Identitas baru itu benar-benar ada.
David tidak berbohong.
Di dalam laptop yang ditinggalkannya bukan hanya terdapat nama baru, tetapi juga kehidupan baru yang sudah dipersiapkan jauh sebelum aku menyadarinya. Ada paspor, rekening bank, dompet kripto, dan sejumlah dana yang cukup besar. Tidak cukup untuk hidup mewah selamanya, tetapi lebih dari cukup untuk menghilang dan memulai semuanya dari awal.
Kini aku bukan lagi Rian.
Setidaknya di atas kertas.
Namaku Randy.
Namun meskipun identitas lama mulai kutinggalkan satu per satu, rasa takut itu tidak pernah benar-benar hilang. Justru semakin hari semakin besar.
Aku selalu merasa diikuti.
Setiap orang yang duduk terlalu lama di lobi hotel terlihat mencurigakan. Setiap kendaraan yang muncul dua kali di jalan yang sama membuatku waspada. Bahkan suara langkah kaki di lorong penginapan sering membuatku terbangun di tengah malam.
Aku tidak tahu apakah mereka benar-benar mencariku atau semua itu hanya akibat bertahun-tahun hidup di bawah pengawasan.
Yang pasti, aku tidak ingin mengambil risiko.
Untuk mempersulit siapa pun yang mencoba melacak keberadaanku, aku mulai membeli tiket pesawat ke berbagai negara. Sebagian sengaja tidak pernah kugunakan. Sebagian lagi hanya kupakai untuk transit sebelum berpindah tujuan. Aku menciptakan jejak yang kacau agar siapa pun yang mencariku kehilangan arah.
Pada akhirnya aku memilih Meksiko sebagai tujuan pertamaku.
Selama beberapa bulan aku hidup berpindah-pindah. Tidak pernah terlalu lama berada di hotel yang sama. Tidak pernah menggunakan nomor telepon yang sama terlalu lama. Tidak pernah menceritakan siapa diriku sebenarnya kepada siapa pun.
Aku hanya menjadi bayangan.
Seseorang yang terus bergerak dari satu kota ke kota lainnya.
Namun semakin lama aku bersembunyi, semakin aku menyadari bahwa berlari tidak pernah benar-benar menyelesaikan apa pun.
Karena apa yang kucari bukan keselamatan.
Melainkan jawaban.
Dari Meksiko aku berpindah lagi.
Kali ini menuju Rusia.
Negara yang selama bertahun-tahun hanya kukenal melalui laporan intelijen dan berkas operasi.
Di sebuah kamar sewaan yang sempit dan dingin, aku mulai memeriksa kembali seluruh isi flashdisk milik David. Aku membaca setiap dokumen, laporan, foto, dan catatan berulang kali sampai akhirnya menemukan sesuatu yang sebelumnya luput dari perhatianku.
Di antara puluhan berkas terdapat catatan teknis kecil yang menjelaskan bahwa media penyimpanan tersebut memiliki fitur pelacakan sinyal yang aktif secara berkala.
Awalnya aku tidak percaya.
Namun setelah membongkar ulang seluruh isinya, aku mulai menyadari bahwa flashdisk itu memang mampu mengirimkan sinyal identifikasi tertentu ketika digunakan.
Jantungku langsung berdegup lebih cepat.
Selama ini aku mengira sedang membawa bukti.
Padahal mungkin aku juga sedang membawa alat yang menunjukkan keberadaanku kepada siapa pun yang mencarinya.
Malam itu juga aku menyalin seluruh data ke media penyimpanan baru dan membuat beberapa salinan cadangan.
Setelah semuanya selesai, aku membawa flashdisk asli ke sebuah jembatan tua di pinggiran kota.
Aku menatapnya cukup lama.
Benda kecil itu telah membawaku melintasi ribuan kilometer dan memaksaku meninggalkan hidup lamaku.
Lalu tanpa ragu aku melemparkannya ke dalam sungai yang gelap.
Aku memperhatikannya sampai benar-benar hilang ditelan arus.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku merasa sedikit lebih ringan.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Beberapa minggu kemudian, di sebuah kafe kecil tidak jauh dari pusat kota, aku bertemu seseorang.
Seorang perempuan muda yang duduk sendirian di dekat jendela sambil menikmati kopi hitam.
Usianya tidak jauh berbeda denganku.
Namun bukan penampilannya yang membuatku waspada.
Melainkan caranya mengamati ruangan.
Cara dia memperhatikan pintu masuk, pantulan kaca, dan setiap orang yang datang tanpa terlihat sedang mengawasi.
Aku mengenali kebiasaan itu.
Karena aku pernah melakukannya selama bertahun-tahun.
Saat aku hendak meninggalkan kafe, perempuan itu memanggil namaku.
Rian.
Langkahku langsung terhenti.
Sudah berbulan-bulan tidak ada yang memanggilku dengan nama itu. Di Rusia, semua orang mengenalku sebagai Randy.
Saat itulah aku sadar bahwa identitasku telah terbongkar.
Perempuan itu memperkenalkan dirinya sebagai Sofia.
Tidak banyak yang ia katakan, tetapi cukup untuk membuatku memahami situasinya. Mereka mengetahui siapa diriku sebenarnya. Mereka mengetahui perjalanan yang kulakukan dari Amerika, Meksiko, hingga Rusia.
Yang lebih mengejutkan, mereka tidak berniat menyerahkanku.
Sofia menjelaskan bahwa organisasinya telah mengamati pergerakanku sejak aku tiba di Rusia. Awalnya mereka mengira aku sedang menjalankan operasi tertentu, tetapi kemudian mereka menyadari bahwa aku sebenarnya sedang melarikan diri.
Menurutnya, aku melakukan kesalahan yang sama seperti banyak orang lain.
Aku mengira keluar dari organisasi berarti bebas.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Selama berbulan-bulan aku berpindah negara, mengganti identitas, dan menghapus jejak. Namun setiap pagi aku tetap bangun dengan ketakutan yang sama.
Ketakutan bahwa seseorang akan menemukan keberadaanku.
Ketakutan bahwa masa laluku akan menyusulku.
Kemudian Sofia menyampaikan alasan sebenarnya ia menemuiku.
Mereka ingin bekerja sama.
Bukan karena mereka bisa memaksaku, melainkan karena mereka mengetahui apa yang kuketahui.
Sebelum pergi, Sofia meninggalkan sebuah amplop di atas meja dan memberiku waktu untuk berpikir.
Aku memperhatikannya berjalan keluar dari kafe hingga menghilang di balik salju yang turun di luar.
Untuk kedua kalinya dalam hidupku, sebuah organisasi intelijen menawarkan jalan keluar.
Dan untuk kedua kalinya pula, aku tidak tahu apakah itu penyelamatan atau awal dari penjara yang baru.
Seminggu kemudian aku mengambil keputusan.
Aku menerima tawaran itu.
Beberapa hari setelahnya, aku memasuki sebuah gedung di pusat kota yang dari luar terlihat seperti kantor pemerintahan biasa. Namun aku tahu tempat itu jauh dari kata biasa.
Di sanalah aku resmi bergabung dengan organisasi intelijen Rusia.
Prosesnya berlangsung cepat. Berbagai dokumen ditandatangani, berbagai aturan dijelaskan, dan ketika semuanya selesai aku menyadari satu hal.
Aku berhasil meninggalkan satu organisasi.
Hanya untuk masuk ke organisasi yang lain.
Beberapa bulan kemudian aku mendapatkan penugasan pertamaku.
Cina.
Tahun 2020.
Saat itu dunia sedang berubah. Virus baru mulai menyebar dan berbagai negara berusaha memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Secara resmi tugasku adalah mengumpulkan informasi mengenai dampak politik dan sosial yang muncul akibat krisis tersebut.
Namun semakin lama aku berada di sana, semakin banyak hal yang terasa janggal.
Terlalu banyak informasi yang saling bertentangan.
Terlalu banyak pihak yang menyembunyikan sesuatu.
Terlalu banyak dokumen yang menghilang sebelum sempat dianalisis.
Aku mulai mengumpulkan catatan sendiri dan menghubungkan berbagai informasi yang tersebar.
Rasa penasaranku membawaku semakin dalam.
Aku mulai percaya bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang diberitakan kepada dunia.
Namun semakin dekat aku pada jawaban-jawaban itu, semakin besar pula risiko yang mengikutiku.
Di tengah penugasan tersebut, aku menyadari bahwa seseorang sedang mengawasiku.
Beberapa kali aku melihat pria yang sama muncul di lokasi berbeda.
Cara bergeraknya, cara mengamati lingkungan, dan caranya menjaga jarak membuatku langsung mengenalinya.
Dia seorang agen.
Belakangan aku mengetahui bahwa dia berasal dari CIA.
Ironis.
Aku pernah bekerja untuk organisasi yang sama, tetapi kini kami berada di sisi yang berbeda.
Kami beberapa kali bertemu dan berbicara secara tidak resmi. Tidak pernah membahas operasi ataupun rahasia negara. Namun dalam dunia intelijen, keberadaan dua agen dari organisasi yang berbeda di tempat yang sama sudah cukup untuk menimbulkan masalah.
Dan masalah itu benar-benar datang.
Entah melalui kamera pengawas, informan, atau pengawasan internal, organisasiku mengetahui bahwa aku pernah bertemu dengannya.
Sejak saat itu semuanya berubah.
Laporan-laporanku mulai diperiksa lebih rinci.
Akses terhadap beberapa data dicabut.
Pertanyaan yang diajukan kepadaku menjadi semakin tajam.
Orang-orang yang sebelumnya bersikap ramah mulai menjaga jarak.
Aku pernah melihat tanda-tanda itu sebelumnya.
Saat David mulai dicurigai.
Saat namaku masuk dalam daftar pengawasan.
Dan sekarang semuanya terjadi lagi.
Hanya dengan bendera yang berbeda.
Mereka mulai mempertanyakan loyalitasku.
Mereka mulai mencurigai bahwa aku mungkin bekerja untuk dua pihak sekaligus.
Agen ganda.
Tuduhan yang dalam dunia intelijen hampir sama berbahayanya dengan hukuman mati.
Aku mencoba menjelaskan, tetapi semakin banyak penjelasan yang kuberikan, semakin besar pula kecurigaan mereka.
Karena dalam dunia seperti ini, kepercayaan adalah sesuatu yang sangat sulit didapatkan kembali.
Pada suatu malam yang dingin, aku duduk sendirian di apartemen sewaanku sambil memandangi lampu-lampu kota dari balik jendela.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku memahami sesuatu.
Tidak peduli organisasi mana yang kuikuti.
Tidak peduli negara mana yang kubela.
Pada akhirnya aku akan selalu menjadi orang luar.
Seseorang yang tidak pernah sepenuhnya dipercaya.
Seseorang yang bisa dikorbankan kapan saja.
Saat itulah aku mengambil keputusan yang pernah kuambil bertahun-tahun sebelumnya.
Aku akan pergi.
Aku akan menghilang lagi.
Bukan dari satu organisasi.
Bukan dari satu negara.
Melainkan dari seluruh permainan yang selama ini mengendalikan hidupku.
Dan sebelum matahari terbit keesokan harinya, aku sudah berada dalam perjalanan menuju negara lain.
Menggunakan nama yang berbeda.
Identitas yang berbeda.
Dan kehidupan yang berbeda.
Sekali lagi, aku berlari.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar kamu disini!👇✌️😁