Official Blog of Nugi Nugraha || Member of Google Corp & Blogger - Since 2011 || Copyrights 2011 - 2026 by Personal Blog & Google

Selasa, 01 September 2026

Lagu-lagu yang Tertinggal (Bab 1) - 24.09.23



Verse 1:

Hari itu kau datang

Hoodie hitam kebesaran

Duduk saling berhadapan

Membuka cerita pelan-pelan


Verse 2:

Siang itu kau tenang

Membawa cerita tentang pulang

Dan kau tak pernah tahu

Sampai kini tetap di hati


Pre-Chorus:

Dan mulai saat itu

Kisah kita dimulai


Chorus:

Tiga tahun itu

Jadi tema buku, jadi judul lagu

Kau tak pernah hilang

Dari rasa yang tak pernah usai


Waktu berdetak sangat cepat

Banyak hari yang tak kembali

Dan tentangmu yang selalu

Menetap jadi cerita abadi


Pre-Chorus:

Dan setelah waktu berlalu

Kau tak pernah hilang


Chorus:

Tiga tahun itu

Jadi tema buku, jadi judul lagu

Kau tak pernah hilang

Dari rasa yang tak pernah usai


Bridge:

Mungkin waktu tak banyak lagi

Tapi namamu tetap abadi

Tersimpan di setiap tulisan

Menetap di setiap nyanyian


Outro:

Ini bukan tentang tanggal..

Lagu ini tentang kenangan..



Ada tanggal yang bagi sebagian orang hanya angka.

Satu hari yang datang seperti hari-hari lainnya. Matahari terbit, orang-orang menjalani kesibukannya, kendaraan memenuhi jalan, percakapan terjadi lalu selesai, dan malam datang seperti biasa.

Setelah itu, tanggal tersebut berganti.

Menjadi kemarin.

Lalu minggu lalu.

Bulan lalu.

Bahkan bertahun-tahun lalu.


Tetapi ada tanggal yang tidak pernah benar-benar pergi.

Ia tetap tinggal di suatu tempat yang tidak bisa ditemukan di kalender.

Di ingatan.

24 September 2023 adalah salah satunya.

Aku masih mengingat bagaimana hari itu dimulai, meskipun mungkin tidak semua detailnya masih tersimpan dengan sempurna. Ingatan manusia memang aneh. Ia tidak selalu menyimpan seluruh kejadian. Kadang ia hanya mengambil beberapa potongan kecil, lalu membiarkannya hidup lebih lama daripada peristiwa itu sendiri.


Aku ingat seseorang datang.

Aku ingat kami duduk saling berhadapan.

Aku ingat percakapan yang pada awalnya tidak terasa seperti sesuatu yang kelak akan kutulis bertahun-tahun kemudian.

Tidak ada yang istimewa dari cara hari itu berlangsung.

Tidak ada musik dramatis.

Tidak ada firasat bahwa aku sedang berada di awal sebuah cerita panjang.

Tidak ada suara dari dalam kepala yang mengatakan bahwa, “Ingat baik-baik hari ini. Suatu saat nanti kau akan merindukannya.”

Tidak ada.


Hari itu hanya sebuah pertemuan.

Sederhana.

Seseorang datang membawa dirinya sendiri, membawa cerita yang ia punya, dan aku datang dengan kehidupanku sendiri.

Kami duduk.

Kami berbicara.

Cerita dibuka pelan-pelan.

Mungkin begitulah sebagian besar hal besar dalam hidup dimulai.

Tidak dengan sesuatu yang besar.

Justru dengan sesuatu yang begitu biasa sampai kita tidak menyadari bahwa kita sedang berdiri di depan pintu sebuah cerita.


Aku tidak tahu apa yang ada di kepalanya hari itu.

Aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya.

Aku hanya tahu bahwa setelah pertemuan itu selesai, ada sesuatu yang tertinggal.

Bukan barang.

Bukan pesan.

Bukan sesuatu yang bisa kubawa pulang dan kusimpan di meja.

Hanya perasaan yang pada saat itu belum bisa kuberi nama.

Mungkin kagum.

Mungkin nyaman.

Mungkin rasa ingin mengenal lebih jauh.

Mungkin semuanya bercampur menjadi sesuatu yang belum sempat kupahami.

Dan mungkin memang tidak semua perasaan harus langsung dimengerti ketika ia datang.

Ada yang cukup dirasakan.


Waktu kemudian berjalan.

Hari-hari berikutnya datang seperti biasa. Ada percakapan lain, ada pertemuan lain, ada kehidupan yang terus bergerak tanpa pernah bertanya apakah kita siap mengikutinya atau tidak.

Tetapi anehnya, pertemuan pertama itu tidak ikut pergi.

Ia tetap berada di belakang.

Diam.

Menunggu.

Kadang muncul ketika aku sedang sendirian. Kadang muncul hanya karena sebuah hal kecil mengingatkanku pada masa itu. Kadang muncul tanpa alasan yang jelas.

Begitulah kenangan bekerja.

Ia tidak membutuhkan undangan.

Ia bisa datang kapan saja.

Dan semakin jauh jarak antara kita dengan sebuah peristiwa, terkadang justru semakin jelas kita melihat betapa besar arti peristiwa itu.


Tiga tahun bukan waktu yang sebentar.

Banyak hal berubah selama tiga tahun.

Orang-orang berubah.

Keadaan berubah.

Cara kita memandang sesuatu berubah.

Ada hari yang dulu terasa begitu penting, sekarang mungkin hanya tinggal satu kalimat dalam ingatan.

Ada percakapan yang pernah membuat kita memikirkan seseorang sepanjang malam, lalu bertahun-tahun kemudian kita bahkan lupa kata-kata persisnya.

Tetapi ada juga sesuatu yang tidak ikut berubah.

Bukan keadaan.

Bukan hubungan.

Melainkan jejaknya.


24 September 2023 akhirnya bukan lagi sekadar tanggal ketika aku pertama kali bertemu dengannya.

Tanggal itu menjadi semacam titik koordinat.

Kalau aku ingin mengingat dari mana semuanya bermula, aku kembali ke sana.

Bukan karena aku ingin mengulangnya.

Aku hanya ingin tahu dari mana sebuah rasa yang begitu panjang pernah dimulai.

Dan semakin lama aku menulis, semakin aku sadar bahwa mungkin selama ini aku bukan sedang berusaha mempertahankan seseorang.

Aku hanya sedang mempertahankan sebuah bagian dari hidupku agar tidak hilang begitu saja.

Sebab ada perbedaan antara ingin memiliki seseorang dan ingin mengabadikan sesuatu yang pernah terjadi.


Aku tidak bisa mengendalikan bagaimana hidup akan berjalan setelah sebuah pertemuan.

Aku tidak bisa menentukan siapa yang akan tetap tinggal.

Aku tidak bisa menentukan siapa yang akhirnya pergi.

Aku bahkan tidak bisa menentukan bagaimana seseorang akan mengingatku.

Tetapi aku bisa memilih bagaimana aku mengingatnya.

Aku bisa menulis.

Aku bisa menyimpan beberapa kejadian di antara kalimat.

Aku bisa mengambil sesuatu yang dulu hanya hidup di kepala, kemudian memberinya tempat di halaman.

Dan mungkin karena itulah buku ini akhirnya ada.

Bukan untuk mengubah masa lalu.

Bukan untuk meminta seseorang kembali.

Bukan pula untuk membuat sebuah perasaan menjadi kenyataan.

Hanya untuk mengatakan bahwa pernah ada satu masa ketika seseorang datang, lalu tanpa disadari meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada waktu yang kami habiskan untuk mengenalnya.


Aku menulisnya karena waktu tidak pernah berjanji akan menjaga ingatan kita.

Suatu hari nanti mungkin detailnya akan kabur.

Wajah bisa berubah.

Suara bisa terdengar berbeda dalam ingatan.

Tempat yang pernah didatangi bersama mungkin tidak lagi sama.

Bahkan mungkin suatu hari aku tidak lagi merasakan apa yang kurasakan sekarang.

Dan itu tidak apa-apa.

Sebab kenangan tidak harus tetap sakit agar tetap berarti.

Ia juga tidak harus terus dirindukan agar layak disimpan.

Ada sesuatu yang cukup terjadi sekali, tetapi tetap mampu menemani seseorang selama bertahun-tahun.

24.09.23 adalah salah satunya.


Mungkin karena itu aku tidak hanya menuliskan tanggal tersebut.

Aku menjadikannya lagu.

Sebab tulisan bisa menceritakan bagaimana semuanya bermula.

Tetapi lagu bisa menyimpan sesuatu yang lebih sulit dijelaskan.

Perasaan.

Suasana.

Wajah seseorang yang datang dengan hoodie hitam kebesaran.

Dua orang yang duduk saling berhadapan.

Cerita yang dibuka pelan-pelan.

Dan sebuah hari yang saat itu tidak tahu bahwa ia akan menjadi bagian dari sebuah buku.


Aku tidak tahu apakah dia masih mengingat hari itu dengan cara yang sama.

Mungkin iya.

Mungkin tidak.

Mungkin baginya itu hanya satu hari dari sekian banyak hari yang pernah dilewati.

Dan aku tidak perlu memaksanya untuk mengingatnya seperti aku mengingatnya.

Kenangan adalah milik masing-masing orang.

Yang bisa kulakukan hanyalah menyimpan versiku.

Versi tentang bagaimana seseorang pernah datang.

Tentang bagaimana sebuah pertemuan sederhana bisa menjadi awal dari cerita yang panjang.

Tentang tiga tahun yang kemudian tidak hanya menjadi rentang waktu, tetapi berubah menjadi halaman, menjadi tulisan, menjadi lagu.

Menjadi sesuatu yang bisa kubuka kembali kapan pun aku ingin mengingat dari mana semuanya bermula.

Karena pada akhirnya, mungkin buku ini memang tidak sedang berusaha menceritakan seseorang.

Buku ini sedang mencoba menyelamatkan sebuah kenangan.

Dan setiap kenangan membutuhkan tempat untuk tinggal.

Untuk kenangan ini, tempatnya adalah tulisan.

Dan ketika kata-kata tidak lagi cukup, aku membiarkannya bernyanyi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar