Verse 1:
Langit mendung, hujan turun
Jalan basah, sepi tak betah
Kopi dingin di meja menunggu
Aku di sini mengenang dulu
Pre-Chorus:
Di tempat ini kita bertemu
Dulu tertawa di sampingku
Kini hanya hujan dan rindu
Kita hilang ditelan waktu
Chorus:
Dulu
Kau berkendara dari sana
Dulu
Kita bertemu seolah rindu
Kini
Kau di sana bersamanya
Kini
Ku hanya duduk menahan tanya
Verse 2:
Duduk berdua, menatap sama
Berfoto mesra di depan kaca
Belum kuhapus masih kujaga
Seperti rindu yang tak sirna
Pre-Chorus 2:
Di tempat ini kita bertemu
Dulu tertawa di sampingku
Kini hanya hujan dan rindu
Kita hilang ditelan waktu
Chorus 2:
Dulu
Kau berkendara dari sana
Dulu
Kita bertemu seolah rindu
Kini
Kau di sana bersamanya
Kini
Ku hanya duduk menahan tanya
Bridge:
Apakah dulu
Kau benar merindukanku
Apakah kini
Kau sudah benar melupakanku
Outro:
Dulu
Kau berkendara dari sana
Dulu
Kita bertemu seolah rindu
Kini
Kau di sana bersamanya
Kini
Ku hanya duduk menahan tanya
⸻
Ada tempat-tempat yang tidak pernah benar-benar menjadi sekadar tempat.
Ia menyimpan sesuatu.
Sebuah percakapan.
Sebuah tawa.
Sebuah pertemuan.
Atau seseorang yang pernah duduk di sebelah kita, lalu meninggalkan sesuatu yang tidak ikut pergi ketika ia meninggalkan tempat itu.
Aku pernah kembali ke tempat-tempat yang pernah kita datangi.
Bukan karena ada sesuatu yang harus kuselesaikan di sana.
Bukan karena aku berharap kau tiba-tiba datang.
Aku hanya kangen.
Sesederhana itu.
Ada dua tempat yang pernah menjadi bagian dari cerita kita. Tempat untuk ngopi dan sebuah taman bermain. Dua tempat yang mungkin bagi orang lain tidak memiliki arti apa-apa. Tetapi bagiku, keduanya menyimpan potongan kecil dari masa yang pernah membuatku bahagia.
Kadang aku berpikir, mungkin tempat memang tidak pernah menyimpan kenangan.
Kitalah yang menyimpannya.
Lalu ketika kembali ke tempat yang sama, ingatan itu seperti menemukan jalan pulang.
Tidak perlu hujan sungguhan.
Tidak perlu langit benar-benar mendung.
Tidak perlu kopi yang benar-benar dingin.
Semua itu hanya cara perasaan menggambarkan sesuatu yang sedang terjadi di dalam diri.
Karena sebenarnya yang sedang mendung bukan langit.
Yang sedang basah bukan jalan.
Dan yang dingin bukan hanya kopi di atas meja.
Ada sesuatu di dalam diriku yang sedang mengingat.
Dulu kau datang dari Cianjur.
Berkendara dua sampai tiga jam hanya untuk sampai kepadaku.
Kalau dipikir sekarang, perjalanan sejauh itu mungkin terlihat biasa.
Seseorang naik kendaraan.
Menempuh jalan.
Lalu sampai di tempat tujuan.
Tetapi ketika orang yang menempuh perjalanan itu adalah seseorang yang sedang kita tunggu, jarak menjadi sesuatu yang terasa berbeda.
Aku masih ingat bagaimana rasanya ketika akhirnya kita bertemu.
Seolah-olah pertemuan itu memang sudah lama ditunggu.
Bukan hanya olehku.
Setidaknya seperti itulah yang kurasakan.
Ada sesuatu yang berbeda ketika akhirnya kita berada di tempat yang sama.
Cara kita berbicara.
Cara kita saling melihat.
Cara semuanya terasa seperti kembali menjadi dekat tanpa membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.
Padahal mungkin tidak ada yang luar biasa.
Kita hanya bertemu.
Tetapi beberapa pertemuan memang tidak membutuhkan kejadian besar untuk menjadi berarti.
Cukup dua orang yang sudah lama ingin bertemu, kemudian akhirnya duduk bersebelahan.
Dan hari itu menjadi kenangan.
Sekarang ketika mengingatnya, aku sering bertanya-tanya:
Apakah dulu kau juga benar-benar merindukanku?
Atau aku hanya terlalu bahagia karena akhirnya kau datang?
Aku tidak pernah tahu jawabannya.
Mungkin dulu aku tidak membutuhkan jawaban itu.
Aku hanya menikmati pertemuan.
Menikmati waktumu.
Menikmati percakapan kita.
Menikmati kenyataan bahwa untuk beberapa saat, jarak antara Cianjur dan Bandung terasa tidak pernah ada.
Dulu semuanya terasa lebih sederhana.
Kita bertemu.
Kita tertawa.
Kita duduk berdua.
Kita menatap sesuatu yang sama.
Bahkan ada foto yang sampai sekarang masih kusimpan.
Foto kita di depan kaca.
Aku belum menghapusnya.
Bukan karena aku ingin hidup di masa lalu.
Bukan pula karena aku berharap foto itu akan mengubah sesuatu.
Aku menyimpannya karena itu adalah kenangan.
Karena ada bagian dari diriku yang takut kehilangan apa yang pernah terjadi.
Karena aku masih suka melihatnya sesekali.
Dan mungkin karena foto itu menjadi bukti kecil bahwa dulu memang pernah ada hari ketika kita sedekat itu.
Sebuah foto tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya dirasakan dua orang.
Ia hanya menangkap satu detik.
Tetapi kadang satu detik cukup untuk menyimpan bertahun-tahun perasaan.
Aku melihat foto itu sekarang dengan perasaan yang tidak selalu sama.
Kadang hanya rindu.
Kadang tersenyum.
Kadang terasa seperti melihat dua orang yang pernah begitu dekat, tetapi sekarang sudah berada di tempat yang berbeda.
Dan mungkin itulah yang membuat foto lama terasa aneh.
Gambarnya tidak berubah.
Wajah kita tidak berubah.
Tempatnya mungkin masih ada.
Tetapi kita yang melihatnya sudah berubah.
Waktu melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh kita sendiri.
Ia menggeser keadaan.
Mengubah kesempatan.
Mengubah jarak.
Mengubah cara dua orang bertemu.
Bahkan mengubah cara dua orang memandang satu sama lain.
Dulu kita bisa duduk berdua dan tidak memikirkan terlalu banyak hal.
Kini, ada banyak hal yang harus dipikirkan.
Ada keadaan.
Ada pilihan.
Ada kehidupan masing-masing.
Ada seseorang yang sekarang berada di sampingmu.
Dan akhirnya, tidak semua yang dulu bisa dilanjutkan.
Mungkin itulah maksud dari kita yang hilang ditelan waktu.
Bukan berarti kita benar-benar hilang.
Kita masih ada.
Kau masih ada.
Aku masih ada.
Kita bahkan mungkin masih akan bertemu lagi suatu hari nanti.
Tetapi kita yang dulu mungkin memang sudah tidak ada.
Bukan karena salah satu dari kita sengaja menghancurkannya.
Bukan karena semua kenangan itu tiba-tiba tidak berarti.
Hanya karena waktu dan keadaan membuat kita berubah.
Kesempatan berubah.
Cara kita bertemu berubah.
Dan pada akhirnya, sesuatu yang dulu terasa mungkin menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa dilanjutkan.
Kadang aku bertanya-tanya apakah kau masih mengingat semuanya seperti aku.
Apakah kau masih ingat perjalananmu dari Cianjur?
Apakah kau masih ingat tempat-tempat yang pernah kita datangi?
Apakah kau masih ingat bagaimana kita tertawa?
Apakah kau masih ingat foto itu?
Atau semua itu sudah menjadi bagian kecil dari masa lalu yang tidak lagi penting bagimu?
Aku tidak tahu.
Dan mungkin aku juga tidak perlu tahu.
Karena kalau ternyata kau sudah melupakannya, aku tidak akan marah.
Setiap orang berhak melanjutkan hidup dengan caranya sendiri.
Aku hanya takut suatu hari nanti ternyata hanya aku yang masih mengingat semuanya.
Hanya aku yang masih bisa menceritakan bagaimana dulu kau datang.
Hanya aku yang masih ingat bahwa pernah ada seseorang yang berkendara selama dua sampai tiga jam dari Cianjur untuk bertemu denganku.
Hanya aku yang masih menyimpan foto itu.
Hanya aku yang masih kembali ke tempat-tempat yang pernah kita datangi karena rindu.
Tetapi mungkin tidak apa-apa.
Sebuah kenangan tidak harus dimiliki oleh dua orang agar tetap menjadi kenangan.
Kalau suatu hari kau benar-benar lupa, cerita itu tetap pernah terjadi.
Kalau suatu hari kau tidak lagi mengingat detailnya, aku masih boleh mengingatnya.
Kalau suatu hari nama tempat itu tidak lagi berarti apa-apa bagimu, bagiku mungkin ia tetap menjadi salah satu sudut dalam hidup yang pernah menyimpan sesuatu tentangmu.
Dan mungkin memang begitulah cara masa lalu bekerja.
Ia tidak meminta untuk kembali.
Ia hanya sesekali datang ketika kita sedang duduk sendirian.
Membawa wajah seseorang.
Membawa suara.
Membawa tawa.
Membawa satu perjalanan panjang dari Cianjur.
Membawa sebuah foto di depan kaca.
Lalu pergi lagi setelah meninggalkan satu perasaan yang sama:
rindu.
Dulu kau datang.
Dulu kita bertemu seolah-olah sama-sama sudah lama menunggu.
Dulu ada kita yang belum tahu bagaimana akhirnya.
Kini kau di sana bersamanya.
Dan aku di sini, masih belajar memahami kenapa beberapa kenangan tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu.
Mungkin karena yang hilang bukan kenangannya.
Yang hilang adalah kesempatan untuk mengulanginya.
Dan mungkin itu yang paling kurindukan.
Bukan tempatnya.
Bukan fotonya.
Bukan bahkan perjalanan panjangmu dari Cianjur.
Aku hanya rindu kita yang dulu.
Kita yang pernah duduk berdua tanpa tahu bahwa suatu hari nanti aku akan menulis tentang hari itu.
Kita yang pernah tertawa tanpa tahu bahwa tawa itu akan menjadi sesuatu yang kucari kembali dalam ingatan.
Kita yang pernah bertemu seolah-olah rindu.
Dan sekarang aku hanya punya satu pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah benar-benar kujawab:
Apakah dulu kau benar merindukanku?
Entahlah.
Mungkin iya.
Mungkin tidak.
Tetapi aku tahu satu hal.
Dulu, aku benar-benar merindukanmu.
Dan sampai hari ini, ketika mengingatnya kembali, aku masih begitu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar