Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Selasa, 01 September 2026

Lagu-lagu yang Tertinggal (Bab 3) - Ragu

 


Verse 1:

Aku melihatmu menatap jauh

Ke arah awan, ke arah langit

Aku mendengar rencanamu tentang hari

esok

Tanpa namaku di ujung bait


Pre-Chorus:

Kau masih di sini

Tapi ada jarak yang memisah


Chorus:

Antara menggenggam atau melepaskan

Antara menunggu atau membiarkan

Kini kau buat aku ragu

Pada kita yang tak pernah satu

Pada cinta yang kukira ada


Verse 2:

Kau bilang cinta

Tapi matamu mencari alasan

Kau bilang butuh waktu

Tapi waktumu bukan untukku


Chorus 2:

Jika ragumu adalah jawaban 

Maka biarku yang menghilang

Jika ragumu adalah kepastian

Maka biarku yang merelakan


Bridge:

Antara menggenggam atau melepaskan

Antara menunggu atau membiarkan

Kini kau buat aku ragu

Pada kita yang tak pernah satu

Pada cinta yang kukira ada


Outro:

Jika ragumu adalah jawaban

Maka biarku yang menghilang

Jika ragumu adalah kepastian

Bila ragumu tak juga berujung

Biar raguku yang mengakhiri



Barangkali yang paling melelahkan dari sebuah perasaan bukan ketika ia ditolak.

Melainkan ketika ia tidak pernah benar-benar diterima, tetapi juga tidak pernah benar-benar ditolak.

Ada di antara keduanya.

Di sebuah ruang yang tidak memiliki nama.

Dan di sanalah keraguan tumbuh.


Aku pernah berada di sana.

Bukan karena aku tidak tahu apa yang kurasakan.

Justru sebaliknya.

Aku tahu bahwa ada sesuatu.

Aku tahu bahwa kehadiranmu berarti.

Aku tahu bahwa ada bagian dari diriku yang berharap lebih jauh daripada yang seharusnya.

Tetapi aku juga tahu bahwa perasaan tidak selalu berjalan beriringan dengan keadaan.

Ada hal-hal yang sejak awal membuat sebuah rasa tidak pernah benar-benar memiliki jalan yang sederhana.

Salah satunya adalah kenyataan bahwa kau sudah memiliki seseorang.

Dan aku mengetahuinya.

Mungkin itu sebabnya sejak awal aku tidak pernah benar-benar berani menyebut apa yang terjadi di antara kita sebagai sesuatu yang lebih.

Aku hanya membiarkannya ada.

Membiarkan percakapan berjalan.

Membiarkan perasaan tumbuh.

Membiarkan diriku menikmati setiap kesempatan ketika kita bisa saling berbicara, saling melihat, atau sekadar berada di tempat yang sama.

Sampai suatu hari aku mendengarmu berbicara tentang hari esok.

Tentang rencana.

Tentang sesuatu yang lebih jauh dari hari itu.

Tentang pernikahan.

Dan untuk beberapa saat, aku hanya mendengarkan.


Tidak ada yang salah dengan rencanamu.

Tidak ada yang salah dengan keinginanmu untuk memiliki masa depan.

Aku bahkan tidak punya hak untuk menganggapnya salah.

Tetapi di tengah semua cerita tentang hari esok itu, ada satu hal yang diam-diam terasa begitu jelas.

Namaku tidak ada di sana.

Aku tidak perlu bertanya.

Aku sudah tahu.

Dan mungkin itulah salah satu bentuk kesedihan yang paling sunyi: menyadari bahwa seseorang sedang membicarakan masa depannya, sementara kau tahu bahwa kau bukan bagian dari masa depan itu.

Ada kecewa.

Ada cemburu.

Ada sedih.

Ada juga kesadaran bahwa mungkin sejak awal aku memang tidak pernah punya tempat di sana.

Semuanya datang bersamaan.

Tetapi aku tetap diam.

Karena mencintai seseorang tidak otomatis membuat kita berhak atas masa depannya.

Aku belajar bahwa seseorang bisa berarti begitu banyak bagi kita, tanpa pernah menjadi bagian dari hidup yang kita inginkan.

Dan mungkin di situlah aku mulai benar-benar ragu.

Bukan tentang apakah aku menyukaimu.

Itu sudah terlalu jelas.

Aku mulai ragu tentang kita.

Apakah memang pernah ada sesuatu yang bisa disebut “kita”?

Atau selama ini aku hanya memberi nama pada sesuatu yang sebenarnya tidak pernah memiliki bentuk?


Pernah ada saat ketika aku mengatakan bahwa aku merasa nyaman bersamamu.

Aku tidak sedang meminta apa-apa.

Aku hanya mengatakan apa yang kurasakan.

Tetapi jawabanmu adalah satu kata yang sederhana.

Bingung.

Aneh bagaimana satu kata bisa membuat sesuatu yang selama ini terasa begitu berwarna mendadak menjadi kabur.

Bingung.

Bukan iya.

Bukan tidak.

Bukan pergi.

Bukan datang.

Hanya bingung.

Dan mungkin aku mengerti.

Karena mungkin kau juga sedang berada di tempat yang sama.

Hanya saja alasan kita berbeda.


Aku ragu karena tidak mendapatkan kepastian.

Kau mungkin ragu karena keadaan membuat segala sesuatu menjadi tidak sederhana.

Kita sama-sama tidak tahu harus membawa perasaan ini ke mana.

Tetapi ada satu hal yang tetap berbeda.

Aku tidak memiliki siapa-siapa di antara harapan dan perasaanku.

Sedangkan kau sudah memiliki seseorang.

Itulah batas yang selalu kusadari.

Karena itu ketika kau seperti membutuhkan waktu, aku akhirnya mengerti bahwa waktu itu mungkin bukan untukku.

Bukan karena aku tidak layak diberi waktu.

Bukan karena perasaanku tidak berarti.

Tetapi karena hidupmu sudah berjalan ke arah yang berbeda.

Dan aku tidak ingin menjadi seseorang yang memaksamu berhenti hanya karena aku ingin kau menoleh.


Aku pernah berada di antara dua pilihan.

Menggenggam atau melepaskan.

Menunggu atau membiarkan.

Tetapi ternyata keduanya tidak sesederhana yang terdengar.

Menggenggam perasaan berarti mempertahankan sesuatu yang belum tentu punya tempat.

Melepaskannya berarti menerima bahwa mungkin ada sesuatu yang harus selesai meskipun tidak pernah benar-benar dimulai.

Aku bahkan tidak tahu mana yang lebih sakit.

Tetap menyimpan rasa atau mencoba menghilangkannya.

Maka untuk sementara, aku memilih ragu.

Aku membiarkan perasaan itu tetap ada tanpa memberinya tuntutan.

Karena ada keyakinan yang membuatku belum sepenuhnya mampu pergi.


Aku masih melihatmu sebagai seseorang yang berwarna.

Seseorang yang pernah datang pada waktu yang tepat.

Seseorang yang membuat hari-hari terasa lebih hidup.

Dan selama aku masih melihatmu seperti itu, rasanya tidak mudah untuk mengatakan bahwa semua ini harus selesai.


Tetapi kemudian aku kembali pada satu kenyataan sederhana.

Kita tidak pernah benar-benar satu.

Mungkin pernah ada kedekatan.

Mungkin pernah ada rasa.

Mungkin pernah ada sesuatu yang bahkan kau sendiri tidak tahu harus menyebutnya apa.

Tetapi kita tidak pernah menjadi pasangan.

Dan aku tidak ingin mengubah kenyataan hanya karena perasaanku menginginkannya.

Mungkin itulah maksud dari cinta yang tidak harus memiliki.

Ada kalanya mencintai seseorang berarti menerima bahwa dia memiliki jalan sendiri.

Ada kalanya rasa yang paling tulus justru tidak meminta apa-apa.

Tidak meminta dia memilih kita.

Tidak meminta dia meninggalkan siapa pun.

Tidak meminta janji.

Hanya ingin dia baik-baik saja, meskipun akhirnya bukan bersama kita.

Karena itu aku pernah mengatakan dalam hati:

Jika ragumu adalah jawaban, biarkan aku yang menghilang.

Bukan sebagai hukuman.

Bukan sebagai cara membuatmu mengejar.

Aku hanya ingin memberikan ruang.

Untukmu.

Dan untuk diriku sendiri.


Tetapi jujur saja, saat itu aku belum benar-benar bisa merelakan.

Kalimat “biar aku yang merelakan” mungkin lebih banyak merupakan sesuatu yang ingin kupercaya daripada sesuatu yang sudah benar-benar mampu kulakukan.

Aku masih ragu.

Tentangmu.

Tentang kita.

Tentang perasaanku sendiri.

Tentang apa yang sebenarnya pernah terjadi.

Dan mungkin kau juga begitu.

Kita sama-sama ragu.

Hanya saja kita berdiri di sisi yang berbeda.


Aku ragu karena ingin tahu apakah perasaan ini benar-benar memiliki arti bagimu.

Kau ragu karena mungkin tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap perasaan yang ada.

Tetapi anehnya, dua keraguan yang berbeda itu membawa kita pada tujuan yang sama.

Tidak memaksakan.

Tidak menuntut.

Tidak mengubah sesuatu yang sudah memiliki jalannya sendiri.

Sampai akhirnya aku memahami satu hal.

Keraguan juga bisa menjadi jawaban.

Bukan jawaban yang kita inginkan.

Tetapi jawaban yang menunjukkan bahwa mungkin memang tidak ada kepastian yang bisa kita paksa untuk muncul.

Dan jika ragumu tidak pernah berujung, mungkin suatu hari aku harus membiarkan raguku sendiri yang mengakhiri.

Bukan karena rasa itu tidak pernah nyata.

Justru karena aku tahu rasa itu nyata.

Aku tahu segitunya.

Tetapi sesuatu yang nyata pun tidak selalu harus dimiliki.


Ada perasaan yang cukup kita bawa pulang.

Ada seseorang yang cukup kita kenang.

Ada cerita yang cukup kita biarkan menjadi cerita.

Dan ada cinta yang, pada akhirnya, hanya perlu kita akui pernah ada.

Tanpa harus menjadi apa-apa.

Mungkin itulah yang sebenarnya terjadi pada kita.

Kita sama-sama ragu.

Dengan dasar yang berbeda.

Dengan alasan yang berbeda.

Tetapi akhirnya belajar hal yang sama:

bahwa tidak semua yang kita rasakan harus kita miliki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar