiri…


beberapa mahasiswa lain menoleh lebih lama dari biasanya.



Aku duduk kembali.


Tangan sedikit dingin.



Setelah kelas, aku melihat salah satu temanku berhenti bicara saat aku mendekat.


Lalu tertawa kecil.


Terlalu cepat.


Terlalu tidak natural.



Aku mulai berjalan lebih cepat.



Di luar gedung, aku berhenti.


Mengambil napas.


Dan untuk pertama kalinya, aku bertanya pada diriku sendiri dengan jujur:



“Apakah aku masih terlihat seperti mahasiswa biasa?”



Jawabannya tidak datang dari siapa pun.


Tapi dari cara orang-orang menghindari mataku tanpa alasan jelas.



Sore itu, akhirnya Rosi menghubungiku.


Hanya satu pesan.



“Jangan pulang ke apartemen terlalu cepat.”



Aku langsung menjawab.


“Kenapa?”



Tidak ada balasan.



Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai…


aku merasa bahwa tidak ada lagi tempat yang benar-benar bisa disebut aman.



Nero is My Name.


Dan malam itu, aku mulai memahami bahwa ketakutan bukan datang dari sesuatu yang mengejar kita.


Tapi dari fakta bahwa kita sudah lama tidak bisa membedakan lagi…


mana yang benar-benar nyata, dan mana yang sudah menjadi bagian dari cara kita diawasi.



Aku tetap duduk di lantai cukup lama setelah pesan Rosi itu masuk.


“Jangan pulang ke apartemen terlalu cepat.”


Kalimat itu tidak hilang dari kepalaku, bahkan setelah layar ponsel kembali gelap.


Aku mencoba menghubunginya lagi.


Tetap tidak ada jawaban.


Untuk pertama kalinya, Rosi tidak hanya lambat merespons—dia benar-benar menghilang di tengah percakapan.


Aku berdiri perlahan.


Laptop masih menyala di meja.


Layar putih itu tidak berubah, seolah menunggu sesuatu dariku yang tidak aku tahu apa.


Aku memutuskan keluar.


Bukan karena berani.


Tapi karena diam di dalam ruangan itu terasa lebih buruk daripada kemungkinan apa pun di luar.


Lift turun terlalu lama.


Setiap lantai yang dilewati terasa seperti jeda yang sengaja diperpanjang.


Di kaca lift, aku melihat bayanganku sendiri.


Tapi ada satu detik ketika aku tidak yakin itu benar-benar gerakanku.


Di lobby, satpam tidak menatapku kali ini.


Dia justru sibuk dengan ponselnya, seperti sedang menghindari sesuatu.


Atau menghindari aku.


Aku keluar ke jalan.


Udara malam Jakarta terasa sama seperti biasanya.


Tapi kali ini aku merasa seperti tidak berada di dalam kota—melainkan di dalam sesuatu yang sedang mengamati kota ini bersamaku.


Ponselku bergetar lagi.


Pesan baru.


Bukan dari Rosi.


Bukan dari Fredy.


Tanpa nama.


“Kamu sudah keluar.”


Aku berhenti berjalan.


Menatap layar.


Tidak ada tanda siapa pengirimnya.


Tidak ada nomor.


Hanya teks.


Aku menoleh ke belakang.


Gedung apartemen terlihat biasa saja dari luar.


Lampu-lampunya menyala seperti tidak ada yang terjadi.


Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa gedung itu tidak lagi sekadar tempat tinggal.


Melainkan titik yang sedang terus “merekam” keberadaanku.


Aku berjalan lagi, lebih cepat sekarang.


Tidak punya tujuan jelas.


Hanya menjauh.


Namun setiap beberapa langkah, aku merasa langkahku sendiri seperti tertinggal sedikit di belakang.


Seolah ada versi lain dari diriku yang masih berdiri di sana, di dalam sistem itu, belum ikut pergi.


Ponselku kembali bergetar.


Pesan dari Rosi akhirnya masuk.


“Hari ini jangan kembali ke sana. Apa pun yang kamu lakukan, jangan masuk apartemen itu malam ini.”


Aku membaca itu berulang kali.


Lalu mengetik:


“Ada apa sebenarnya?”


Pesan terkirim.


Tapi tidak langsung terbaca.


Aku terus berjalan tanpa arah, sampai akhirnya berhenti di sebuah minimarket kecil yang hampir kosong.


Aku berdiri di dekat rak minuman, tanpa benar-benar memilih apa pun.


Dan di saat itu, layar ponselku menyala lagi.


Rosi membalas.


“Kamu bukan cuma diawasi dari luar.”


“Ada akses yang sudah lama tinggal di dalam tempat itu.”


Aku menatap kalimat itu lama.


Terlalu lama.


Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku tidak lagi merasa takut sedang diikuti.


Tapi merasa bahwa selama ini… aku tidak pernah benar-benar tahu di mana “dalam” itu dimulai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁