Ada sesuatu yang mulai terasa berbeda.
Bukan pada data yang aku temukan.
Bukan pada kasus MR yang sudah meledak di berita nasional.
Tapi pada satu hal yang lebih sederhana…
semua ini terasa terlalu terarah kepadaku.
Seolah aku bukan lagi orang yang mencari.
Tapi orang yang sedang diarahkan.
⸻
Beberapa hari setelah berita penangkapan MR, aku mulai menyadari pola yang mengganggu.
Setiap data yang aku buka dari sistem itu selalu mengarah ke orang-orang penting.
Pejabat.
Jaringan keuangan.
Aparat.
Tapi tidak pernah benar-benar menyentuh pusatnya.
Fredy.
Seolah semua jalan sengaja dibuat untuk berputar di sekelilingnya, bukan mendekatinya.
⸻
Malam itu aku duduk di ruang tamu apartemen Fredy.
Apartemen ini terlalu besar untuk satu orang.
Terlalu rapi untuk sesuatu yang katanya penuh dengan “jejak gelap”.
Semua terasa seperti ruang yang sudah disiapkan lama.
Bukan ditinggali.
Tapi… ditunggu.
⸻
Aku menutup laptop sejenak.
Lalu berdiri di dekat jendela besar yang menghadap lampu kota Jakarta.
Di luar, semuanya terlihat normal.
Tapi di dalam kepalaku…
tidak ada yang terasa normal lagi.
⸻
Keesokan harinya, Rosi menghubungiku.
Nada pesannya berbeda dari biasanya.
Lebih hati-hati.
⸻
“Kita bisa ketemu?”
⸻
Aku membaca pesan itu beberapa kali.
“Di mana?”
⸻
Dia menyebut sebuah café di mall pusat Jakarta.
Tempat yang cukup aman untuk orang yang tidak ingin terlalu terlihat.
⸻
Kami bertemu sore itu.
Rosi sudah duduk lebih dulu.
Ada laptop di depannya, tapi tidak menyala.
Dia tidak langsung tersenyum seperti biasanya.
⸻
“Aku sudah publish sebagian data itu,” katanya pelan.
Aku mengangguk.
“Aku tahu.”
⸻
Dia menatapku lama.
Bukan seperti reporter.
Tapi seperti orang yang mulai ragu pada realitas yang dia lihat sendiri.
⸻
“Nero…”
dia berhenti sebentar.
“Kamu ini sebenarnya siapa?”
⸻
Aku diam.
⸻
“Aku mahasiswa,” jawabku akhirnya.
Rosi menggeleng.
“Bukan itu.”
⸻
Dia membuka ponselnya.
Menunjukkan beberapa catatan.
Log file.
Jejak data.
Waktu pengiriman.
Dan pola akses sistem yang pernah aku lakukan.
⸻
“Semua ini…”
“terlalu bersih untuk disebut hacking.”
⸻
Aku mengernyit.
⸻
“Dan terlalu dalam untuk orang biasa.”
lanjutnya.
⸻
Dia menatapku lebih serius.
“Seolah kamu memang… diizinkan masuk.”
⸻
Kalimat itu membuatku diam.
⸻
Aku tidak pernah memikirkan itu sebelumnya.
⸻
Selama ini aku mengira aku menemukan celah.
Mengakses sistem.
Mengurai data.
⸻
Tapi sekarang…
kalau dipikir lagi…
tidak pernah ada perlawanan berarti.
Tidak ada sistem yang benar-benar menghalangiku.
⸻
Rosi menutup ponselnya.
“Aku tidak bilang ini salah.”
“Tapi ini tidak wajar.”
⸻
Aku tidak menjawab.
⸻
Karena untuk pertama kalinya…
aku tidak punya jawaban.
⸻
Malam itu aku kembali ke apartemen Fredy.
Sunyi.
Luas.
Dan terasa semakin asing.
⸻
Aku duduk di ruang tamu.
Laptop di meja.
Tapi aku belum menyentuhnya.
⸻
Sampai satu email masuk.
⸻
Tanpa nama.
Tanpa subjek.
⸻
Dari Fredy.
⸻
Hanya satu kalimat:
“Jangan terlalu sering bertanya tentang dirimu.”
⸻
Aku menatap layar cukup lama.
Lalu membuka laptop.
⸻
Aku masuk ke sistem seperti biasa.
Folder yang sama.
Data yang sama.
Struktur yang sudah kukenal.
⸻
Tapi kali ini…
ada sesuatu yang baru.
⸻
Sebuah folder yang sebelumnya tidak pernah ada.
⸻
Namanya:
PROJECT: NERO
⸻
Aku tidak langsung membukanya.
Tanganku berhenti di atas mouse.
Beberapa detik terasa terlalu panjang.
⸻
Karena untuk pertama kalinya…
aku tidak yakin ingin tahu apa isi di dalamnya.
⸻
Tapi akhirnya aku klik.
⸻
Folder itu terbuka.
Hanya satu file.
⸻
Aku membukanya.
⸻
Isi teksnya pendek.
Terlalu pendek.
⸻
“SUBJEK: NERO”
“STATUS: AKTIF”
“FUNGSI: OBSERVASI LANJUT”
“AKSES SISTEM: TERBUKA”
“CATATAN: STABIL, SESUAI PREDIKSI”
⸻
Aku berhenti membaca.
⸻
Jari-jariku diam.
⸻
“Subjek…”
⸻
Kata itu terasa salah.
Bukan seperti “anak”.
Bukan seperti “manusia”.
⸻
Aku menatap layar lama sekali.
Dan sesuatu yang dingin mulai naik dari dalam dadaku.
⸻
Bukan rasa penasaran lagi.
Tapi kesadaran kecil yang tidak bisa aku tolak.
⸻
Aku tidak sedang mencari sesuatu.
⸻
Aku sedang diamati.
⸻
Ponselku bergetar.
Pesan dari Fredy masuk.
⸻
“Berhenti membuka itu malam ini.”
⸻
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada alasan.
Hanya perintah.
⸻
Aku menatap layar laptop.
Lalu ponsel.
Lalu kembali ke folder itu.
⸻
Dan di kepalaku muncul satu pertanyaan yang tidak bisa berhenti:
kalau aku “subjek”…
sejak kapan aku sebenarnya mulai dipantau?
⸻
Dan yang lebih penting…
oleh siapa sebenarnya aku dibentuk seperti ini?
⸻
Aku menutup laptop perlahan.
Bukan karena sudah selesai.
Tapi karena untuk pertama kalinya…
aku merasa kalau aku terus membuka ini…
aku mungkin tidak lagi sedang mencari kebenaran.
⸻
Aku sedang masuk lebih dalam ke sesuatu yang memang sudah menungguku sejak lama.
⸻
Nero is My Name.
Dan malam itu…
aku mulai sadar bahwa aku bukan lagi sekadar orang yang mencari jati diri.
Tapi bagian dari sesuatu yang sedang berjalan tanpa henti.
----
Aku mulai meragukan Fredy.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku benar-benar mempertanyakan hal yang sebelumnya tidak pernah aku sentuh dalam pikiranku.
Apakah dia benar ayahku?
Atau aku hanya sedang dipakai untuk sesuatu yang belum aku pahami?
⸻
Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.
Kadang muncul saat aku membuka laptop.
Kadang saat aku diam di apartemen yang terlalu besar dan terlalu sunyi itu.
Tapi setiap kali pikiran itu muncul…
aku selalu berusaha menghapusnya.
⸻
Karena ada hal lain yang tidak bisa aku abaikan.
Foto-foto masa kecilku.
Foto aku digendong seseorang yang wajahnya sekarang muncul di hampir semua berita besar.
Foto-foto itu terlalu nyata untuk disebut rekayasa.
Dan entah kenapa…
di dalam diriku, ada sesuatu yang tetap percaya bahwa Fredy adalah ayahku.
Bukan karena logika.
Tapi seperti naluri yang tidak bisa dijelaskan.
⸻
Aku mencoba menyusun semuanya di kepalaku.
Kalau semua ini memang rencana Fredy…
berarti dia sudah menyiapkan semuanya sejak lama.
Apartemen ini.
Uang di rekening itu.
Bahkan kemunculanku dalam seluruh rangkaian data yang aku temukan.
Semua terlalu rapi untuk menjadi kebetulan.
⸻
Tapi tetap saja…
ada bagian dalam diriku yang tidak tenang.
⸻
Di sisi lain, aku masih berhubungan dengan Rosi.
Kami sering bertukar pesan.
Kadang membahas data.
Kadang hanya memastikan apakah informasi baru muncul.
Dia satu-satunya orang di luar Fredy yang mulai memahami sebagian kecil dari apa yang sedang terjadi.
⸻
Aku memutuskan untuk lebih terbuka padanya.
Tidak semua detail.
Tapi cukup untuk membuatnya mengerti bahwa aku bukan sekadar sumber informasi.
Aku meminta dia untuk tetap mempercayaiku.
Dan untuk sementara…
dia masih bertahan di sana.
⸻
Namun satu hal tidak pernah berhenti aku lakukan.
Mencari nama itu.
Frederica.
⸻
Nama yang disebut Fredy sebagai ibuku.
Nama yang seharusnya menjadi jawaban…
tapi justru menjadi awal dari lebih banyak pertanyaan.
⸻
Setiap hari aku mencoba menelusurinya.
Database publik.
Catatan lama.
Arsip digital yang bisa aku akses dengan kemampuan yang aku punya.
Tapi hasilnya selalu sama.
Nihil.
Seolah nama itu tidak pernah benar-benar ada dalam sistem mana pun.
⸻
Dan itu justru membuatku semakin curiga.
Karena sesuatu yang terlalu sulit ditemukan…
biasanya bukan berarti tidak ada.
Tapi sengaja disembunyikan.
⸻
Suatu malam, aku duduk di apartemen itu lebih lama dari biasanya.
Lampu kota Jakarta terlihat dari kaca besar di ruang tamu.
Terlalu jauh.
Terlalu dingin.
⸻
Aku membuka laptop.
Lalu membuka kembali percakapan dengan Rosi.
Dia kembali menghubungiku hari itu.
Permintaannya jelas.
Dia ingin salinan data yang aku pegang.
⸻
Aku menatap pesan itu lama.
Tanganku berhenti di keyboard.
Lalu aku menolak.
Tegas.
⸻
Aku tidak bisa memberikannya begitu saja.
Tapi aku juga tidak menutup pintu sepenuhnya.
Aku menulis satu syarat:
Data itu hanya akan keluar jika dipublikasikan secara langsung.
Tanpa manipulasi.
Tanpa disimpan diam-diam.
⸻
Rosi tidak langsung menjawab.
Tapi aku tahu dia mempertimbangkannya.
⸻
Sebelum itu terjadi, aku harus bicara dengan Fredy.
⸻
Aku mengirim pesan padanya.
Menanyakan tentang rencanaku bersama Rosi.
Tentang apakah langkah ini aman.
⸻
Jawaban datang tidak lama kemudian.
⸻
“Lanjutkan.”
⸻
Satu kata.
Tapi cukup untuk membuatku tetap bergerak.
⸻
Fredy kemudian memberikan arahan pertama.
Sebuah nama.
Seorang pejabat daerah di Batam.
MR.
⸻
Batam.
Pintu masuk.
Wilayah strategis.
Tempat yang sangat mudah digunakan untuk pergerakan barang ilegal dari luar negeri.
⸻
Aku membuka file yang sudah lama aku simpan.
Nama MR ada di sana.
Disertai catatan aliran dana.
Tanggal.
Nominal.
Dan pola transaksi yang tidak wajar.
⸻
Aku menatap layar cukup lama.
Lalu aku mengirimkannya ke Rosi.
⸻
Tidak ada dramatisasi.
Tidak ada pengumuman besar.
Hanya data yang berpindah tangan.
⸻
Seminggu berlalu.
Dan berita itu muncul.
⸻
Di televisi nasional.
Di portal berita.
Di semua media besar.
⸻
Penangkapan seorang mantan kepala daerah di Batam.
MR.
⸻
Nama itu disebut berulang kali.
Dikaitkan dengan jaringan besar.
Dan pada akhirnya…
disebut sebagai salah satu kaki tangan Fredy.
⸻
Tapi Fredy sendiri tetap tidak tersentuh.
Masih buron.
Masih menjadi bayangan yang tidak bisa dijelaskan.
⸻
Di tengah semua itu, aku kembali pada satu hal yang belum selesai.
Frederica.
Ibuku.
⸻
Aku kembali mencari.
Lebih dalam.
Lebih hati-hati.
Seolah semakin lama aku mendekatinya…
semakin besar sesuatu yang berusaha menghalangi.
⸻
Hubunganku dengan Rosi juga mulai berubah.
Tidak lagi sekadar pertukaran informasi.
Kami mulai beberapa kali bertemu langsung.
Di tempat yang berbeda.
Dengan percakapan yang lebih panjang.
Tentang langkah berikutnya.
Tentang apa yang akan terjadi jika data berikutnya keluar.
⸻
Karena satu hal sudah mulai jelas.
MR bukan akhir.
Itu hanya awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
⸻
Dan aku, Nero…
masih berada di tengah semuanya.
Mencoba memahami siapa Fredy sebenarnya.
Dan lebih penting dari itu…
siapa sebenarnya diriku sendiri.
⸻
Nero is My Name.
Dan semakin aku mencari jawaban…
semakin banyak pintu lain yang terbuka.
Tanpa aku minta.
⸻
Aku mulai benar-benar skeptis pada Fredy.
Untuk pertama kalinya, aku tidak sekadar bertanya “apa yang sebenarnya terjadi”, tapi juga mempertanyakan hal yang lebih dasar.
Apakah dia benar ayahku?
Atau aku hanya sedang berada di tengah permainan yang belum aku pahami aturannya?
⸻
Pikiran itu muncul terus.
Diam-diam.
Di sela-sela aku membuka laptop.
Di antara percakapan dengan Rosi.
Bahkan saat aku hanya duduk di apartemen yang terlalu besar ini.
⸻
Tapi setiap kali rasa ragu itu naik…
aku selalu menahannya sendiri.
Dan perlahan, aku memaksakan diriku untuk kembali percaya.
⸻
Karena ada hal yang tidak bisa aku bantah dengan mudah.
Foto-foto itu.
Aku kecil.
Dipangku oleh Fredy.
Wajah yang sama dengan sosok yang sekarang sedang dicari banyak orang di berita.
⸻
Dan lebih dari itu…
ada sesuatu di dalam diriku yang tetap ingin percaya bahwa dia adalah ayahku.
Bukan karena bukti yang sempurna.
Tapi seperti naluri yang sulit dijelaskan.
⸻
Aku mencoba menyusun semuanya dalam kepalaku.
Kalau semua ini benar-benar rencana Fredy…
berarti dia sudah mempersiapkannya sejak lama.
⸻
Apartemen ini.
Akses yang aku miliki.
Uang di rekening yang bahkan aku sendiri sulit memahami asal dan tujuannya.
Bahkan jejak hidupku yang seolah sudah “terarah” tanpa aku sadari.
⸻
Semua itu terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Terlalu terstruktur untuk dianggap kacau.
⸻
Tapi tetap saja…
aku tidak bisa menyingkirkan satu hal.
Rasa tidak yakin itu masih ada.
⸻
Di sisi lain, hubunganku dengan Rosi tetap berjalan.
Kami masih sering bertukar pesan.
Kadang tentang data.
Kadang tentang langkah berikutnya.
Dan kadang hanya memastikan bahwa kami masih berada di jalur yang sama.
⸻
Aku mulai membuka diri lebih banyak padanya.
Tidak semuanya.
Tapi cukup untuk membuatnya memahami bahwa aku bukan sekadar pengirim file atau sumber informasi.
Aku adalah seseorang yang terlibat di dalamnya.
Dan aku memintanya satu hal sederhana.
Untuk tetap mempercayaiku.
⸻
Rosi tidak langsung menjawab dengan janji besar.
Tapi dia tetap ada.
Dan itu sudah cukup bagiku saat ini.
⸻
Di balik semua itu, ada satu hal yang tidak pernah berhenti aku lakukan.
Mencari Frederica.
⸻
Nama yang disebut Fredy sebagai ibuku.
Nama yang seharusnya menjadi jawaban dari semua ini…
tapi justru menjadi sumber pertanyaan baru.
⸻
Setiap hari aku mencoba menelusurinya.
Aku membuka berbagai arsip.
Data lama.
Catatan yang sudah lama tidak tersentuh.
Jejak digital yang biasanya selalu meninggalkan sedikit celah.
⸻
Tapi hasilnya selalu sama.
Tidak ada.
⸻
Dan itu justru membuatku semakin curiga.
Karena sesuatu yang benar-benar tidak bisa ditemukan…
biasanya bukan berarti tidak ada.
Tapi sengaja dibuat tidak terlihat.
⸻
Suatu malam, aku duduk lebih lama dari biasanya di apartemen itu.
Lampu kota Jakarta terlihat dari jendela besar ruang tamu.
Semua tampak hidup di luar sana.
Tapi di dalam sini…
semuanya terasa diam.
⸻
Aku membuka laptop.
Bukan untuk hal baru.
Tapi untuk kembali melihat semua yang sudah ada.
Seolah aku berharap menemukan sesuatu yang sebelumnya terlewat.
⸻
Dan seperti biasa, pikiranku kembali ke Fredy.
⸻
Aku tidak lagi menolaknya sepenuhnya.
Tapi aku juga tidak bisa menerimanya tanpa pertanyaan.
Ada ruang di antara keduanya.
Dan aku berada di ruang itu.
⸻
Aku pernah berpikir mungkin aku sedang diperalat.
Bahwa semua ini hanya skenario yang terlalu besar untuk aku pahami.
Bahwa aku hanya bagian kecil dari sesuatu yang sudah berjalan lama.
⸻
Tapi pikiran itu tidak bertahan lama.
Aku menghapusnya sendiri dari kepalaku.
⸻
Karena ada hal lain yang lebih kuat dari keraguan.
Kenangan.
Foto-foto itu.
Dan rasa yang tidak bisa dijelaskan ketika aku melihatnya.
⸻
Aku memilih untuk tetap percaya.
Setidaknya untuk sekarang.
⸻
Malam itu, aku kembali membuka percakapan dengan Rosi.
Tanganku berhenti sebentar di atas keyboard sebelum mengetik.
⸻
“Aku mengenal seseorang yang cukup dekat dengan Fredy.”
⸻
Aku menatap kalimat itu.
Lalu menambahkan satu hal lagi.
⸻
“Tolong tetap percaya padaku.”
⸻
Aku mengirimnya.
⸻
Tidak ada jawaban langsung.
Tapi aku tidak merasa aneh lagi dengan itu.
⸻
Di saat yang sama, aku tetap melanjutkan pencarianku tentang Frederica.
Nama itu seperti satu-satunya bagian yang belum pernah benar-benar bisa aku sentuh.
⸻
Aku mengetik ulang setiap variasi yang mungkin.
Mencoba berbagai kemungkinan.
Mencari pola.
Mencari celah.
Apa pun yang bisa mengarah padanya.
⸻
Tapi semakin aku mencari…
semakin terasa bahwa nama itu tidak hanya hilang.
Tapi memang dijauhkan.
⸻
Dan itu membuat satu pertanyaan baru muncul di kepalaku.
⸻
Kalau Fredy benar ayahku…
kenapa satu-satunya orang yang harusnya paling dekat denganku…
justru menjadi yang paling tidak bisa aku temukan?
⸻
Aku menutup laptop perlahan.
Bukan karena sudah selesai.
Tapi karena aku tahu…
jawaban untuk ini tidak akan datang dengan cepat.
⸻
Nero is My Name.
Dan malam itu…
aku mulai sadar bahwa mencari kebenaran tentang keluargaku
tidak sama dengan mencari data.
⸻
Karena semakin dalam aku menggali…
semakin kabur batas antara yang nyata dan yang disembunyikan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar kamu disini!👇✌️😁