Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Senin, 22 Juni 2026

Cerita Dari Negeri Amerika (Part 14)



Setelah kepulanganku dari Iran, aku mencoba menjalani hari-hariku seolah semuanya tampak baik-baik saja. Aku berusaha mengesampingkan perasaan yang terlalu sakit jika diceritakan, lalu memendam semuanya seorang diri. 


Di markas itu, aku mengenal beberapa orang yang memang sudah ahli di bidangnya. Salah satunya adalah David. David adalah mantan petugas lapangan yang kini kembali bekerja di balik meja. Aku mempunyai keyakinan bahwa dia memiliki pengalaman yang sama denganku. Aku mulai mempunyai ide gila yang mungkin akan terwujud ketika aku mendekati David; aku ingin membuatnya percaya kepadaku. 

Aku memilih David, karena selama beberapa tahun terakhir, dia bekerja di unit arsip dan akses datanya jauh lebih luas dibanding agen lapangan biasa.


Aku kembali ke mejaku, tempat di mana semuanya dimulai bertahun-tahun lalu. Di sampingku, David sudah duduk lebih dulu. Dia sedang memilah tumpukan dokumen tebal dengan wajah tanpa ekspresi—seperti rutinitas biasa di kantor administrasi, padahal dia sedang memproses laporan misi lapangan. 

"Laporanmu sudah masuk ke sistem," bisik David tanpa menoleh, matanya tetap tertuju pada kertas-kertas di depannya. "Mrs. Anne sangat puas dengan foto-foto yang kamu ambil di Iran itu. Katanya, itu adalah bukti yang cukup untuk membenarkan tindakan selanjutnya." 


Aku menelan ludah, dadaku terasa sesak. "Itu hanya foto, Dave. Itu bukan keseluruhan ceritanya." 

David akhirnya menoleh. Dia menghentikan pekerjaannya sejenak dan menatapku dengan sorot yang sulit diartikan—ada simpati yang sangat tipis, atau mungkin sekadar rasa kasihan. "Di sini, Rian, cerita tidak pernah penting. Yang penting adalah arsip. Foto-foto itu sudah dicetak, distempel 'Sangat Rahasia', dan disimpan di brankas. Bagi dunia, kejadian di sana hanyalah statistik. Bagi kita... yah, kita hanya perlu memastikan arsipnya tidak bocor." 

Begitu mendengar perkataan David, aku semakin memahami betapa kotornya organisasi ini. Tapi, aku bingung bagaimana cara menyampaikan rencana gilaku kepadanya. Aku hanya ingin menghilang dari radar organisasi ini. 


Aku menarik napas dalam-dalam, mengabaikan denyut di pelipisku. Aku harus bertaruh. Jika ini salah, karierku—atau mungkin hidupku—akan berakhir di ruang interogasi Mrs. Anne. 

"Mereka bukan cuma statistik, Dave," ucapku pelan, sengaja merendahkan suara hingga hampir tidak terdengar. Kusodorkan sebuah flashdisk kecil di bawah tumpukan map kertas ke arahnya. "Itu bukan foto yang aku kirim ke markas. Itu adalah rekaman mentah yang aku simpan sendiri. Ada wajah-wajah yang seharusnya tidak ada di sana. Wajah orang-orang kita di lokasi saat eksekusi terjadi." 

David membeku. Tangannya yang tadi memegang pena berhenti bergerak. Dia tidak mengambil flashdisk itu, tapi matanya beralih menatapku dengan sorot yang kini berubah tajam. "Kamu gila, Rian. Menyimpan data yang tidak disetujui itu adalah hukuman mati." 

"Aku sudah mati sejak aku menekan tombol kirim laporan itu, Dave," bisikku getir. Aku mencondongkan tubuh lebih dekat, menatapnya lurus. "Aku melihat matanya. Anak itu menatapku, dan di saat yang sama, aku tahu aku sedang menghancurkan hidupnya demi 'kestabilan regional' yang bahkan tidak aku percayai. Kamu sudah berapa tahun di sini? Apa kamu benar-benar percaya bahwa kita sedang menjaga dunia, atau kita hanya sedang menyusun skenario kehancuran yang mereka inginkan?" 


Hening menyelimuti meja kami. Di sekeliling, rekan-rekan lain masih sibuk dengan dokumen mereka, sama sekali tidak curiga bahwa di meja ini, sebuah pengkhianatan sedang disusun. David terdiam cukup lama. Dia melirik ke arah kamera CCTV di sudut ruangan, lalu perlahan, dengan gerakan yang sangat halus, dia menyelipkan flashdiskitu ke dalam saku jasnya. 

"Dinding di sini punya telinga, Rian," suaranya serak. Dia tidak membantah, dan itu adalah jawaban yang kuinginkan. "Besok, saat jam makan siang, datanglah ke parkiran bawah. Jangan lewat lift utama. Jangan pakai ponselmu." 

Dia kembali menunduk, pura-pura memilah dokumen, tapi aku bisa melihat tangannya sedikit gemetar. Dia tidak melaporkanku. Dia telah memilih untuk memegang rahasia yang sama denganku. Aku baru saja mengikat nasibku dengan nasibnya, dan untuk pertama kalinya sejak pulang dari Iran, aku merasa ada setitik cahaya di tengah kegelapan yang mengepungku. 


Pada malam hari, setelah pulang dari kantor, aku mengirim pesan kepada David untuk mengajaknya minum di sebuah bar di pantai Virginia, jalan 21. Aku bilang ada hal penting yang ingin kusampaikan. 


Setelah kami tiba di pub yang tidak terlalu ramai, aku mulai membahas bukti-bukti yang kusimpan sendiri. Aku meminta David datang bukan hanya untuk itu, tetapi untuk bertanya beberapa hal. 

Kenapa aku dipilih sebagai agen? Kenapa aku yang notabene hanya seorang imigran yang beruntung mendapatkan green card bisa secepat ini ditugaskan ke banyak tempat dan misi pengintaian rahasia? Dan siapakah sebenarnya Mrs. Anne dan Mr. Adam? 


Aku mempertanyakan semua itu kepada David karena ingin tahu fakta sebenarnya di balik semua perjalanan yang sedang kulalui ini. 

David terdiam, seolah sulit untuk menjawab semua pertanyaan yang keluar dari mulutku. Aku kembali meyakinkannya bahwa aku hanya sekadar ingin tahu. Karena kebetulan dia bekerja di bagian data, sudah pasti ada namaku di dalamnya. Akhirnya, dia menjawab semua kebingunganku selama ini. 


Pertama, sejak aku mencoba mendaftar green card, aku sudah ditandai. Bahkan jauh sebelum aku diterima dan dinyatakan terpilih untuk mendapatkan izin tinggal tetap di Amerika, namaku sudah ada di daftar. Latar belakang keluarga, pendidikan, ketelitianku sewaktu masih bekerja sebagai admin di suatu perusahaan di Bandung, serta kepribadianku yang mudah bergaul dan gampang melihat situasi serta peluang, sudah mereka perhatikan jauh-jauh hari. Apalagi ketika aku diwawancarai oleh kedutaan Amerika di Jakarta, hal itu semakin membuat mereka tertarik. 


Kedua, aku akan tinggal di negara baru. Sudah jelas aku akan hidup seorang diri tanpa kedekatan dengan keluarga. Itu menjadikannya peluang baik bagi mereka untuk menjadikanku agen terpilih. 


Ketiga, semenjak aku dinyatakan terpilih dan mendapatkan jadwal keberangkatan, semuanya sudah dipersiapkan. Termasuk pertemuanku dengan Mrs. Anne di pesawat itu bukanlah kebetulan. Dan tentang William yang aku anggap sebagai anak mereka, ternyata William adalah salah satu agen yang telah hilang. 

Mereka melihat ruang kosong dari seseorang yang akan tinggal di negara besar seperti Amerika ini sebagai peluang. Selain agensi, ternyata ada campur tangan dari orang-orang dari negaraku sendiri, terutama mereka yang bekerja di kedutaan. Sekarang semuanya menjadi masuk akal mengapa jalanku terasa begitu mudah. Ternyata kantor agensi intelijen itu bekerja sama dengan orang-orang di kedutaan. 


Kemudian tentang kantor tempat aku bekerja sebagai admin—semuanya sudah mereka persiapkan, termasuk kehadiran Natally di lingkungan pekerjaanku saat tiba di negara ini. Betul, Natally adalah salah satu agen yang ditugaskan untuk memata-mataiku sejak itu. Pantas saja kehadirannya selalu terasa kebetulan. 


Lalu, ketika aku keluar dari pekerjaan lamaku sebagai admin dan mulai bekerja di sebuah kafe, setiap harinya selalu ada orang yang mengawasiku. Puncaknya adalah kedatangan Mrs. Anne di tempat kerjaku. Dia masuk ke kehidupan normalku dengan mengiming-imingi pekerjaan yang lebih baik. Apalagi dia sempat menawarkan gaji dan tempat tinggal yang jauh lebih layak dari sebelumnya. Meskipun pada awalnya aku hanya ditempatkan di bidang yang familiar, yaitu administrasi, itu adalah langkah awal yang sudah mereka rencanakan jauh sebelum kedatanganku ke Amerika. 


Lalu aku penasaran, kenapa aku? David menjawab, selain karena aku tidak memiliki siapa-siapa di sini, ternyata aku adalah orang yang terlalu naif sehingga mudah dikuasai dan diarahkan sesuai kemauan mereka. Aku menjadi sosok yang paling cocok untuk menjadi agen terpilih. 


Setelah aku mendapatkan jawaban dari David, aku penasaran, mengapa dia mau memberitahuku semuanya? Nyatanya, David pun sama denganku. Dia tidak bisa keluar dari lingkungan saat ini. Jika berani keluar, semuanya ada risikonya. Bahkan risiko besar akan menantinya. Tapi dia meminta satu hal dariku: agar aku tetap menjalankan tugas dari mereka, mencoba berusaha semaksimal mungkin, dan jangan pernah ada keinginan sekecil apa pun untuk meninggalkan pekerjaan ini. 

Aku pun mengangguk. 


Tidak terasa malam semakin larut. Kami berdua berpisah dan pulang ke apartemen masing-masing. 

Hari-hariku tetap kujalani seperti biasanya, seolah semuanya tampak baik-baik saja, meskipun pada kenyataannya aku menyimpan banyak kecewa yang begitu dalam. 

Gajiku sebagai intelijen tidaklah sedikit—mungkin bisa dibilang cukup besar—tapi semua itu sebanding dengan risikonya. Apalagi aku bekerja sebagai agen lapangan yang setiap waktunya mengintai banyak hal, bukan hanya orang. Selain bela diri yang mungkin saja sewaktu-waktu diperlukan, aku mempunyai kemahiran dalam komputer dan teknologi. Hingga akhirnya, setelah mengetahui semuanya, aku mulai mempersiapkan langkah selanjutnya. 

Jika suatu hari aku harus menghilang, rekening bank adalah hal pertama yang akan mereka bekukan.

Aku membutuhkan sesuatu yang tidak bisa mereka sentuh.

Aku mulai membuat akun kripto pertamaku karena setelah menyadari bahwa semua pergerakanku selalu diawasi, aku mulai lebih berhati-hati. 

Di balik itu, aku tetap menjaga hubungan dengan David karena aku menganggap dia adalah sosok teman yang membuka pintu yang selama ini hanya tertutup oleh banyak pertanyaan yang terkunci di kepalaku.


Tapi pikiranku menjadi lebih terbuka akan semuanya. 

Jadi selama ini tidak ada satu pun keputusan yang benar-benar milikku?

Aku mengingat hari ketika aku memasuki ruangan wawancara di kedutaan besar Amerika di Jakarta untuk DV Lottery, ketika aku menangis  bangga karena merasa menjadi orang paling beruntung di dunia. Aku mengingat hari pertama menginjakkan kaki di Los Angeles, ketika aku percaya hidup baru sedang menungguku.

Ternyata mungkin semua itu bukan keberuntungan.

Mungkin aku hanya sedang berjalan di rel yang sudah dipasang orang lain jauh sebelum aku menyadarinya.


Untuk pertama kalinya, aku mulai memikirkan kemungkinan terburuk.

Hingga akhirnya, pada suatu hari jauh setelah obrolanku bersama David, aku mendapat kabar bahwa dia mengalami kecelakaan mobil yang cukup parah hingga harus dirawat di rumah sakit.

Aku pun menjenguknya.


Di sela-sela kunjunganku di rumah sakit, David terlihat begitu panik. Berkali-kali dia melihat ke arah pintu yang dijaga ketat oleh petugas. Kemudian dia membuka fakta lain: kesempatannya untuk hidup tidak lama lagi. Bukan karena suatu penyakit kronis atau dampak dari kecelakaan yang dialaminya, melainkan tentang keberadaannya yang sedang diawasi penuh oleh agensi.

Semuanya bermula ketika ia menyimpan data yang pernah kuberikan kepadanya.

David dicurigai bersekongkol dengan salah satu agen pembelot yang sampai detik ini belum diketahui siapa orangnya oleh mereka.

Namun, kita berdua sudah tahu siapa orang itu, yaitu diriku.

Dia juga mengungkapkan bahwa Mrs. Anne bukanlah penolong atau sosok pelindung, melainkan dalang di balik terjadinya kecelakaan yang dialami David.

David pun memberikan kunci apartemennya kepadaku.

Lalu, dia memberi arahan agar aku segera membuat identitas baru di laptop miliknya.


Apakah ini saatnya aku berlari?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁