Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2018 by Personal Blog & Google

Saturday, 24 August 2019

Manusia Paling Munafik

©IG:@nuginugraha.id
Dalam kehidupan manusia, tidak akan pernah terlepas dari rasa bahagia dan rasa sedih, selama manusia itu hidup pasti dia bertemu dengan saat dimana ia tersenyum dan menangis.
Banyak hal yang bisa membuat kita bahagia, tidak sedikit juga yang menjadi alasan kita bisa bersedih.

Oh come on! Hidup tuh harus dinikmati!
Itu kata orang bijak tapi tidak terlalu bijak, karena menikmati itu tergantung pada orang yang menjalani.

Ada seseorang yang ingin melihat orang-orang disekitarnya bahagia, berhasil, sukses dan hal-hal baik lainnya, dia selalu berkata bijak entah itu dari yang pernah dia baca, pernah dia dengar, pernah dia lihat dan bahkan muncul di kepalanya begitu saja sehingga perkataannya bisa disebut bijak. 
Yang dia pikirkan hanya logika dan logika, begini bukan begitu, salah ya salah, benar ya benar, sedih ya nangis, bahagia ya tertawa, yang tidak masuk akal ya dia tinggalkan, it's logika. 

Dan ketika ada orang disekitarnya bahagia atau berhasil karena dia, dia merasakan bahagia yang luar biasa, sebuah kebanggaan bagi dirinya, begitupun sebaliknya, ketika dia tidak bisa membantu dengan bahasa-bahasa dia, tentu saja dia merasa tidak suka, merasa bersalah dalam dirinya. 

Itu sebuah perilaku yang luar biasa, jarang akan menemukan orang seperti itu, dari pengalamannya yang dulu sering bertemu banyak orang, dia mampu membedakan orang-orang yang layak dijadikan teman, sahabat, hanya sebatas kenal, atau lebih dari itu, dia sudah tidak akan sulit membedakan karakter orang, hanya melihat perilaku atau mendengar perkataan seseorang saja dia sudah (+) mungkin dan begitu yakin bisa menuliskan bagaimana diri orang lain tersebut.

Menunjuk orang lain salah, menilai dirinya selalu benar, melihat dari sisi baik dan buruk, kadang tidak mau tau kehidupan yang sebenarnya karena terlalu dan terbiasa dengan logika, seolah-olah dalam hidupnya hanya ada satu jalan lurus ke depan tanpa persimpangan sama sekali, tidak peduli orang lain sedih, tidak peduli orang lain bahagia, karena logikanya adalah setiap orang mempunyai jalan kehidupan masing-masing, itu sisi lain dari dirinya.

And u know what ? 
Dia menyadari begitu banyak kekurangan dalam dirinya, tetapi dia berusaha untuk menutupinya, dia menyadari begitu banyak kesedihan dalam dirinya tapi dia berusaha mengubahnya jadi sebaliknya, dia tau begitu banyak kesalahan dalam dirinya, tapi dia tidak mengakui semua itu, dan dia juga tidak sadar bahwa dia juga manusia biasa yang mempunyai hati yang rapuh, hancur, berantakan, menyedihkan.......
Dia menyimpan kesedihannya hanya karena tidak ingin orang lain melihatnya bersedih, dia menutupi kelemahan-kelemahan dalam dirinya dengan berjalan tegak begitu saja.
Dia bisa saja menutupi semuanya dari orang lain, tapi dia juga tau dan dia sadar bahwa dia tidak bisa menutupi semua itu dari dirinya sendiri.

Dia tidak mampu menutupi semua itu dari dirinya sendiri, dia tidak sanggup membohongi dirinya sendiri, dia tidak kuat terus menerus selalu terlihat kuat bagi dirinya sendiri, dia lelah, dia merasa semuanya hancur begitu saja ketika menyadari semua itu,....
Tenyata dia memang bisa membuat orang lain bahagia, membuat orang lain tertawa, orang lain lebih baik, tapi dia belum bisa mengubah kesedihannya, membuat dirinya benar-benar tertawa, dia belum mampu membuat dirinya terlepas dari kesedihan yang selama ini tertata rapi dalam hatinya.

Begitu menyadari semua itu dia merasa berada di dalam jurang yang gelap dan begitu dalam, seperti berjalan di atas lumpur, dia merasa sulit untuk melangkah, dia enggan untuk membuka matanya lagi, dia merasa menjadi manusia paling munafik di dunia ini.

Ya, terkadang orang memang mampu melihat di kedua sisi, tapi manusia juga lupa bahwa sisi itu bukan hanya ada dua tapi banyak sisi-sisi kehidupan lainnya yang sama sekali tidak akan pernah manusia bisa lihat hanya dengan logika.

Mulailah cintai diri kita sendiri, mulailah sayangi diri kita sendiri, mulailah puji diri kita sendiri, mulailah berbicara pada diri sendiri "apakah sudah saatnya untuk mulai berbagi kehidupan dengan orang lain ?" 
Think again!