Tahun 2022.
Aku resmi menjadi bagian dari lingkungan intelijen Indonesia.
Setidaknya, itulah yang tertulis di dokumen-dokumen resmi.
Di hadapan mereka, aku adalah Rangga.
Seseorang yang tampak loyal.
Seseorang yang tampak siap mengabdi.
Seseorang yang tampak bangga mengenakan identitas barunya.
Namun kenyataannya jauh berbeda.
Sejak hari pertama, aku tidak pernah benar-benar merasa menjadi siapa pun.
Rian telah kutinggalkan.
Randy telah kuhapus.
Dan kini Rangga hanyalah nama lain yang kupinjam untuk bertahan hidup.
Meski begitu, aku menerima kenyataan bahwa untuk sementara waktu, inilah hidupku.
Tugas pertamaku datang tidak lama setelah proses adaptasi selesai.
Jakarta sedang memanas.
Berbagai kelompok mahasiswa dan organisasi masyarakat mulai turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi mereka. Situasi politik menjadi semakin sensitif, sementara aparat keamanan berusaha memastikan bahwa demonstrasi tidak berubah menjadi kekacauan yang lebih besar.
Aku ditempatkan sebagai pengamat lapangan.
Tugasku sederhana.
Masuk ke berbagai titik aksi.
Mendengarkan.
Mengamati.
Mencatat.
Dan mencari tahu apakah ada pihak-pihak tertentu yang sengaja memancing kericuhan.
Berhari-hari aku berada di tengah kerumunan.
Kadang sebagai peserta biasa.
Kadang sebagai relawan.
Kadang hanya menjadi wajah asing yang berdiri di antara ribuan orang.
Aku mendengar berbagai pendapat.
Berbagai kemarahan.
Berbagai harapan.
Sebagian besar peserta aksi memang datang untuk menyampaikan aspirasi mereka.
Mereka memiliki tuntutan, kekhawatiran, dan keyakinan masing-masing.
Namun semakin lama aku berada di lapangan, semakin aku menyadari bahwa tidak semua orang hadir dengan tujuan yang sama.
Ada kelompok-kelompok kecil yang muncul tanpa identitas yang jelas.
Mereka bergerak berbeda.
Mereka tidak tertarik pada tuntutan aksi.
Mereka tidak peduli pada isi orasi.
Mereka hanya menunggu momen yang tepat untuk membuat situasi berubah.
Aku mulai mengikuti jejak mereka.
Mencatat pola pergerakan mereka.
Merekam pertemuan-pertemuan yang tampak mencurigakan.
Dan menghubungkan berbagai informasi yang berhasil kukumpulkan.
Semakin dalam aku menyelidik, semakin banyak hal yang terasa tidak masuk akal.
Orang-orang tertentu selalu muncul di lokasi yang berbeda.
Beberapa nama yang tidak saling berhubungan ternyata memiliki koneksi yang sama.
Ada aliran informasi yang bergerak jauh lebih cepat daripada yang seharusnya.
Seolah-olah seseorang sudah mengetahui apa yang akan terjadi bahkan sebelum peristiwa itu berlangsung.
Awalnya aku mengira semua itu hanya kebetulan.
Namun jumlah kebetulan yang kutemukan terlalu banyak untuk diabaikan.
Malam demi malam aku menyusun laporan.
Membandingkan data.
Menyusun potongan-potongan informasi seperti puzzle yang belum lengkap.
Sampai akhirnya aku melihat sebuah pola.
Di balik berbagai kelompok yang tampak saling bertentangan, ada pihak-pihak tertentu yang justru memperoleh keuntungan ketika situasi menjadi semakin kacau.
Mereka tidak pernah muncul di depan.
Mereka tidak pernah terlihat di tengah kerumunan.
Namun pengaruh mereka terasa di mana-mana.
Semakin besar konflik, semakin besar keuntungan yang mereka dapatkan.
Temuan itu membuatku teringat pada masa laluku.
Amerika.
Rusia.
Cina.
Di mana pun aku berada, polanya selalu sama.
Orang-orang yang terlihat bertarung di permukaan sering kali bukan pemain sebenarnya.
Pemain sesungguhnya hampir selalu berada jauh dari sorotan.
Aku mulai memahami bahwa yang kulihat di jalanan mungkin hanyalah sebagian kecil dari permainan yang jauh lebih besar.
Namun pengalaman juga mengajariku satu hal.
Mengetahui kebenaran tidak selalu berarti bisa membuktikannya.
Dan membuktikan sesuatu tidak selalu berarti orang lain ingin mendengarnya.
Untuk pertama kalinya sejak bergabung dengan BIN, aku kembali merasakan perasaan yang pernah kurasakan bertahun-tahun sebelumnya.
Perasaan ketika menemukan sesuatu yang seharusnya tetap tersembunyi.
Perasaan ketika menyadari bahwa semakin banyak jawaban yang ditemukan, semakin besar pula risiko yang mengikuti.
Aku menatap layar laptop di ruang kerjaku hingga larut malam.
Puluhan dokumen terbuka di hadapanku.
Ratusan catatan memenuhi meja.
Dan di tengah semua itu, satu pertanyaan terus berputar di kepalaku.
Apakah aku sedang menemukan kebenaran…
atau sedang berjalan menuju jebakan berikutnya?
Karena berdasarkan pengalaman hidupku selama ini, keduanya sering kali terlihat sangat mirip.
Tahun 2024 menjadi salah satu tahun yang paling melelahkan sepanjang hidupku.
Pemilihan umum berlangsung di seluruh Indonesia. Dari luar, semuanya tampak seperti pesta demokrasi yang biasa. Kampanye berlangsung di mana-mana. Spanduk memenuhi jalanan. Debat politik menjadi pembahasan utama di televisi dan media sosial.
Namun dari tempatku berdiri, semuanya terlihat berbeda.
Sebagai bagian dari BIN, aku melihat jauh lebih banyak daripada yang dilihat masyarakat umum.
Setiap hari laporan masuk tanpa henti.
Informasi dari berbagai daerah.
Peta konflik.
Pergerakan kelompok tertentu.
Narasi yang sengaja dibangun.
Ketegangan yang muncul secara tiba-tiba.
Dan berbagai kepentingan yang saling bertabrakan di belakang layar.
Semakin lama aku mempelajari semuanya, semakin besar pula rasa kecewa yang tumbuh di dalam diriku.
Aku pernah melihat permainan politik di Amerika.
Aku pernah melihat bagaimana organisasi intelijen Rusia bekerja.
Aku pernah menyaksikan berbagai operasi rahasia di negara lain.
Dan kini aku melihat negaraku sendiri.
Rasanya seperti mengulang cerita yang sama dengan aktor yang berbeda.
Aku mulai mempertanyakan semuanya.
Apa yang sebenarnya sedang kuperjuangkan?
Siapa yang sebenarnya sedang kulindungi?
Dan yang paling penting, apakah semua pengorbanan yang kulakukan selama bertahun-tahun benar-benar memiliki arti?
Di saat yang sama, sebuah pikiran lama kembali muncul.
Pikiran yang selama ini kusimpan jauh di dalam kepalaku.
Aku masih menyimpan banyak informasi.
Potongan-potongan rahasia dari berbagai negara.
Data yang kukumpulkan selama bertahun-tahun hidup sebagai agen, buronan, pelarian, dan aset berbagai organisasi.
Amerika.
Rusia.
Cina.
Dan sekarang Indonesia.
Semua perjalanan itu meninggalkan jejak.
Semua organisasi itu meninggalkan rahasia.
Dan sebagian dari rahasia tersebut kini berada di tanganku.
Untuk pertama kalinya, aku mulai memandang semuanya dengan cara yang berbeda.
Selama ini aku menganggap data-data itu sebagai beban.
Sebagai alasan mengapa aku terus diburu.
Sebagai alasan mengapa aku tidak pernah bisa hidup tenang.
Namun bagaimana jika semua itu justru bisa menjadi jalan keluar?
Bagaimana jika informasi yang selama ini membuatku menderita justru dapat memberiku kesempatan untuk memulai hidup baru?
Pikiran itu terus tumbuh.
Hari demi hari.
Minggu demi minggu.
Semakin aku melihat apa yang terjadi selama tahun politik itu, semakin aku kehilangan kepercayaan terhadap dunia yang selama ini membentuk hidupku.
Aku mulai membayangkan sebuah kehidupan yang benar-benar baru.
Tanpa organisasi.
Tanpa pengawasan.
Tanpa identitas palsu.
Tanpa ketakutan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku mulai menghitung kemungkinan.
Berapa nilai semua informasi yang kumiliki?
Seberapa besar harga yang bersedia dibayar oleh pihak-pihak tertentu untuk mendapatkan sebagian kecil dari apa yang kusimpan?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.
Dan semakin lama, jawabannya tampak semakin menggoda.
Bukan karena aku menginginkan kekayaan.
Bukan karena aku haus kekuasaan.
Aku hanya lelah.
Lelah berlari.
Lelah bersembunyi.
Lelah hidup menggunakan nama orang lain.
Aku ingin membeli satu hal yang selama ini tidak pernah berhasil kumiliki.
Kebebasan.
Di tengah hiruk-pikuk pemilu 2024, ketika semua orang sibuk memperhatikan hasil perhitungan suara dan persaingan politik, aku diam-diam mulai menyusun rencanaku sendiri.
Rencana yang tidak diketahui siapa pun.
Rencana yang jika berhasil akan membuatku menghilang untuk selamanya.
Dan jika gagal…
Mungkin akan mengakhiri hidupku.
Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa memiliki kendali atas nasibku sendiri.
Aku tidak lagi berpikir seperti agen.
Aku tidak lagi berpikir seperti aset.
Aku mulai berpikir seperti seseorang yang sedang mempersiapkan pelarian terakhirnya.
Karena jauh di dalam diriku, aku mulai yakin bahwa suatu hari nanti akan ada sebuah negara, sebuah organisasi, atau seseorang yang melihat nilai dari semua informasi yang kusimpan.
Dan ketika hari itu tiba, aku harus memutuskan.
Tetap menjadi bagian dari permainan.
Atau menggunakan semua yang kumiliki untuk menghilang dari papan permainan selamanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar kamu disini!👇✌️😁