Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Sabtu, 20 Juni 2026

Cerita dari Negeri Paman Sam (Part 13)



Aku kini sedang berpura-pura menjadi sosok yang baru. Mungkin bukan bekerja di sebuah perusahaan ternama dengan gaji yang besar, tapi aku mencoba tetep sembunyi dari mereka yang terus mengejarku. 


Aku kembali flashback ke tahun 2013, tahun di mana semuanya mulai berubah. Aku yang tadinya hanya seorang staf administrasi berubah menjadi seorang agen intelijen ternama di Amerika.


Tahun berganti tahun, hasil dari latihan bersamaku dengan mereka yang notabene sangat mahir di bidangnya membuat aku menjadi pribadi yang berbeda. Aku menjadi pribadi yang sangat mahir dalam banyak bidang demi bisa menjalankan banyak tugas yang sangat krusial. Mungkin aku hanya agen lapangan yang sederhana, bukan menjadi agen yang terlalu penting dibanding yang lainnya. Tapi, tetap saja aku merasa bahwa semuanya begitu sangat berat ketika menjalaninya.


Mungkin kehidupanku sebagai agen intelijen tidaklah seperti di film-film, tapi pada kenyataannya, tidak semua bisa aku utarakan melalui tulisan yang aku buat ini. Aku membuat tulisan ini hanya sebagai usahaku untuk lepas dari banyak trauma yang aku lalui selama bertahun-tahun. Kehidupan normalku sebagai warga negara Amerika tidaklah sebebas itu semenjak aku bergabung di organisasi intelijen terbesar itu. Aku selalu merasa tidak aman, serasa ada banyak pasang mata yang tertuju kepadaku. Seolah-olah tidak ada lagi bilik untukku bersembunyi. Semuanya selalu di bawah kendali mereka. Kehidupanku benar-benar terkekang.



Pada tahun 2018, aku mendapat tugas untuk memata-matai sekumpulan remaja yang akan menjalani pertukaran pelajar di Amerika. Mereka berasal dari Indonesia. Memang tidaklah berat, aku hanya perlu memantau mereka selama keberadaannya di sini. Aku juga sudah memegang data lengkap mereka semua. Ini juga bukan pertama kalinya aku memantau pergerakan orang-orang yang berasal dari negara asalku.


Selama tiga bulan, aku mengikuti perjalanan mereka. Namun, aku tetap menjaga jarak aman agar tidak dicurigai oleh mereka, karena pernah ada kejadian yang membuatku mendapat peringatan dari organisasi setelah pengintaianku diketahui. 

Sebelumnya, aku pernah mendapat tugas untuk mengintai seseorang dari luar negeri dan aku gagal karena ketahuan mengikutinya di setiap kesempatan. Makanya, aku menjadi lebih berhati-hati lagi.


Setelah menyelesaikan tugasku untuk mengintai pergerakan sekumpulan pelajar itu, aku mendapatkan tugas lain yang lebih berat.


Tahun 2019, aku harus pergi ke suatu negara konflik, yaitu Iran. Pada saat itu, sedang ada gelombang demonstrasi mematikan akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan eskalasi ketegangan militer dengan Amerika Serikat yang dikenal sebagai Krisis Teluk Persia. 


Keberadaanku di Iran begitu menegangkan, selain karena ada demo besar-besaran hingga banyaknya korban jiwa yang berjatuhan, aku menjadi agen yang membantu menyampaikan perkembangan di sana karena pada saat itu semua akses internet dinonaktifkan total. Aku dibekali dengan alat komunikasi canggih agar tetap terhubung ke markas.

Aku menyamar sebagai reporter media ternama.


Dulu, tanganku hanya akrab dengan tumpukan dokumen dan mesin tik. Namun, setelah dilatih, tanganku berubah menjadi senjata. Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam, dan itu adalah bagian dari diriku yang paling ingin kulupakan.

Menjadi reporter adalah kedok yang sempurna, tapi juga sangat menjijikkan. Aku harus meliput penderitaan rakyat di sana, sementara tujuanku sebenarnya bukan untuk mengabarkan dunia, melainkan memberikan data strategis kepada mereka yang membiayai kekacauan itu. Saat orang-orang di sana sedang berjuang bertahan hidup di tengah blackout, markas justru memujiku karena informasi yang kuberikan dianggap "sangat berharga bagi kestabilan regional".


Pernah ada suatu kejadian. 

Di depan mataku, seorang pria tua dipukuli karena tertangkap merekam demonstrasi. Sebagai "reporter", naluri kemanusiaanku ingin membantunya. Tapi, di dalam telingaku, suara operator dari markas terdengar dingin: "Abaikan. Fokus pada target utama. Kamu di sana untuk informasi, bukan untuk menjadi pahlawan." Saat itulah aku sadar bahwa bagi mereka, aku bukan manusia, melainkan lensa kamera yang bernapas.


Untuk memuluskan penyamaranku, aku harus memanipulasi informasi yang sebenarnya. Aku sengaja melaporkan hal-hal yang memicu kemarahan publik agar situasi di sana semakin panas, karena itulah yang diinginkan organisasi. Aku tahu laporanku akan menyebabkan lebih banyak kematian, tapi aku melakukannya. Bukan karena aku benci pada orang-orang di sana, tapi karena aku hanya menjalankan "peran" yang diberikan kepadaku dengan sempurna.


Di balik lensa kamera itu, aku bukan lagi seorang agen, melainkan seorang saksi bisu atas kehancuran yang justru kubantu untuk tercipta. Di tengah kepulan asap yang menyesakkan dada, aku melihat seorang bocah laki-laki yang mungkin seumuran dengan adikku dulu. Dia sedang berusaha membangunkan ibunya yang tak lagi bernapas di atas aspal yang panas. Dia tidak menangis dengan suara keras; dia hanya memanggil ibunya dengan bisikan yang parau, berulang-ulang, seolah-olah dengan memanggilnya cukup lama, ibunya akan kembali membuka mata.


Tanganku gemetar. Kamera di tanganku sudah terfokus pada momen tragis itu. Aturan organisasi sudah mendarah daging: "Abadikan segalanya. Jangan intervensi." Aku bisa saja meletakkan kamera itu. Aku bisa saja berlari memeluk anak itu dan membawanya pergi. Tapi, aku diam. Aku justru mencari sudut pengambilan gambar yang paling sempurna agar data yang kukirim ke markas terlihat "akurat". Saat anak itu akhirnya menatap tepat ke arah lensa kameraku—tatapan yang kosong, bingung, dan penuh keputusasaan—aku tahu aku telah membunuh sesuatu di dalam diriku sendiri.


Malam itu, setelah aku mengirimkan laporan, aku tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali aku mencoba tidur, bayangan tatapan anak itu menghantuiku. Aku menyadari bahwa aku tidak hanya kehilangan kemanusiaanku di negeri asing ini, aku telah kehilangan hak untuk dimaafkan. Aku membawa pulang data-data kemenangan bagi organisasi, tapi aku meninggalkan jiwaku di jalanan Iran, terkubur bersama orang-orang yang seharusnya kubantu, namun justru kukhianati demi sebuah tugas yang tak pernah kusebut sebagai kebenaran.


Malam itu, di kamar hotel yang temaram, aku tidak lagi bisa menahan diri. Aku melempar alat komunikasi itu ke sudut ruangan—benda yang selama berjam-jam menjadi satu-satunya penghubungku dengan "tuhan-tuhan" yang memerintahkanku dari balik layar. Aku jatuh terduduk di lantai, menyandarkan punggung ke pintu yang terkunci rapat.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, pertahanan diriku runtuh. Aku menangis. Bukan tangis yang tenang, melainkan isak yang menyakitkan, isak yang memaksaku mengeluarkan udara dari paru-paru sampai dadaku terasa sesak. Aku meringkuk di sana, memeluk lututku sendiri, berusaha meredam suaraku agar tidak terdengar oleh siapa pun di luar sana. Bayangan wajah anak itu, tatapan kosongnya saat menatap lensa kameraku, terus berputar di kepala seperti rekaman yang rusak. 


Aku merasa jijik pada diriku sendiri—pada tanganku yang bersih dari darah, tapi begitu kotor oleh pengkhianatan terhadap nurani. Di bawah keremangan lampu kota yang sedang sekarat itu, aku menyadari bahwa aku hanyalah seorang pengecut yang bersembunyi di balik identitas reporter demi menutupi wajah monster yang sedang tumbuh dalam diriku.

Aku terus menangis hingga mataku perih dan tenggorokanku kering. Gelisah yang kurasakan bukan lagi karena takut tertangkap oleh musuh, melainkan takut bahwa aku akan terus begini selamanya—menjadi alat tanpa rasa, menjadi mayat hidup yang hanya bisa melihat dunia terbakar. Malam itu, di Iran, aku tidak hanya kehilangan ketenangan; aku kehilangan bagian diriku yang paling berharga. Dan saat fajar perlahan menyingsing, aku tahu satu hal: aku harus pergi dari lingkaran ini, meski itu artinya aku harus menghancurkan diriku sendiri untuk bisa benar-benar bernapas kembali.


Setelah kembalinya aku ke Amerika, aku bertemu dengan atasanku, Mrs. Anne. Dia mengucapkan beberapa kalimat yang membuat perasaanku semakin tidak karuan.

"Aku tahu kamu lelah setelah Iran. Kamu butuh istirahat. Tapi ingat, Rian, orang-orang seperti kita tidak pernah benar-benar pensiun. Kita hanya berganti peran. Kamu sudah menjadi aset yang sangat berharga, dan aku tidak akan membiarkan 'aset' yang sebagus itu rusak hanya karena satu momen emosional yang tidak perlu."


Lalu, aku harus bagaimana?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁