Aku kembali menghilang.
Bukan untuk pertama kalinya.
Bukan untuk kedua kalinya.
Entah sudah berapa kali aku mengganti nama, identitas, alamat, dan kehidupan.
Setiap kali merasa aman, selalu ada seseorang yang menemukan jejakku.
Setiap kali berhasil memulai hidup baru, masa lalu selalu datang mengejar.
Aku mulai membuat identitas baru lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Pada titik tertentu, bahkan aku sendiri mulai kesulitan mengingat berapa banyak nama yang pernah kugunakan.
Rian.
Randy.
Dan beberapa nama lain yang hanya hidup selama beberapa bulan sebelum akhirnya kutinggalkan.
Aku tidak lagi mencoba membangun kehidupan.
Aku hanya berusaha bertahan.
Sementara itu, data yang kubawa semakin banyak.
Bukan hanya data dari Amerika.
Bukan hanya data dari Rusia.
Melainkan potongan-potongan informasi yang tanpa sengaja kukumpulkan selama bertahun-tahun hidup di dunia intelijen.
Laporan operasi.
Nama agen.
Dokumen rahasia.
Jalur komunikasi.
Dan berbagai informasi lain yang tidak seharusnya berada di tangan seseorang sepertiku.
Aku mulai menyadari kenyataan yang tidak menyenangkan.
Aku bukan lagi sekadar buronan.
Aku adalah ancaman.
Bagi sebagian orang, keberadaanku lebih berbahaya daripada kematianku.
Karena selama aku masih hidup, selalu ada kemungkinan bahwa rahasia-rahasia itu ikut hidup bersamaku.
Perasaan itu membuatku semakin berhati-hati.
Aku membuang hampir seluruh alat komunikasi yang kumiliki.
Ponsel.
Laptop.
Perangkat elektronik.
Apa pun yang berpotensi digunakan untuk melacak keberadaanku.
Aku kembali bergerak dari satu negara ke negara lain.
Membeli tiket pesawat ke berbagai tujuan.
Menciptakan jejak yang membingungkan seperti yang pernah kulakukan bertahun-tahun sebelumnya.
Namun kali ini aku sudah memiliki tujuan yang jelas.
Indonesia.
Jakarta.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku ingin pulang.
Bukan karena aku merasa aman.
Melainkan karena aku sudah lelah berlari.
Saat pesawat mendarat di Jakarta, ada perasaan aneh yang sulit kujelaskan.
Banyak hal telah berubah sejak terakhir kali aku meninggalkan negara ini.
Namun di saat yang sama, semuanya terasa begitu akrab.
Bahasa yang kudengar.
Makanan yang kujumpai.
Wajah-wajah orang di jalan.
Semuanya mengingatkanku pada kehidupan yang pernah kumiliki sebelum dunia intelijen mengambil alih hidupku.
Aku datang dengan satu harapan sederhana.
Mungkin kali ini ada jalan keluar.
Mungkin kali ini aku bisa berhenti berlari.
Beberapa hari kemudian, aku memberanikan diri mendatangi salah satu kantor intelijen Indonesia.
Aku datang bukan sebagai agen.
Bukan sebagai aset.
Bukan sebagai pembawa misi.
Aku datang sebagai seseorang yang kelelahan.
Seseorang yang ingin hidup normal kembali.
Prosesnya tidak mudah.
Awalnya tidak ada yang mempercayaiku.
Bagaimana mungkin seseorang datang begitu saja membawa kisah yang terdengar seperti cerita fiksi?
Aku menceritakan semuanya.
Tentang Amerika.
Tentang David.
Tentang Rusia.
Tentang pelarianku selama bertahun-tahun.
Tentang data-data yang kubawa.
Tentang orang-orang yang pernah mencariku.
Dan tentang keinginanku yang sebenarnya sangat sederhana.
Aku hanya ingin hidup sebagai warga negara biasa.
Tanpa pengawasan.
Tanpa operasi rahasia.
Tanpa organisasi yang mengatur setiap langkah hidupku.
Mereka mendengarkan.
Mereka mencatat.
Mereka bertanya.
Dan mereka memeriksa semua yang kuberikan.
Setelah itu tidak ada jawaban.
Hari berganti minggu.
Minggu berganti bulan.
Aku terus berpindah-pindah tempat menginap di Jakarta.
Kadang hotel kecil.
Kadang apartemen sewaan harian.
Kadang penginapan sederhana yang bahkan tidak meminta banyak identitas.
Aku tidak tahu apakah mereka sedang mempertimbangkan permohonanku atau justru sedang menyelidikiku.
Yang aku tahu hanya satu.
Aku kembali hidup dalam ketidakpastian.
Setiap kali telepon umum berdering.
Setiap kali melihat kendaraan berhenti terlalu lama.
Setiap kali seseorang memperhatikanku sedikit lebih lama dari biasanya.
Aku selalu berpikir bahwa mungkin hari itu adalah hari ketika semuanya berakhir.
Namun panggilan itu akhirnya datang.
Suatu sore ketika hujan turun cukup deras di Jakarta.
Aku menerima pesan yang memintaku datang ke sebuah lokasi untuk bertemu.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada detail tambahan.
Hanya waktu dan tempat.
Aku datang tepat waktu.
Di sana aku bertemu beberapa orang yang selama beberapa bulan terakhir telah mempelajari seluruh kisah hidupku.
Mereka sudah memeriksa dataku.
Memverifikasi informasi yang kuberikan.
Dan menarik kesimpulan mereka sendiri.
Aku datang dengan harapan akan mendapatkan perlindungan.
Atau mungkin kesempatan untuk menghilang secara resmi.
Namun kenyataannya berbeda.
Ternyata aku tidak bisa keluar begitu saja.
Terlalu banyak hal yang kuketahui.
Terlalu banyak pengalaman yang kumiliki.
Terlalu banyak informasi yang tersimpan di kepalaku.
Orang seperti diriku tidak bisa begitu saja kembali menjadi warga biasa.
Setidaknya itulah yang mereka yakini.
Aku terdiam cukup lama saat mendengar keputusan mereka.
Bertahun-tahun aku berlari untuk keluar dari dunia ini.
Bertahun-tahun aku mengganti identitas demi mendapatkan kehidupan yang normal.
Namun pada akhirnya, dunia yang sama kembali menemukanku.
Mereka menawarkan satu pilihan.
Bergabung dengan mereka.
Bekerja untuk Indonesia.
Menjadi bagian dari organisasi yang selama ini hanya kulihat dari kejauhan.
Aku tidak langsung menjawab.
Sebagian diriku ingin menolak.
Sebagian lagi tahu bahwa aku tidak memiliki banyak pilihan.
Jika menolak, aku tetap akan menjadi seseorang yang diburu oleh masa lalunya.
Jika menerima, setidaknya aku masih memiliki tempat untuk berdiri.
Pada akhirnya aku memahami sesuatu.
Mungkin sejak awal aku tidak pernah benar-benar bebas.
Aku hanya berpindah dari satu sisi papan permainan ke sisi yang lain.
Dan kini, setelah bertahun-tahun berlari melintasi berbagai negara, aku kembali ke tempat kelahiranku.
Bukan sebagai Rian yang dulu meninggalkan Indonesia dengan mimpi besar.
Bukan sebagai Randy yang berusaha menghapus masa lalunya.
Melainkan sebagai seseorang yang telah kehilangan terlalu banyak hal untuk bisa kembali menjadi orang yang sama.
Aku akhirnya menerima tawaran itu.
Bukan karena aku menginginkannya.
Melainkan karena aku tidak melihat jalan lain.
Dan begitulah, untuk ketiga kalinya dalam hidupku, aku kembali menjadi bagian dari dunia yang selama ini berusaha kutinggalkan.
Kali ini, di Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar kamu disini!👇✌️😁