Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Selasa, 01 September 2026

Lagu-lagu yang Tertinggal (Bab 4) - Bukan Aku

 

Verse 1:

Dulu kau bicara

Tentang selamanya

Ku percaya semua

Ternyata ku hanya sementara


Kau bilang cinta butuh waktu

Ku beri semua waktuku


Chorus:

Kau bilang suatu saat nanti

Kau harus memilih

Ku tunggu di sini

Dengan semua janji


Tapi ternyata

Kau memilih dia

Dan semestinya

Memang bukan aku


Verse 2:

Mungkin memang begitu

Aku bukan siapa-siapa di hidupmu

Aku yang terlalu lama menunggu sesuatu

Yang tak pernah menuju aku


Semestinya aku sadar dari dulu

Bukan aku yang kau mau


Chorus 2:

Kau bilang suatu saat nanti

Kau harus memilih

Ku tunggu di sini

Dengan semua janji


Tapi ternyata

Kau memilih dia

Dan semestinya

Memang bukan aku

Memang bukan aku 

(Memang bukan aku)


Outro:

Semestinya bukan aku 



Ada hal yang baru bisa kita mengerti setelah semuanya selesai.

Bahwa ternyata tidak semua yang kita tunggu sedang menuju kepada kita.

Kadang kita berdiri di satu tempat terlalu lama, menatap ke arah yang sama, lalu mengira seseorang akan datang dari sana.

Kita menunggu.

Kita percaya.

Kita memberi waktu.

Sampai suatu hari kita sadar bahwa orang yang kita tunggu ternyata sedang berjalan ke arah yang berbeda.


Begitulah aku denganmu.

Dulu, aku pernah menangkap sesuatu tentang selamanya.

Bukan karena kau pernah berjanji akan bersamaku sampai akhir.

Bukan karena kau pernah mengatakan bahwa akulah orang yang akan kau pilih.

Tidak.

Semua itu lebih banyak berasal dari caraku menangkap kehadiranmu.

Dari percakapan.

Dari kedekatan.

Dari hal-hal kecil yang membuatku merasa bahwa mungkin ada kemungkinan lain di balik semua yang sedang terjadi.

Aku percaya.

Dan mungkin ketika seseorang sedang jatuh hati, kemungkinan kecil bisa terlihat seperti sebuah pintu yang terbuka lebar.

Padahal belum tentu.

Aku hanya terlalu ingin percaya bahwa suatu hari keadaan akan berubah.

Bahwa hubunganmu dengan seseorang yang saat itu bersamamu mungkin akan berakhir.

Dan ketika itu terjadi, mungkin akan ada ruang untukku.


Aku menunggu kemungkinan itu.

Diam-diam.

Tidak pernah benar-benar memintamu menjanjikannya.

Tidak pernah memaksamu mengatakan bahwa suatu hari kau akan memilihku.

Karena memang kau tidak pernah mengatakan itu.

Kalimat tentang pilihan itu lebih banyak hidup di dalam kepalaku sendiri.

Aku yang membuat kemungkinan.

Aku yang memberi waktu.

Aku yang menunggu.

Dan mungkin itulah bagian yang paling sulit untuk kuakui sekarang.


Aku pernah menunggu seseorang untuk memilihku, padahal dia tidak pernah mengatakan bahwa aku sedang menunggu sesuatu yang akan dia berikan.

Kau pernah mengatakan bahwa cinta membutuhkan waktu.

Dan entah bagaimana, aku menerjemahkan kalimat itu menjadi sebuah alasan untuk tetap tinggal.

Aku memberikan waktuku.

Sebanyak yang bisa kuberikan.

Aku membiarkan hari berganti.

Membiarkan perasaan tetap ada.

Membiarkan harapan tumbuh tanpa pernah benar-benar kuberi nama.

Mungkin saat itu aku berpikir, kalau aku cukup sabar, suatu hari semuanya akan menemukan jalannya sendiri.

Kalau aku tetap ada, mungkin kau akan melihatku dengan cara yang berbeda.

Kalau keadaan berubah, mungkin aku akan menjadi seseorang yang kau pilih.

Ternyata tidak.

Pada akhirnya, tidak semua yang kita tunggu akan berubah hanya karena kita cukup lama menunggunya.

Ada sesuatu yang sederhana tetapi sulit diterima:

waktu tidak selalu bekerja untuk kita.

Kadang waktu hanya memperjelas apa yang sebenarnya sudah ada sejak awal.

Dan akhirnya aku tahu.

Kau memilih dia.

Tidak ada ledakan.

Tidak ada adegan besar.

Tidak ada sesuatu yang harus membuat dunia berhenti.

Hanya ada sebuah kepastian yang akhirnya sampai kepadaku.

Ya sudah.

Kau memilih dia.

Dan mungkin anehnya, setelah mengetahui itu, ada bagian dari diriku yang justru merasa tenang.

Bukan karena aku bahagia.

Bukan karena aku tidak kecewa.

Tetapi karena setidaknya sekarang aku tahu.

Selama ini aku hidup di antara kemungkinan.

Sekarang kemungkinan itu sudah memiliki jawaban.


Aku pernah bertanya-tanya apakah aku berarti bagimu.

Mungkin aku pernah berarti.

Mungkin kehadiranku pernah membuatmu nyaman.

Mungkin ada sesuatu yang pernah kau rasakan ketika bersamaku.

Aku tidak tahu.

Dan mungkin aku tidak perlu tahu semuanya.

Karena pada akhirnya, berarti bagi seseorang dan dipilih oleh seseorang adalah dua hal yang berbeda.

Aku bisa saja berarti.

Tetapi aku tetap bukan orang yang dipilih.

Maka ketika dalam lagu ini aku mengatakan:

Aku bukan siapa-siapa di hidupmu,

sebenarnya itu bukan fakta.

Itu adalah suara kecewa.

Suara seseorang yang sedang mencoba memahami kenapa dirinya yang pernah merasa begitu dekat ternyata tidak menjadi tujuan.


Mungkin aku bukan siapa-siapa untuk masa depanmu.

Tetapi itu tidak menghapus semua yang pernah terjadi.

Aku tetap pernah mengenalmu.

Pernah berbicara denganmu.

Pernah tertawa bersamamu.

Pernah menyimpan banyak hal tentangmu di dalam ingatan.

Dan kau pernah menjadi seseorang yang begitu berarti bagiku.

Hanya saja, semua itu tidak otomatis membuat kita menjadi apa-apa.

Mungkin itulah yang paling sulit diterima oleh orang yang sedang jatuh hati.

Kita sering mengira bahwa sebesar apa pun perasaan yang kita punya, pada akhirnya ia akan menemukan tempatnya.

Padahal tidak selalu.


Ada rasa yang besar tetapi tidak memiliki tujuan.

Ada penantian yang panjang tetapi tidak menghasilkan pertemuan.

Ada seseorang yang kita anggap begitu penting, tetapi dalam hidupnya kita hanya menjadi bagian kecil dari perjalanan.

Dan tidak ada yang salah dengan itu.

Yang salah mungkin hanya ketika kita terlalu lama memaksa sebuah kemungkinan untuk terlihat seperti kenyataan.

Kalau sekarang aku melihat kembali semuanya, mungkin memang sejak awal aku seharusnya sadar.

Bahkan sejak pertama kali bertemu.

Lucu, ya?

Setelah mengetahui akhir sebuah cerita, kita selalu merasa seolah-olah semua tanda sudah ada sejak halaman pertama.

Seolah-olah kita seharusnya tahu.

Seharusnya mengerti.

Seharusnya tidak berharap terlalu jauh.

Tetapi saat itu aku tidak sedang membaca cerita dari akhir.

Aku sedang menjalaninya.

Dan ketika kita sedang menjalani sesuatu, kita tidak pernah memiliki pengetahuan tentang bagaimana akhirnya.

Kita hanya punya apa yang kita rasakan hari itu.

Aku merasakan nyaman.

Aku merasakan senang.

Aku merasakan rindu.

Aku merasakan harapan.

Jadi aku memilih untuk percaya.

Mungkin aku memang terlalu lama menunggu sesuatu yang tidak pernah menuju kepadaku.

Tetapi aku tidak ingin membenci diriku yang pernah menunggu.

Karena menunggu juga pernah membuatku bahagia.

Setidaknya untuk sementara.


Ada hari-hari ketika aku masih percaya bahwa mungkin ada kesempatan.

Ada percakapan yang membuatku kembali berharap.

Ada pertemuan yang membuat semua keraguan terasa seperti bisa ditunda.

Dan mungkin itulah alasan aku bertahan selama itu.

Bukan karena kau menjanjikan masa depan.

Tetapi karena aku sendiri yang terus menemukan alasan untuk percaya bahwa masa depan itu mungkin ada.

Sampai akhirnya kenyataan datang dan berkata dengan caranya sendiri:

bukan aku.

Dua kata yang sederhana.

Tetapi cukup untuk mengakhiri begitu banyak kemungkinan yang selama ini hidup di kepala.


Bukan aku yang kau pilih.

Bukan aku yang akan berjalan bersamamu menuju hari esok.

Bukan aku yang ada di ujung rencana yang pernah kudengar.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak ingin melawan kenyataan itu.

Aku hanya ingin menerimanya.

Karena cinta tidak selalu berakhir dengan memiliki.

Kadang cinta berakhir ketika kita akhirnya cukup berani mengatakan:

“Kalau memang bukan aku, aku tidak akan memaksamu menjadikanku.”

Aku tidak kalah dari siapa pun.

Aku hanya tidak terpilih.

Dan dua hal itu ternyata berbeda.


Kekalahan membuat kita ingin mencari siapa yang salah.

Tetapi tidak terpilih mengajarkan kita untuk menerima bahwa setiap orang memiliki hak menentukan ke mana hidupnya akan berjalan.

Kau memilih dia.

Dan mungkin memang begitu seharusnya.

Bukan karena aku tidak cukup baik.

Bukan karena apa yang kurasakan tidak nyata.

Hanya karena sejak awal, hidupmu memang tidak sedang menuju kepadaku.

Dan mungkin sekarang tugasku bukan lagi menunggu.

Bukan lagi membayangkan kemungkinan.

Bukan lagi bertanya kapan keadaan akan berubah.

Tugasku hanya satu:

berhenti berdiri di tempat yang sama.

Karena aku akhirnya mengerti.

Tidak semua penantian adalah perjalanan menuju seseorang.

Ada penantian yang pada akhirnya hanya membawa kita kembali kepada diri sendiri.

Dan setelah semua yang pernah kurasakan tentangmu, mungkin inilah kalimat paling jujur yang akhirnya bisa kutulis:

Semestinya memang bukan aku.

Bukan karena aku tidak pernah berharap.

Bukan karena aku tidak pernah mencintai.

Tetapi karena akhirnya aku tahu, dari semua kemungkinan yang pernah kubayangkan, kau memang tidak memilihku.

Dan kali ini,

aku tidak akan lagi menunggu pilihan yang tidak pernah kau janjikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar