Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Selasa, 01 September 2026

Lagu-lagu yang Tertinggal (Bab 5) - Kau Dengan Dia

 


Verse 1:

Aku masih di sini sendiri

Menjaga rasa yang tak bertepi

Kau di sana sudah ada yang menemani

Tersenyum tapi matamu masih mencari


Aku tahu kau bahagia dengannya

Aku tak ingin merusak itu

Tapi tiap kau cerita tentang dia ada

Getar yang tak biasa


Chorus:

Kau dengan dia, aku dengan sepi

Menahan rasa yang tak boleh terjadi

Kau sudah punya, aku belum punya siapa-siapa

Tapi hati kita masih bicara dengan bahasa

yang sama


Kau dengan dia, aku di sini masih menjaga rasa

Bukan tak cinta, hanya tak bisa karena kau telah dengannya


Bridge:

Kita bisa pura-pura biasa

Tertawa seolah tak ada apa-apa

Tapi hati tak pandai berdusta

Semakin dekat semakin terasa


Chorus 2:

Kau dengan dia, aku dengan sepi

Menahan rasa yang tak boleh terjadi

Kau sudah punya, aku belum punya siapa-siapa

Tapi hati kita masih bicara dengan bahasa

yang sama


Outro:

Jika suatu hari kau sendiri lagi

Dan aku masih di sini menanti

Bukan janji, hanya satu yang pasti

Rasa ini tak akan pernah pergi

Kau dengan dia, aku dengan sepi



Ada perasaan yang ternyata tidak selesai hanya karena kita sudah mengetahui jawabannya.

Aku pernah mengira, setelah tahu bahwa kau memilih dia, semuanya akan menjadi lebih mudah.

Bukankah begitu seharusnya?

Kalau seseorang sudah menentukan pilihannya, kita tinggal menerima.

Kalau seseorang sudah memiliki pasangan, kita tinggal mundur.

Kalau kita tahu bahwa sebuah hubungan tidak mungkin terjadi, seharusnya perasaan juga perlahan mengikuti kenyataan.

Ternyata tidak.

Aku bisa menerima bahwa kau dengan dia.

Tetapi menerima kenyataan tidak serta-merta membuat rasa di dalam diriku ikut pergi.

Dan mungkin di situlah aku akhirnya mengerti bahwa menerima dan melupakan adalah dua hal yang berbeda.


Aku sudah tahu tempatku.

Aku tahu kau punya seseorang.

Aku tahu ada kehidupan yang sedang kau jalani bersamanya.

Aku bahkan melihatmu sebagai seseorang yang tampaknya bahagia.

Dan anehnya, aku tidak ingin merusak kebahagiaan itu.

Kalau kau bahagia, sebagian dari diriku juga ikut bahagia.

Mungkin terdengar aneh.

Bagaimana bisa seseorang merasa senang melihat orang yang dicintainya bahagia, sementara kebahagiaan itu justru membuatnya semakin sadar bahwa dirinya tidak berada di dalamnya?


Tetapi begitulah perasaan bekerja.

Tidak selalu masuk akal.

Aku tidak ingin mengambilmu dari siapa pun.

Tidak ingin membuatmu memilih karena keberadaanku.

Tidak ingin menjadi alasan hubunganmu dengan dia berantakan.

Karena kalau aku benar-benar menyayangimu, aku juga harus mampu menghargai pilihanmu.

Bahkan ketika pilihan itu bukan aku.

Jadi aku tetap di sini.

Bukan menunggu dengan tuntutan.

Bukan menunggu dengan janji bahwa suatu hari kau harus datang kepadaku.

Aku hanya menjaga sesuatu yang belum mampu kulepaskan.

Rasa itu.


Kadang aku ingin terus melaju ke arahmu.

Seolah ada bagian dari diriku yang masih ingin melihat sejauh mana perasaan ini akan membawaku.

Tetapi di saat yang sama, aku tahu ada batas yang tidak boleh kulewati.

Maka aku berdiri di antara dua hal.

Ingin mendekat.

Tetapi memilih untuk tidak mengganggu.

Ingin tetap merasakan.

Tetapi tidak meminta untuk memiliki.

Dan mungkin itulah mengapa aku masih sendiri sampai sekarang.

Bukan karena tidak ada orang lain.

Bukan karena aku sengaja menutup pintu untuk semua kemungkinan.

Hanya saja, ada bagian dari hatiku yang masih sibuk dengan seseorang yang bahkan tidak sedang menungguku.


Setiap kali kau bercerita tentang dia, perasaanku menjadi aneh.

Ada cemburu.

Ada sakit.

Ada rasa takut kehilangan.

Tetapi ada juga rasa senang karena kau mau bercerita kepadaku.

Aku senang ketika kau baik-baik saja.

Aku senang ketika hidupmu berjalan dengan baik.

Aku senang ketika kau memiliki seseorang yang bisa menemanimu.

Lalu setelah itu, aku kembali mengingat bahwa seseorang itu bukan aku.

Dan rasa senang itu bercampur dengan sesuatu yang sulit dijelaskan.


Mungkin begitulah rasanya mencintai seseorang yang sudah memiliki kehidupan sendiri.

Kita tidak hanya mencintai orangnya.

Kita juga harus menerima seluruh kenyataan yang datang bersamanya.

Termasuk seseorang yang berdiri di sampingnya.

Termasuk masa depan yang mungkin tidak pernah menyertakan kita.

Termasuk cerita-cerita tentang kebahagiaan yang mungkin akan terasa sedikit menyakitkan ketika didengar.

Tetapi aku tetap mendengarkan.

Karena kau tetap kau.

Dan aku tetap ingin tahu bagaimana harimu.


Ada sesuatu yang juga tidak bisa kuabaikan setiap kali kita bertemu.

Kita bisa saja berpura-pura biasa.

Tertawa.

Bercanda.

Berbicara tentang hal-hal sederhana seolah tidak pernah ada perasaan yang lebih dalam di antara semua itu.

Di hadapan orang lain, mungkin semuanya terlihat normal.

Tidak ada yang perlu dicurigai.

Tidak ada yang perlu dijelaskan.

Kita hanya dua orang yang kebetulan saling mengenal.

Tetapi aku tahu apa yang kurasakan ketika berada dekat denganmu.

Ada sesuatu yang berubah.

Dan terkadang, dari caramu melihatku, aku merasakan sesuatu yang sulit kujelaskan.

Bukan berarti aku tahu apa yang ada di dalam kepalamu.

Bukan berarti aku berhak menyimpulkan apa yang kau rasakan.

Aku hanya tahu apa yang kurasakan ketika mata kita bertemu.

Ada tatapan yang terasa berbeda.

Apalagi ketika pertemuan itu terjadi tanpa rencana.

Kita bisa saja bertemu di waktu dan tempat yang tidak pernah direncanakan sebelumnya.

Lalu untuk beberapa saat, semuanya seperti kembali ke sesuatu yang pernah ada.

Kita tertawa.

Kita berbicara.

Kita menjadi biasa.

Tetapi hati tidak pernah benar-benar biasa.

Semakin dekat, semakin terasa.

Dan mungkin itu sebabnya aku tidak pernah benar-benar bisa mengatakan bahwa semua ini sudah selesai.

Karena bagaimana bisa sesuatu selesai kalau hidup masih mungkin mempertemukan kita lagi?


Aku tidak tahu kapan itu akan terjadi.

Aku juga tidak tahu dalam keadaan seperti apa.

Mungkin di tempat yang ramai.

Mungkin di jalan.

Mungkin dalam sebuah pertemuan yang tidak pernah kita rencanakan.

Mungkin setelah waktu yang sangat panjang.

Tetapi ada kemungkinan kita akan tetap bertemu.

Dan setiap kemungkinan itu membuatku sadar bahwa rasa ini mungkin tidak akan hilang hanya karena aku menginginkannya.


Aku tidak lagi memaksanya untuk menjadi hubungan.

Aku tidak lagi meminta keadaan berubah.

Aku hanya membiarkannya menjadi apa adanya.

Sebuah rasa.

Sebuah bagian dari diriku.

Sesuatu yang pernah tumbuh dan sampai sekarang belum benar-benar pergi.

Mungkin itulah bentuk cinta yang paling sunyi.

Bukan cinta yang mengejar.

Bukan cinta yang menuntut.

Bukan cinta yang meminta seseorang meninggalkan pasangannya demi kita.

Tetapi cinta yang tahu bahwa seseorang sudah memilih jalan lain, lalu memilih untuk tidak menghalangi jalan itu.


Aku tahu kau dengan dia.

Dan aku tahu aku dengan sepi.

Tetapi sepi bukan berarti aku sedang menunggumu setiap detik.

Aku tetap menjalani hidup.

Tetap bertemu orang.

Tetap tertawa.

Tetap menulis.

Tetap membuat lagu.

Tetap berjalan ke hari-hari berikutnya.

Hanya saja, di antara semua itu, masih ada satu ruang kecil yang belum terisi.

Ruang yang masih menyimpan namamu.

Dan aku tidak tahu kapan ruang itu akan benar-benar kosong.

Mungkin suatu hari akan kosong.

Mungkin tidak.

Aku tidak ingin membuat janji.

Bahkan kepada diriku sendiri.


Tetapi kalau suatu hari keadaan berubah dan kau benar-benar sendiri lagi, mungkin aku masih berada di tempat yang sama.

Bukan karena aku menunggumu dengan sengaja.

Bukan karena aku menolak kehidupan yang lain.

Hanya karena mungkin, setelah semua waktu yang berjalan, rasa ini masih menjadi rasa yang sama.

Dan kalau hari itu tidak pernah datang, tidak apa-apa.

Aku sudah belajar bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti harus mendapatkan kesempatan untuk bersamanya.

Kadang cukup dengan mengetahui bahwa dia bahagia.

Kadang cukup dengan menjaga jarak.

Kadang cukup dengan tidak mengganggu.

Dan kadang cukup dengan membiarkan sebuah rasa tetap hidup tanpa pernah memaksanya menjadi sesuatu.


Aku tidak tahu sampai kapan rasa ini akan tinggal.

Tetapi untuk sekarang, aku tidak ingin membunuhnya hanya karena ia tidak bisa menjadi milikku.

Biarlah ia menjadi bagian dari cerita.

Bagian dari lagu.

Bagian dari buku ini.

Bagian dari diriku yang pernah mengenalmu dan pernah jatuh hati sedalam itu.

Karena mungkin ada rasa yang memang tidak pergi karena kita berhenti mencintai.

Ia pergi hanya ketika waktunya memang tiba.

Dan sampai waktu itu datang, aku akan tetap belajar berdamai dengannya.

Kau dengan dia.

Aku dengan sepi.

Tidak ada janji.

Tidak ada tuntutan.

Hanya satu hal yang masih bisa kuakui dengan jujur:

aku masih punya rasa.

Dan untuk saat ini, itu saja sudah cukup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar