Verse:
Di bawah bintang dan sinar bulan
Kutatap wajahmu yang tenang
Tangan beradu saling menggenggam
Berharap semua tak akan hilang
Pre-Chorus:
Aku tak bisa ’tuk melepaskan
Rasa indah yang buatku senang
Tapi ada janjimu ’tuk seseorang
Biarkan ku yang merelakan
Chorus:
Di antara semua yang telah hilang
Ada rasa yang tetap tinggal
Bukan dendam, bukan sesal
Hanya rasa yang tak pernah usai
Verse 2:
Tak ada yang kupinta darimu
Takkan kutahan kepergianmu
Aku hanya jujur perlahan
Sebelum rasa ini menghilang
Chorus 2:
Jika kau tanya kabar sekarang
Aku baik, dan itu benar
Jika tanya apa kumasih sayang
Hanya bintang yang mungkin paham
Bridge:
Aku tak akan menunggu
Aku hanya masih ambigu
Ingin lupa dan mungkin tenang
Tapi kenangan tak pernah hilang
Final Chorus:
Jika kau tanya kabar sekarang
Aku baik, dan itu benar
Jika tanya apa kumasih sayang
Hanya bintang yang mungkin paham
Outro:
Di bawah bintang dan sinar bulan
Dia tahu ku masih sayang
⸻
Ada malam yang tidak perlu berlangsung lama untuk tinggal begitu panjang di dalam ingatan.
Malam itu terjadi pada 21 Oktober 2024.
Seharian kita bersama.
Dimulai dari siang dengan kopi dan percakapan yang mungkin pada saat itu terasa biasa saja. Tidak ada yang tahu bahwa beberapa jam kemudian, hari itu akan menjadi salah satu hari yang berkali-kali kembali ke dalam ingatanku.
Menjelang sore, kita berkeliling.
Kita menuju stadion sepak bola.
Tidak ada sesuatu yang terlalu istimewa dari perjalanan itu jika dilihat dari luar. Hanya dua orang yang menghabiskan waktu bersama, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menikmati kesempatan yang ada.
Tetapi mungkin memang begitu cara kenangan bekerja.
Ia tidak selalu lahir dari peristiwa besar.
Kadang ia justru tumbuh dari hari yang sederhana.
Dari seseorang yang duduk di dekat kita.
Dari percakapan yang tidak sempat dicatat.
Dari tawa yang tidak pernah direkam.
Dari sebuah perjalanan yang pada akhirnya hanya tersisa di kepala.
Malam kemudian datang.
Kita minum.
Lalu pergi ke kawasan Asia Afrika.
Kita kembali mengambil foto.
Dan di bawah langit malam itu, aku melihatmu dengan cara yang mungkin tidak pernah bisa kujelaskan sepenuhnya.
Kita tidak benar-benar berpegangan tangan seperti yang mungkin tergambar dalam lirik.
Tidak ada adegan yang dibuat seperti film.
Kita hanya berada lebih dekat.
Cukup dekat untuk membuatku sadar bahwa waktu yang kita punya terbatas.
Cukup dekat untuk membuatku berharap bahwa keadaan seperti itu tidak perlu berakhir terlalu cepat.
Aku tahu sejak awal bahwa kesempatan seperti itu tidak akan selalu ada.
Waktu punya batas.
Pertemuan punya batas.
Kesempatan juga punya batas.
Dan mungkin karena mengetahui semua itu, aku justru semakin ingin menikmati setiap detiknya.
Aku tidak tahu berapa banyak kesempatan seperti itu yang masih akan datang.
Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti kita akan kembali berjalan di tempat yang sama.
Aku tidak tahu apakah kita akan kembali duduk berdua dan tertawa seperti malam itu.
Yang aku tahu, malam itu pernah terjadi.
Dan aku ada di sana bersamamu.
Mungkin bagi orang lain, kawasan Asia Afrika hanya sebuah tempat.
Bagi kita mungkin hanya salah satu tujuan setelah melewati hari yang panjang.
Tetapi bagiku, malam itu menyimpan sesuatu yang lebih besar.
Ia menyimpan rasa yang pada waktu itu belum benar-benar ingin kulepaskan.
Karena di balik semua kedekatan itu, ada satu kenyataan yang tidak pernah bisa kuabaikan.
Kau sudah memiliki seseorang.
Dan bukan sekadar memiliki.
Kau punya rencana.
Ada masa depan yang sedang kau susun bersamanya.
Ada janji yang mungkin akan membawamu ke kehidupan yang berbeda.
Ada pernikahan yang suatu hari mungkin benar-benar terjadi.
Sementara aku hanya berada di satu sisi kehidupanmu yang tidak pernah punya kepastian ke mana arahnya.
Aku tahu itu.
Aku sadar itu.
Tetapi kesadaran tidak selalu mampu mengalahkan perasaan.
Malam itu aku tidak sedang meminta apa-apa darimu.
Aku tidak ingin kau memilih.
Aku tidak ingin kau meninggalkan seseorang hanya karena aku punya rasa.
Aku juga tidak ingin membuat pertemuan kita menjadi beban.
Aku hanya ingin berada di sana.
Menikmati waktu yang mungkin tidak akan terulang dengan cara yang sama.
Mungkin itu sebabnya setelah malam itu berlalu, aku bisa lebih legowo ketika harus melepaskan kepergianmu.
Bukan karena rasa itu tiba-tiba hilang.
Bukan.
Aku hanya mulai mengerti bahwa ada hal-hal yang memang tidak bisa kupaksa.
Aku bisa mencintaimu.
Tetapi aku tidak bisa menentukan dengan siapa kau akan menjalani hidup.
Aku bisa berharap.
Tetapi aku tidak bisa menjadikan harapanku sebagai kewajiban untukmu.
Aku bisa merindukanmu.
Tetapi aku tidak bisa meminta kau selalu tersedia untuk memenuhi rinduku.
Maka aku memilih untuk membiarkan semuanya berjalan.
Aku pernah mengatakan kepada diriku sendiri bahwa suatu hari rasa ini mungkin akan hilang.
Sedikit dari diriku memang menginginkannya.
Aku ingin tenang.
Aku ingin bisa mengingatmu tanpa dada yang tiba-tiba terasa penuh.
Aku ingin melihat foto kita tanpa bertanya-tanya apakah semua itu masih berarti bagimu.
Aku ingin mendengar namamu tanpa harus kembali ke hari-hari yang pernah kita lewati.
Tetapi kalau aku jujur, ada bagian lain dari diriku yang tidak benar-benar ingin rasa itu hilang.
Mungkin karena rasa ini sudah menjadi bagian dari perjalanan.
Bukan tujuan.
Aku tidak lagi menjadikanmu sebagai tujuan yang harus kucapai.
Tetapi kau masih menjadi bagian dari perjalanan yang pernah kulewati.
Dan aku tidak ingin berpura-pura bahwa perjalanan itu tidak pernah berarti.
Karena itulah ketika seseorang bertanya bagaimana kabarku sekarang, aku bisa menjawab dengan jujur:
Aku baik.
Dan itu bukan kebohongan.
Aku memang baik-baik saja.
Aku masih menjalani hidup.
Masih tertawa.
Masih menulis.
Masih membuat lagu.
Masih bertemu banyak hal baru.
Aku tidak sedang hancur hanya karena kau tidak bersamaku.
Aku tidak sedang menunggu hidup berhenti sampai kau datang.
Aku baik.
Sungguh.
Tetapi kalau pertanyaannya berubah menjadi:
“Apa kau masih sayang?”
Aku mungkin akan diam lebih lama.
Karena ada jawaban yang terlalu sulit untuk keluar melalui bibir.
Bukan karena aku tidak tahu jawabannya.
Justru karena aku tahu.
Dan mungkin hanya bintang yang benar-benar bisa memahaminya.
Malam itu bintang menjadi saksi dari sesuatu yang tidak pernah bisa kuucapkan dengan sempurna.
Bintang tidak membutuhkan penjelasan.
Ia hanya melihat.
Ia berada jauh di atas sana ketika dua manusia menghabiskan malam bersama.
Ia melihat bagaimana aku menikmati keberadaanmu.
Ia melihat bagaimana aku mencoba menyimpan setiap detik.
Ia melihat bagaimana aku tahu bahwa kau bukan milikku.
Dan ia juga tahu bahwa mengetahui itu tidak membuatku berhenti menyayangimu.
Mungkin alam memang tidak pernah berbohong tentang apa yang terjadi di dalam diri seseorang.
Bibir bisa mengatakan aku baik-baik saja.
Bibir bisa mengatakan aku tidak lagi menunggu.
Bibir bahkan bisa mengatakan aku sudah tidak sayang.
Tetapi hati punya bahasanya sendiri.
Dan malam itu, bintang mungkin lebih tahu daripada bibirku.
Aku tidak akan menunggu sebagai seseorang yang berdiri di satu tempat sambil berharap kau kembali.
Tidak.
Hidup harus tetap berjalan.
Aku juga harus berjalan.
Tetapi perjalanan bukan berarti tujuan.
Aku bisa terus melangkah tanpa harus menjadikanmu sebagai akhir dari perjalanan itu.
Aku hanya belum tahu ke mana rasa ini akan membawaku.
Mungkin suatu hari ia benar-benar hilang.
Mungkin suatu hari ia berubah menjadi sesuatu yang lebih sederhana.
Mungkin ia hanya menjadi kenangan yang bisa kuingat tanpa rasa apa-apa.
Atau mungkin, setelah waktu yang sangat panjang, ia masih ada dalam bentuk yang sama.
Aku belum tahu.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak ingin memaksa diriku untuk mengetahui jawabannya sekarang.
Biarlah waktu yang menjawab.
Kalau suatu hari kau sendiri lagi, aku tidak tahu apakah aku masih berada di tempat yang sama.
Tetapi kalau ternyata rasa itu masih ada, aku juga tidak akan menyangkalnya.
Bukan untuk menunggumu.
Bukan untuk memintamu kembali.
Hanya karena perasaan tidak selalu mengikuti apa yang kita perintahkan.
Malam itu sudah berlalu.
21 Oktober 2024 sudah menjadi tanggal.
Foto-foto itu sudah menjadi kenangan.
Tempat-tempat yang kita datangi mungkin suatu hari akan menjadi tempat biasa lagi.
Tetapi ada satu hal yang belum benar-benar berubah.
Aku masih bisa mengatakan bahwa aku baik-baik saja.
Dan itu benar.
Aku juga bisa mengatakan bahwa aku tidak sedang menunggumu.
Itu pun benar.
Tetapi kalau seseorang bertanya apakah aku masih menyayangimu, mungkin aku tidak perlu menjawab.
Sebab ada sesuatu di langit malam yang sudah lebih dulu mengetahui jawabannya.
Di bawah bintang dan sinar bulan, dia tahu aku masih sayang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar