Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Senin, 22 Juni 2026

Cerita Dari Negeri Amerika (Part 15)

 


Aku menggenggam kunci apartemen David sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit.

Entah kenapa, benda kecil itu terasa jauh lebih berat daripada seharusnya. Mungkin karena aku tahu bahwa kunci itu bukan sekadar akses menuju sebuah apartemen. Kunci itu adalah pintu menuju sesuatu yang selama ini sengaja disembunyikan.

Malam itu, aku tidak langsung pulang ke apartemenku sendiri.

Aku mengemudikan mobil tanpa tujuan selama hampir satu jam, berkeliling beberapa ruas jalan di Virginia. Aku hanya ingin memastikan bahwa tidak ada kendaraan yang mengikutiku. Kebiasaan seperti itu sudah menjadi bagian dari pekerjaanku belakangan ini.

Akhirnya, aku berhenti di depan sebuah gedung apartemen yang tidak terlalu mencolok.

Tempat tinggal David.

Tidak ada yang istimewa dari bangunan itu. Bahkan, terlihat lebih sederhana dibanding apartemen yang diberikan kantor kepadaku. Lampu lorong tampak redup dan sebagian penghuni sudah mematikan lampu kamar mereka.


Aku masuk menggunakan kunci yang diberikan David. 

Begitu pintu terbuka, suasana hening langsung menyambutku.

Apartemen itu sangat rapi.

Terlalu rapi.

Seolah tidak benar-benar dihuni oleh seseorang.

Aku berjalan perlahan ke ruang tamu. Tidak banyak perabotan. Hanya sofa, meja kecil, televisi, dan rak buku yang berisi beberapa novel serta buku-buku sejarah.

Aku mulai memeriksa setiap sudut ruangan.

Tidak ada apa-apa.

Aku hampir menyerah sampai akhirnya menyadari sesuatu yang aneh pada salah satu rak buku.

Ada bekas goresan di lantai. Seolah rak itu sering digeser.

Aku mendorong rak tersebut perlahan. Ini seperti adegan di film mata-mata. Tapi, semua ini memang benar-benar terjadi di hidupku sendiri.

Benar saja. Di baliknya terdapat sebuah panel kecil yang tersembunyi di dinding.

Jantungku langsung berdegup lebih cepat. Dengan tangan sedikit gemetar, aku membuka panel itu. Di dalamnya terdapat beberapa hard drive, sejumlah dokumen, beberapa kartu identitas atas nama yang berbeda, dan sebuah laptop berwarna hitam yang sudah terlihat cukup tua. Aku duduk terdiam cukup lama. David memang sudah mempersiapkan sesuatu. Dan sepertinya bukan baru kemarin. Di atas laptop itu terdapat secarik kertas bertuliskan namaku.

"Untuk Rian."

Singkat tapi cukup membuat bulu kudukku merinding. Aku membuka laptop tersebut yang tidak ada kata sandinya. 

Di layar desktop hanya terdapat dua folder.

Folder pertama bernama EXIT. Folder kedua bernama ARCHIVE.

Aku membuka folder EXIT terlebih dahulu yang membuatku sulit bernapas.

Data identitas baru, rekening bank, alamat tempat tinggal, dan nomor telepon.

Semua sudah dipersiapkan. Seolah David memang sedang merencanakan pelarian.


Aku kemudian membuka folder ARCHIVE.

Di dalamnya terdapat ratusan dokumen.

Ada laporan operasi, foto-foto, nama-nama agen, dan beberapa berkas bahkan mencantumkan nama orang yang selama ini dinyatakan meninggal karena kecelakaan, tetapi ternyata pernah terlibat konflik dengan organisasi.

Apa sebenarnya yang sedang disiapkan David? Dan sejak kapan dia mengumpulkan semua ini?

Ponselku tiba-tiba bergetar. Satu pesan masuk.

Dari Mrs. Anne.

"Besok pagi datang ke kantor lebih awal. Ada tugas baru untukmu."

Aku menatap layar ponsel beberapa saat.

Lalu tanpa sadar teringat ucapan David di rumah sakit.

“Kalau suatu hari nanti aku mati, jangan pernah percaya laporan resminya.”

Saat itu, aku menganggapnya hanya ucapan seseorang yang sedang ketakutan. Tapi sekarang, rasanya berbeda. Sangat berbeda.


Keesokan paginya, aku kembali ke rumah sakit sebelum berangkat ke kantor.

Aku ingin memastikan keadaan David.

Namun sesampainya di sana, kamar yang semalam kutinggalkan sudah kosong. Tempat tidurnya bersih, tidak ada tas, tidak ada barang pribadi, dan tidak ada David.

Aku pun bertanya kepada salah satu perawat. Dia memeriksa data pasien beberapa saat.

Kemudian menggeleng pelan.

“Maaf, tidak ada pasien atas nama itu di sini.”

“Mustahil,” jawabku cepat.

“Aku menjenguknya semalam.”

Perawat itu kembali memeriksa komputernya. Tapi hasilnya tetap sama. Tidak ada data, tidak ada riwayat, tidak ada nama David.


Aku berjalan keluar rumah sakit dengan langkah yang terasa jauh lebih berat dibanding saat datang.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun bekerja sebagai agen, aku merasakan ketakutan yang berbeda. Biasanya aku takut terhadap target, takut terhadap senjata dan takut terhadap kegagalan misi.

Namun kali ini, aku takut terhadap organisasiku sendiri.


Saat memasuki apartemenku malam harinya, aku kembali membeku.

Di atas meja ruang tamu, terdapat sebuah foto lama keluargaku. Foto itu menampilkan ibuku dan Nina. Aku yakin foto itu sebelumnya kusimpan di dalam laci kamar.

Seseorang telah masuk ke apartemenku. Atau mungkin mereka tidak pernah benar-benar keluar dari kehidupanku.

Di balik foto itu terdapat secarik kertas kecil. Hanya ada satu kalimat.

"Fokus pada pekerjaanmu."

Aku menatap tulisan itu cukup lama.

Kemudian, perlahan aku mengingat kembali isi folder EXIT yang ditinggalkan David. Mungkin selama ini aku terlalu sibuk menyelesaikan tugas. Mungkin selama ini aku terlalu sibuk mengikuti perintah. Dan mungkin untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku harus mulai memikirkan cara untuk menghilang. Aku tidak tidur malam itu.

Foto Ibu dan Nina masih berada di atas meja ruang tamu. Secarik kertas bertuliskan "Fokus pada pekerjaanmu" masih tergeletak di sampingnya. Aku tahu itu bukan ancaman biasa.

Mereka ingin aku tahu bahwa mereka bisa masuk kapan saja.

Dan yang lebih mengerikan, mereka ingin aku tahu bahwa mereka mengetahui siapa yang paling aku sayangi.


Untuk pertama kalinya sejak bergabung dengan organisasi itu, aku mematikan seluruh lampu apartemen dan duduk sendirian dalam gelap.

Aku mencoba berpikir.

Jika mereka memang sudah mencurigaiku, kenapa aku masih dibiarkan bebas?

Kenapa aku tidak langsung ditangkap seperti yang sering terjadi pada orang-orang yang dianggap berkhianat?

Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.

Pukul tiga dini hari, aku kembali membuka laptop milik David. Kali ini aku tidak membuka folder EXIT. Aku membuka ARCHIVE.

Ratusan dokumen memenuhi layar.

Sebagian besar adalah laporan operasi dari berbagai negara: Irak, Afganistan, Suriah dan Iran. Ada juga beberapa berkas yang diberi tanda merah. CLASSIFIED, RESTRICTED dan EYES ONLY. Aku membuka salah satunya.

Jantungku langsung berhenti sesaat.

Ternyata nama yang muncul di layar adalah namaku sendiri, RIAN PRATAMA.

SUBJECT STATUS: ACTIVE ASSET.


Aku membacanya perlahan.

Tanggal pertama laporan itu dibuat jauh sebelum aku berangkat ke Amerika. Bahkan sebelum aku memenangkan DV Lottery. Tanganku mulai gemetar.

Di layar tertulis:

“Subjek menunjukkan tingkat adaptasi tinggi.”

“Memiliki kecenderungan loyal terhadap figur otoritas.”

“Risiko pemberontakan rendah.”

“Direkomendasikan untuk proses pendekatan jangka panjang.”

Aku membaca kalimat demi kalimat. Setiap halaman terasa seperti menelanjangi hidupku. Mereka mencatat semuanya. Prestasiku saat sekolah, riwayat pekerjaanku di Bandung, kebiasaanku, lingkaran pertemananku dan bahkan beberapa percakapan yang pernah kulakukan bertahun-tahun lalu.


David ternyata tidak berbohong.

Aku memang sudah dipilih jauh sebelum aku menyadarinya.

Namun bukan itu yang membuat darahku terasa dingin.

Pada halaman terakhir, terdapat sebuah catatan tambahan yang dibuat beberapa minggu sebelumnya.

STATUS REVIEW.

POTENSI KOMPROMI MENINGKAT.

SUBJEK MENUNJUKKAN GEJALA KETIDAKPATUHAN PASCA OPERASI IRAN.

REKOMENDASI:

PENGAWASAN TINGKAT LANJUT.

Di bawahnya terdapat satu nama.

Supervisor:

ANNE W.


Aku langsung menutup laptop. Napas terasa berat. Kini semuanya jelas. Aku bukan sedang diawasi. Aku sedang diuji.


Ponselku tiba-tiba bergetar.

Pesan baru masuk dari Mrs. Anne.

“Jangan terlambat.”

Bukan perintah, melainkan peringatan.

Aku melihat jam di dinding. Pukul enam pagi.

Dua jam lagi aku harus berada di kantor. Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun bekerja di sana, aku tidak tahu apakah aku akan pulang kembali.


Sebelum meninggalkan apartemen, aku membuka laci meja kerja.

Di dalamnya masih tersimpan paspor Amerika milikku. Aku menatapnya cukup lama.

Kemudian, perlahan memasukkannya ke dalam tas. Entah kenapa.

Perasaanku mengatakan bahwa mulai hari ini, hidupku tidak akan pernah sama lagi.


Aku datang ke kantor lebih awal dari biasanya.

Gedung itu masih sama seperti yang pertama kali kulihat bertahun-tahun lalu. Tinggi, megah, dan terlihat biasa saja dari luar. Tidak ada yang menyangka berapa banyak rahasia yang tersimpan di dalamnya.

Saat melewati pemeriksaan keamanan, aku berusaha terlihat senormal mungkin. Tidak terlalu gugup dan tidak terlalu santai.

Aku sudah belajar bahwa ketakutan sering kali lebih mudah terbaca daripada kebohongan.

Sesampainya di lantai kerjaku, suasana masih relatif sepi. Beberapa pegawai baru datang. Sebagian lagi sedang menikmati kopi pagi sambil membuka ponsel mereka. Semuanya tampak normal. Bahkan terlalu normal.

Aku terus menunggu sesuatu terjadi.

Mungkin seseorang akan menghampiriku.

Mungkin aku akan dipanggil ke ruang interogasi.

Atau mungkin kartu aksesku tiba-tiba tidak berfungsi. Tapi nyatanya masih tidak ada apa-apa.

Hingga sekitar pukul sembilan pagi ponsel kerjaku bergetar. Pesan dari Mrs. Anne.

“Lantai 12. Ruang rapat B.”

Hanya itu.

Aku langsung berdiri.

Semakin dekat ke ruang rapat itu, langkah kakiku terasa semakin berat.

Ketika pintu terbuka, ternyata hanya ada satu orang di dalam, Mrs. Anne.

Dia sedang duduk sambil membaca beberapa berkas. Seperti biasa, tenang, rapi dan sulit ditebak.

Dia bahkan tersenyum ketika melihatku masuk.

“Duduklah, Rian.”

Aku menurut.


Beberapa detik berlalu tanpa percakapan.

Dia hanya menutup buku yang sedang dibacanya, lalu meletakkannya di atas meja.

“Aku mendengar kamu menjenguk David.”

Jantungku langsung berdetak lebih cepat.

Namun wajahku berusaha tetap datar.

“Ya. Saya dengar dia mengalami kecelakaan.”

Mrs. Anne mengangguk pelan.

“Kasihan sekali.”

Kalimat itu terdengar biasa.

Tapi entah kenapa membuat bulu kudukku berdiri.

Aku tidak menjawab.

Dia kemudian berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke luar gedung.

“Kamu sudah bekerja cukup lama di sini, Rian.”

“Kurang lebih begitu.”

“Kamu tahu apa yang paling sulit dari pekerjaan ini?”

Aku menggeleng.

“Bukan membedakan mana teman dan mana musuh.”

Dia berhenti sejenak.

“Yang paling sulit adalah membedakan siapa yang masih bisa dipercaya.”

Aku merasakan tenggorokanku mengering.

Seolah setiap kalimat yang keluar dari mulutnya memiliki arti lain.

Mrs. Anne berbalik menatapku.

“Kadang orang berubah.”

“Kadang mereka mulai mempertanyakan keputusan yang dulu mereka yakini.”

“Kadang mereka merasa organisasi tidak lagi sejalan dengan hati nurani mereka.”

Aku diam. Tidak berani menanggapi.

Lalu untuk pertama kalinya pagi itu, Mrs. Anne tersenyum tipis.

“Tenang saja, Rian.”

“Aku tidak sedang membicarakanmu.”

Aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak.

Setelah beberapa saat, dia mengambil sebuah amplop cokelat dari meja.

Lalu menyerahkannya kepadaku.

“Misi baru.”

Aku menerimanya.

Di bagian depan amplop, hanya tertulis satu kata.

SEATTLE.

“Apa tugasnya?” tanyaku.

Mrs. Anne kembali duduk.

“Kami kehilangan seseorang.”

“Maksudnya?”

“Salah satu agen.”

Aku langsung teringat pada David. Namun tidak mengatakan apa pun.

Mrs. Anne melanjutkan.

“Dia menghilang siang kemarin.”

“Ada indikasi dia membawa beberapa data sensitif.”


Aku membuka halaman pertama.

Lalu darahku terasa berhenti mengalir.

Foto yang terpampang di sana adalah wajah yang sangat kukenal, David.

Aku menatap foto itu cukup lama.

Berusaha mengendalikan ekspresi wajahku.

Mrs. Anne memperhatikanku tanpa berkedip.

“Apakah kamu mengenalnya?”

Aku mengangkat pandangan.

“Lumayan.”

“Bagus.”

Dia kembali tersenyum.

“Kami ingin kamu menemukannya.”

Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih dingin.

Karena sekarang aku mulai memahami sesuatu. Entah David masih hidup atau tidak.

Entah dia benar-benar menghilang atau sedang bersembunyi. Tetapi satu hal sudah pasti.

Mrs. Anne tahu aku dekat dengannya. Dan sekarang dia sengaja menempatkanku tepat di tengah permainan yang sedang berlangsung.


Saat meninggalkan ruang rapat, aku masih menggenggam amplop itu erat-erat. Namun yang terus terngiang di kepalaku bukanlah isi misi baru tersebut, melainkan satu pertanyaan sederhana.

Apakah aku sedang ditugaskan mencari David?

Atau sebenarnya mereka sedang menguji apakah aku akan memilih David atau memilih mereka?


Aku menerima tugas itu tanpa banyak pertanyaan.

Seperti biasa, seperti agen yang patuh. Seperti orang yang tidak mengetahui apa-apa.

Padahal di dalam kepalaku, semuanya sedang berubah.


Setelah keluar dari ruang rapat, aku kembali ke meja kerja dan mulai mempelajari seluruh berkas tentang David. Hampir semua informasi yang ada di sana sudah tidak asing bagiku. Riwayat tugasnya, lokasi penempatan, hingga beberapa laporan evaluasi psikologis yang dibuat selama bertahun-tahun.

Namun, ada satu hal yang menarik perhatianku.

Banyak bagian dokumen yang sudah dihapus.

Bukan disensor, tapi benar-benar dihapus.

Seolah seseorang tidak ingin ada yang mengetahui apa yang pernah terjadi pada periode tertentu dalam hidup David.

Semakin aku membaca, semakin jelas bahwa misi ini bukan sekadar pencarian agen yang hilang. Ada sesuatu yang jauh lebih besar.


Malam harinya, aku kembali ke apartemen David.

Aku memeriksa ulang semua dokumen yang tersimpan di laptop tua itu. Kali ini, aku membaca lebih teliti daripada sebelumnya. Berjam-jam aku menghabiskan waktu hanya untuk membuka satu berkas ke berkas lainnya. Sampai akhirnya, aku menemukan sesuatu.

Sebuah folder tersembunyi yang sebelumnya tidak terlihat. Isinya tidak banyak. Hanya beberapa foto. Beberapa koordinat. Dan satu catatan singkat.

“Jika kamu menemukan ini, berarti mereka sudah mulai mencariku.”

Aku membaca catatan itu berulang kali.

Di bawahnya terdapat sebuah alamat di Seattle.

Tidak ada penjelasan, tidak ada petunjuk tambahan.Hanya alamat.

Aku langsung memahami maksudnya.

David telah meninggalkan jejak untukku, bukan untuk organisasi. Ya, hanya untukku.


Selama beberapa hari berikutnya, aku menjalankan peranku seperti biasa.

Aku menghadiri rapat, membuat laporan, mengikuti briefing dan bahkan mengirim perkembangan pencarian David secara rutin kepada atasan.

Tentu saja tidak semuanya benar.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mulai berbohong kepada organisasi yang selama ini memberiku pekerjaan, tempat tinggal, dan identitas baru.

Anehnya, aku tidak merasa bersalah.

Yang kurasakan justru ketenangan.

Seolah akhirnya aku sedang melakukan sesuatu atas keinginanku sendiri.


Beberapa hari kemudian, aku berangkat ke Seattle. Secara resmi aku sedang menjalankan tugas pencarian. Namun sebenarnya, aku sedang mengikuti petunjuk yang ditinggalkan David. Kota itu jauh berbeda dengan Langley. Udara yang lebih dingin, langit yang lebih sering mendung dan rang-orang tampak sibuk dengan urusan mereka sendiri.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa seperti orang biasa. Bukan agen, bukan penyelidik, dan bukan alat milik siapa pun.

Aku menyewa sebuah kamar kecil di pinggiran kota dan mulai melakukan pengamatan terhadap alamat yang diberikan David.

Ternyata, alamat itu mengarah ke sebuah gudang tua yang sudah lama tidak digunakan.

Bangunannya tampak kosong. Cat temboknya mulai mengelupas. Sebagian jendela sudah pecah. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Aku menghabiskan dua hari hanya untuk mengawasi tempat itu dari kejauhan.

Tidak ada yang datang.

Tidak ada yang pergi.

Sampai pada malam ketiga.

Sebuah kendaraan hitam berhenti tidak jauh dari bangunan tersebut.

Lampunya dimatikan. Empat orang turun.

Cara mereka bergerak membuatku langsung mengenali siapa mereka.

Mereka bukan polisi. Mereka bukan warga biasa.

Mereka adalah orang-orang yang pernah kulihat bekerja untuk organisasi.

Aku langsung mengerti.

Bukan hanya aku yang menemukan tempat ini.

Mereka juga menemukannya.

Selama beberapa menit, aku memperhatikan dari kejauhan.

Keempat orang itu memasuki gudang.

Kemudian suasana kembali sunyi.

Tidak ada suara. Tidak ada pergerakan. Tidak ada apa pun.

Hingga tiba-tiba terdengar suara letusan yang sangat pelan dari dalam bangunan.

Satu kali. Lalu hening.

Jantungku berdegup kencang.

Aku tetap menunggu.

Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit.

Akhirnya keempat orang itu keluar kembali.

Mereka membawa sesuatu. Sebuah tas hitam besar.

Lalu pergi begitu saja.

Aku tidak langsung bergerak.

Aku menunggu hampir satu jam sampai benar-benar yakin bahwa daerah itu aman.

Barulah aku mendekati gudang tersebut.

Pintu depannya terbuka sedikit.

Udara dingin masuk melalui celah-celah bangunan yang rusak.

Aku melangkah masuk perlahan.

Senter kecil di tanganku menyapu setiap sudut ruangan. Kosong.

Hanya debu dan beberapa peralatan tua.

Namun ketika cahaya senter mengarah ke lantai, aku langsung berhenti.

Di sana terdapat bercak darah yang masih segar. Tidak banyak.

Tetapi cukup untuk membuat pikiranku dipenuhi kemungkinan buruk.

David pernah berada di tempat ini.

Atau mungkin masih berada di sini beberapa jam yang lalu.

Aku berjongkok dan memperhatikan area sekitar.

Lalu aku menemukan sesuatu yang membuat napasku tertahan, yaitu sebuah flashdisk kecil yang terselip di bawah peti kayu tua.

Seolah sengaja ditinggalkan untuk ditemukan seseorang.

Aku mengambilnya perlahan.

Kemudian membaliknya.

Di bagian belakang terdapat goresan kecil yang sangat familiar. 

Huruf D. 

Aku langsung mengenalinya.

Itu milik David.


Dan aku mulai sadar bahwa apa pun yang sedang terjadi sekarang, semuanya jauh lebih besar daripada sekadar agen yang menghilang.

Aku tidak lagi sedang mencari David.

Aku sedang berjalan menuju sesuatu yang selama ini disembunyikan dari semua orang, yaitu dari diriku sendiri.


Hingga akhirnya aku membulatkan tekadku untuk benar-benar pergi dari mereka.

Tapi anehnya, tekad itu tidak datang seperti ledakan besar. Tidak ada rasa berani, tidak ada rasa bebas. Yang ada hanya satu hal yang jauh lebih sederhana. Aku sudah tidak percaya siapa pun lagi. Tidak David, tidak Mrs. Anne, bahkan tidak pada diriku sendiri.

Aku menatap flashdisk di tanganku cukup lama. Benda kecil itu terasa seperti pintu, atau mungkin perangkap. Aku tidak tahu.

Yang aku tahu hanya satu hal—kalau aku tetap di tempat ini, aku bukan lagi sedang hidup.

Aku hanya sedang menunggu giliran dihapus.


Malam itu aku tidak kembali ke kamar sewa. Aku juga tidak melapor apa pun ke kantor. Aku mematikan ponsel kerjaku. Lalu mematikan ponsel pribadiku.


Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, aku tidak meninggalkan jejak apa pun yang bisa mereka baca.

Di dalam mobil, aku membuka laptop kecil yang kubawa dari apartemen David.

Di sana ada form untuk membuat paspor baru. 

Aku pun mengisinya bukan dengan nama Rian, tapi nama baru: Randy. 

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sedang berpura-pura. 

Aku merasa sedang menghapus seseorang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁