Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Sabtu, 20 Juni 2026

Nugraha is My Name (Part 59)


PERINGATAN!


Sebelum membaca artikel ini, diharapkan agar pembaca sudah berusia 17 tahun, mempunyai kemampuan untuk menghargai dan menerima juga open minded. 

Karena artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi dan terdapat konflik secara mendalam dari konteks, paradigma, opini dan juga akan menyertakan orang-orang yang pernah ada di kehidupan pribadi sang penulis secara jujur yang bisa dikonfirmasi secara komprehensif. 

 

-------


Tepat saat jam dinding di sudut kamar berdetak menuju angka dua belas, aku menyadari bahwa waktu tidak pernah benar-benar menungguku untuk utuh kembali. Ia terus berlari, meninggalkan aku yang masih sibuk memunguti serpihan diri yang berserakan. Usiaku bertambah, namun bukannya merasa lebih dewasa, aku justru merasa seperti anak kecil yang tersesat di tengah badai, yang kini akhirnya belajar cara untuk tidak lagi gemetar saat dingin menyerang. 


Menjelang hari kelahiranku, tidak ada tiupan lilin, tidak ada nyanyian, tidak ada tawa yang meriah. Hanya ada aku, sebuah cermin yang kusam, dan keheningan yang menyesakkan dada. Hadiah terbesarku tahun ini bukan lagi pengakuan atau pelukan dari mereka yang dulu kupuja, melainkan keberanian untuk berhenti memohon agar diterima. Aku lelah menjadi Nugraha yang terus mencoba pas, Nugraha yang selalu berusaha menjadi jawaban atas pertanyaan yang bahkan tidak pernah mereka ajukan kepadaku. Aku lelah, sungguh lelah, menjadi sosok yang selalu mencoba tampak baik demi menjaga perasaan orang lain, sementara di dalam sini, aku sendiri sedang perlahan membusuk oleh kesepian. 


Jika dulu aku hidup untuk membuktikan bahwa aku berharga, sekarang aku mengerti bahwa harga diriku tidak pernah ditentukan oleh validasi siapa pun. Aku memaafkan diriku karena pernah sebegitu rapuhnya, karena pernah mencintai orang-orang yang bahkan tidak sudi melihatku berdiri. 

Aku melepaskan semuanya. Bukan dengan lega yang meledak-ledak, tapi dengan isak tangis yang tertahan, melepaskan impian-impian masa lalu yang kini hanya menjadi tumpukan abu. 


Di usia ini, aku tidak lagi berjanji untuk menjadi sosok yang hebat. Aku hanya berjanji untuk tetap bernapas, meski setiap tarikannya terasa menyakitkan. Retakan di jiwaku ini mungkin akan menetap selamanya—garis-garis luka yang mencatat setiap pengkhianatan dan setiap malam di mana aku tertidur tanpa seorang pun peduli. Tapi hari ini, aku memandang retakan itu sebagai bukti; bukti bahwa aku adalah manusia yang pernah hancur, namun masih tetap berdiri meski tidak lagi utuh. 


Aku menatap mataku di cermin—sepasang mata yang telah lelah menyimpan air mata, yang kini menatap dengan kehampaan yang damai. Aku tersenyum, bukan senyum yang kujahit paksa untuk dunia, melainkan senyum tipis bagi diriku sendiri yang telah bertahan sejauh ini. Aku tidak lagi meminta restu dari masa lalu untuk bahagia. 


Jika badai datang lagi, aku tidak akan lagi mencari sandaran. Aku akan memeluk diriku sendiri, sedalam-dalamnya, seerat-eratnya, bahkan jika tangisku harus pecah di tengah sunyi yang paling mematikan. 

Kepada mereka yang telah pergi, terima kasih telah membiarkanku merasa tidak diharapkan, karena tanpanya, aku mungkin tidak akan pernah menemukan rumah di dalam diriku sendiri. 


Malam ini, aku mematikan lampu, membiarkan kegelapan merangkulku sepenuhnya. Tidak ada lagi yang perlu kubuktikan. Tidak ada lagi yang perlu kuselamatkan selain sisa-sisa jiwa yang masih setia bersamaku. 


Selamat ulang tahun, diriku. Maaf karena selama ini aku terlalu keras padamu. 

Malam ini, aku merayakan ulang tahunku dalam sunyi yang paling pekat, di mana air mata menjadi satu-satunya tamu yang memelukku tanpa banyak bertanya. Ada rasa sedih yang menyayat saat menyadari betapa panjangnya luka yang harus kupikul sendirian, namun di antara sisa-sisa reruntuhan itu, aku menemukan sebentuk bahagia yang paling jujur: sebuah penerimaan bahwa aku memang tidak pernah butuh untuk dianggap sempurna oleh dunia. 


Aku akhirnya memaafkan diriku sendiri, memeluk sisa-sisa hatiku yang sempat terbakar, dan berbisik pada bayangan di cermin bahwa di tengah dunia yang tak pernah benar-benar menginginkanku, aku masih memiliki satu jiwa yang akan selalu setia menemaniku hingga napas terakhir—yaitu diriku sendiri. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu disini!👇✌️😁